<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>9 Pembunuh Bayaran Paling Mengerikan di Indonesia dalam 2 Dekade Terakhir </title><description>Pekerjaan sebagai pembunuh pembayaran acap kali terlihat di film-film action.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/09/14/337/2104464/9-pembunuh-bayaran-paling-mengerikan-di-indonesia-dalam-2-dekade-terakhir</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/09/14/337/2104464/9-pembunuh-bayaran-paling-mengerikan-di-indonesia-dalam-2-dekade-terakhir"/><item><title>9 Pembunuh Bayaran Paling Mengerikan di Indonesia dalam 2 Dekade Terakhir </title><link>https://news.okezone.com/read/2019/09/14/337/2104464/9-pembunuh-bayaran-paling-mengerikan-di-indonesia-dalam-2-dekade-terakhir</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/09/14/337/2104464/9-pembunuh-bayaran-paling-mengerikan-di-indonesia-dalam-2-dekade-terakhir</guid><pubDate>Sabtu 14 September 2019 09:01 WIB</pubDate><dc:creator>Demon Fajri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/13/337/2104464/9-pembunuh-bayaran-paling-mengerikan-di-indonesia-dalam-2-dekade-terakhir-8dHuLtL2FL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/13/337/2104464/9-pembunuh-bayaran-paling-mengerikan-di-indonesia-dalam-2-dekade-terakhir-8dHuLtL2FL.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>MENDENGAR kata pembunuh bayaran, mungkin sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Pekerjaan sebagai pembunuh pembayaran acap kali terlihat di film-film action.

Namun, pekerjaan itu tidak hanya berlaku di dunia film aksi. Pekerjaan pembunuh bayaran juga ada ditemukan di lingkungan masyarakat di Indonesia. Pekerjaan itu dilakoni guna pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

Pembunuh bayaran terkadang tidak hanya bekerja sendiri. Namun, pekerjaan ini juga bisa dikerjakan secara bersama-sama. Sebab pekerjaan sebagai pembunuh bayaran musti bekerja dengan rapi serta sulit untuk di lacak penegak hukum.

Selain itu, mereka juga merencanakan pembunuhan dengan matang dan melebur dengan masyarakat, serta banyak teknik sadis untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.

Lalu bagaimana pembunuh bayaran sadis di Indonesia, dalam kurun dua dekade terakhir? Berikut daftar kasus pembunuhan sadis dari berbagai sumber yang diperoleh Okezone.

1. Umar Jaya



Pria ini merupakan salah satu pembunuh bayaran di provinsi Sumatera Barat. Umar diketahui telah menghabisi nyawa pemilik salah satu kampus di Sumatera Barat, pada tahun 1996.

Pekerjaan itu umar lakukan bersama rekan-rekannya. Saat ini rekan Umar sudah meninggal dunia. Dalam kejadian itu Umar menjalani hukuman penjara selama 11 tahun dan baru menghirup udara bebas pada 2011.

Tidak hanya membunuh. Umar juga diketahui pernah beberapa kali tersandung kasus perampokan. Dalam aksinya Umar kerap membunuh korbannya dengan sadis dan kejam.

2. Iwan Cepi Murtado



Berbeda Umar asal Sumatera Barat. Iwan merupakan salah satu pembunuh bayaran berdarah dingin. Kasus yang dilakukan Iwan sempat membuat Indonesia gempar.

Iwan diketahui beberapa kali telah melakukan pembunuhan pengusaha kaya. Di mana Iwan menjadi suruhan para pembesar di negeri ini. Iwan dikenal sangat lihai dalam membidik korbannya.

Sebelum melakukan pekerjaannya, Iwan terlebih dahulu mengamati calon korbannya jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan, Iwan mempelajari gerak-gerik calon korban yang akan menjadi sasarannya.

Setelah mengetahui secara rinci calon korbannya, Iwan langsung mengeksekusi calon korban hingga tewas.

3. Mulawarman

Kasus pembunuhan juga sempat menghebohkan rakyat Indonesia. Di mana  Hakim Agung, MA, Syarifuddin Kartasasmita menjadi korban pembunuhan.  Syarifuddin dibunuh oleh Mulawarman yang merupakan pembunuh bayaran.

Kejadian itu terjadi pada tahun 2001. Pada kejadian itu Syaifuddin  Kartasasmita, meninggal dunia setelah ditembak oleh empat orang saat  menuju ke kantornya.

