<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kapolri: JK Bukan Jenderal, tapi Lebih Tegas dari Polisi-TNI</title><description>Kapolri mengenang sosok JK, saat dirinya tengah mengatasi terorisme.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/10/18/337/2118589/kapolri-jk-bukan-jenderal-tapi-lebih-tegas-dari-polisi-tni</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/10/18/337/2118589/kapolri-jk-bukan-jenderal-tapi-lebih-tegas-dari-polisi-tni"/><item><title>Kapolri: JK Bukan Jenderal, tapi Lebih Tegas dari Polisi-TNI</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/10/18/337/2118589/kapolri-jk-bukan-jenderal-tapi-lebih-tegas-dari-polisi-tni</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/10/18/337/2118589/kapolri-jk-bukan-jenderal-tapi-lebih-tegas-dari-polisi-tni</guid><pubDate>Jum'at 18 Oktober 2019 13:53 WIB</pubDate><dc:creator>Puteranegara Batubara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/18/337/2118589/kapolri-jk-bukan-jenderal-tapi-lebih-tegas-dari-polisi-tni-LPA938QlXv.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Polri menggelar pengantar purnatugas untuk Wapres JK. (Foto : Okezone.com/Puteranegara Batubara)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/18/337/2118589/kapolri-jk-bukan-jenderal-tapi-lebih-tegas-dari-polisi-tni-LPA938QlXv.jpg</image><title>Polri menggelar pengantar purnatugas untuk Wapres JK. (Foto : Okezone.com/Puteranegara Batubara)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyatakan sosok Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla (JK) memiliki ketegasan yang melebihi dari seorang jenderal, meskipun ia bukan sosok yang memiliki latar belakang dari kalangan TNI dan Polri.

&quot;Kalau ada yang kurang, hanya satu. Bapak (JK-red) bukan jenderal Polri dan TNI. Tapi, keberanian dan ketegasan Bapak bersikap melebihi ketegasan jenderal,&quot; kata Tito dalam acara tradisi pengantar purnatugas Wakil Presiden di Auditorium Mutiara PTIK-STIK Polri, Jakarta Selatan, Jumat (18/10/2019).

Pernyataan Tito itu terkait kenangannya mengatasi beberapa aksi terorisme di Indonesia. Tito dari penanganan kepolisian dan JK sebagai pejabat negara kala itu.

&quot;Saya pernah mengalami pengalaman personal yang mendalam dan tidak pernah lepas di hati saya, pertama di kasus bom di Makassar , Bom Ratu Indah dan Bom Kalla Makassar,&quot; ujar Tito.



Kala itu, Tito menceritakan, ia dipanggil Kapolda Sulawesi Selatan (Sulsel) terkait aksi terorisme di wilayah tersebut. Menurutnya, Kapolda Sulsel ketika itu mendapatkan perintah langsung dari JK.

&quot;Lalu saya dipanggil Pak Kapolda, perintah Pak JK, tangkap semua. Saya berpikir ini kok dibom bukannya takut, malah suruh tangkap semua, habisi semua,&quot; kenang Tito.

Tak hanya itu, Tito menyebut juga memiliki kenangan sendiri ketika menangani konflik Poso, Sulawesi Tengah. Saat itu, aparat dan masyarakat terlibat kontak senjata dan memakan beberapa korban.


Menurut Tito, atas kejadian itu, aparat banyak disalahkan lantaran  disebut melanggar hak asasi manusia (HAM). Namun, ketika itu JK  menunjukkan sikap berbeda. Pasalnya, dia mendukung keputusan aparat  dalam menangani konflik itu.

&quot;Tapi ketika menghadap Bapak, pertanyaan Bapak hanya singkat saja.  Apakah yang meninggal dunia itu membawa senjata? Ya kami bisa buktikan  bawa senjata, kami menyita 300 senjata dan 40 ribu butir peluru. Jawaban  Bapak sangat singkat, kalian benar, di negara ini tidak ada yang boleh  pegang senjata selain TNI dan Polri. Saya akan back up. Itu rasanya  membesarkan hati,&quot; ujar Tito.



