<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Fakta Kecanduan Gadget Bisa Bikin Anak Alami Gangguan Kejiwaan </title><description>Smartphone gadget memiliki peran yang sangat krusial dalam kehidupan manusia di era digital saat ini</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/10/19/337/2118981/fakta-kecanduan-gadget-bisa-bikin-anak-alami-gangguan-kejiwaan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/10/19/337/2118981/fakta-kecanduan-gadget-bisa-bikin-anak-alami-gangguan-kejiwaan"/><item><title>Fakta Kecanduan Gadget Bisa Bikin Anak Alami Gangguan Kejiwaan </title><link>https://news.okezone.com/read/2019/10/19/337/2118981/fakta-kecanduan-gadget-bisa-bikin-anak-alami-gangguan-kejiwaan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/10/19/337/2118981/fakta-kecanduan-gadget-bisa-bikin-anak-alami-gangguan-kejiwaan</guid><pubDate>Sabtu 19 Oktober 2019 07:42 WIB</pubDate><dc:creator>Wijayakusuma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/19/337/2118981/fakta-kecanduan-gadget-bisa-bikin-anak-alami-gangguan-kejiwaan-kABPei9OQt.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Dok. Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/19/337/2118981/fakta-kecanduan-gadget-bisa-bikin-anak-alami-gangguan-kejiwaan-kABPei9OQt.jpg</image><title>Ilustrasi (Dok. Okezone)</title></images><description>BEKASI - Smartphone gadget memiliki peran yang sangat krusial dalam kehidupan manusia di era digital saat ini. Bermula dari sebuah alat komunikasi, smartphone bertransformasi menjadi penyedia layanan informasi dan hiburan. Tak heran jika alat bantu ini sangat digandrungi sampai ke seluruh lapisan masyarakat.
Namun sayangnya, penggunaan gadget justru menjadi buah simalakama bagi sebagian kalangan, khususnya anak-anak yang kerap bermain game online dengan smartphone. Kecenderungan menghabiskan waktu bermain game setiap hari, membuat anak-anak lambat laun mengalami kecanduan yang bisa berdampak fatal pada psikis dan mentalnya.
Seperti kasus yang dialami Wawan Game yang viral di media sosial. Wawan dikabarkan menderita gangguan jiwa akibat kecanduan game online yang membuat jari jemarinya tak henti bergerak layaknya sedang bermain game. Pria 32 tahun tersebut dirawat di Yayasan Jamrud Biru yang merupakan tempat rehabilitasi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
Baca Juga: RSJ Jabar Tangani Ratusan Anak Kecanduan Gadget
Selain Wawan Game, ada 3 pasien lain dengan kondisi kecanduan game online yang dirawat di yayasan yang terletak di Kampung Babakan Jalan Asem Sari II RT 03 RW 04, Kelurahan Mustikasari, Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat itu. Ironisnya, ketiga pasien masih berstatus pelajar.
&quot;Yang masuk tahun ini ada 4 orang ya untuk pasien gangguan jiwa karena game online. Dari 4 itu alhamdulilah tinggal 1. Dan 1 ini siap pulang juga. Kebanyakan mereka yang paling lama cuma Wawan Game ya, 4 bulan. tapi yang lain di sini cuma 2-3 minggu, ada yang 1 bulan siap pulang. Alhamdulillah cepat sembuhnya,&quot; kata pendiri Yayasan Jamrud Biru, Suhartono saat diwawancarai Okezone, Jumat 18 Oktober 2019.
Menurut pria yang akrab disapa Hartono itu, seluruh pasien anak pecandu game tersebut awalnya dibiarkan para orangtua bermain game online berjam-jam setiap hari. Kecanduan sang anak akhirnya membuat mereka lupa terhadap tugas dan kewajiban baik di rumah maupun sekolah.
Salah satunya Bima Sena, pelajar berusia 17 tahun asal Cianjur yang gemar bermain game online. Ia terbiasa bermain game 4 jam sehari, yang membuatnya menjadi seorang pecandu dan pasien di yayasan Jamrud Biru.
&quot;Bahkan ada pasien kami Yudha dia baru 2 SMP, tapi sudah tergila-gila dengan game online. Kalau diambil gadgetnya, ngamuknya luar biasa. Sampai dilawan orangtuanya, sampai sekolahnya pun dilupakan, sudah melewati batas. Tapi alhamdulilah Yudha sudah pulang sekarang dan sudah kembali sekolah. Dan katanya sedang mengikuti ujian, Sabtu besok rapotnya sudah keluar,&quot; ujarnya.Hartono menjelaskan, kecanduan game online pada dasarnya membuat sang  anak memiliki halusinasi, bahwa dirinya akan menjadi pemenang dalam  kompetisi game tersebut. Halusinasi tersebut semakin meningkat seiring  kehadiran iming-iming reward, poin dan lain sebagainya.
