<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita Umar Jaya, Pembunuh Bayaran Legendaris Paling Sadis di Indonesia</title><description>Setelah bebas dari penjara Umar ini kembali melakukan aksi penjambretan di beberapa titik</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/09/14/337/2104656/cerita-umar-jaya-pembunuh-bayaran-legendaris-paling-sadis-di-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/09/14/337/2104656/cerita-umar-jaya-pembunuh-bayaran-legendaris-paling-sadis-di-indonesia"/><item><title>Cerita Umar Jaya, Pembunuh Bayaran Legendaris Paling Sadis di Indonesia</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/09/14/337/2104656/cerita-umar-jaya-pembunuh-bayaran-legendaris-paling-sadis-di-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/09/14/337/2104656/cerita-umar-jaya-pembunuh-bayaran-legendaris-paling-sadis-di-indonesia</guid><pubDate>Sabtu 14 September 2019 11:01 WIB</pubDate><dc:creator>Rus Akbar</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/13/337/2104656/cerita-umar-jaya-pembunuh-bayaran-legendaris-paling-sadis-di-indonesia-ORMnHxnmRd.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Umar Jaya (Foto: Okezone/Rus Akbar)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/13/337/2104656/cerita-umar-jaya-pembunuh-bayaran-legendaris-paling-sadis-di-indonesia-ORMnHxnmRd.jpg</image><title>Umar Jaya (Foto: Okezone/Rus Akbar)</title></images><description>PADANG - Masih ingat buronan kelas kakap Umar Jaya atau Nayau yang ditangkap pada pada Kamis 17 September 2015 silam oleh Ditres Narkoba Polda Sumbar yang awalnya ditangkap pada saat transaksi narkoba jenis sabu di parkiran RS Siti Rahma Padang dengan transaksi senilai Rp25 juta.

Namun pada saat itu ternyata narkoba yang diserahkan kepada kepolisian yang menyamar sebagai pembeli tersebut ternyata garam, namun polisi tidak melepas begitu saja, setelah dilakukan pelacakan tentang sepak terjang pelaku ini ternyata dia merupakan pembunuh bayaran dan perampok sadis di beberapa lokasi di Sumatera Barat termasuk antar provinsi.

&amp;ldquo;Dia ini masuk jaringan komplotan perampok antar provinsi, Sumbar, Riau, Jambi dan Bengkulu, mungkin dia juga buronan polisi di provinsi lain, tapi untuk saat ini dia merupakan buronan Polres Limapuluh Kota,&amp;rdquo; ujar Kabag Bin Ops Dit Res Narkoba Polda Sumbar AKBP M Yasli pada saat itu.



Pada saat interogasi Umar Jaya ini mengaku pembunuhan yang dilakukan di Damar Padang dengan korban salah satu pemilik Universitas Baitrahmah Padang dan Ana pembantunya pada Januari 1996 merupakan suruhan atau bayaran.

&amp;ldquo;Saat itu saya dibayar Rp100 juta untuk membunuh korban, dan kami melakukan empat orang, Eko, Epi Samsul membunuh, Andi jaga diluar dan saya (Umar) sopir, masing-masing kami dibayar dengan sama,&amp;rdquo; ujar Umar.

Polisi sudah berhasil menangkap Eko, Epi Samsul keduanya sudah meninggal karena sakit, sementara Andi sudah bebas. &amp;ldquo;Umar Jaya ini tidak akan segan-segan membunuh korban kalau kedapatan, di kasus perampokan di Bukittinggi dia ditangkap dan dihukum 11 tahun penjara baru pada tahun 2011 keluar,&amp;rdquo; kata Yasli.



Setelah bebas dari penjara Umar ini kembali melakukan aksi penjambretan di beberapa titik dan paling sadis itu di Kota Payahkumbuh korban jambret ini meninggal dunia. Kemudan perampokan juga dilakukan bersama komplotannya di Jambi dengan korban 1 orang dan melarikan uang Rp80 juta.

&amp;ldquo;Baru pada akhir tahun 2014 Umar Jaya bersama tujuh orang kawanan dengan merampok emas 500 gram dan uang Rp90 juta, kasus inilah yang menjadikan Umar Jaya sebagai buronan Polres Limapuluh Kota,&amp;rdquo; kata Yasli.

