<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pelantikan Tinggal Menghitung Hari, Jokowi-Ma'ruf Amin Diminta Perhatikan Laut Indonesia</title><description>Joko Widodo (Jokowi), mengaku sudah selesai meramu komposisi kabinet barunya bersama KH Ma'ruf Amin untuk periode 2019-2024.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/10/15/337/2117302/pelantikan-tinggal-menghitung-hari-jokowi-ma-ruf-amin-diminta-perhatikan-laut-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/10/15/337/2117302/pelantikan-tinggal-menghitung-hari-jokowi-ma-ruf-amin-diminta-perhatikan-laut-indonesia"/><item><title>Pelantikan Tinggal Menghitung Hari, Jokowi-Ma'ruf Amin Diminta Perhatikan Laut Indonesia</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/10/15/337/2117302/pelantikan-tinggal-menghitung-hari-jokowi-ma-ruf-amin-diminta-perhatikan-laut-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/10/15/337/2117302/pelantikan-tinggal-menghitung-hari-jokowi-ma-ruf-amin-diminta-perhatikan-laut-indonesia</guid><pubDate>Selasa 15 Oktober 2019 22:52 WIB</pubDate><dc:creator>Achmad Fardiansyah </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/15/337/2117302/pelantikan-tinggal-menghitung-hari-jokowi-ma-ruf-amin-diminta-perhatikan-laut-indonesia-a7v5mnjMmh.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/15/337/2117302/pelantikan-tinggal-menghitung-hari-jokowi-ma-ruf-amin-diminta-perhatikan-laut-indonesia-a7v5mnjMmh.jpg</image><title></title></images><description>JAKARTA - Joko Widodo (Jokowi), mengaku sudah selesai meramu komposisi kabinet barunya bersama KH Ma'ruf Amin untuk periode 2019-2024. Menteri baru Jokowi untuk periode kedua ini diharapkan memiliki kemampuan mengelola Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.504 pulau yang tiga perempat wilayahnya berupa laut ekonomi maritim dengan segudang potensi.

Serasa menghitung hari, paska pelantikan Presiden Jokowi pada 20 Oktober 2019 mendatang akan ada banyak harapan tentang siapa sosok para menteri di Kabinet pada periode kedua.

Menurut Andi Kurniawan, Ketua Pusat Studi Pesisir dan Kelautan Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, pada periode pertama pemerintahan Jokowi dengan misi besarnya Indonesia sebagai poros maritim dunia merupakan langkah awal menyadarkan kita tentang negara kita yang memiliki sumber daya aquatik yang sangat besar. Visi dalam periode pertama memang memiliki plus dan minusnya.

&quot;Minusnya adalah kemaritiman Indonesia belum bisa menjadi pemasukan besar bagi pembangunan Indonesia. Tapi untuk plusnya, sudah dapat membuat banyak orang sadar bahwa kalau bangsa Indonesaia ini ingin besar yang diunggulkan adalah potensi kemaritiman. Begitu tegas pemerintah Indonesia menjaga keamanan wilayah kemaritiman dan perikanan Indonesia,&quot; ujar Andi, Senin (14/10/2019).



Dia menambahkan, sesuai dengan nawacita untuk memanfaatkan sumber daya kemaritiman dengan munculnya kebijakan-kebijakan yang ada.

&quot;Kita memang selama ini terlalu terlena dengan kebijakan pada pembangunan darat, untuk menggeser itu memang diperlukan waktu dan tidak cukup 1-3 tahun saja tapi proses panjang untuk membangun Indonesia berdaya di Asia,&quot; ucapnya.

Wakil Direktur Pascasarjana Multidisiplin Universitas Brawijaya ini juga menerangkan, pada Menteri Susi Pujiastuti melakukan kebijakan-kebijakan yang tegas seperti penenggelaman kapal asing. Memang belum semua pekerjaan bisa dijalankan secara penuh. Tapi Indonesia telah berhasil membangun pondasi bahwa Indonesa serius menjaga sumber daya laut.

