<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>50.730 Hektare Lahan di Riau Hangus Akibat Karhutla di 2019</title><description>Kawasan terparah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan di Indonesia adalah provinsi Riau</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/10/08/337/2114295/50-730-hektare-lahan-di-riau-hangus-akibat-karhutla-di-2019</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/10/08/337/2114295/50-730-hektare-lahan-di-riau-hangus-akibat-karhutla-di-2019"/><item><title>50.730 Hektare Lahan di Riau Hangus Akibat Karhutla di 2019</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/10/08/337/2114295/50-730-hektare-lahan-di-riau-hangus-akibat-karhutla-di-2019</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/10/08/337/2114295/50-730-hektare-lahan-di-riau-hangus-akibat-karhutla-di-2019</guid><pubDate>Selasa 08 Oktober 2019 15:09 WIB</pubDate><dc:creator>Fadel Prayoga</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/08/337/2114295/50-730-hektare-lahan-di-riau-hangus-akibat-karhutla-di-2019-jFtKSmqvhE.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/08/337/2114295/50-730-hektare-lahan-di-riau-hangus-akibat-karhutla-di-2019-jFtKSmqvhE.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>JAKARTA - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terus terjadi di Indonesia. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sepanjang Januari hingga Agustus 2019 luas kawasan hutan dan lahan yang terbakar di seluruh Indonesia mencapai 328.724 hektare.

Sementara di tahun 2019 ini, kawasan terparah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan di Indonesia adalah provinsi Riau, menurut angka sementara BPBD Riau area terbakar mencapai 50.730 hektare, dengan jumlah titik panas mencapai sekitar 8.168 titik, dengan 72 % di antaranya terjadi di areal lahan gambut.



Kabupaten Siak, seperti halnya beberapa kawasan lain di Provinsi Riau juga mengalami peristiwa karhutla, Jumlah hotspot di Kabupaten Siak tahun 2019 ini mencapai 493 titik. Namun dari segi presentasi hotspot di kabupaten Siak merupakan salah satu yang terendah di Provinsi Riau, yaitu hanya sekitar 6%.

Kabupaten Siak, adalah kabupaten dengan lahan gambut terbesar di Pulau Sumatera. Lebih dari separuh atau 57% luas kawasan Kabupaten Siak berupa lahan gambut, yaitu mencapai area seluas 479.485 ha. Dari total seluruh kawasan gambut tersebut, 21% di antaranya adalah lahan gambut dalam, dengan kedalaman 3-12 meter.

Baca Juga: 4 Poin Pidato soal Karhutla di Riau, Jokowi Akui Jajarannya Lalai

Bupati Siak Alferdi, mengungkapkan rendahnya persentasi hotspot adalah hasil dari upaya pencegahan karhutla Kabupaten Siak yang diupayakan dari tahun ke tahun. Kabupaten Siak telah mendorong upaya pemanfaatan lahan agar lahan terjaga.

Upaya-upaya tersebut tidak hanya berupa kerja pemerintah daerah, namun juga melibatkan masyarakat, mitra pembangunan dan pemerintah kabupaten, organisasi masyarakat sipil, juga pihak swasta yang dipayungi oleh Peraturan Bupati No. 22/2018 mengenai Inisiatif Siak Hijau. Peraturan Siak Hijau ini menjadi pedoman bagi pemerintah daerah Siak, masyarakat, juga pihak swasta dalam melakukan pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan, demi kesejahteraan masyarakat Siak.

Setelah peristiwa karhutla yang masif di tahun 2015, Kabupaten Siak  mulai berbenah melakukan tahap tahapan pembuatan Peta jalan Kabupaten  Siak Hijau pada tahun 2016. Bekerjasama dengan organisasi masyarakat  sipil yang tergabung dalam Saudagho Siak, menganalisis apa saja penyebab  terjadinya kebakaran hutan dan lahan, serta meninjau dan mengembangkan  peraturan-peraturan daerah untuk mencegah dan mengatasi karhutla.