Lanjut Yasli dia masih memiliki kasus-kasus lain yang masih  dikembangkan pihak kepolisian, misalnya maling dan pencurian uang dalam  mobil serta beberapa perampokan lainnya. &amp;ldquo;Jadi dia setiap tempat ada  kawanannya, kalau dia ke kabupaten lain dia juga ada kawananya, setiap  aksi beda teman. Kini kasusnya kita serahkan ke Polres Payahkumbuh untuk  di kembangkan,&amp;rdquo; ujarnya.

Karena tidak terbukti kasus sabu dini hari tadi Polda Sumbar  menyerahkan Umar Jaya ke Polres Payahkumbuh untuk pengembangan kasus  berikutnya.

Umar Jaya ini dulu merupakan warga Perumahan Palapa Saiyo, Nagari  Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman pembunuh  bayaran dan perampok sadis ternyata memiliki dua rumah di dua wilayah.

Hal itu terungkap ketika Polda Sumatera Barat menyerahkan Umar Jaya  ini kepada Polres Limapuluh Kota ini dua tim langsung menggeledah  rumahnya di kawasan Perumahan Nuansa Indah 3, Kelurahan Air Pacah,  Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang Sumatera Barat.

Tersangka Umar Jaya ini dibawa polisi ke rumahnya yang dikontrak,  saat penggeledahan rumahnya ini ternyata istri Umar Jaya ada dalam  rumah. Berdasarkan pengakuan istrinya dia tahu rumah yang dikontrak  suaminya ini pada bulan Juli lalu atau bulan puasa, Umar ini sering  datang ke sini sendiri kadang dia juga tidur sendiri.

&amp;ldquo;Tadi sore kami datang kesini, kemudian suami saya pergi,&amp;rdquo; kata istrinya pada polisi.



Ketika pergi itulah terjadi transaksi sabu di RS Siti Rahma yang  akhirnya diketahui bahwa sabu yang diserahkan kepada pihak kepolisian  hanya garam dapur dan lokasi transaksi dengan lokasi persembunyian  dengan transaksi narkoba itu sejauh 3 kilometer.

Saat penggeladahan dilakukan banyak ditemukan tas laptop yang sudah  kosong, dan beberapa surat-surat kendaraan roda empat dan roda dua.  Awalnya polisi mencurigai lokasi persembunyiannya yang tergolong sepi  ini Umar menyimpan senjata api berupa pistol FN dan senjata laras  panjang AK-47, namun tidak ditemukan.

Hanya tas-tas dan pakaiannya serta STNK yang disita, polisi  mencurigai surat-surat kendaraan ini merupakan kasus pencurian kendaraan  dan pencurian uang dalam mobil.

Satu jam lebih penggeledahan dilakukan dilanjutkan penggeladahan di   rumahnya di Palapa Saiyo, Nagari Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai,   Kabupaten Padang Pariaman. Rumahnya ini sudah lama dia tinggal dan   polisi sudah mengetahui keberadaan rumah di Palapa ini, namun rumahnya   di Air Pacah itu merupakan lokasi persembunyiannya.

Rumah kedua di Palap ini hanya menyita beberapa barang bukti lainnya   seperti surat-surat kendaraan. &amp;ldquo;Ada sekitar 10 surat kendaraan kita   temukan di dua rumah ini, kita mencurigai dia memakai mobil untuk   merampok, atau dia melakukan pencurian dengan pecah kaca mobil, saat ini   masih kita kembangkan,&amp;rdquo; kata Kanit Buser, Polres Limapuluh Kota pada   saat itu masih dijabat Bripka Mansyurdin Nduru dilokasi penggeladahan.

Setelah melakukan penggedalah tersangka langsung dibawa ke Polres   Limapuluhkota bersama dengan barang bukti yang disita. Umar Jaya   merupakan komplotan perampok yang sudah terkenal dengan jajaran   perampokan sadis di Sumbar, Riau, Jambi dan Bengkulu.