Baca Juga: Jokowi Terkesima Keindahan Bawah Laut Taman Nasional Bunaken

&quot;Masih banyak PR yang harus dikerjakan. Contoh ada kebijakan untuk jaring berkantung. Sementara peralihan alat tangkap dan pengaturan alat tangkap itu belum bisa menyentuh problematika sosial yang berada di masyarakat contohnya bagaimana nasib para nelayan yang alat tangkapnya jaring berkantung, &quot; tutur dia.

Andi menjelaskan, secara umum kebijakan sudah terlihat mengenai ketersediaan stok ikan tapi kebijakan yang dilakukan belum bisa menyentuh kondisi masyarakat sehingga aksi protes masih berjalan. &quot;Nah, jika kita melihat dari sisi akademis semua kebijakan itu harus disesuaikan dalam masyarakat. Salah satu alternatifnya adalah pelaksanaan kebijakan yang bertahap dan tidak frontal, contoh penggantian alat tangkap dan pergaturan zona tangkap itu tidak bisa dilakukan frontal ditetapkan dan dilaksanakan tahun ini,&quot; sambungnya.

Sebelumnya, kata Andi itu harus dilakukan sosialisasi terlebih dahulu  kepada masyarakat disertai dengan pengaturan dan langkah penerapan  kebijakan yang memperhatikan kondisi masyarakat Indonesia.

&quot;Jika saya melihat dari sisi akademis masih ada kasus industri yang  kekurangan bahan baku maka proses produksi mereka jadi terhambat. Ini  sebenernya arah kebijakan harus bisa melibatkan dunia industri termasuk  eksekusi dilapangan,&quot; ujar dia.

Andi juga melihat kebijakan yang ada saat ini lebih  ke perikanan  tangkap sementara potensi Indonesia tidak hanya pada perikanan tangkap  tapi juga perikanan budidaya. Perlu proporsi yang sebanding antara  perikanan tangkap dan budidaya.



Selanjutnya Andi juga menggarisbawahi, perlu ada pertimbangan di  tatanan lokal tentang pengaturan zona pengolahan perikanan di setiap  daerah. Ada pelibatan masyarakat di setiap kabupaten untuk bisa  memberikan kontribusi sebanding. Kedepannya periode kedua ini, perlu  pelibatan para stakeholder dengan membuka ruang dan sosialisasi.

Dan pada periode kedua ini, kata Andi dibutuhkan sosok yang bisa  memimpin di kelautan dan perikanan yang memahami potensi kelautan dan  perikanan Indonesia secara utuh dan bisa memiliki kebijakan-kebijakan  yang bisa memberikan kontribusi besar di wilayah kelautan. Banyak  kandidat atau pengamat yang memprediksi siapa saja yang akan muncul.

&quot;Nama Bapak Rokhmin sempat muncul, saya rasa beliau merupakan sosok  yang mumpuni di bidang perikanan dan kelautan. Keilmuan dan kerja beliau  sudah memiliki pengalaman,&quot; ujar dia.

Namun Andi juga menegaskan siapapun menterinya, harus sosok  benar   yang mengerti permasalahan tidak mengambil kebijakan yang parsial kepada   satu bidang saja tetapi bisa mengoptimalkan bidang-bidang yang   sebenarnya mempunyai potensi besar untuk menjadi salah satu komoditas   utama perekonomian perikanan Indonesia.

Sementara Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (KADIN) Bidang   Kelautan dan Perikanan, Yogi Prayanto mengatakan harapannya pada sosok   Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada Kabinet yang akan   diumumkan Presiden Jokowi setelah pelantikan pada 20 0ktober 2019 adalah   sosok yang mau mendengar.

Yogi juga mengatakan sosok menteri tersebut juga harus memberikan   jalan ke luar pada permasalahan kelautan dan perikanan Indonesia. &quot;Sosok   menteri yang akan datang adalah sosok yang bila memberlakukan regulasi   perikanan kepada para pengusaha perikanan ada atau melalui proses   sosialiasasi dan mediasi dengan para pengusaha. Bukan langsung ke luar   regulasi atau peraturan tanpa memberikan kesempatan atau masukan pada   para pengusaha,&quot; kata Yogi.