Di tahun 2017, Kabupaten Siak menggandeng pihak swasta dan pengusaha  kecil untuk menerapkan Good Agriculture Practice (GAP) untuk pengelolaan  kebun sawit yang berkelanjutan.

&amp;ldquo;Peraturan Siak Hijau menjadi komitmen kami di Kabupaten Siak, untuk  melakukan pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan, serta upaya  penting bagi kami untuk mencegah dan melakukan penanganan karhutla.  Termasuk kami sudah tidak mengijinkan penebangan kayu alam, dan tidak  lagi memberikan pembukaan konsesi lahan perkebunan sawit. Saat ini kami  sedang mengembangkan lahan Tanah Objek Reforma Agraria (TORA),  intesifikasi komoditas pertanian di lahan gambut seperti Sagu, Kayu  Mahang dan juga Aren.&amp;rdquo; ungkap Bupati Alferdi.



Mengembangkan daerah TORA sebagai salah satu upaya mencegah  terjadinya kebakaran terutama di lahan gambut juga ditegaskan Kepala  Badan Restorasi Gambut, Nazir Foead.

&quot;Selain upaya untuk terus menjaga ketinggian muka air, kunci  pencegahan kebakaran lahan gambut adalah memastikan lahan-lahan TORA itu  tetap produktif. Karena bila memberikan manfaat ekonomi, otomatis  masyarakat akan tetap menjaga lahan dan memahami pentingnya pertanian  dan perkebuman di lahan gambut tanpa mengeringkan lahan gambut,&amp;rdquo; kata  Nazir.

Sementara Susanto Kurniawan dari koalisi mitra pembangunan Kabupaten  Siak, Saudagho Siak, menyampaikan upaya pencegahan karhutla di Kabupaten  Siak dapat didukung berbagai karena adanya peraturan yang menjadi  pedoman.



&amp;ldquo;Peraturan Bupati tahun 2018 adalah acuan bersama bagi siapapun dalam  pembangunan berkelanjutan di kabupaten Siak. Banyak langkah yang  dilakukan untuk mendukung inisiatif Siak Hijau, seperti mendorong  kabupaten untuk melakukan tata kelola hutan dan lahan gambut, mendorong  perhutanan sosial, membangun demplot-demplot tanaman yang ramah gambut.  Selain itu didorong juga pengembangan ekowisata. Harapannya  kegiatan-kegiatan ekonomi dapat mendukung pencegahan karhutla langsung  oleh masyarakat,&amp;rdquo; ujarnya.

Dari sisi pemerintah nasional upaya pencegahan karhutla di Kabupaten  Siak memiliki peluang untuk memanfaatkan  Dana Reboisasi yang saat ini  terbuka untuk mendukung pencegahan kebakaran hutan &amp;amp; lahan.  Pelaksanaan peta jalan Kabupaten Siak untuk agroforestry untuk menambah  nilai ekonomi bagi masyarakat misalnya, dapat menggunakan sumber dana  tersebut. Hal ini disampaikan oleh Bapak Joko Tri dari Badan Kebijakan  Fiskal Kementerian Keuangan.



Inisiatif Siak Hijau ini juga didukung oleh beberapa perusahaan yang  tergabung dalam CORE (aliansi sektor swasta di Siak), di antaranya  Unilever, Musim Mas, Cargil, Unilever, Pepsico, Neste dan Danone.  Dukungan dari perusahaan-perusahaan ini ditunjukan melalui komitmen  mereka dalam pelaksanaan NDPE (No-Deforestation, Peat, and Exploitation)  yang lebih efektif, khususnya pada 4 topik utama: deforestasi,  restorasi gambut, dukungan pada pekebun dan HAM.

Gotong royong para pihak yang terlihat dalam diskusi &amp;ldquo;Kabupaten  Hijau, Upaya Siak Cegah Karhutla&amp;rdquo; di Jakarta, 8 Oktober 2019, diharapkan  menjadi jawaban pencegahan karhutla di tahun mendatang. Hal ini  merupakan langkah awal dari diterbitkannya peraturan daerah yang  menaungi seluruh kegiatan pencegahan karhutla secara bersama-sama.