Menurut Kanit Buser Polres Limapuluh Kota, Bripka Mansyurdi Nduru,   kalau kasus yang jelas saat ini Umar Jaya merupakan DPO telah melakukan   perampokan bersama delapan orang kompolotannya di rumah Salim pemilik   mesin giling padi Nagari Guguak VII Koto Talago, Kecamatan Guguak,   Kabupaten Limapuluh Kota pada 18 Agutus silam.

&amp;ldquo;Dalam kasus itu dia merampok 200 emas dan uang tunai Rp90 juta, saat   itu korban sedang melakukan shalat di mesjid, yang sudah ditangkap itu   tujuh orang, lima pelaku utama dan dua orang pendukungnya jadi total   yang terlibat kasus itu sembilan orang,&amp;rdquo; ujarnya, Kamis

Kesembilan pelaku itu adalah, Umar Jaya yang baru ditangkap, &amp;lsquo;UT&amp;rsquo;   masih buronan, sementara yang sudah ditangkap &amp;lsquo;MS&amp;rsquo;, &amp;lsquo;SH&amp;rsquo;, &amp;lsquo;RC&amp;rsquo;, &amp;lsquo;SS&amp;rsquo;,   &amp;lsquo;MC&amp;rsquo;, mereka ini yang melakukan perampokan langsung, sementara &amp;lsquo;IG&amp;rsquo;   pelaku ini melakukan pengintaian dan seorang perempuan berinisial &amp;lsquo;EM&amp;rsquo;   menyediakan tempat untuk mengatur strategi. &amp;ldquo;Perempuan ini merupakan   salah satu istri pelaku perampokan dan mendapatkan jatah dari hasil   rampokan tersebut,&amp;rdquo; ujarnya.



Tertangkapnya pembunuh bayaran, Umar Jaya, membuat polisi harus   bekerja keras untuk mengungkap kasus pembunuhan pada 1996 silam. Umar,   diduga tergabung dalam pembunuhan Djusma, istri Amran, ketua Yayasan   Baiturrahmah Padang.

Anak tunggal korban, Retno Yelvi merasa terkejut. Yang menjadi tanda   tanya selama puluhan tahun, akhirnya menemui titik terang. Dari dulu  dia  curiga, kematian ibunya banyak kejanggalan. Berbeda dengan  keterangan  kepolisian waktu itu yang menyatakan kejadian murni  pembunuhan karena  perampokan.

&amp;rdquo;Jika dikatakan perampokan, seharusnya ada barang berharga yang   hilang. Namun saat diperiksa tidak ada. Pintu dan jendela tidak ada yang   rusak. Sejak saat itu saya selalu bertanya-tanya. Ditangkapnya Umar   Jaya, mulai menjawab teka-teki. Terbunuhnya ibu saya, karena ada yang   membayarnya,&amp;rdquo; kata Retno Yelvi, Jumat (18/9/2015).

Setelah mendengar adanya tangkapan, Retno langsung datang ke lokasi    penahanan sambil menunggu Polres Limapuluh Kota di samping Kantor Dinas    Peternakan Sumbar jalan Rasuna Said Padang. Dia mendengar langsung    pengakuan Umar malam itu. Retno Yelvi mendengar, Umar menyebut, disuruh    untuk membunuh. Umar mengaku menerima uang Rp100 juta dari rekannya   yang  saat ini disebut sudah meninggal.

&amp;rdquo;Logikanya, jika dia menerima uang, uang itu siapa yang kasih. Saat    kejadian tidak ada barang yang hilang. Diduga ada aktor di balik semua    ini. Saya berharap kepada kepolisian agar membuka kembali kasus ini.  Apa   motifnya, dan siapa aktor dan dalangnya bisa terungkap,&amp;rdquo; kata  Retno   Yelvi.

Sebelum kejadian, keluarganya tidak ada masalah dengan orang lain.    Sehingga motif di balik semua ini menjadi membingungkan dan menjadi    pertanyaan. &amp;ldquo;Papa saya punya istri 4 dan hubungan kami baik-baik saja.    Begitu juga dengan orang lain. Setahu saya tidak ada masalah. Namun 3    bulan sebelum kejadian ada persoalan terkait pengalihan akta yayasan,    ibu saya sebagai bendahara yayasan dan saya sebagai sekretaris tidak    setuju. Sehingga akhirnya batal,&amp;rdquo; ujar Retno.

