<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Letjen MT Haryono, Pria Taat Beragama Korban Pengkhianatan PKI</title><description>Letnan Jenderal TNI Anumerta atau Mas Tirtodarmo Haryono (MT Haryono) satu dari tujuh Perwira yang diculik dalam peristiwa G-30/S PKI.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/09/27/337/2109455/letjen-mt-haryono-pria-taat-beragama-korban-pengkhianatan-pki</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/09/27/337/2109455/letjen-mt-haryono-pria-taat-beragama-korban-pengkhianatan-pki"/><item><title>Letjen MT Haryono, Pria Taat Beragama Korban Pengkhianatan PKI</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/09/27/337/2109455/letjen-mt-haryono-pria-taat-beragama-korban-pengkhianatan-pki</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/09/27/337/2109455/letjen-mt-haryono-pria-taat-beragama-korban-pengkhianatan-pki</guid><pubDate>Jum'at 27 September 2019 07:03 WIB</pubDate><dc:creator>Demon Fajri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/09/26/337/2109455/letjen-mt-haryono-pria-taat-beragama-korban-pengkhianatan-pki-kbleBA5DZQ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/09/26/337/2109455/letjen-mt-haryono-pria-taat-beragama-korban-pengkhianatan-pki-kbleBA5DZQ.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</title></images><description>PARTAI Komunis Indonesia (PKI) merupakan sejarah kelam bangsa Indonesia. Sejarah kelam itu adanya peristiwa di tahun 1965 atau 54 tahun lalu. Peristiwa kelam itu dikenal G-30/S PKI atau G 30 S/PKI atau Gerakan 30 September.

Peristiwa itu di Jakarta dan Yogyakarta. Di mana saat itu terjadi pemberontakan PKI, dengan menculik beberapa perwira TNI Angakatan Darat (AD).

Pembantaian itu dilakukan secara kejam. Di mana perwira TNI dibuang di sebuah tempat. Monumen Lubang Buaya, namanya.



Perwira TNI yang gugur tersebut mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Revolusi atau Pahlawan Nasional.

Siapa saja sosok Pahlawan Revolusi dalam peristiwa pembantaian dalam G-30/S PKI itu? Berikut ulasannya dari berbagai sumber dan data yang diperoleh okezone.

Letnan Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono



Letnan Jenderal TNI Anumerta atau Mas Tirtodarmo Haryono (MT Haryono) satu dari tujuh Perwira yang diculik dalam peristiwa G-30/S PKI.

Pria kelahiran Surabaya, 20 Januari 1924 ini fasih berbicara 3 bahasa asing. Seperti, bahasa Belanda, Inggris dan Jerman. Dengan kemampuannya itu membuat Haryono menjadi perwira penyambung lidah dalam berbagai perundingan.

Semasa hidupnya, perwira ini pernah menjabat Sekretaris Delegasi Militer Indonesia pada Konferensi Meja Bundar, Atase Militer RI untuk Negeri Belanda dan Deputy III Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad).

Sejak bersekolah di- HBS, Harjono sudah menguasai bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman. Kemahiran berbahasa asing tersebut Haryono diberi kepercayaan memangku jabatan sebagai Kepala Kantor Penghubung, sejak 1 September 1945.

Jabatan sebagai Kepala Kantor Penghubung tidak lama berlangsung lama. Sebab di Desember 1945 Haryono dipindahkan ke Sekretariat Keamanan.

Beralih ke Bidang Militer

Anak pasangan suami istri (Pasutri), Mas Harsono dan Alimah ini  mendapatkan pendidikan pertama di Europese Lagere School (ELS), Jakarta.

Usai tamat di ELS, Haryono melanjutkan pendidikan ke Hoogere Burger School (HBS) se-tingkat Sekolah Menengah Atas.

Pria yang terlahir dari keluarga yang taat beragama ini sempat  mengenyam pendidikan umum di Ika Daigaku (Sekolah Tinggi Kedokteran)  pada jaman Jepang. Namun, Haryono hanya belajar selama tiga tahun.

Tahun 1943, Pemerintah Pendudukan Jepang membuka kesempatan bagi  pemuda-pemuda Indonesia untuk dilatih menjadi tentara Peta (Pembela  Tanah Air). Sehingga Haryono berminat beralih ke bidang militer.

Sejak saat itu Haryono mulai berkecimpung di militer. Di masa itu  pemerintah mengumumkan pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR). BKR  kemudian berganti menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Kemudian  Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Haryono Diculik



Pada tahun 1960-an PKI berhasil menanamkan pengaruhnya di hampir  setiap dibidang kehidupan kenegaraan. Tujuan akhir PKI adalah merebut  kekuasaan negara dan mengganti ideologi negara Pancasila dengan ideologi  komunisme.

Tanggal 1 Oktober, PKI memulai gerakannya menculik dan membunuh  pejabat teras Angkatan Darat. Gerakan itu dikenal G-30-S/PKI. Di mana  pasukan yang ditugaskan menculik Mayor Jenderal Harjono sebanyak 16  orang.

Mereka berhasil memasuki rumah dan mendobrak secara paksa pintu kamar tidur Harjono sambil melepaskan tembakan.