Festival Kabupaten Lestari 2019

Kabupaten Siak adalah salah satu anggota dari Lingkar Temu Kabupaten   Lestari (LTKL), yang tahun ini menjadi tuan rumah dari Festival   Kabupaten Lestari pada tanggal 10-13 Oktober 2019. Dengan mengusung tema   &amp;ldquo;Besamo Membelo Siak Menuju Indonesia Hijau&amp;rdquo;, Kabupaten Siak akan   memperkenalkan lebih dekat visi &amp;ldquo;Siak Hijau&amp;rdquo; kepada seluruh elemen   masyarakat Siak dan juga mitra pembangunan di luar Kabupaten Siak.

Festival akan mempertemukan peserta dengan inovasi lestari tepat   sasaran yang bisa menjawab tantangan kabupaten dalam implementasi visi   lestari, khususnya seputar restorasi dan konservasi, intensifikasi   pengolahan lahan, serta penanggulangan bencana terkait pengelolaan   lahan.

Dalam FKL 2019 nantinya peserta akan diajak eksplorasi &amp;ldquo;Siak Hijau&amp;rdquo;   melalui perjalanan lapangan yang edukatif ke Taman Nasional Zamrud dan   juga lokasi agrowisata Bunga Raya. Perjalanan ini akan membawa peserta   mengenal lebh dekat Kabupaten Siak melalui #WisataLestari. Melihat   secara langsung bagaimana implementasi dari peraturan bupati no 22/2018.

Festival Kabupaten Lestari merupakan acara perayaan bersama serta   ajang promosi bagi kabupaten anggota LTKL serta mitra pembangunan atas   perkembangan atau kemajuan dalam mengimplementasi visi kabupaten   lestari.

Festival juga menjadi sarana untuk membuka dan mempererat  komunikasi  serta gotong royong antar sesama anggota dan mitra LTKL,  serta pihak  lain yang terlibat dalam mencapai pembangunan berkelanjutan.

&amp;ldquo;Melalui Visi Siak Hiaju, dan pelaksanaan Festival Kabupaten Lestari,   harapan kedepan adalah kita untuk sama-sama melakukan kolaborasi yang   lebih besar agar kita bisa melakukan lebih bayak upaya lagi untuk   melakukan pencegahan karhutla, dan melaksanakan pengelolaan lahan yang   berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat,&amp;rdquo; ujar Bupati Siak menutup   diskusi.
</description><content:encoded>JAKARTA - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terus terjadi di Indonesia. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sepanjang Januari hingga Agustus 2019 luas kawasan hutan dan lahan yang terbakar di seluruh Indonesia mencapai 328.724 hektare.

Sementara di tahun 2019 ini, kawasan terparah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan di Indonesia adalah provinsi Riau, menurut angka sementara BPBD Riau area terbakar mencapai 50.730 hektare, dengan jumlah titik panas mencapai sekitar 8.168 titik, dengan 72 % di antaranya terjadi di areal lahan gambut.



Kabupaten Siak, seperti halnya beberapa kawasan lain di Provinsi Riau juga mengalami peristiwa karhutla, Jumlah hotspot di Kabupaten Siak tahun 2019 ini mencapai 493 titik. Namun dari segi presentasi hotspot di kabupaten Siak merupakan salah satu yang terendah di Provinsi Riau, yaitu hanya sekitar 6%.

Kabupaten Siak, adalah kabupaten dengan lahan gambut terbesar di Pulau Sumatera. Lebih dari separuh atau 57% luas kawasan Kabupaten Siak berupa lahan gambut, yaitu mencapai area seluas 479.485 ha. Dari total seluruh kawasan gambut tersebut, 21% di antaranya adalah lahan gambut dalam, dengan kedalaman 3-12 meter.