Menurut Retno, pada saat kejadian, dia bersama keluarganya    berdomisili di Jakarta. Sedangkan ibunya tinggal di rumah di kawasan    Damar bersama dengan seorang pembantu. Pagi itu dia mendapat kabar,    rumah ibunya dirampok. Mengakibatkan ibu kandung bersama dengan    pembantunya meninggal dibunuh oleh kawanan perampok.

&amp;rdquo;Saya langsung terbang ke Padang. Siang harinya dan langsung ke rumah    sakit M Djamil Padang. Di sana ibu saya bersama dengan pembantu    menjalani visum dan sore harinya dikebumikan,&amp;rdquo; kata Retno Yelvi.

Retno menceritakan, saat ditemukan, ibunya dalam kondisi mulut    tersumpal kain, tangan dan kaki terikat dengan kain gorden, di depan    kamar pembantunya. &amp;ldquo;Sedangkan pembantu saya ditemukan di atas tempat    tidur, mulutnya disumpal dengan kain. Wajahnya ditutupi dengan selimut.    Pakaiannya acak-acakan. Diduga pelaku juga memperkosanya,&amp;rdquo; ungkap   Retno.
Retno menuturkan, kejadian pertama kali diketahui oleh Kepala TK,    Nurmi (40) waktu itu, sekitar pukul 08.00 WIB. TK tepat di depan rumah    korban yang bermaksud menghidupkan stop kontak aliran listrik ke    sekolah.

&amp;rdquo;Nurmi kemudian bertemu dengan Anjang penjaga TK, yang juga hendak    memasak air di dapur bagian belakang luar rumah. Kemudian mengetuk    pintu, namun tak ada sahutan. Nurmi melihat pintu sedikit terbuka, dan    mendorongnya, dan masuk. Ditemukan ibu dan pembantu saya sudah    meninggal,&amp;rdquo; ungkap Retno.

Puluhan tahun menjadi tanda tanya bagi keluarga, terkait motif dan    yang melatarbelakangi pelaku tega membunuh Djusma. Korban ditemukan    meninggal bersama dengan pembantunya Aan di dalam rumahnya, Jalan Damar I    no 14, Kecamatan Padang Barat. Tragedi itu terjadi tepatnya pada  bulan   puasa, Sabtu, 27 Januari 1996.

Pascatragedi berdarah itu, dua orang pelaku telah ditangkap oleh    polisi dan dipenjara. Namun tidak memberikan titik terang siapa aktor di    balik semua ini. Tertangkapnya Umar Jaya diharapkan membuka tabir   gelap  itu.
</description><content:encoded>PADANG - Masih ingat buronan kelas kakap Umar Jaya atau Nayau yang ditangkap pada pada Kamis 17 September 2015 silam oleh Ditres Narkoba Polda Sumbar yang awalnya ditangkap pada saat transaksi narkoba jenis sabu di parkiran RS Siti Rahma Padang dengan transaksi senilai Rp25 juta.

Namun pada saat itu ternyata narkoba yang diserahkan kepada kepolisian yang menyamar sebagai pembeli tersebut ternyata garam, namun polisi tidak melepas begitu saja, setelah dilakukan pelacakan tentang sepak terjang pelaku ini ternyata dia merupakan pembunuh bayaran dan perampok sadis di beberapa lokasi di Sumatera Barat termasuk antar provinsi.

&amp;ldquo;Dia ini masuk jaringan komplotan perampok antar provinsi, Sumbar, Riau, Jambi dan Bengkulu, mungkin dia juga buronan polisi di provinsi lain, tapi untuk saat ini dia merupakan buronan Polres Limapuluh Kota,&amp;rdquo; ujar Kabag Bin Ops Dit Res Narkoba Polda Sumbar AKBP M Yasli pada saat itu.



Pada saat interogasi Umar Jaya ini mengaku pembunuhan yang dilakukan di Damar Padang dengan korban salah satu pemilik Universitas Baitrahmah Padang dan Ana pembantunya pada Januari 1996 merupakan suruhan atau bayaran.