&quot;Halusinasi tanpa disertai kenyataan sebenarnya, membuat anak ini  makin berkhayal. Di situlah masuk pemikiran yang tidak-tidak. Lalu  timbulah sikap malas, susah diatur, gampang marah, gadget sebagai  hidupnya. Itulah yang harus kita lepaskan dari dia, karena jiwanya  terpengaruh oleh game online,&quot; jelasnya.
Hartono mengungkapkan sejumlah metode yang dilakukannya untuk  mengobati para pasien. Diantaranya pendekatan secara persuasif, terapi  wicara, pengobatan tradisional dengan ramuan, serta terapi totok saraf  dan pijit urat saraf belakang.
&quot;Kita juga beri kegiatan agama. Kita ganti gadgetnya dengan membaca  Yasin atau iqro. Juga ada kegiatan olahraga seminggu 3 kali, setiap  Selasa, Rabu dan Minggu pagi, seperti futsal, skiping, voli. Akhirnya  perlahan dengan kegiatan yang rutin kita lakukan, merubah si pasien  gadget itu menjadi normal,&quot; akunya.
Ia pun mengimbau kepada para orangtua agar berlaku tegas terhadap  anak saat bermain gadget. Jangan sampai hanya karena orangtua ingin  santai, sang anak diperbolehkan main gadget sesuka hati.
&quot;Kalau sudah terlalu lama, itu akan mempengaruhi psikis dan psikologi  hingga akhirnya melupakan belajar, tanggungjawab dan sebagainya. Anak  diberi batas bermain. Disinilah sisi orangtua harus tegas demi menjaga  jangan sampai anak kita ini kecanduan bermain gadget,&quot; tegasnya.
&quot;Jadikanlah gadget dan medsos itu sebagai dunia pendidikan dan pusat  informasi, bukan dimanage untuk game online yang dibiarkan. Anggapan  biar anak tenang dengan game online, sebetulnya itu memicu si anak tanpa  dia mengingat kesadaran bahwa itu sangat berpengaruh,&quot; imbuh Hartono.Ia juga meminta kepada seluruh stakeholder di seluruh lapisan   masyarakat agar mengambil peran dalam membatasi penggunaan gadget pada   anak-anak. Hal ini untuk mengurangi dampak buruk gadget terhadap   perkembangan anak di masa depan.
&quot;Karena bisa nantinya si anak ini memilih, bahwasanya gadget ini   berguna sebagai informasi, pendidikan, untuk ilmu-ilmu yang baik. Mohon   orangtua beri ketegasan. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Banyak   orangtua yang nangis di depan saya, menyesal karena sudah membiarkan   anaknya bermain game terlalu lama, sampai kondisinya begini,&quot;   pungkasnya.
Sekedar diketahui, Jamrud Biru menampung 153 pasien dengan berbagai   macam gangguan kejiwaan, seperti schizophrenia, schizo pasif dan schizo   aktif. Seluruh pasien berasal dari bermacam provinsi, seperti  Pontianak,  Aceh, namun kebanyakan dari daerah Jabodetabek. Mayoritas  pasien masih  berusia muda, yang diantaranya tertimpa kasus narkoba,  ilmu hitam,  masalah ekonomi, dan yang terbaru kecanduan gadget. (edi)</description><content:encoded>BEKASI - Smartphone gadget memiliki peran yang sangat krusial dalam kehidupan manusia di era digital saat ini. Bermula dari sebuah alat komunikasi, smartphone bertransformasi menjadi penyedia layanan informasi dan hiburan. Tak heran jika alat bantu ini sangat digandrungi sampai ke seluruh lapisan masyarakat.
Namun sayangnya, penggunaan gadget justru menjadi buah simalakama bagi sebagian kalangan, khususnya anak-anak yang kerap bermain game online dengan smartphone. Kecenderungan menghabiskan waktu bermain game setiap hari, membuat anak-anak lambat laun mengalami kecanduan yang bisa berdampak fatal pada psikis dan mentalnya.
Seperti kasus yang dialami Wawan Game yang viral di media sosial. Wawan dikabarkan menderita gangguan jiwa akibat kecanduan game online yang membuat jari jemarinya tak henti bergerak layaknya sedang bermain game. Pria 32 tahun tersebut dirawat di Yayasan Jamrud Biru yang merupakan tempat rehabilitasi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
Baca Juga: RSJ Jabar Tangani Ratusan Anak Kecanduan Gadget
Selain Wawan Game, ada 3 pasien lain dengan kondisi kecanduan game online yang dirawat di yayasan yang terletak di Kampung Babakan Jalan Asem Sari II RT 03 RW 04, Kelurahan Mustikasari, Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat itu. Ironisnya, ketiga pasien masih berstatus pelajar.
&quot;Yang masuk tahun ini ada 4 orang ya untuk pasien gangguan jiwa karena game online. Dari 4 itu alhamdulilah tinggal 1. Dan 1 ini siap pulang juga. Kebanyakan mereka yang paling lama cuma Wawan Game ya, 4 bulan. tapi yang lain di sini cuma 2-3 minggu, ada yang 1 bulan siap pulang. Alhamdulillah cepat sembuhnya,&quot; kata pendiri Yayasan Jamrud Biru, Suhartono saat diwawancarai Okezone, Jumat 18 Oktober 2019.