Baca Juga: 4 Poin Pidato soal Karhutla di Riau, Jokowi Akui Jajarannya Lalai

Bupati Siak Alferdi, mengungkapkan rendahnya persentasi hotspot adalah hasil dari upaya pencegahan karhutla Kabupaten Siak yang diupayakan dari tahun ke tahun. Kabupaten Siak telah mendorong upaya pemanfaatan lahan agar lahan terjaga.

Upaya-upaya tersebut tidak hanya berupa kerja pemerintah daerah, namun juga melibatkan masyarakat, mitra pembangunan dan pemerintah kabupaten, organisasi masyarakat sipil, juga pihak swasta yang dipayungi oleh Peraturan Bupati No. 22/2018 mengenai Inisiatif Siak Hijau. Peraturan Siak Hijau ini menjadi pedoman bagi pemerintah daerah Siak, masyarakat, juga pihak swasta dalam melakukan pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan, demi kesejahteraan masyarakat Siak.

Setelah peristiwa karhutla yang masif di tahun 2015, Kabupaten Siak  mulai berbenah melakukan tahap tahapan pembuatan Peta jalan Kabupaten  Siak Hijau pada tahun 2016. Bekerjasama dengan organisasi masyarakat  sipil yang tergabung dalam Saudagho Siak, menganalisis apa saja penyebab  terjadinya kebakaran hutan dan lahan, serta meninjau dan mengembangkan  peraturan-peraturan daerah untuk mencegah dan mengatasi karhutla.

Di tahun 2017, Kabupaten Siak menggandeng pihak swasta dan pengusaha  kecil untuk menerapkan Good Agriculture Practice (GAP) untuk pengelolaan  kebun sawit yang berkelanjutan.

&amp;ldquo;Peraturan Siak Hijau menjadi komitmen kami di Kabupaten Siak, untuk  melakukan pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan, serta upaya  penting bagi kami untuk mencegah dan melakukan penanganan karhutla.  Termasuk kami sudah tidak mengijinkan penebangan kayu alam, dan tidak  lagi memberikan pembukaan konsesi lahan perkebunan sawit. Saat ini kami  sedang mengembangkan lahan Tanah Objek Reforma Agraria (TORA),  intesifikasi komoditas pertanian di lahan gambut seperti Sagu, Kayu  Mahang dan juga Aren.&amp;rdquo; ungkap Bupati Alferdi.



Mengembangkan daerah TORA sebagai salah satu upaya mencegah  terjadinya kebakaran terutama di lahan gambut juga ditegaskan Kepala  Badan Restorasi Gambut, Nazir Foead.

&quot;Selain upaya untuk terus menjaga ketinggian muka air, kunci  pencegahan kebakaran lahan gambut adalah memastikan lahan-lahan TORA itu  tetap produktif. Karena bila memberikan manfaat ekonomi, otomatis  masyarakat akan tetap menjaga lahan dan memahami pentingnya pertanian  dan perkebuman di lahan gambut tanpa mengeringkan lahan gambut,&amp;rdquo; kata  Nazir.

Sementara Susanto Kurniawan dari koalisi mitra pembangunan Kabupaten  Siak, Saudagho Siak, menyampaikan upaya pencegahan karhutla di Kabupaten  Siak dapat didukung berbagai karena adanya peraturan yang menjadi  pedoman.



&amp;ldquo;Peraturan Bupati tahun 2018 adalah acuan bersama bagi siapapun dalam  pembangunan berkelanjutan di kabupaten Siak. Banyak langkah yang  dilakukan untuk mendukung inisiatif Siak Hijau, seperti mendorong  kabupaten untuk melakukan tata kelola hutan dan lahan gambut, mendorong  perhutanan sosial, membangun demplot-demplot tanaman yang ramah gambut.  Selain itu didorong juga pengembangan ekowisata. Harapannya  kegiatan-kegiatan ekonomi dapat mendukung pencegahan karhutla langsung  oleh masyarakat,&amp;rdquo; ujarnya.

