<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Setop Pakai Istilah Orang Asli Papua dan Pendatang, Kita Bersaudara!</title><description>MUI Papua minta hentikan sebutan yang menyinggung suku, agama, ras dan antargolongan (SARA)</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/10/02/337/2112160/setop-pakai-istilah-orang-asli-papua-dan-pendatang-kita-bersaudara</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/10/02/337/2112160/setop-pakai-istilah-orang-asli-papua-dan-pendatang-kita-bersaudara"/><item><title>Setop Pakai Istilah Orang Asli Papua dan Pendatang, Kita Bersaudara!</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/10/02/337/2112160/setop-pakai-istilah-orang-asli-papua-dan-pendatang-kita-bersaudara</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/10/02/337/2112160/setop-pakai-istilah-orang-asli-papua-dan-pendatang-kita-bersaudara</guid><pubDate>Rabu 02 Oktober 2019 22:29 WIB</pubDate><dc:creator>Salman Mardira</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/02/337/2112160/setop-pakai-istilah-orang-asli-papua-dan-pendatang-kita-bersaudara-pRpMdOzASv.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Suasana Papua (Foto: Okezone/Salman)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/02/337/2112160/setop-pakai-istilah-orang-asli-papua-dan-pendatang-kita-bersaudara-pRpMdOzASv.jpg</image><title>Suasana Papua (Foto: Okezone/Salman)</title></images><description>JAYAPURA - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Papua mengajak semua pihak menjaga kerukunan antaragama, suku dan ras di Papua sudah terjalin sejak lama, agar Bumi Cenderawasih tetap aman dan damai. Kerukunan ini jangan sampai terkoyak oleh hoaks atau provokasi untuk kepentingan sesaat.
&quot;Saudara kita di luar Papua dan di Papua adalah satu keluarga, mesti kita menjaga,&quot; kata Ketua MUI Papua KH Saiful Islam Al Payage kepada wartawan di Jayapura, Rabu (2/10/2019)
&quot;Di Papua ini sudah banyak sekali saudara-saudara kita asal dari mana pun lahir besar di sini, bahkan tidak mau pulang ke luar daerah, bekerja di sini, mengabdikan diri dan jiwanya di sini. Kerukunan yang sudah terjalin ini jangan sampai hoaks dan kepentingan-kepentingan sesaat memecah belah kerukunan yang sudah terjalin.&quot;
Saifuk meminta hentikan sebutan-sebutan yang menyinggung suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).
&quot;Kita mesti setop bicara orang asli Papua dan pendatang. Kita istilah seperti ini mesti hentikan mulai detik ini,&quot; ujar dia.

Baca Juga: Geliat Kota Jayapura dan Harapan Damai Warganya
Menurutnya Papua masih bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sehingga siapapun warga Indonesia berhak hidup di Papua, tanpa harus membeda-bedakan warna kulit atau ras.
&quot;Siapapun, warna kulit apapun, kalau dia warga Indonesia, dia adalah saudara kita sebangsa setanah air. Tidak ada istilah pendatang dan orang asli. Selama ini Papua bagian dari NKRI, maka kita adalah bagian dari saudara,&quot; ujarnya.Saiful menegaskan kerukunan antarumat beragama dan suku sudah terjalin baik di Papua.
&quot;Ini  tidak hanya slogan, tapi sudah banyak terbukti di Jayapura terjalin  sudah bercampur aduk antara orang asli dan saudara kita yang datang. Di  Wamena juga begitu, di Marauke juga begitu, di Fak-Fak, Biak juga sudah  terjadi, sudah terjalin komunikasi itu,&quot; kata Saiful.
&quot;Saya  berharap ini semoga terpelihara sehingga ini adalah persatuan kita dalam  bingkai NKRI. Semoga Indonesia maju, Papua juga maju ke depan.&quot;</description><content:encoded>JAYAPURA - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Papua mengajak semua pihak menjaga kerukunan antaragama, suku dan ras di Papua sudah terjalin sejak lama, agar Bumi Cenderawasih tetap aman dan damai. Kerukunan ini jangan sampai terkoyak oleh hoaks atau provokasi untuk kepentingan sesaat.
&quot;Saudara kita di luar Papua dan di Papua adalah satu keluarga, mesti kita menjaga,&quot; kata Ketua MUI Papua KH Saiful Islam Al Payage kepada wartawan di Jayapura, Rabu (2/10/2019)
&quot;Di Papua ini sudah banyak sekali saudara-saudara kita asal dari mana pun lahir besar di sini, bahkan tidak mau pulang ke luar daerah, bekerja di sini, mengabdikan diri dan jiwanya di sini. Kerukunan yang sudah terjalin ini jangan sampai hoaks dan kepentingan-kepentingan sesaat memecah belah kerukunan yang sudah terjalin.&quot;
Saifuk meminta hentikan sebutan-sebutan yang menyinggung suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).
&quot;Kita mesti setop bicara orang asli Papua dan pendatang. Kita istilah seperti ini mesti hentikan mulai detik ini,&quot; ujar dia.

Baca Juga: Geliat Kota Jayapura dan Harapan Damai Warganya
Menurutnya Papua masih bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sehingga siapapun warga Indonesia berhak hidup di Papua, tanpa harus membeda-bedakan warna kulit atau ras.
&quot;Siapapun, warna kulit apapun, kalau dia warga Indonesia, dia adalah saudara kita sebangsa setanah air. Tidak ada istilah pendatang dan orang asli. Selama ini Papua bagian dari NKRI, maka kita adalah bagian dari saudara,&quot; ujarnya.Saiful menegaskan kerukunan antarumat beragama dan suku sudah terjalin baik di Papua.
&quot;Ini  tidak hanya slogan, tapi sudah banyak terbukti di Jayapura terjalin  sudah bercampur aduk antara orang asli dan saudara kita yang datang. Di  Wamena juga begitu, di Marauke juga begitu, di Fak-Fak, Biak juga sudah  terjadi, sudah terjalin komunikasi itu,&quot; kata Saiful.
&quot;Saya  berharap ini semoga terpelihara sehingga ini adalah persatuan kita dalam  bingkai NKRI. Semoga Indonesia maju, Papua juga maju ke depan.&quot;</content:encoded></item></channel></rss>