Yogi juga mengamati dari kinerja menteri sebelumnya, sering ujuk-ujuk   ke luar peratauran tanpa ada sosialisasi yang melibatkan kami para   pengusaha,&quot; ujar dia.

Yogi juga menyampaikan harapan para pengusaha perikanan kepada sosok   menteri yang akan datang adalah mampu meningkatkan ekspor perikanan.   Menurutnya, sosok menteri yang akan datang harus dichallenge untuk   kinerja yang lebih riil yaitu peningkatan ekspor.

&quot;Intinya, masukan kami para pengusaha adalah sosok menteri yang dapat   mendengarkan, dan mengembangkan potensi kelautan dan perikanan secara   optimal yang tidak merusak lingkungan,&quot; kata Yogi.



Selanjutnya, Yogi juga meminta sosok menteri Kelautan dan Perikanan   di periode mendatang  ini harus mensosialisasikan peraturan ke pelaku   atau para pengusaha dilibatkan sebelum regulasi atau peraturan tersebut   turun.

&quot;Dari pengalaman yang ada sering kami para pengusaha dibuat atau diperlakukan seperti itu,&quot; kata dia.

Yogi juga berharap sosok menteri kelautan dan perikanan mendatang   harus bekerja dengan target prestasi misalnya mampu meningkatkan ekspor.   Dari perhatiannya pada sosok menteri yang ada tidak mampu meningkatkan   ekspor tetapi dibiarkan sampai setahun.

&quot;Saya sih maunya Presiden Jokowi tegas, memberikan kesempatan kepada   menteri KKP berikutnya dengan target setahun mampu tidak meningkatkan   ekspor. Kalau faktanya tidak mampu ya harus siap diganti,&quot; kata Yogi   bersemangat.

Ketika ditanya apakah Rokhmin Dahuri merupakan kandidat sosok menteri   KKP di kabinet berikutnya? Yogi sambil tersenyum berkata, &quot;Ya pokoknya   sosok yang mau mendengar, berpengalaman, munpuni di bidangnya, bekerja   demi rakyat, mampu menjalani dengan baik tugas KKP, memahami detail   regulasi kelautan dan perikanan serta yang utama mampu meningkatkan   ekspor,'ujarnya panjang lebat.

Yogi menegaskan kalau dengan harapan yang dipaparkan di atas tentulah   orangnya bukan pada sosok menteri yang ada sekarang. &quot;Saya tidak  bicara  orang, tetapi pada kriteria yang saya sebutkan tadi, ya kalau  ternyata  ada di Pak Rokhmin ya silahkan saja&quot; ujar Yogi menutup  pembicaraan.

</description><content:encoded>JAKARTA - Joko Widodo (Jokowi), mengaku sudah selesai meramu komposisi kabinet barunya bersama KH Ma'ruf Amin untuk periode 2019-2024. Menteri baru Jokowi untuk periode kedua ini diharapkan memiliki kemampuan mengelola Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan 17.504 pulau yang tiga perempat wilayahnya berupa laut ekonomi maritim dengan segudang potensi.

Serasa menghitung hari, paska pelantikan Presiden Jokowi pada 20 Oktober 2019 mendatang akan ada banyak harapan tentang siapa sosok para menteri di Kabinet pada periode kedua.

Menurut Andi Kurniawan, Ketua Pusat Studi Pesisir dan Kelautan Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur, pada periode pertama pemerintahan Jokowi dengan misi besarnya Indonesia sebagai poros maritim dunia merupakan langkah awal menyadarkan kita tentang negara kita yang memiliki sumber daya aquatik yang sangat besar. Visi dalam periode pertama memang memiliki plus dan minusnya.