Dari sisi pemerintah nasional upaya pencegahan karhutla di Kabupaten  Siak memiliki peluang untuk memanfaatkan  Dana Reboisasi yang saat ini  terbuka untuk mendukung pencegahan kebakaran hutan &amp;amp; lahan.  Pelaksanaan peta jalan Kabupaten Siak untuk agroforestry untuk menambah  nilai ekonomi bagi masyarakat misalnya, dapat menggunakan sumber dana  tersebut. Hal ini disampaikan oleh Bapak Joko Tri dari Badan Kebijakan  Fiskal Kementerian Keuangan.



Inisiatif Siak Hijau ini juga didukung oleh beberapa perusahaan yang  tergabung dalam CORE (aliansi sektor swasta di Siak), di antaranya  Unilever, Musim Mas, Cargil, Unilever, Pepsico, Neste dan Danone.  Dukungan dari perusahaan-perusahaan ini ditunjukan melalui komitmen  mereka dalam pelaksanaan NDPE (No-Deforestation, Peat, and Exploitation)  yang lebih efektif, khususnya pada 4 topik utama: deforestasi,  restorasi gambut, dukungan pada pekebun dan HAM.

Gotong royong para pihak yang terlihat dalam diskusi &amp;ldquo;Kabupaten  Hijau, Upaya Siak Cegah Karhutla&amp;rdquo; di Jakarta, 8 Oktober 2019, diharapkan  menjadi jawaban pencegahan karhutla di tahun mendatang. Hal ini  merupakan langkah awal dari diterbitkannya peraturan daerah yang  menaungi seluruh kegiatan pencegahan karhutla secara bersama-sama.

Festival Kabupaten Lestari 2019

Kabupaten Siak adalah salah satu anggota dari Lingkar Temu Kabupaten   Lestari (LTKL), yang tahun ini menjadi tuan rumah dari Festival   Kabupaten Lestari pada tanggal 10-13 Oktober 2019. Dengan mengusung tema   &amp;ldquo;Besamo Membelo Siak Menuju Indonesia Hijau&amp;rdquo;, Kabupaten Siak akan   memperkenalkan lebih dekat visi &amp;ldquo;Siak Hijau&amp;rdquo; kepada seluruh elemen   masyarakat Siak dan juga mitra pembangunan di luar Kabupaten Siak.

Festival akan mempertemukan peserta dengan inovasi lestari tepat   sasaran yang bisa menjawab tantangan kabupaten dalam implementasi visi   lestari, khususnya seputar restorasi dan konservasi, intensifikasi   pengolahan lahan, serta penanggulangan bencana terkait pengelolaan   lahan.

Dalam FKL 2019 nantinya peserta akan diajak eksplorasi &amp;ldquo;Siak Hijau&amp;rdquo;   melalui perjalanan lapangan yang edukatif ke Taman Nasional Zamrud dan   juga lokasi agrowisata Bunga Raya. Perjalanan ini akan membawa peserta   mengenal lebh dekat Kabupaten Siak melalui #WisataLestari. Melihat   secara langsung bagaimana implementasi dari peraturan bupati no 22/2018.

Festival Kabupaten Lestari merupakan acara perayaan bersama serta   ajang promosi bagi kabupaten anggota LTKL serta mitra pembangunan atas   perkembangan atau kemajuan dalam mengimplementasi visi kabupaten   lestari.

Festival juga menjadi sarana untuk membuka dan mempererat  komunikasi  serta gotong royong antar sesama anggota dan mitra LTKL,  serta pihak  lain yang terlibat dalam mencapai pembangunan berkelanjutan.

&amp;ldquo;Melalui Visi Siak Hiaju, dan pelaksanaan Festival Kabupaten Lestari,   harapan kedepan adalah kita untuk sama-sama melakukan kolaborasi yang   lebih besar agar kita bisa melakukan lebih bayak upaya lagi untuk   melakukan pencegahan karhutla, dan melaksanakan pengelolaan lahan yang   berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat,&amp;rdquo; ujar Bupati Siak menutup   diskusi.
</content:encoded></item></channel></rss>
