<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kasus Anak Kecanduan Gadget di Bekasi, Jarinya Terus Bergerak Seperti Main Game</title><description>Meningkatnya kegemaran terhadap game khususnya e-sport, kerap membuat anak-anak tak bisa lepas dari gadget.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/10/26/337/2121902/kasus-anak-kecanduan-gadget-di-bekasi-jarinya-terus-bergerak-seperti-main-game</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/10/26/337/2121902/kasus-anak-kecanduan-gadget-di-bekasi-jarinya-terus-bergerak-seperti-main-game"/><item><title>Kasus Anak Kecanduan Gadget di Bekasi, Jarinya Terus Bergerak Seperti Main Game</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/10/26/337/2121902/kasus-anak-kecanduan-gadget-di-bekasi-jarinya-terus-bergerak-seperti-main-game</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/10/26/337/2121902/kasus-anak-kecanduan-gadget-di-bekasi-jarinya-terus-bergerak-seperti-main-game</guid><pubDate>Sabtu 26 Oktober 2019 11:05 WIB</pubDate><dc:creator>Wijayakusuma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/25/337/2121902/kasus-anak-kecanduan-gadget-di-bekasi-jarinya-terus-bergerak-seperti-main-game-E0U9nmuCCx.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Yayasan Zamrud Biru tangani anak yang gila karena gadget (Foto: Okezone/Wijayakusuma)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/25/337/2121902/kasus-anak-kecanduan-gadget-di-bekasi-jarinya-terus-bergerak-seperti-main-game-E0U9nmuCCx.jpg</image><title>Yayasan Zamrud Biru tangani anak yang gila karena gadget (Foto: Okezone/Wijayakusuma)</title></images><description>PERKEMBANGAN teknologi telah menghadirkan berbagai jenis gadget yang dibutuhkan masyarakat. Di kalangan anak-anak, gadget yang berhubungan dengan game mungkin menjadi yang paling favorit. Mulai dari game dengan konsol hingga smartphone, menyediakan kebutuhan anak-anak terhadap game.

Meningkatnya kegemaran terhadap game khususnya e-sport, kerap membuat anak-anak tak bisa lepas dari gadget. Terlebih berbagai aplikasi game online kini sudah bisa didownload secara mudah di smartphone. Alhasil, pemakaian gadget berdampak buruk terhadap sebagian anak yang tak mendapat kontrol orangtua. Sang anak pun mengalami kecanduan yang berujung pada gangguan mental.

Suhartono, pendiri Yayasan Jamrud Biru yang terletak di Kampung Babakan Jalan Asem Sari II RT 03 RW 04, Kelurahan Mustikasari, Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat mengatakan sudah ada 4 pasien pecandu game online yang dirawat di yayasan rehabilitasi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) itu.



Salah satunya adalah Wawan Game yang sempat viral di media sosial karena tangannya yang selalu bergerak seperti sedang bermain game. Sementara 3 pasien lainnya tercatat sebagai pelajar.

&quot;Kalau yang diterima di Jamrud Biru sudah 4 ya. Yang 3 sudah kembali pulang, sehat, tinggal 1. Cuma sudah ada 3 lagi yang konsultasi, rencana akan dibawa ke yayasan. Ini 3 dari berbagai daerah juga, kita tinggal nunggu kedatangannya. Mereka juga sama karena game online dan gadget,&quot; kata pria yang akrab disapa Hartono itu saat diwawancarai Okezone, Jum'at (25/10/2019).

Hartono mengaku tidak menggunakan obat-obatan medis dalam proses penyembuhan pasien. Ia lebih menerapkan pendekatan persuasif dan spiritual untuk memulihkan kembali kondisi kejiwaan pasien.



&quot;Jadi yang terpenting bagaimana memberikan pengobatan yang nyaman. Pertama itu memberikan relaksasi. Kedua pendekatan persuasif. Ketiga kita beri masukan kepada pasien dengan mengarah kepada keagamaan. Jadi gagdetnya kita ganti dengan buku Yasin, Qur'an dan buku-buku agama. Disitu akan terlihat tatapan pasien, oh ya ini lebih penting sebenarnya dari gadget. Jadi kita ajarkan ke arah agama yang lebih penting. Dari 3 poin itu, pasien berangsur membaik,&quot; paparnya.

Dari keseluruhan pasien pecandu gadget, Hartono menemukan beberapa kesamaan yang menjadi ciri, seperti memiliki emosi tinggi, serta kecenderungan berhalusinasi.

&quot;Itu yang unik disitu, terlalu kelihatan banget dia menjadi seorang yang di dalam gadget, atau seorang game online atau bagaimana gitu. Dan mempunyai harapan-harapan yang semu yang sebenarnya tidak ada, cuma dia berharap seperti itu. Itulah yang kita buang pelan-pelan,&quot; akunya.

