<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>INAFOR 2019: Solusi Inovatif Pengelolaan Hutan dan Pelestarian Keanekaragaman Hayati</title><description>Konferensi internasional ini digelar untuk mendapatkan umpan balik dari kebijakan dan manajemen, untuk menempa jalan-jalan penelitian baru.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/09/20/1/2107263/inafor-2019-solusi-inovatif-pengelolaan-hutan-dan-pelestarian-keanekaragaman-hayati</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/09/20/1/2107263/inafor-2019-solusi-inovatif-pengelolaan-hutan-dan-pelestarian-keanekaragaman-hayati"/><item><title>INAFOR 2019: Solusi Inovatif Pengelolaan Hutan dan Pelestarian Keanekaragaman Hayati</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/09/20/1/2107263/inafor-2019-solusi-inovatif-pengelolaan-hutan-dan-pelestarian-keanekaragaman-hayati</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/09/20/1/2107263/inafor-2019-solusi-inovatif-pengelolaan-hutan-dan-pelestarian-keanekaragaman-hayati</guid><pubDate>Jum'at 20 September 2019 19:37 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/08/28/1/2107263/inafor-2019-solusi-inovatif-pengelolaan-hutan-dan-pelestarian-keanekaragaman-hayati-h894gSXzLL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Okezone</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/08/28/1/2107263/inafor-2019-solusi-inovatif-pengelolaan-hutan-dan-pelestarian-keanekaragaman-hayati-h894gSXzLL.jpg</image><title>Foto: Okezone</title></images><description>JAKARTA - Konferensi internasional ke-5 peneliti kehutanan Indonesia (INAFOR 2019) mengusung tema solusi inovatif pengelolaan hutan tropis dan pelestarian keanekaragaman hayati dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG). Acara yang digelar di IPB International Convention Center, Bogor (28/8) ini mengupas kebijakan dan best practices dari berbagai pakar kehutanan skala nasional dan internasional.
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, Badan Litbang dan Inovasi (P3H &amp;ndash; BLI), Krisfianti L. Ginoga menyampaikan, solusi inovatif diperlukan untuk mengelola dan mengurangi konsekuensi hilangnya hutan tropis dan keanekaragaman hayati pada ekosistem bagi manusia.
&quot;Konferensi internasional ini digelar untuk mendapatkan umpan balik dari kebijakan dan manajemen, untuk menempa jalan-jalan penelitian baru, untuk menjadikan ilmu pengetahuan lebih berguna tepat waktu, dan untuk memahami bagaimana ilmu hutan dan keanekaragaman hayati dapat mengurangi ketidakpastian dan melayani inisiatif kebijakan dan manajemen dengan lebih baik. Semua ini merupakan wujud komitmen Pemerintah Indonesia melalui KLHK terhadap kelestarian alam dan hutan di tingkat global&amp;rdquo; ujar Krisfianti.
Saat ini kata dia,  ancaman terhadap penurunan keanekaragaman hayati terjadi pada hampir setiap ekosistem di dunia, termasuk ekosistem hutan. Dengan demikian, pengelolaan hutan harus berubah untuk memberikan dukungan kuat pada konservasi, penilaian dan pengelolaan keanekaragaman hayati, memerangi perubahan iklim, dan berkontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG&amp;rsquo;s). &amp;ldquo;Sehingga semua tindakan mudah dikomunikasikan dan dapat diterapkan secara universal ke semua negara,&amp;rdquo; tutur Krisfianti.
Untuk itulah, Krisfianti memandang peran ilmu pengetahuan dan inovasi sangat penting, dalam pengelolaan hutan tropis dan konservasi keanekaragaman hayati.
Dijelaskan Krisfianti, beberapa tantangan yang dihadapi dalam pengembangan kehutanan adalah: memperkuat kapasitas masyarakat, meningkatkan kesejahteraan, meningkatkan ketahanan pangan, dan menghentikan hilangnya hutan dan keanekaragaman hayati.
Menjawab tantangan ini, Krisfianti menyadari banyak kegiatan penelitian yang dapat dilakukan. &amp;ldquo;Berbagai hasil penelitian tentang agroforestri, paludikultur dan agro-silvofishery dapat diimplementasikan dalam menjawab tantangan perubahan ekosistem, keanekaragaman hayati pada hutan dan berbagai lanskap, perubahan iklim dan fungsi ekosistem, pemantauan keanekaragaman hayati di hutan pada berbagai skala spasial, dan menentukan penilaian keanekaragaman hayati. Selain itu perlu kita siapkan bagaimana penelitian keanekaragaman hayati di masa depan akan dilakukan&amp;rdquo;.
&amp;ldquo;Melalui konferensi ini, diharapkan akan ada peningkatan wawasan pengetahuan informasi bagi para peserta, peningkatan insentif untuk adopsi sains dalam pengelolaan keanekaragaman hayati, serta rekomendasi penelitian di masa depan. Selain itu, Kita harapkan juga terjadi peningkatan peran sains dalam pengelolaan hutan tropis dan konservasi keanekaragaman hayati, serta peningkatan komitmen kolaborasi penelitian di antara para pemangku kepentingan dalam pengelolaan keanekaragaman hayati,&amp;rdquo; tutup Krisfianti.
