<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Warga Suku Anak Dalam Terancam Kelaparan, Terpaksa Makan Monyet Buruan</title><description>Musim kemarau panjang ternyata juga mengancam sumber pangan bagi warga suku anak dalam (SAD).</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/10/17/340/2118336/warga-suku-anak-dalam-terancam-kelaparan-terpaksa-makan-monyet-buruan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/10/17/340/2118336/warga-suku-anak-dalam-terancam-kelaparan-terpaksa-makan-monyet-buruan"/><item><title>Warga Suku Anak Dalam Terancam Kelaparan, Terpaksa Makan Monyet Buruan</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/10/17/340/2118336/warga-suku-anak-dalam-terancam-kelaparan-terpaksa-makan-monyet-buruan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/10/17/340/2118336/warga-suku-anak-dalam-terancam-kelaparan-terpaksa-makan-monyet-buruan</guid><pubDate>Kamis 17 Oktober 2019 19:22 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/17/340/2118336/warga-suku-anak-dalam-terancam-kelaparan-terpaksa-makan-monyet-buruan-PWrqZEUIdy.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Suku Anak Dalam di Jambi (Foto: Nanang Fahrurozi)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/17/340/2118336/warga-suku-anak-dalam-terancam-kelaparan-terpaksa-makan-monyet-buruan-PWrqZEUIdy.jpg</image><title>Suku Anak Dalam di Jambi (Foto: Nanang Fahrurozi)</title></images><description>MERANGIN - Musim kemarau panjang ternyata juga mengancam sumber pangan bagi warga suku anak dalam (SAD). Sehingga membuat warga SAD yang berada di Kampung Duren Kecamatan Renah Pamenang Kabupaten Merangin, Jambi terancam kelaparan.

Biasanya warga SAD Kebun Duren, sering berburu babi namun saat ini sangat sulit mendapatkan babi. Sementara getah karet juga sangat murah, sehingga memaksa warga SAD hanya bisa makan satu kali dalam sehari.

&quot;Semenjak kemarau ini kami sangat kesulitan mencari babi. Apalagi getah karet juga sangat murah harganya dan kami terpaksa makan sekali dalam sehari itu saja jika kami punya beras,&quot; ungkap Jhon Temenggung SAD Kebun duren, Kamis (17/10/2019).

Selama ini, warga terpaksa makan monyet hasil buruan, itupun jika mereka dapat berburu. Tapi jika tidak terpaksa hanya mengkonsumsi air putih untuk mengganjal perutnya.



&quot;Kadang kalau sudah lapar beras tidak ada, Terpaksa kami cari monyet untuk dimakan jika tidak dapat terpaksa hanya minum air putih saja,&quot; ujarnya lagi.

Jhon tidak tinggal diam, dan pernah mengajukan permohonan rawan pangan kepada Dinas Sosial namun tidak pernah ada tanggapan.

&quot;Lewat pemerintah desa saya sudah ajukan surat rawan pangan. Tapi sampai saat ini tidak ada realisasinya. Saya bingung warga saya banyak berdatangan ke rumah dengan kondisi lapar,&quot; ucapnya.

Sementara, Keluarga Arif warga SAD Kebun Duren bersama keluarganya  terpaksa mengkonsumsi monyet untuk kebutuhan makan keluarganya.

&quot;Sudah beberapa Minggu ini terpaksa makan monyet. Sebab beras tidak punya dan ini yang bisa kami makan,&quot; ungkap Arif.

Meskipun cara berburu babi tidak lagi mudah didapatkan. Namun bagi  Arif untuk bertahan hidup terpaksa hewan yang bisa didapat yang akan  dimakan.

&quot;Dari pada kami tidak makan ya terpaksa hewan apa saja yang bisa kami makan, dari pada keluarga saya lapar,&quot; ujarnya.

Setiap malam Arif dan keluarga lain berburu dengan senapan angin. Untuk bisa mendapatkan monyet yang tak jauh dari pemukimannya.

&quot;Sekali berburu bisa lima kepala keluarga, entah sampai kapan kami  bisa bertahan hidup dengan cara begini, kami harus menahan lapar,&quot;  ucapnya lirih.

Hal senada di sampaikan Betelih, Warga SAD Kebun Duren. Keluarganya  terpaksa mencari sumber makanan lain, dengan cara mencari buah sawit  yang jatuh di kebun warga.