&amp;ldquo;Saat itu saya dibayar Rp100 juta untuk membunuh korban, dan kami melakukan empat orang, Eko, Epi Samsul membunuh, Andi jaga diluar dan saya (Umar) sopir, masing-masing kami dibayar dengan sama,&amp;rdquo; ujar Umar.

Polisi sudah berhasil menangkap Eko, Epi Samsul keduanya sudah meninggal karena sakit, sementara Andi sudah bebas. &amp;ldquo;Umar Jaya ini tidak akan segan-segan membunuh korban kalau kedapatan, di kasus perampokan di Bukittinggi dia ditangkap dan dihukum 11 tahun penjara baru pada tahun 2011 keluar,&amp;rdquo; kata Yasli.



Setelah bebas dari penjara Umar ini kembali melakukan aksi penjambretan di beberapa titik dan paling sadis itu di Kota Payahkumbuh korban jambret ini meninggal dunia. Kemudan perampokan juga dilakukan bersama komplotannya di Jambi dengan korban 1 orang dan melarikan uang Rp80 juta.

&amp;ldquo;Baru pada akhir tahun 2014 Umar Jaya bersama tujuh orang kawanan dengan merampok emas 500 gram dan uang Rp90 juta, kasus inilah yang menjadikan Umar Jaya sebagai buronan Polres Limapuluh Kota,&amp;rdquo; kata Yasli.

Lanjut Yasli dia masih memiliki kasus-kasus lain yang masih  dikembangkan pihak kepolisian, misalnya maling dan pencurian uang dalam  mobil serta beberapa perampokan lainnya. &amp;ldquo;Jadi dia setiap tempat ada  kawanannya, kalau dia ke kabupaten lain dia juga ada kawananya, setiap  aksi beda teman. Kini kasusnya kita serahkan ke Polres Payahkumbuh untuk  di kembangkan,&amp;rdquo; ujarnya.

Karena tidak terbukti kasus sabu dini hari tadi Polda Sumbar  menyerahkan Umar Jaya ke Polres Payahkumbuh untuk pengembangan kasus  berikutnya.

Umar Jaya ini dulu merupakan warga Perumahan Palapa Saiyo, Nagari  Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman pembunuh  bayaran dan perampok sadis ternyata memiliki dua rumah di dua wilayah.

Hal itu terungkap ketika Polda Sumatera Barat menyerahkan Umar Jaya  ini kepada Polres Limapuluh Kota ini dua tim langsung menggeledah  rumahnya di kawasan Perumahan Nuansa Indah 3, Kelurahan Air Pacah,  Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang Sumatera Barat.

Tersangka Umar Jaya ini dibawa polisi ke rumahnya yang dikontrak,  saat penggeledahan rumahnya ini ternyata istri Umar Jaya ada dalam  rumah. Berdasarkan pengakuan istrinya dia tahu rumah yang dikontrak  suaminya ini pada bulan Juli lalu atau bulan puasa, Umar ini sering  datang ke sini sendiri kadang dia juga tidur sendiri.

&amp;ldquo;Tadi sore kami datang kesini, kemudian suami saya pergi,&amp;rdquo; kata istrinya pada polisi.



Ketika pergi itulah terjadi transaksi sabu di RS Siti Rahma yang  akhirnya diketahui bahwa sabu yang diserahkan kepada pihak kepolisian  hanya garam dapur dan lokasi transaksi dengan lokasi persembunyian  dengan transaksi narkoba itu sejauh 3 kilometer.

Saat penggeladahan dilakukan banyak ditemukan tas laptop yang sudah  kosong, dan beberapa surat-surat kendaraan roda empat dan roda dua.  Awalnya polisi mencurigai lokasi persembunyiannya yang tergolong sepi  ini Umar menyimpan senjata api berupa pistol FN dan senjata laras  panjang AK-47, namun tidak ditemukan.

Hanya tas-tas dan pakaiannya serta STNK yang disita, polisi  mencurigai surat-surat kendaraan ini merupakan kasus pencurian kendaraan  dan pencurian uang dalam mobil.