&quot;Minusnya adalah kemaritiman Indonesia belum bisa menjadi pemasukan besar bagi pembangunan Indonesia. Tapi untuk plusnya, sudah dapat membuat banyak orang sadar bahwa kalau bangsa Indonesaia ini ingin besar yang diunggulkan adalah potensi kemaritiman. Begitu tegas pemerintah Indonesia menjaga keamanan wilayah kemaritiman dan perikanan Indonesia,&quot; ujar Andi, Senin (14/10/2019).



Dia menambahkan, sesuai dengan nawacita untuk memanfaatkan sumber daya kemaritiman dengan munculnya kebijakan-kebijakan yang ada.

&quot;Kita memang selama ini terlalu terlena dengan kebijakan pada pembangunan darat, untuk menggeser itu memang diperlukan waktu dan tidak cukup 1-3 tahun saja tapi proses panjang untuk membangun Indonesia berdaya di Asia,&quot; ucapnya.

Wakil Direktur Pascasarjana Multidisiplin Universitas Brawijaya ini juga menerangkan, pada Menteri Susi Pujiastuti melakukan kebijakan-kebijakan yang tegas seperti penenggelaman kapal asing. Memang belum semua pekerjaan bisa dijalankan secara penuh. Tapi Indonesia telah berhasil membangun pondasi bahwa Indonesa serius menjaga sumber daya laut.

Baca Juga: Jokowi Terkesima Keindahan Bawah Laut Taman Nasional Bunaken

&quot;Masih banyak PR yang harus dikerjakan. Contoh ada kebijakan untuk jaring berkantung. Sementara peralihan alat tangkap dan pengaturan alat tangkap itu belum bisa menyentuh problematika sosial yang berada di masyarakat contohnya bagaimana nasib para nelayan yang alat tangkapnya jaring berkantung, &quot; tutur dia.

Andi menjelaskan, secara umum kebijakan sudah terlihat mengenai ketersediaan stok ikan tapi kebijakan yang dilakukan belum bisa menyentuh kondisi masyarakat sehingga aksi protes masih berjalan. &quot;Nah, jika kita melihat dari sisi akademis semua kebijakan itu harus disesuaikan dalam masyarakat. Salah satu alternatifnya adalah pelaksanaan kebijakan yang bertahap dan tidak frontal, contoh penggantian alat tangkap dan pergaturan zona tangkap itu tidak bisa dilakukan frontal ditetapkan dan dilaksanakan tahun ini,&quot; sambungnya.

Sebelumnya, kata Andi itu harus dilakukan sosialisasi terlebih dahulu  kepada masyarakat disertai dengan pengaturan dan langkah penerapan  kebijakan yang memperhatikan kondisi masyarakat Indonesia.

&quot;Jika saya melihat dari sisi akademis masih ada kasus industri yang  kekurangan bahan baku maka proses produksi mereka jadi terhambat. Ini  sebenernya arah kebijakan harus bisa melibatkan dunia industri termasuk  eksekusi dilapangan,&quot; ujar dia.

Andi juga melihat kebijakan yang ada saat ini lebih  ke perikanan  tangkap sementara potensi Indonesia tidak hanya pada perikanan tangkap  tapi juga perikanan budidaya. Perlu proporsi yang sebanding antara  perikanan tangkap dan budidaya.



Selanjutnya Andi juga menggarisbawahi, perlu ada pertimbangan di  tatanan lokal tentang pengaturan zona pengolahan perikanan di setiap  daerah. Ada pelibatan masyarakat di setiap kabupaten untuk bisa  memberikan kontribusi sebanding. Kedepannya periode kedua ini, perlu  pelibatan para stakeholder dengan membuka ruang dan sosialisasi.

Dan pada periode kedua ini, kata Andi dibutuhkan sosok yang bisa  memimpin di kelautan dan perikanan yang memahami potensi kelautan dan  perikanan Indonesia secara utuh dan bisa memiliki kebijakan-kebijakan  yang bisa memberikan kontribusi besar di wilayah kelautan. Banyak  kandidat atau pengamat yang memprediksi siapa saja yang akan muncul.