Mengambil tema &amp;ldquo;Innovative Solution for Managing Tropical Forest and Conserving Biodiversity to Support SDGs&amp;rdquo;, sebagai rangkaian INAFOR EXPO 2019, P3H BLI LHK menggelar plenary session untuk membahas penelitian terbaru serta pengembangan dan karya inovasi, yang berfokus pada serangkaian pengelolaan hutan tropis dan keanekaragaman hayati, perubahan iklim dan fungsi ekosistem, serta kebijakan dan tindakan untuk merumuskan penelitian masa depan.
Selain itu juga untuk memperbarui pengetahuan, teknologi dan inovasi, untuk meningkatkan peran ilmu pengetahuan, dalam pengelolaan hutan tropis dan konservasi keanekaragaman hayati. (ADV)
</description><content:encoded>JAKARTA - Konferensi internasional ke-5 peneliti kehutanan Indonesia (INAFOR 2019) mengusung tema solusi inovatif pengelolaan hutan tropis dan pelestarian keanekaragaman hayati dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG). Acara yang digelar di IPB International Convention Center, Bogor (28/8) ini mengupas kebijakan dan best practices dari berbagai pakar kehutanan skala nasional dan internasional.
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan, Badan Litbang dan Inovasi (P3H &amp;ndash; BLI), Krisfianti L. Ginoga menyampaikan, solusi inovatif diperlukan untuk mengelola dan mengurangi konsekuensi hilangnya hutan tropis dan keanekaragaman hayati pada ekosistem bagi manusia.
&quot;Konferensi internasional ini digelar untuk mendapatkan umpan balik dari kebijakan dan manajemen, untuk menempa jalan-jalan penelitian baru, untuk menjadikan ilmu pengetahuan lebih berguna tepat waktu, dan untuk memahami bagaimana ilmu hutan dan keanekaragaman hayati dapat mengurangi ketidakpastian dan melayani inisiatif kebijakan dan manajemen dengan lebih baik. Semua ini merupakan wujud komitmen Pemerintah Indonesia melalui KLHK terhadap kelestarian alam dan hutan di tingkat global&amp;rdquo; ujar Krisfianti.
Saat ini kata dia,  ancaman terhadap penurunan keanekaragaman hayati terjadi pada hampir setiap ekosistem di dunia, termasuk ekosistem hutan. Dengan demikian, pengelolaan hutan harus berubah untuk memberikan dukungan kuat pada konservasi, penilaian dan pengelolaan keanekaragaman hayati, memerangi perubahan iklim, dan berkontribusi pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG&amp;rsquo;s). &amp;ldquo;Sehingga semua tindakan mudah dikomunikasikan dan dapat diterapkan secara universal ke semua negara,&amp;rdquo; tutur Krisfianti.
Untuk itulah, Krisfianti memandang peran ilmu pengetahuan dan inovasi sangat penting, dalam pengelolaan hutan tropis dan konservasi keanekaragaman hayati.
Dijelaskan Krisfianti, beberapa tantangan yang dihadapi dalam pengembangan kehutanan adalah: memperkuat kapasitas masyarakat, meningkatkan kesejahteraan, meningkatkan ketahanan pangan, dan menghentikan hilangnya hutan dan keanekaragaman hayati.
Menjawab tantangan ini, Krisfianti menyadari banyak kegiatan penelitian yang dapat dilakukan. &amp;ldquo;Berbagai hasil penelitian tentang agroforestri, paludikultur dan agro-silvofishery dapat diimplementasikan dalam menjawab tantangan perubahan ekosistem, keanekaragaman hayati pada hutan dan berbagai lanskap, perubahan iklim dan fungsi ekosistem, pemantauan keanekaragaman hayati di hutan pada berbagai skala spasial, dan menentukan penilaian keanekaragaman hayati. Selain itu perlu kita siapkan bagaimana penelitian keanekaragaman hayati di masa depan akan dilakukan&amp;rdquo;.
&amp;ldquo;Melalui konferensi ini, diharapkan akan ada peningkatan wawasan pengetahuan informasi bagi para peserta, peningkatan insentif untuk adopsi sains dalam pengelolaan keanekaragaman hayati, serta rekomendasi penelitian di masa depan. Selain itu, Kita harapkan juga terjadi peningkatan peran sains dalam pengelolaan hutan tropis dan konservasi keanekaragaman hayati, serta peningkatan komitmen kolaborasi penelitian di antara para pemangku kepentingan dalam pengelolaan keanekaragaman hayati,&amp;rdquo; tutup Krisfianti.
Mengambil tema &amp;ldquo;Innovative Solution for Managing Tropical Forest and Conserving Biodiversity to Support SDGs&amp;rdquo;, sebagai rangkaian INAFOR EXPO 2019, P3H BLI LHK menggelar plenary session untuk membahas penelitian terbaru serta pengembangan dan karya inovasi, yang berfokus pada serangkaian pengelolaan hutan tropis dan keanekaragaman hayati, perubahan iklim dan fungsi ekosistem, serta kebijakan dan tindakan untuk merumuskan penelitian masa depan.
Selain itu juga untuk memperbarui pengetahuan, teknologi dan inovasi, untuk meningkatkan peran ilmu pengetahuan, dalam pengelolaan hutan tropis dan konservasi keanekaragaman hayati. (ADV)
</content:encoded></item></channel></rss>