&quot;Kadang kami mencari buah sawit yang sudah jatuh dan tidak diambil  pemiliknya. Itupun hasilnya tidak seberapa hanya cukup buat beli beras  satu kilo, dan kami sangat berharap ada uluran tangan pemerintah untuk  membantu kesulitan kami,&quot; ucap Betelih.

Sementara itu, Samono, Kepala Desa Lantak Seribu Kecamatan Renah  Pamenang mengatakan bahwa pihaknya sudah mengajukan surat rawan pangan,  tapi tidak juga ada realisasinya.

&quot;Sudah kita ajukan beberapa bulan yang lalu. Tapi tidak ada  realisasinya, padahal mereka sangat butuh makanan,&quot; ungkapnya singkat.

</description><content:encoded>MERANGIN - Musim kemarau panjang ternyata juga mengancam sumber pangan bagi warga suku anak dalam (SAD). Sehingga membuat warga SAD yang berada di Kampung Duren Kecamatan Renah Pamenang Kabupaten Merangin, Jambi terancam kelaparan.

Biasanya warga SAD Kebun Duren, sering berburu babi namun saat ini sangat sulit mendapatkan babi. Sementara getah karet juga sangat murah, sehingga memaksa warga SAD hanya bisa makan satu kali dalam sehari.

&quot;Semenjak kemarau ini kami sangat kesulitan mencari babi. Apalagi getah karet juga sangat murah harganya dan kami terpaksa makan sekali dalam sehari itu saja jika kami punya beras,&quot; ungkap Jhon Temenggung SAD Kebun duren, Kamis (17/10/2019).

Selama ini, warga terpaksa makan monyet hasil buruan, itupun jika mereka dapat berburu. Tapi jika tidak terpaksa hanya mengkonsumsi air putih untuk mengganjal perutnya.



&quot;Kadang kalau sudah lapar beras tidak ada, Terpaksa kami cari monyet untuk dimakan jika tidak dapat terpaksa hanya minum air putih saja,&quot; ujarnya lagi.

Jhon tidak tinggal diam, dan pernah mengajukan permohonan rawan pangan kepada Dinas Sosial namun tidak pernah ada tanggapan.

&quot;Lewat pemerintah desa saya sudah ajukan surat rawan pangan. Tapi sampai saat ini tidak ada realisasinya. Saya bingung warga saya banyak berdatangan ke rumah dengan kondisi lapar,&quot; ucapnya.

Sementara, Keluarga Arif warga SAD Kebun Duren bersama keluarganya  terpaksa mengkonsumsi monyet untuk kebutuhan makan keluarganya.

&quot;Sudah beberapa Minggu ini terpaksa makan monyet. Sebab beras tidak punya dan ini yang bisa kami makan,&quot; ungkap Arif.

Meskipun cara berburu babi tidak lagi mudah didapatkan. Namun bagi  Arif untuk bertahan hidup terpaksa hewan yang bisa didapat yang akan  dimakan.

&quot;Dari pada kami tidak makan ya terpaksa hewan apa saja yang bisa kami makan, dari pada keluarga saya lapar,&quot; ujarnya.

Setiap malam Arif dan keluarga lain berburu dengan senapan angin. Untuk bisa mendapatkan monyet yang tak jauh dari pemukimannya.

&quot;Sekali berburu bisa lima kepala keluarga, entah sampai kapan kami  bisa bertahan hidup dengan cara begini, kami harus menahan lapar,&quot;  ucapnya lirih.

Hal senada di sampaikan Betelih, Warga SAD Kebun Duren. Keluarganya  terpaksa mencari sumber makanan lain, dengan cara mencari buah sawit  yang jatuh di kebun warga.

&quot;Kadang kami mencari buah sawit yang sudah jatuh dan tidak diambil  pemiliknya. Itupun hasilnya tidak seberapa hanya cukup buat beli beras  satu kilo, dan kami sangat berharap ada uluran tangan pemerintah untuk  membantu kesulitan kami,&quot; ucap Betelih.

Sementara itu, Samono, Kepala Desa Lantak Seribu Kecamatan Renah  Pamenang mengatakan bahwa pihaknya sudah mengajukan surat rawan pangan,  tapi tidak juga ada realisasinya.

&quot;Sudah kita ajukan beberapa bulan yang lalu. Tapi tidak ada  realisasinya, padahal mereka sangat butuh makanan,&quot; ungkapnya singkat.

</content:encoded></item></channel></rss>