Selain itu, kata dia, ada sejumlah kegiatan olahraga yang diberikan  untuk para pasien, yang diharapkan bisa mengalihkan perhatiannya  terhadap game.

&quot;Di sini ada futsal, voli, skiping, baris berbaris. Dari sisi  keagamaan juga ada belajar Yasin, iqro, ayat-ayat pendek, belajar  sholat. Dengan kegiatan yang padat itu, membuat si pasien itu merasa  sudah melupakan gadget. Dan ilmu yang dia dapatkan dari agama lebih  tinggi, dan itu adalah membuat sosok pasien gagdet ini melupakan  penyakitnya,&quot; ujarnya.

Untuk proses penyembuhan setiap pasien diakui Hartono berbeda-beda, tergantung seberapa parah kecanduan yang diidap sang pasien.



&quot;Pengalaman yang sudah saya tangani yang paling berat itu Wawan Game  ya, itu 4 bulan. Selain itu alhamdulilah cuma 1 bulan, 2-3 minggu,  paling lama 1 bulan. Paling cepat itu seperti Yuda, itu 2 minggu 2 hari  sudah pulang,&quot; ucapnya.

Sementara pasien dinyatakan sembuh jika sudah mengalami sejumlah  perubahan, seperti raut wajah yang tak lagi stres, serta pasien yang  mulai menunjukkan sikap ramah dan memiliki rasa malu.

&quot;Dari raut wajah yang awalnya agak murung, tensi emosi dari mata  mungkin agak sedikit merah, atau kelihatan jelas mukanya tidak enak lah.  Tapi dengan perubahan mentalnya baik, mukanya jadi enak dan pasien  lebih santun. Terus mungkin rasa malu yang tinggi, beda dari pasien yang  belum ada kesembuhan. Terus bertanya pak kenapa saya ada di sini, apa  dasarnya, jadi banyak tanya dan akhirnya kita terangkan. Itu awal  perubahan jelas dari situ,&quot; jelasnya.

Lanjut Hartono, tak ada pemeriksaan lanjutan untuk pasien yang sudah   diperbolehkan pulang. Pihak yayasan hanya menyarankan keluarga untuk   aktif berkomunikasi terkait perkembangan pasien di rumah. &quot;Seperti pak   Bagio kemarin hubungi saya memberitahu kondisi anaknya Yuda sudah lebih   baik,&quot; katanya.

Hartono sendiri mengaku termasuk pihak yang tak menyetujui pemberian   gadget smartphone pada anak-anak. Menurutnya hal itu hanya akan memberi   dampak buruk bagi perkembangan mental dan fisik anak. Alih-alih  sebagai  alat komunikasi, smartphone justru digunakan anak untuk bermain  game  yang bisa berujung kecanduan.

&quot;Sekarang memang zaman canggih teknologi yang bisa mengarah kepada   kemudahan atau instan. Tapi kembali juga kepada efek ya, semuanya yang   disebut instan, ada efek baik tapi ada juga efek buruknya. Lebih baik   mencegah daripada mengobati. Mungkin itu menjadi suatu motto bagi   orangtua,&quot; ujarnya.

Ketegasan Hartono terkait hal ini juga ditujukan kepada keluarga dan   orang-orang terdekatnya. Ia melarang penggunaan gadget kepada anak dan   juga ponakannya, dengan alasan tidak ingin masa depan mereka hancur   akibat terpapar gadget.

&quot;Seperti keponakan saya yang masih SD, lebih baik handphonenya saya   hancurkan daripada nanti akan menghancurkan dirinya. Kalau dia hanya   sekedar untuk edukasi, belajar sekolah, betul-betul teknologi ini dibuat   untuk pengetahuan dan kemajuan hidup, itu harapan semua masyarakat   kita. Tapi kalau hanya untuk merusak mental dan membuat orang yang   menggunakan ini terobsesi dengan keadaannya atau kelakuannya, itu lebih   parah,&quot; tegasnya.

&quot;Berapa harga gadget dengan kehancuran dirinya kelak, itu lebih   mahal. Boleh kita berikan gadget dengan terbatas, dengan waktu sesaat.   Boleh setelah belajar kita kasih waktu setengah jam atau 10-15 menit,   setelah itu dia tidur. Ke sekolah gak perlu bawa gadget. Gadget hanya   diperlukan untuk anak-anak itu paling jauh hanya game. Kalau untuk   komunikasi mungkin tidak seperti kita yang dewasa,&quot; paparnya.

Karenanya ia berharap pemerintah serta orangtua lebih berperan dalam   membatasi penggunaan gadget kepada anak. Hal ini demi menghindari  dampak  buruk gadget dari anak-anak yang merupakan generasi bangsa.