Bahkan, setelah konflik Poso selesai, JK ikut berperan dengan  mengumpulkan para tokoh masyarakat dan agama untuk menghindari adanya  konflik susulan dan berkepanjangan.

Strategi JK itu pun menjadikan situasi di Poso menjadi aman dan kondusif.

Baca Juga : Polri Beri Penghargaan Tertinggi ke Wapres JK yang Segera Purnatugas

&quot;Bapak mendirikan pesantren setara Gontor di Poso pesisir dan sekolah teologi,&quot; tutur Tito mengakhiri kenangannya bersama JK.

Baca Juga : Kapolri Tito : Saya Fans Berat Jusuf Kalla

</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Kapolri Jenderal Tito Karnavian menyatakan sosok Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla (JK) memiliki ketegasan yang melebihi dari seorang jenderal, meskipun ia bukan sosok yang memiliki latar belakang dari kalangan TNI dan Polri.

&quot;Kalau ada yang kurang, hanya satu. Bapak (JK-red) bukan jenderal Polri dan TNI. Tapi, keberanian dan ketegasan Bapak bersikap melebihi ketegasan jenderal,&quot; kata Tito dalam acara tradisi pengantar purnatugas Wakil Presiden di Auditorium Mutiara PTIK-STIK Polri, Jakarta Selatan, Jumat (18/10/2019).

Pernyataan Tito itu terkait kenangannya mengatasi beberapa aksi terorisme di Indonesia. Tito dari penanganan kepolisian dan JK sebagai pejabat negara kala itu.

&quot;Saya pernah mengalami pengalaman personal yang mendalam dan tidak pernah lepas di hati saya, pertama di kasus bom di Makassar , Bom Ratu Indah dan Bom Kalla Makassar,&quot; ujar Tito.



Kala itu, Tito menceritakan, ia dipanggil Kapolda Sulawesi Selatan (Sulsel) terkait aksi terorisme di wilayah tersebut. Menurutnya, Kapolda Sulsel ketika itu mendapatkan perintah langsung dari JK.

&quot;Lalu saya dipanggil Pak Kapolda, perintah Pak JK, tangkap semua. Saya berpikir ini kok dibom bukannya takut, malah suruh tangkap semua, habisi semua,&quot; kenang Tito.

Tak hanya itu, Tito menyebut juga memiliki kenangan sendiri ketika menangani konflik Poso, Sulawesi Tengah. Saat itu, aparat dan masyarakat terlibat kontak senjata dan memakan beberapa korban.


Menurut Tito, atas kejadian itu, aparat banyak disalahkan lantaran  disebut melanggar hak asasi manusia (HAM). Namun, ketika itu JK  menunjukkan sikap berbeda. Pasalnya, dia mendukung keputusan aparat  dalam menangani konflik itu.

&quot;Tapi ketika menghadap Bapak, pertanyaan Bapak hanya singkat saja.  Apakah yang meninggal dunia itu membawa senjata? Ya kami bisa buktikan  bawa senjata, kami menyita 300 senjata dan 40 ribu butir peluru. Jawaban  Bapak sangat singkat, kalian benar, di negara ini tidak ada yang boleh  pegang senjata selain TNI dan Polri. Saya akan back up. Itu rasanya  membesarkan hati,&quot; ujar Tito.



Bahkan, setelah konflik Poso selesai, JK ikut berperan dengan  mengumpulkan para tokoh masyarakat dan agama untuk menghindari adanya  konflik susulan dan berkepanjangan.

Strategi JK itu pun menjadikan situasi di Poso menjadi aman dan kondusif.

Baca Juga : Polri Beri Penghargaan Tertinggi ke Wapres JK yang Segera Purnatugas

&quot;Bapak mendirikan pesantren setara Gontor di Poso pesisir dan sekolah teologi,&quot; tutur Tito mengakhiri kenangannya bersama JK.

Baca Juga : Kapolri Tito : Saya Fans Berat Jusuf Kalla

</content:encoded></item></channel></rss>