Satu jam lebih penggeledahan dilakukan dilanjutkan penggeladahan di   rumahnya di Palapa Saiyo, Nagari Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai,   Kabupaten Padang Pariaman. Rumahnya ini sudah lama dia tinggal dan   polisi sudah mengetahui keberadaan rumah di Palapa ini, namun rumahnya   di Air Pacah itu merupakan lokasi persembunyiannya.

Rumah kedua di Palap ini hanya menyita beberapa barang bukti lainnya   seperti surat-surat kendaraan. &amp;ldquo;Ada sekitar 10 surat kendaraan kita   temukan di dua rumah ini, kita mencurigai dia memakai mobil untuk   merampok, atau dia melakukan pencurian dengan pecah kaca mobil, saat ini   masih kita kembangkan,&amp;rdquo; kata Kanit Buser, Polres Limapuluh Kota pada   saat itu masih dijabat Bripka Mansyurdin Nduru dilokasi penggeladahan.

Setelah melakukan penggedalah tersangka langsung dibawa ke Polres   Limapuluhkota bersama dengan barang bukti yang disita. Umar Jaya   merupakan komplotan perampok yang sudah terkenal dengan jajaran   perampokan sadis di Sumbar, Riau, Jambi dan Bengkulu.

Menurut Kanit Buser Polres Limapuluh Kota, Bripka Mansyurdi Nduru,   kalau kasus yang jelas saat ini Umar Jaya merupakan DPO telah melakukan   perampokan bersama delapan orang kompolotannya di rumah Salim pemilik   mesin giling padi Nagari Guguak VII Koto Talago, Kecamatan Guguak,   Kabupaten Limapuluh Kota pada 18 Agutus silam.

&amp;ldquo;Dalam kasus itu dia merampok 200 emas dan uang tunai Rp90 juta, saat   itu korban sedang melakukan shalat di mesjid, yang sudah ditangkap itu   tujuh orang, lima pelaku utama dan dua orang pendukungnya jadi total   yang terlibat kasus itu sembilan orang,&amp;rdquo; ujarnya, Kamis

Kesembilan pelaku itu adalah, Umar Jaya yang baru ditangkap, &amp;lsquo;UT&amp;rsquo;   masih buronan, sementara yang sudah ditangkap &amp;lsquo;MS&amp;rsquo;, &amp;lsquo;SH&amp;rsquo;, &amp;lsquo;RC&amp;rsquo;, &amp;lsquo;SS&amp;rsquo;,   &amp;lsquo;MC&amp;rsquo;, mereka ini yang melakukan perampokan langsung, sementara &amp;lsquo;IG&amp;rsquo;   pelaku ini melakukan pengintaian dan seorang perempuan berinisial &amp;lsquo;EM&amp;rsquo;   menyediakan tempat untuk mengatur strategi. &amp;ldquo;Perempuan ini merupakan   salah satu istri pelaku perampokan dan mendapatkan jatah dari hasil   rampokan tersebut,&amp;rdquo; ujarnya.



Tertangkapnya pembunuh bayaran, Umar Jaya, membuat polisi harus   bekerja keras untuk mengungkap kasus pembunuhan pada 1996 silam. Umar,   diduga tergabung dalam pembunuhan Djusma, istri Amran, ketua Yayasan   Baiturrahmah Padang.

Anak tunggal korban, Retno Yelvi merasa terkejut. Yang menjadi tanda   tanya selama puluhan tahun, akhirnya menemui titik terang. Dari dulu  dia  curiga, kematian ibunya banyak kejanggalan. Berbeda dengan  keterangan  kepolisian waktu itu yang menyatakan kejadian murni  pembunuhan karena  perampokan.

&amp;rdquo;Jika dikatakan perampokan, seharusnya ada barang berharga yang   hilang. Namun saat diperiksa tidak ada. Pintu dan jendela tidak ada yang   rusak. Sejak saat itu saya selalu bertanya-tanya. Ditangkapnya Umar   Jaya, mulai menjawab teka-teki. Terbunuhnya ibu saya, karena ada yang   membayarnya,&amp;rdquo; kata Retno Yelvi, Jumat (18/9/2015).

