<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Letjen Suprapto &quot;Dipanggil oleh Soekarno&quot; Sebelum Dieksekusi PKI</title><description>Pembantaian itu dilakukan secara kejam. Di mana perwira TNI dibuang di sebuah tempat. Monumen Lubang Buaya, namanya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/09/26/337/2109454/letjen-suprapto-dipanggil-oleh-soekarno-sebelum-dieksekusi-pki</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/09/26/337/2109454/letjen-suprapto-dipanggil-oleh-soekarno-sebelum-dieksekusi-pki"/><item><title>Letjen Suprapto &quot;Dipanggil oleh Soekarno&quot; Sebelum Dieksekusi PKI</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/09/26/337/2109454/letjen-suprapto-dipanggil-oleh-soekarno-sebelum-dieksekusi-pki</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/09/26/337/2109454/letjen-suprapto-dipanggil-oleh-soekarno-sebelum-dieksekusi-pki</guid><pubDate>Kamis 26 September 2019 07:09 WIB</pubDate><dc:creator>Demon Fajri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/26/337/2109454/letjen-suprapto-dipanggil-oleh-soekarno-sebelum-dieksekusi-pki-rgm2h3KjVt.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Foto: Ist</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/26/337/2109454/letjen-suprapto-dipanggil-oleh-soekarno-sebelum-dieksekusi-pki-rgm2h3KjVt.jpg</image><title>Foto: Ist</title></images><description>PARTAI Komunis Indonesia (PKI) merupakan sejarah kelam bangsa Indonesia. Sejarah kelam itu adanya peristiwa di tahun 1965 atau 54 tahun lalu. Peristiwa kelam itu dikenal G-30/S PKI atau G 30 S/PKI atau Gerakan 30 September.

Peristiwa itu di Jakarta dan Yogyakarta. Di mana saat itu terjadi pemberontakan PKI, dengan menculik beberapa perwira TNI Angakatan Darat (AD).

Pembantaian itu dilakukan secara kejam. Di mana perwira TNI dibuang di sebuah tempat. Monumen Lubang Buaya, namanya.



Perwira TNI yang gugur tersebut mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Revolusi atau Pahlawan Nasional.

Siapa saja sosok Pahlawan Revolusi dalam peristiwa pembantaian dalam G-30/S PKI itu? Berikut ulasannya dari berbagai sumber dan data yang diperoleh Okezone.

Letnan Jenderal Anumerta Suprapto

Saat muda Suprapto sudah berkeinginan menjadi seorang prajurit. Ketika Suprapto tamat dari salah satu sekolah menengah atas (SMA) di Yogyakarta, pada 1941.

Usai menyelesaikan jenjang pendidikan di SMA, Suprapto masuk ke akademi militer di Bandung, Jawa Barat. Di Kota Kembang itu Suprapto mendaftarkan diri ke Koninklijke Militaire Akademie atau Akademi Militer Kerajaan Belanda.



Namun, sebelum masa pendidikan militernya selesai. Jepang masuk ke Indonesia dan mengambil alih kekuasaan Belanda, pada 1942.

Pria asli Purwokerto, kelahiran 20 Juni 1920 ini masih penasaran lantaran belum menjadi tentara. Berangkat dari hal tersebut Suprapto mengikuti kursus kepemudaan yang diselenggarakan pemerintah militer Jepang.

Lalu, Suprapto menjadi bagian dari angkatan perang Dai Nippon yang tengah waspada menghadapi Perang Timur Raya melawan Sekutu.

Suprapto sempat bergabung dengan laskar militer Jepang di Indonesia. Mulai dari Seinendan atau Barisan Pemuda, Syuisyintai atau Barisan Pelopor.

Selanjutnya, Suprapto juga sempat bergabung di Keibodan atau Barisan Pembantu Polisi (Pusat Sejarah ABRI, Biografi Pahlawan Nasional dari Lingkungan ABRI, 1979:51).

Petinggi TNI

Dalam perjalanan hidupnya, Suprapto juga sempat bergabung dengan  Tentara Rakyat Indonesia (TKR). TKR merupakan salah satu cikal bakal  Tentara Nasional Indonesia (TNI), yang di bentuk pemerintah RI, pada 5  Oktober 1945. (Sejarah TNI Jilid I 1945-1949, 2000:17).

Suprapto sempat terlibat di penanggulangan gerakan PRRI/Permesta. Selain itu, jenjang karier militernya berjalan cukup mulus.

Di mana Suprapto menjabat sebagai Deputi Kepala Staf Angkatan Darat,  untuk wilayah Sumatera. Bahkan, menjadi salah satu petinggi TNI.

Sang Survivor

Saat berpangkat Letnan Jenderal Suprapto, dijemput di kediamannya oleh pasukan Cakrabirawa.

