<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kasus Penusukan Wiranto Disinggung dalam Sidang Parlemen Dunia di Beograd</title><description>Hari ketiga Sidang Parlemen Dunia yang berlangsung di Beograd, Serbia, menghadirkan berbagai isu.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/10/16/337/2117844/kasus-penusukan-wiranto-disinggung-dalam-sidang-parlemen-dunia-di-beograd</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/10/16/337/2117844/kasus-penusukan-wiranto-disinggung-dalam-sidang-parlemen-dunia-di-beograd"/><item><title>Kasus Penusukan Wiranto Disinggung dalam Sidang Parlemen Dunia di Beograd</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/10/16/337/2117844/kasus-penusukan-wiranto-disinggung-dalam-sidang-parlemen-dunia-di-beograd</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/10/16/337/2117844/kasus-penusukan-wiranto-disinggung-dalam-sidang-parlemen-dunia-di-beograd</guid><pubDate>Rabu 16 Oktober 2019 19:09 WIB</pubDate><dc:creator>Fadel Prayoga</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/16/337/2117844/kasus-penusukan-wiranto-disinggung-dalam-sidang-parlemen-dunia-di-beograd-5lzy1C4aJe.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Penusukan Wiranto di Pandeglang (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/16/337/2117844/kasus-penusukan-wiranto-disinggung-dalam-sidang-parlemen-dunia-di-beograd-5lzy1C4aJe.jpg</image><title>Penusukan Wiranto di Pandeglang (Foto: Ist)</title></images><description>JAKARTA - Hari ketiga Sidang Parlemen Dunia yang berlangsung di Beograd, Serbia, menghadirkan berbagai isu. Salah satunya adalah isu Perdamaian dan Keamanan Internasional (Peace and Internasional Security). Salah satu yang menjadi sorotan dalam isu tersebut adalah mengenai terorisme.

Wakil dari Fraksi Partai NasDem Willy Aditya yang turut hadir dalam kesempatan tersebut menyampaikan tentang pentingnya penanganan terhadap terorisme. Menurutnya, terorisme masih menjadi ancaman yang nyata bagi dunia. Indonesia menjadi salah satu negara yang terus mendapatkan ancaman tersebut.

Baca Juga: Pasutri Terduga Teroris di Malang Berafiliasi dengan Penusuk Wiranto

&amp;ldquo;Terakhir kasus yang menimpa Menteri Polhukam kami, Bapak Wiranto, di Pandeglang, Banten. Pola serangannya bahkan sudah berbeda, tidak menggunakan bom atau senjata api lagi, tetapi sudah serangan dengan senjata tajam. Hal ini menunjukkan bahwa terorisme masih terus eksis dan semakin berani,&amp;rdquo; ucapnya, Selasa 15 Oktober 2019, waktu Beograd.

Merujuk berbagai laporan yang ada Willy melanjutkan, kawasan Asia Tenggara memang menjadi persemaian baru bibit terorisme. Pasca kalahnya ISIS di Suriah, banyak para kombatannya terutama yang berasal dari Asia, menjadi Asia Tenggara sebagai kawasan untuk menyusun kekuatan baru mereka.



&amp;ldquo;Apa yang terjadi di Filipina Selatan beberapa waktu yang lalu menjadi salah satu indikasinya,&amp;rdquo; imbuhnya.

Lulusan Cranfield University bidang Defends Studies ini kemudian menyampaikan tentang pentingnya pendekatan lunak (soft approach) dalam penanganan aksi terorisme. Salah satu bentuknya adalah tindak pencegahan yang dipayungi oleh undang-undang.

Baca Juga: 36 Terduga Teroris Ditangkap Densus 88 Pasca-Penusukan Wiranto

Menurut Willy, pasca pengesahan revisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme di Indonesia, aksi teror tidak hanya bisa dideteksi melainkan juga ditindak sejak dini.

&amp;ldquo;Jika seseorang terlihat terlibat dalam jaringan teror, dia bisa langsung ditindak,&amp;rdquo; ucapnya.

Ini yang membedakannya dengan payung hukum sebelumnya, di mana Densus 88 baru bisa menindak ketika tindakan teror terjadi.

Dengan payung hukum tersebut Densus 88 juga telah melakukan  penangkapan terhadap anggota jaringan kelompok teror di berbagai wilayah  di Indonesia.

Selain payung hukum, keberadaan Badan Nasional Penanggulangan  Terorisme (BNPT) menjadi wujud lainnya dalam pendekatan lunak terhadap  terorisme.

&amp;ldquo;Terorisme itu sejatinya aksi politik, dan politik itu adu  kecerdasan, adu siasat. Dalam kasus ini, BNPT telah banyak melakukan  deradikalisasi terhadap pentolan-pentolan teroris. Terdapat lebih dari  600 narapidana dan mantan narapidana perkara terorisme yang menjalani  program deradikalisasi. Dan dari 600 itu, hanya tiga orang yang kembali  melakukan teror,&amp;rdquo; papar Willy.