Menurut pria yang akrab disapa Hartono itu, seluruh pasien anak pecandu game tersebut awalnya dibiarkan para orangtua bermain game online berjam-jam setiap hari. Kecanduan sang anak akhirnya membuat mereka lupa terhadap tugas dan kewajiban baik di rumah maupun sekolah.
Salah satunya Bima Sena, pelajar berusia 17 tahun asal Cianjur yang gemar bermain game online. Ia terbiasa bermain game 4 jam sehari, yang membuatnya menjadi seorang pecandu dan pasien di yayasan Jamrud Biru.
&quot;Bahkan ada pasien kami Yudha dia baru 2 SMP, tapi sudah tergila-gila dengan game online. Kalau diambil gadgetnya, ngamuknya luar biasa. Sampai dilawan orangtuanya, sampai sekolahnya pun dilupakan, sudah melewati batas. Tapi alhamdulilah Yudha sudah pulang sekarang dan sudah kembali sekolah. Dan katanya sedang mengikuti ujian, Sabtu besok rapotnya sudah keluar,&quot; ujarnya.Hartono menjelaskan, kecanduan game online pada dasarnya membuat sang  anak memiliki halusinasi, bahwa dirinya akan menjadi pemenang dalam  kompetisi game tersebut. Halusinasi tersebut semakin meningkat seiring  kehadiran iming-iming reward, poin dan lain sebagainya.
&quot;Halusinasi tanpa disertai kenyataan sebenarnya, membuat anak ini  makin berkhayal. Di situlah masuk pemikiran yang tidak-tidak. Lalu  timbulah sikap malas, susah diatur, gampang marah, gadget sebagai  hidupnya. Itulah yang harus kita lepaskan dari dia, karena jiwanya  terpengaruh oleh game online,&quot; jelasnya.
Hartono mengungkapkan sejumlah metode yang dilakukannya untuk  mengobati para pasien. Diantaranya pendekatan secara persuasif, terapi  wicara, pengobatan tradisional dengan ramuan, serta terapi totok saraf  dan pijit urat saraf belakang.
&quot;Kita juga beri kegiatan agama. Kita ganti gadgetnya dengan membaca  Yasin atau iqro. Juga ada kegiatan olahraga seminggu 3 kali, setiap  Selasa, Rabu dan Minggu pagi, seperti futsal, skiping, voli. Akhirnya  perlahan dengan kegiatan yang rutin kita lakukan, merubah si pasien  gadget itu menjadi normal,&quot; akunya.
Ia pun mengimbau kepada para orangtua agar berlaku tegas terhadap  anak saat bermain gadget. Jangan sampai hanya karena orangtua ingin  santai, sang anak diperbolehkan main gadget sesuka hati.
&quot;Kalau sudah terlalu lama, itu akan mempengaruhi psikis dan psikologi  hingga akhirnya melupakan belajar, tanggungjawab dan sebagainya. Anak  diberi batas bermain. Disinilah sisi orangtua harus tegas demi menjaga  jangan sampai anak kita ini kecanduan bermain gadget,&quot; tegasnya.
&quot;Jadikanlah gadget dan medsos itu sebagai dunia pendidikan dan pusat  informasi, bukan dimanage untuk game online yang dibiarkan. Anggapan  biar anak tenang dengan game online, sebetulnya itu memicu si anak tanpa  dia mengingat kesadaran bahwa itu sangat berpengaruh,&quot; imbuh Hartono.Ia juga meminta kepada seluruh stakeholder di seluruh lapisan   masyarakat agar mengambil peran dalam membatasi penggunaan gadget pada   anak-anak. Hal ini untuk mengurangi dampak buruk gadget terhadap   perkembangan anak di masa depan.
&quot;Karena bisa nantinya si anak ini memilih, bahwasanya gadget ini   berguna sebagai informasi, pendidikan, untuk ilmu-ilmu yang baik. Mohon   orangtua beri ketegasan. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Banyak   orangtua yang nangis di depan saya, menyesal karena sudah membiarkan   anaknya bermain game terlalu lama, sampai kondisinya begini,&quot;   pungkasnya.
Sekedar diketahui, Jamrud Biru menampung 153 pasien dengan berbagai   macam gangguan kejiwaan, seperti schizophrenia, schizo pasif dan schizo   aktif. Seluruh pasien berasal dari bermacam provinsi, seperti  Pontianak,  Aceh, namun kebanyakan dari daerah Jabodetabek. Mayoritas  pasien masih  berusia muda, yang diantaranya tertimpa kasus narkoba,  ilmu hitam,  masalah ekonomi, dan yang terbaru kecanduan gadget. (edi)</content:encoded></item></channel></rss>