Penjemputan itu beralasan jika Suprapto dipanggil Presiden Soekarno.  Dalam penjemputan itu tidak ada anggota keluarga yang mengetahui karena  terlelap tidur.

Sejak itu Suprapto tidak pernah kembali ke rumah. Tanggal 3 Oktober  1965 dini hari, ditemukan sudah tidak bernyawa bersama jenazah petinggi  Angkatan Darat lainnya di dasar sumur di daerah Lubang Buaya, Jakarta  Timur.

Mayjen Soeprapto merupakan salah satu sang survivor yang selalu  berhasil bertahan hidup selama masa penjajahan dan era peperangan.

</description><content:encoded>PARTAI Komunis Indonesia (PKI) merupakan sejarah kelam bangsa Indonesia. Sejarah kelam itu adanya peristiwa di tahun 1965 atau 54 tahun lalu. Peristiwa kelam itu dikenal G-30/S PKI atau G 30 S/PKI atau Gerakan 30 September.

Peristiwa itu di Jakarta dan Yogyakarta. Di mana saat itu terjadi pemberontakan PKI, dengan menculik beberapa perwira TNI Angakatan Darat (AD).

Pembantaian itu dilakukan secara kejam. Di mana perwira TNI dibuang di sebuah tempat. Monumen Lubang Buaya, namanya.



Perwira TNI yang gugur tersebut mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Revolusi atau Pahlawan Nasional.

Siapa saja sosok Pahlawan Revolusi dalam peristiwa pembantaian dalam G-30/S PKI itu? Berikut ulasannya dari berbagai sumber dan data yang diperoleh Okezone.

Letnan Jenderal Anumerta Suprapto

Saat muda Suprapto sudah berkeinginan menjadi seorang prajurit. Ketika Suprapto tamat dari salah satu sekolah menengah atas (SMA) di Yogyakarta, pada 1941.

Usai menyelesaikan jenjang pendidikan di SMA, Suprapto masuk ke akademi militer di Bandung, Jawa Barat. Di Kota Kembang itu Suprapto mendaftarkan diri ke Koninklijke Militaire Akademie atau Akademi Militer Kerajaan Belanda.



Namun, sebelum masa pendidikan militernya selesai. Jepang masuk ke Indonesia dan mengambil alih kekuasaan Belanda, pada 1942.

Pria asli Purwokerto, kelahiran 20 Juni 1920 ini masih penasaran lantaran belum menjadi tentara. Berangkat dari hal tersebut Suprapto mengikuti kursus kepemudaan yang diselenggarakan pemerintah militer Jepang.

Lalu, Suprapto menjadi bagian dari angkatan perang Dai Nippon yang tengah waspada menghadapi Perang Timur Raya melawan Sekutu.

Suprapto sempat bergabung dengan laskar militer Jepang di Indonesia. Mulai dari Seinendan atau Barisan Pemuda, Syuisyintai atau Barisan Pelopor.

Selanjutnya, Suprapto juga sempat bergabung di Keibodan atau Barisan Pembantu Polisi (Pusat Sejarah ABRI, Biografi Pahlawan Nasional dari Lingkungan ABRI, 1979:51).

Petinggi TNI

Dalam perjalanan hidupnya, Suprapto juga sempat bergabung dengan  Tentara Rakyat Indonesia (TKR). TKR merupakan salah satu cikal bakal  Tentara Nasional Indonesia (TNI), yang di bentuk pemerintah RI, pada 5  Oktober 1945. (Sejarah TNI Jilid I 1945-1949, 2000:17).

Suprapto sempat terlibat di penanggulangan gerakan PRRI/Permesta. Selain itu, jenjang karier militernya berjalan cukup mulus.

Di mana Suprapto menjabat sebagai Deputi Kepala Staf Angkatan Darat,  untuk wilayah Sumatera. Bahkan, menjadi salah satu petinggi TNI.

Sang Survivor

Saat berpangkat Letnan Jenderal Suprapto, dijemput di kediamannya oleh pasukan Cakrabirawa.

Penjemputan itu beralasan jika Suprapto dipanggil Presiden Soekarno.  Dalam penjemputan itu tidak ada anggota keluarga yang mengetahui karena  terlelap tidur.

Sejak itu Suprapto tidak pernah kembali ke rumah. Tanggal 3 Oktober  1965 dini hari, ditemukan sudah tidak bernyawa bersama jenazah petinggi  Angkatan Darat lainnya di dasar sumur di daerah Lubang Buaya, Jakarta  Timur.

Mayjen Soeprapto merupakan salah satu sang survivor yang selalu  berhasil bertahan hidup selama masa penjajahan dan era peperangan.

</content:encoded></item></channel></rss>