Tidak berhenti di situ, adanya ormas-ormas keagamaan yang moderat  juga menjadi agen dalam penanganan aksi terorisme. Jika BNPT berugas  melakukan deradikalisasi maka ormas-ormas yang berhaluan moderat ini  melaksanakan prgram kontra radikalisme.

&amp;ldquo;Jadi mereka lebih banyak berada di wilayah perlawanan wacana,&amp;rdquo; pungkasnya.

Selain terorisme, isu lain yang mengemuka dalam agenda tersebut adalah mengenai senjata nuklir dan money laundry.

Sidang Parlemen Dunia ke 141 di Beograd, yang menghadirkan anggota  parlemen dari seluruh dunia, itu akan berakhir pada Kamis 17 Oktober  2019 besok.

</description><content:encoded>JAKARTA - Hari ketiga Sidang Parlemen Dunia yang berlangsung di Beograd, Serbia, menghadirkan berbagai isu. Salah satunya adalah isu Perdamaian dan Keamanan Internasional (Peace and Internasional Security). Salah satu yang menjadi sorotan dalam isu tersebut adalah mengenai terorisme.

Wakil dari Fraksi Partai NasDem Willy Aditya yang turut hadir dalam kesempatan tersebut menyampaikan tentang pentingnya penanganan terhadap terorisme. Menurutnya, terorisme masih menjadi ancaman yang nyata bagi dunia. Indonesia menjadi salah satu negara yang terus mendapatkan ancaman tersebut.

Baca Juga: Pasutri Terduga Teroris di Malang Berafiliasi dengan Penusuk Wiranto

&amp;ldquo;Terakhir kasus yang menimpa Menteri Polhukam kami, Bapak Wiranto, di Pandeglang, Banten. Pola serangannya bahkan sudah berbeda, tidak menggunakan bom atau senjata api lagi, tetapi sudah serangan dengan senjata tajam. Hal ini menunjukkan bahwa terorisme masih terus eksis dan semakin berani,&amp;rdquo; ucapnya, Selasa 15 Oktober 2019, waktu Beograd.

Merujuk berbagai laporan yang ada Willy melanjutkan, kawasan Asia Tenggara memang menjadi persemaian baru bibit terorisme. Pasca kalahnya ISIS di Suriah, banyak para kombatannya terutama yang berasal dari Asia, menjadi Asia Tenggara sebagai kawasan untuk menyusun kekuatan baru mereka.



&amp;ldquo;Apa yang terjadi di Filipina Selatan beberapa waktu yang lalu menjadi salah satu indikasinya,&amp;rdquo; imbuhnya.

Lulusan Cranfield University bidang Defends Studies ini kemudian menyampaikan tentang pentingnya pendekatan lunak (soft approach) dalam penanganan aksi terorisme. Salah satu bentuknya adalah tindak pencegahan yang dipayungi oleh undang-undang.

Baca Juga: 36 Terduga Teroris Ditangkap Densus 88 Pasca-Penusukan Wiranto

Menurut Willy, pasca pengesahan revisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme di Indonesia, aksi teror tidak hanya bisa dideteksi melainkan juga ditindak sejak dini.

&amp;ldquo;Jika seseorang terlihat terlibat dalam jaringan teror, dia bisa langsung ditindak,&amp;rdquo; ucapnya.

Ini yang membedakannya dengan payung hukum sebelumnya, di mana Densus 88 baru bisa menindak ketika tindakan teror terjadi.

Dengan payung hukum tersebut Densus 88 juga telah melakukan  penangkapan terhadap anggota jaringan kelompok teror di berbagai wilayah  di Indonesia.

Selain payung hukum, keberadaan Badan Nasional Penanggulangan  Terorisme (BNPT) menjadi wujud lainnya dalam pendekatan lunak terhadap  terorisme.

&amp;ldquo;Terorisme itu sejatinya aksi politik, dan politik itu adu  kecerdasan, adu siasat. Dalam kasus ini, BNPT telah banyak melakukan  deradikalisasi terhadap pentolan-pentolan teroris. Terdapat lebih dari  600 narapidana dan mantan narapidana perkara terorisme yang menjalani  program deradikalisasi. Dan dari 600 itu, hanya tiga orang yang kembali  melakukan teror,&amp;rdquo; papar Willy.

Tidak berhenti di situ, adanya ormas-ormas keagamaan yang moderat  juga menjadi agen dalam penanganan aksi terorisme. Jika BNPT berugas  melakukan deradikalisasi maka ormas-ormas yang berhaluan moderat ini  melaksanakan prgram kontra radikalisme.

&amp;ldquo;Jadi mereka lebih banyak berada di wilayah perlawanan wacana,&amp;rdquo; pungkasnya.

Selain terorisme, isu lain yang mengemuka dalam agenda tersebut adalah mengenai senjata nuklir dan money laundry.

Sidang Parlemen Dunia ke 141 di Beograd, yang menghadirkan anggota  parlemen dari seluruh dunia, itu akan berakhir pada Kamis 17 Oktober  2019 besok.

</content:encoded></item></channel></rss>