Hakim Agung itu dibunuh Mulawarman bersama rekannya. Kasus pembunuhan  itu terjadi lantaran adanya kasus tukar guling Goro Batara Sakti yang  masuk dalam Yayasan Soeharto.

Diketahui, pembunuh dari Hakim Agung Syarifuddin Kartasasmita  dilakukan oleh dua orang, Mulawarman dan Bob Hasan. Keduanya, melakukan  pekerjaan atas perintah anak Soeharto.

Berangkat dari kasus tersebut, pengadilan memvonis Tommy Soeharto bersalah dengan hukuman penjara 15 tahun.

4. Gunawan Santoso



Gunawan Santoso merancang dalam kasus pembunuhan terhadap Boedyharto  Angsono. Gunawan merancang pembunuhan dengan sangat mengerikan. Di mana  rancangan pembunuhan itu untuk menghabisi nyawa mantan mertuanya  sendiri.

Hal tersebut Gunawan lakukan karena sakit hati dipenjarakan oleh  mertuanya dalam kasus penggelapan uang. Setelah dipenjara, Gunawan  sempat melarikan diri dan face off.

Gunawan bersembunyi dan merencanakan pembunuhan terhadap mertuanya.  Dari rencana yang telah dibuat, mertuanya pun dieksekusi secara  mengerikan.

Di mana mertuanya Boedyharto Angsono, dibunuh dengan cara ditebak  dari jarak jauh. Eksekusi itu melibatkan empat marinir yang disewa  Gunawan Santoso.

Kasus tersebut terjadi pada 19 Juli 2003. Di mana Boedyharto Angsono merupakan Direktur Utama PT Aneka Sakti Bhakti (PT. Asaba).

Sebelum Boedyharto, anak buahnya lebih dahulu menjadi sasaran  pembunuhan, Paulus Teja Kusuma. Paulus adalah Direktur Keuangan PT.  Asaba.

Di mana Paulus ditembak dua orang pengendara motor di jalan Angkasa  Jakarta Pusat, di depan Hotel Golden, pada 6 Juni 2003. Paulus ditembak  pembunuh bayaran yang menembakkan peluru ke dada dan leher Paulus.  Namun, Paulus selamat dari maut.

Pada 19 Juli 2003 atau enam pekan setelah penembakan Paulus. Giliran  Boedyharto yang saat itu bersama pengawal pribadinya, Serda Edy Siyep,  anggota Kopassus yang ditembak pembunuh bayaran.

Keduanya ditembak mati sekira pukul 05.30 WIB, di depan lapangan basket Gelanggang Olahraga Sasana Krida Pluit, Jakarta Utara.

5. Eduardus Ndopo Mbete

Pada tahun 2009, kasus pembunuhan dialami Nasrudin Zulkarnaen,   Direktur BUMN PT Putra Rajawali Banjaran (PRB). Dalam kasus ini   melibatkan orang besar, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),   Antasari Azhar.

Nasrudin ditembak mati usai main golf di Modernland, Tangerang, pada   Sabtu 14 Maret 2009. Di mana dalam kasus ini melibatkan eksekutor yang   disewa.

Eksekutor itu Eduardus Ndopo Mbete, Hendrikus Kia Walen, Daniel Daen   Sabon dan Heri Santoso. Mereka disewa Wiliardi melalui Jerry Hermawan   Lo.

6. Jhon Kei



Tan Harry Tantono adalah bos PT Sanex Steel. Pengusaha yang akrab   disapa Ayung ini menjadi korban pembunuhan sadis. Di mana kasus ini   terjadi pada tahun 2012.

Tan Harry meninggal dunia dengan luka tusuk di sekujur tubuhnya di   kamar 2701 Swiss-Bel Hotel, Jakarta Pusat. Kasus pembunuhan ini terjadi   pada Kamis 26 Januari 2012, dengan melibatkan belasan orang kelompok   Kei.

Kelompok Kei terkenal sebagai pentolan dalam bisnis pengawalan, jasa pengamanan dan penagihan utang di ibu kota.

John Kei divonis Pengadilan Negeri, Jakarta Pusat dengan 12 tahun   penjara dan dua rekannya masing-masing divonis 1,5 tahun penjara. Namun,   di tingkat Kasasi Mahkamah Agung menambah hukuman John Kei menjadi 16   tahun penjara.