Setelah mendengar adanya tangkapan, Retno langsung datang ke lokasi    penahanan sambil menunggu Polres Limapuluh Kota di samping Kantor Dinas    Peternakan Sumbar jalan Rasuna Said Padang. Dia mendengar langsung    pengakuan Umar malam itu. Retno Yelvi mendengar, Umar menyebut, disuruh    untuk membunuh. Umar mengaku menerima uang Rp100 juta dari rekannya   yang  saat ini disebut sudah meninggal.

&amp;rdquo;Logikanya, jika dia menerima uang, uang itu siapa yang kasih. Saat    kejadian tidak ada barang yang hilang. Diduga ada aktor di balik semua    ini. Saya berharap kepada kepolisian agar membuka kembali kasus ini.  Apa   motifnya, dan siapa aktor dan dalangnya bisa terungkap,&amp;rdquo; kata  Retno   Yelvi.

Sebelum kejadian, keluarganya tidak ada masalah dengan orang lain.    Sehingga motif di balik semua ini menjadi membingungkan dan menjadi    pertanyaan. &amp;ldquo;Papa saya punya istri 4 dan hubungan kami baik-baik saja.    Begitu juga dengan orang lain. Setahu saya tidak ada masalah. Namun 3    bulan sebelum kejadian ada persoalan terkait pengalihan akta yayasan,    ibu saya sebagai bendahara yayasan dan saya sebagai sekretaris tidak    setuju. Sehingga akhirnya batal,&amp;rdquo; ujar Retno.

Menurut Retno, pada saat kejadian, dia bersama keluarganya    berdomisili di Jakarta. Sedangkan ibunya tinggal di rumah di kawasan    Damar bersama dengan seorang pembantu. Pagi itu dia mendapat kabar,    rumah ibunya dirampok. Mengakibatkan ibu kandung bersama dengan    pembantunya meninggal dibunuh oleh kawanan perampok.

&amp;rdquo;Saya langsung terbang ke Padang. Siang harinya dan langsung ke rumah    sakit M Djamil Padang. Di sana ibu saya bersama dengan pembantu    menjalani visum dan sore harinya dikebumikan,&amp;rdquo; kata Retno Yelvi.

Retno menceritakan, saat ditemukan, ibunya dalam kondisi mulut    tersumpal kain, tangan dan kaki terikat dengan kain gorden, di depan    kamar pembantunya. &amp;ldquo;Sedangkan pembantu saya ditemukan di atas tempat    tidur, mulutnya disumpal dengan kain. Wajahnya ditutupi dengan selimut.    Pakaiannya acak-acakan. Diduga pelaku juga memperkosanya,&amp;rdquo; ungkap   Retno.
Retno menuturkan, kejadian pertama kali diketahui oleh Kepala TK,    Nurmi (40) waktu itu, sekitar pukul 08.00 WIB. TK tepat di depan rumah    korban yang bermaksud menghidupkan stop kontak aliran listrik ke    sekolah.

&amp;rdquo;Nurmi kemudian bertemu dengan Anjang penjaga TK, yang juga hendak    memasak air di dapur bagian belakang luar rumah. Kemudian mengetuk    pintu, namun tak ada sahutan. Nurmi melihat pintu sedikit terbuka, dan    mendorongnya, dan masuk. Ditemukan ibu dan pembantu saya sudah    meninggal,&amp;rdquo; ungkap Retno.

Puluhan tahun menjadi tanda tanya bagi keluarga, terkait motif dan    yang melatarbelakangi pelaku tega membunuh Djusma. Korban ditemukan    meninggal bersama dengan pembantunya Aan di dalam rumahnya, Jalan Damar I    no 14, Kecamatan Padang Barat. Tragedi itu terjadi tepatnya pada  bulan   puasa, Sabtu, 27 Januari 1996.

Pascatragedi berdarah itu, dua orang pelaku telah ditangkap oleh    polisi dan dipenjara. Namun tidak memberikan titik terang siapa aktor di    balik semua ini. Tertangkapnya Umar Jaya diharapkan membuka tabir   gelap  itu.
</content:encoded></item></channel></rss>