&quot;Nama Bapak Rokhmin sempat muncul, saya rasa beliau merupakan sosok  yang mumpuni di bidang perikanan dan kelautan. Keilmuan dan kerja beliau  sudah memiliki pengalaman,&quot; ujar dia.

Namun Andi juga menegaskan siapapun menterinya, harus sosok  benar   yang mengerti permasalahan tidak mengambil kebijakan yang parsial kepada   satu bidang saja tetapi bisa mengoptimalkan bidang-bidang yang   sebenarnya mempunyai potensi besar untuk menjadi salah satu komoditas   utama perekonomian perikanan Indonesia.

Sementara Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (KADIN) Bidang   Kelautan dan Perikanan, Yogi Prayanto mengatakan harapannya pada sosok   Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada Kabinet yang akan   diumumkan Presiden Jokowi setelah pelantikan pada 20 0ktober 2019 adalah   sosok yang mau mendengar.

Yogi juga mengatakan sosok menteri tersebut juga harus memberikan   jalan ke luar pada permasalahan kelautan dan perikanan Indonesia. &quot;Sosok   menteri yang akan datang adalah sosok yang bila memberlakukan regulasi   perikanan kepada para pengusaha perikanan ada atau melalui proses   sosialiasasi dan mediasi dengan para pengusaha. Bukan langsung ke luar   regulasi atau peraturan tanpa memberikan kesempatan atau masukan pada   para pengusaha,&quot; kata Yogi.

Yogi juga mengamati dari kinerja menteri sebelumnya, sering ujuk-ujuk   ke luar peratauran tanpa ada sosialisasi yang melibatkan kami para   pengusaha,&quot; ujar dia.

Yogi juga menyampaikan harapan para pengusaha perikanan kepada sosok   menteri yang akan datang adalah mampu meningkatkan ekspor perikanan.   Menurutnya, sosok menteri yang akan datang harus dichallenge untuk   kinerja yang lebih riil yaitu peningkatan ekspor.

&quot;Intinya, masukan kami para pengusaha adalah sosok menteri yang dapat   mendengarkan, dan mengembangkan potensi kelautan dan perikanan secara   optimal yang tidak merusak lingkungan,&quot; kata Yogi.



Selanjutnya, Yogi juga meminta sosok menteri Kelautan dan Perikanan   di periode mendatang  ini harus mensosialisasikan peraturan ke pelaku   atau para pengusaha dilibatkan sebelum regulasi atau peraturan tersebut   turun.

&quot;Dari pengalaman yang ada sering kami para pengusaha dibuat atau diperlakukan seperti itu,&quot; kata dia.

Yogi juga berharap sosok menteri kelautan dan perikanan mendatang   harus bekerja dengan target prestasi misalnya mampu meningkatkan ekspor.   Dari perhatiannya pada sosok menteri yang ada tidak mampu meningkatkan   ekspor tetapi dibiarkan sampai setahun.

&quot;Saya sih maunya Presiden Jokowi tegas, memberikan kesempatan kepada   menteri KKP berikutnya dengan target setahun mampu tidak meningkatkan   ekspor. Kalau faktanya tidak mampu ya harus siap diganti,&quot; kata Yogi   bersemangat.

Ketika ditanya apakah Rokhmin Dahuri merupakan kandidat sosok menteri   KKP di kabinet berikutnya? Yogi sambil tersenyum berkata, &quot;Ya pokoknya   sosok yang mau mendengar, berpengalaman, munpuni di bidangnya, bekerja   demi rakyat, mampu menjalani dengan baik tugas KKP, memahami detail   regulasi kelautan dan perikanan serta yang utama mampu meningkatkan   ekspor,'ujarnya panjang lebat.

Yogi menegaskan kalau dengan harapan yang dipaparkan di atas tentulah   orangnya bukan pada sosok menteri yang ada sekarang. &quot;Saya tidak  bicara  orang, tetapi pada kriteria yang saya sebutkan tadi, ya kalau  ternyata  ada di Pak Rokhmin ya silahkan saja&quot; ujar Yogi menutup  pembicaraan.

</content:encoded></item></channel></rss>