7. Gatot Supiartono

Kasus pembunuhan juga menimpa Holly Angela Hayu Winanti. Kasus ini    terjadi pada tahun 2013. Korban dibunuh di lantai 9 AT Tower Ebony,    Kalibata City, Pancoran, Jakarta Selatan.

Dalam kasus pembunuhan istri siri pejabat Badan Pemeriksa Keuangan    (BPK) itu melibatkan dua eksekutor yang mendapatkan bayaran Rp40 hingga    Rp50 juta. Dua eksekutor itu disewa suami siri Holly, Gatot Supiartono    pejabat BPK.

8. Supriadi dan Wahyudin

Pembunuh bayaran satu ini bernama Supriadi. Pria ini berasal dari kabupaten Tanah Laut provinsi Kalimantan Selatan.

Selain Supriadi, pembunuh bayaran lainnya yang berasal dari kabupaten    Tanah Laut provinsi Kalimantan Selatan, bernama Wahyudin. Mereka   berdua  adalah karyawan di salah satu perusahaan swasta Kalimantan   Selatan.

Mereka berdua menghabisi nyawa pengusaha atas nama Samir asal    kabupaten Berau. Untuk menghabisi nyawa korbannya mereka mendapatkan    imbalan Rp50 juta.

Usai menghabisi nyawa korbannya, mereka membuang jenazah korban ke hutan di kawasan Mayang Mangurai kabupaten Berau.

Enam pembunuh bayaran diatas sempat menghebohkan masyarakat    Indonesia. Di mana korbannya dibunuh secara mengerikan. Sebab sebelum    melancarkan aksinya mereka merancang secara matang untuk menghabisi    nyawa korbannya.

9. Kasus Aulia Kesuma



Pada Minggu 25 Agustus 2019, masyarakat Indonesia sempat dihebohkan    ditemukannya M Adi Pradana alias Dana dan Edi Chandra Purnama alias    Pupung Sadili yang tewas terbakar dalam mobil. Kejadian itu terjadi di    Cidahu Sukabumi, Jawa Barat.

Di balik tewasnya korban, tidak terlepas dari keterlibatan dari orang    dekat dari korban. Aulia Kesuma, namanya. Aulia merencanakan   pembunuhan  terhadap korbannya dengan menyewa empat pembunuh bayaran.

Dugaan pembunuhan itu diduga beratnya beban cicilan utang yang musti    dibayar setiap bulan mencapai Rp200 juta dari total utang Rp10 miliar    didua bank.

Dalam kasus itu Aulia meminta korban Pupung Sadili untuk menjual    rumahnya yang ditaksir senilai Rp26 miliar di Lebak Bulus Jakarta    Selatan. Hal tersebut untuk membayar utang Aulia Kesuma. Sayangnya hal    tersebut ditolak korban.

</description><content:encoded>MENDENGAR kata pembunuh bayaran, mungkin sudah tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Pekerjaan sebagai pembunuh pembayaran acap kali terlihat di film-film action.

Namun, pekerjaan itu tidak hanya berlaku di dunia film aksi. Pekerjaan pembunuh bayaran juga ada ditemukan di lingkungan masyarakat di Indonesia. Pekerjaan itu dilakoni guna pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari.

Pembunuh bayaran terkadang tidak hanya bekerja sendiri. Namun, pekerjaan ini juga bisa dikerjakan secara bersama-sama. Sebab pekerjaan sebagai pembunuh bayaran musti bekerja dengan rapi serta sulit untuk di lacak penegak hukum.

Selain itu, mereka juga merencanakan pembunuhan dengan matang dan melebur dengan masyarakat, serta banyak teknik sadis untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.

Lalu bagaimana pembunuh bayaran sadis di Indonesia, dalam kurun dua dekade terakhir? Berikut daftar kasus pembunuhan sadis dari berbagai sumber yang diperoleh Okezone.

1. Umar Jaya



Pria ini merupakan salah satu pembunuh bayaran di provinsi Sumatera Barat. Umar diketahui telah menghabisi nyawa pemilik salah satu kampus di Sumatera Barat, pada tahun 1996.

Pekerjaan itu umar lakukan bersama rekan-rekannya. Saat ini rekan Umar sudah meninggal dunia. Dalam kejadian itu Umar menjalani hukuman penjara selama 11 tahun dan baru menghirup udara bebas pada 2011.