Beberapa peluru melukai tubuhnya dan meninggal seketika. Jenazah  Haryono diangkut gerombolan ke Lubang Buaya serta dimasukan kedalam  sumur tua bersama mayat perwira-perwira lain yang diculik dan dibunuh  PKI.

Pada tanggal 4 Oktober, setelah Daerah Lubang Buaya dibersihkan dari  pasukan pemberontak, jenazah Haryono dan lain-lainnya dikeluarkan dari  sumur. Bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-20 ABRI tanggal 5 Oktober  1965, jenazah mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata,  Jakarta.

</description><content:encoded>PARTAI Komunis Indonesia (PKI) merupakan sejarah kelam bangsa Indonesia. Sejarah kelam itu adanya peristiwa di tahun 1965 atau 54 tahun lalu. Peristiwa kelam itu dikenal G-30/S PKI atau G 30 S/PKI atau Gerakan 30 September.

Peristiwa itu di Jakarta dan Yogyakarta. Di mana saat itu terjadi pemberontakan PKI, dengan menculik beberapa perwira TNI Angakatan Darat (AD).

Pembantaian itu dilakukan secara kejam. Di mana perwira TNI dibuang di sebuah tempat. Monumen Lubang Buaya, namanya.



Perwira TNI yang gugur tersebut mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Revolusi atau Pahlawan Nasional.

Siapa saja sosok Pahlawan Revolusi dalam peristiwa pembantaian dalam G-30/S PKI itu? Berikut ulasannya dari berbagai sumber dan data yang diperoleh okezone.

Letnan Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono



Letnan Jenderal TNI Anumerta atau Mas Tirtodarmo Haryono (MT Haryono) satu dari tujuh Perwira yang diculik dalam peristiwa G-30/S PKI.

Pria kelahiran Surabaya, 20 Januari 1924 ini fasih berbicara 3 bahasa asing. Seperti, bahasa Belanda, Inggris dan Jerman. Dengan kemampuannya itu membuat Haryono menjadi perwira penyambung lidah dalam berbagai perundingan.

Semasa hidupnya, perwira ini pernah menjabat Sekretaris Delegasi Militer Indonesia pada Konferensi Meja Bundar, Atase Militer RI untuk Negeri Belanda dan Deputy III Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad).

Sejak bersekolah di- HBS, Harjono sudah menguasai bahasa Belanda, Inggris, dan Jerman. Kemahiran berbahasa asing tersebut Haryono diberi kepercayaan memangku jabatan sebagai Kepala Kantor Penghubung, sejak 1 September 1945.

Jabatan sebagai Kepala Kantor Penghubung tidak lama berlangsung lama. Sebab di Desember 1945 Haryono dipindahkan ke Sekretariat Keamanan.

Beralih ke Bidang Militer

Anak pasangan suami istri (Pasutri), Mas Harsono dan Alimah ini  mendapatkan pendidikan pertama di Europese Lagere School (ELS), Jakarta.

Usai tamat di ELS, Haryono melanjutkan pendidikan ke Hoogere Burger School (HBS) se-tingkat Sekolah Menengah Atas.

Pria yang terlahir dari keluarga yang taat beragama ini sempat  mengenyam pendidikan umum di Ika Daigaku (Sekolah Tinggi Kedokteran)  pada jaman Jepang. Namun, Haryono hanya belajar selama tiga tahun.

Tahun 1943, Pemerintah Pendudukan Jepang membuka kesempatan bagi  pemuda-pemuda Indonesia untuk dilatih menjadi tentara Peta (Pembela  Tanah Air). Sehingga Haryono berminat beralih ke bidang militer.

Sejak saat itu Haryono mulai berkecimpung di militer. Di masa itu  pemerintah mengumumkan pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR). BKR  kemudian berganti menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Kemudian  Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Haryono Diculik



Pada tahun 1960-an PKI berhasil menanamkan pengaruhnya di hampir  setiap dibidang kehidupan kenegaraan. Tujuan akhir PKI adalah merebut  kekuasaan negara dan mengganti ideologi negara Pancasila dengan ideologi  komunisme.

Tanggal 1 Oktober, PKI memulai gerakannya menculik dan membunuh  pejabat teras Angkatan Darat. Gerakan itu dikenal G-30-S/PKI. Di mana  pasukan yang ditugaskan menculik Mayor Jenderal Harjono sebanyak 16  orang.

Mereka berhasil memasuki rumah dan mendobrak secara paksa pintu kamar tidur Harjono sambil melepaskan tembakan.

Beberapa peluru melukai tubuhnya dan meninggal seketika. Jenazah  Haryono diangkut gerombolan ke Lubang Buaya serta dimasukan kedalam  sumur tua bersama mayat perwira-perwira lain yang diculik dan dibunuh  PKI.

Pada tanggal 4 Oktober, setelah Daerah Lubang Buaya dibersihkan dari  pasukan pemberontak, jenazah Haryono dan lain-lainnya dikeluarkan dari  sumur. Bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-20 ABRI tanggal 5 Oktober  1965, jenazah mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata,  Jakarta.

</content:encoded></item></channel></rss>