Tidak hanya membunuh. Umar juga diketahui pernah beberapa kali tersandung kasus perampokan. Dalam aksinya Umar kerap membunuh korbannya dengan sadis dan kejam.

2. Iwan Cepi Murtado



Berbeda Umar asal Sumatera Barat. Iwan merupakan salah satu pembunuh bayaran berdarah dingin. Kasus yang dilakukan Iwan sempat membuat Indonesia gempar.

Iwan diketahui beberapa kali telah melakukan pembunuhan pengusaha kaya. Di mana Iwan menjadi suruhan para pembesar di negeri ini. Iwan dikenal sangat lihai dalam membidik korbannya.

Sebelum melakukan pekerjaannya, Iwan terlebih dahulu mengamati calon korbannya jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan, Iwan mempelajari gerak-gerik calon korban yang akan menjadi sasarannya.

Setelah mengetahui secara rinci calon korbannya, Iwan langsung mengeksekusi calon korban hingga tewas.

3. Mulawarman

Kasus pembunuhan juga sempat menghebohkan rakyat Indonesia. Di mana  Hakim Agung, MA, Syarifuddin Kartasasmita menjadi korban pembunuhan.  Syarifuddin dibunuh oleh Mulawarman yang merupakan pembunuh bayaran.

Kejadian itu terjadi pada tahun 2001. Pada kejadian itu Syaifuddin  Kartasasmita, meninggal dunia setelah ditembak oleh empat orang saat  menuju ke kantornya.

Hakim Agung itu dibunuh Mulawarman bersama rekannya. Kasus pembunuhan  itu terjadi lantaran adanya kasus tukar guling Goro Batara Sakti yang  masuk dalam Yayasan Soeharto.

Diketahui, pembunuh dari Hakim Agung Syarifuddin Kartasasmita  dilakukan oleh dua orang, Mulawarman dan Bob Hasan. Keduanya, melakukan  pekerjaan atas perintah anak Soeharto.

Berangkat dari kasus tersebut, pengadilan memvonis Tommy Soeharto bersalah dengan hukuman penjara 15 tahun.

4. Gunawan Santoso



Gunawan Santoso merancang dalam kasus pembunuhan terhadap Boedyharto  Angsono. Gunawan merancang pembunuhan dengan sangat mengerikan. Di mana  rancangan pembunuhan itu untuk menghabisi nyawa mantan mertuanya  sendiri.

Hal tersebut Gunawan lakukan karena sakit hati dipenjarakan oleh  mertuanya dalam kasus penggelapan uang. Setelah dipenjara, Gunawan  sempat melarikan diri dan face off.

Gunawan bersembunyi dan merencanakan pembunuhan terhadap mertuanya.  Dari rencana yang telah dibuat, mertuanya pun dieksekusi secara  mengerikan.

Di mana mertuanya Boedyharto Angsono, dibunuh dengan cara ditebak  dari jarak jauh. Eksekusi itu melibatkan empat marinir yang disewa  Gunawan Santoso.

Kasus tersebut terjadi pada 19 Juli 2003. Di mana Boedyharto Angsono merupakan Direktur Utama PT Aneka Sakti Bhakti (PT. Asaba).

Sebelum Boedyharto, anak buahnya lebih dahulu menjadi sasaran  pembunuhan, Paulus Teja Kusuma. Paulus adalah Direktur Keuangan PT.  Asaba.

Di mana Paulus ditembak dua orang pengendara motor di jalan Angkasa  Jakarta Pusat, di depan Hotel Golden, pada 6 Juni 2003. Paulus ditembak  pembunuh bayaran yang menembakkan peluru ke dada dan leher Paulus.  Namun, Paulus selamat dari maut.

Pada 19 Juli 2003 atau enam pekan setelah penembakan Paulus. Giliran  Boedyharto yang saat itu bersama pengawal pribadinya, Serda Edy Siyep,  anggota Kopassus yang ditembak pembunuh bayaran.

Keduanya ditembak mati sekira pukul 05.30 WIB, di depan lapangan basket Gelanggang Olahraga Sasana Krida Pluit, Jakarta Utara.

5. Eduardus Ndopo Mbete

Pada tahun 2009, kasus pembunuhan dialami Nasrudin Zulkarnaen,   Direktur BUMN PT Putra Rajawali Banjaran (PRB). Dalam kasus ini   melibatkan orang besar, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK),   Antasari Azhar.

Nasrudin ditembak mati usai main golf di Modernland, Tangerang, pada   Sabtu 14 Maret 2009. Di mana dalam kasus ini melibatkan eksekutor yang   disewa.

Eksekutor itu Eduardus Ndopo Mbete, Hendrikus Kia Walen, Daniel Daen   Sabon dan Heri Santoso. Mereka disewa Wiliardi melalui Jerry Hermawan   Lo.

6. Jhon Kei



Tan Harry Tantono adalah bos PT Sanex Steel. Pengusaha yang akrab   disapa Ayung ini menjadi korban pembunuhan sadis. Di mana kasus ini   terjadi pada tahun 2012.

Tan Harry meninggal dunia dengan luka tusuk di sekujur tubuhnya di   kamar 2701 Swiss-Bel Hotel, Jakarta Pusat. Kasus pembunuhan ini terjadi   pada Kamis 26 Januari 2012, dengan melibatkan belasan orang kelompok   Kei.

Kelompok Kei terkenal sebagai pentolan dalam bisnis pengawalan, jasa pengamanan dan penagihan utang di ibu kota.

John Kei divonis Pengadilan Negeri, Jakarta Pusat dengan 12 tahun   penjara dan dua rekannya masing-masing divonis 1,5 tahun penjara. Namun,   di tingkat Kasasi Mahkamah Agung menambah hukuman John Kei menjadi 16   tahun penjara.

7. Gatot Supiartono

Kasus pembunuhan juga menimpa Holly Angela Hayu Winanti. Kasus ini    terjadi pada tahun 2013. Korban dibunuh di lantai 9 AT Tower Ebony,    Kalibata City, Pancoran, Jakarta Selatan.

Dalam kasus pembunuhan istri siri pejabat Badan Pemeriksa Keuangan    (BPK) itu melibatkan dua eksekutor yang mendapatkan bayaran Rp40 hingga    Rp50 juta. Dua eksekutor itu disewa suami siri Holly, Gatot Supiartono    pejabat BPK.

8. Supriadi dan Wahyudin

Pembunuh bayaran satu ini bernama Supriadi. Pria ini berasal dari kabupaten Tanah Laut provinsi Kalimantan Selatan.

Selain Supriadi, pembunuh bayaran lainnya yang berasal dari kabupaten    Tanah Laut provinsi Kalimantan Selatan, bernama Wahyudin. Mereka   berdua  adalah karyawan di salah satu perusahaan swasta Kalimantan   Selatan.

Mereka berdua menghabisi nyawa pengusaha atas nama Samir asal    kabupaten Berau. Untuk menghabisi nyawa korbannya mereka mendapatkan    imbalan Rp50 juta.

Usai menghabisi nyawa korbannya, mereka membuang jenazah korban ke hutan di kawasan Mayang Mangurai kabupaten Berau.

Enam pembunuh bayaran diatas sempat menghebohkan masyarakat    Indonesia. Di mana korbannya dibunuh secara mengerikan. Sebab sebelum    melancarkan aksinya mereka merancang secara matang untuk menghabisi    nyawa korbannya.

9. Kasus Aulia Kesuma



Pada Minggu 25 Agustus 2019, masyarakat Indonesia sempat dihebohkan    ditemukannya M Adi Pradana alias Dana dan Edi Chandra Purnama alias    Pupung Sadili yang tewas terbakar dalam mobil. Kejadian itu terjadi di    Cidahu Sukabumi, Jawa Barat.

Di balik tewasnya korban, tidak terlepas dari keterlibatan dari orang    dekat dari korban. Aulia Kesuma, namanya. Aulia merencanakan   pembunuhan  terhadap korbannya dengan menyewa empat pembunuh bayaran.

Dugaan pembunuhan itu diduga beratnya beban cicilan utang yang musti    dibayar setiap bulan mencapai Rp200 juta dari total utang Rp10 miliar    didua bank.

Dalam kasus itu Aulia meminta korban Pupung Sadili untuk menjual    rumahnya yang ditaksir senilai Rp26 miliar di Lebak Bulus Jakarta    Selatan. Hal tersebut untuk membayar utang Aulia Kesuma. Sayangnya hal    tersebut ditolak korban.

</content:encoded></item></channel></rss>