&quot;Anak-anak kita ini penerus generasi muda bangsa kita. Kalau   anak-anak dari sekarang sudah rusak, mau seperti apa bangsa kita   nantinya. Jadi anak-anak adalah modal kita, harus dijaga, kita perbaiki   yang terlebih lagi kita bisa memotivasi anak mana yang lebih baik, mana   yang tidak baik,&quot; pungkasnya.
</description><content:encoded>PERKEMBANGAN teknologi telah menghadirkan berbagai jenis gadget yang dibutuhkan masyarakat. Di kalangan anak-anak, gadget yang berhubungan dengan game mungkin menjadi yang paling favorit. Mulai dari game dengan konsol hingga smartphone, menyediakan kebutuhan anak-anak terhadap game.

Meningkatnya kegemaran terhadap game khususnya e-sport, kerap membuat anak-anak tak bisa lepas dari gadget. Terlebih berbagai aplikasi game online kini sudah bisa didownload secara mudah di smartphone. Alhasil, pemakaian gadget berdampak buruk terhadap sebagian anak yang tak mendapat kontrol orangtua. Sang anak pun mengalami kecanduan yang berujung pada gangguan mental.

Suhartono, pendiri Yayasan Jamrud Biru yang terletak di Kampung Babakan Jalan Asem Sari II RT 03 RW 04, Kelurahan Mustikasari, Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat mengatakan sudah ada 4 pasien pecandu game online yang dirawat di yayasan rehabilitasi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) itu.



Salah satunya adalah Wawan Game yang sempat viral di media sosial karena tangannya yang selalu bergerak seperti sedang bermain game. Sementara 3 pasien lainnya tercatat sebagai pelajar.

&quot;Kalau yang diterima di Jamrud Biru sudah 4 ya. Yang 3 sudah kembali pulang, sehat, tinggal 1. Cuma sudah ada 3 lagi yang konsultasi, rencana akan dibawa ke yayasan. Ini 3 dari berbagai daerah juga, kita tinggal nunggu kedatangannya. Mereka juga sama karena game online dan gadget,&quot; kata pria yang akrab disapa Hartono itu saat diwawancarai Okezone, Jum'at (25/10/2019).

Hartono mengaku tidak menggunakan obat-obatan medis dalam proses penyembuhan pasien. Ia lebih menerapkan pendekatan persuasif dan spiritual untuk memulihkan kembali kondisi kejiwaan pasien.



&quot;Jadi yang terpenting bagaimana memberikan pengobatan yang nyaman. Pertama itu memberikan relaksasi. Kedua pendekatan persuasif. Ketiga kita beri masukan kepada pasien dengan mengarah kepada keagamaan. Jadi gagdetnya kita ganti dengan buku Yasin, Qur'an dan buku-buku agama. Disitu akan terlihat tatapan pasien, oh ya ini lebih penting sebenarnya dari gadget. Jadi kita ajarkan ke arah agama yang lebih penting. Dari 3 poin itu, pasien berangsur membaik,&quot; paparnya.

Dari keseluruhan pasien pecandu gadget, Hartono menemukan beberapa kesamaan yang menjadi ciri, seperti memiliki emosi tinggi, serta kecenderungan berhalusinasi.

&quot;Itu yang unik disitu, terlalu kelihatan banget dia menjadi seorang yang di dalam gadget, atau seorang game online atau bagaimana gitu. Dan mempunyai harapan-harapan yang semu yang sebenarnya tidak ada, cuma dia berharap seperti itu. Itulah yang kita buang pelan-pelan,&quot; akunya.

Selain itu, kata dia, ada sejumlah kegiatan olahraga yang diberikan  untuk para pasien, yang diharapkan bisa mengalihkan perhatiannya  terhadap game.

&quot;Di sini ada futsal, voli, skiping, baris berbaris. Dari sisi  keagamaan juga ada belajar Yasin, iqro, ayat-ayat pendek, belajar  sholat. Dengan kegiatan yang padat itu, membuat si pasien itu merasa  sudah melupakan gadget. Dan ilmu yang dia dapatkan dari agama lebih  tinggi, dan itu adalah membuat sosok pasien gagdet ini melupakan  penyakitnya,&quot; ujarnya.

Untuk proses penyembuhan setiap pasien diakui Hartono berbeda-beda, tergantung seberapa parah kecanduan yang diidap sang pasien.



&quot;Pengalaman yang sudah saya tangani yang paling berat itu Wawan Game  ya, itu 4 bulan. Selain itu alhamdulilah cuma 1 bulan, 2-3 minggu,  paling lama 1 bulan. Paling cepat itu seperti Yuda, itu 2 minggu 2 hari  sudah pulang,&quot; ucapnya.

Sementara pasien dinyatakan sembuh jika sudah mengalami sejumlah  perubahan, seperti raut wajah yang tak lagi stres, serta pasien yang  mulai menunjukkan sikap ramah dan memiliki rasa malu.

&quot;Dari raut wajah yang awalnya agak murung, tensi emosi dari mata  mungkin agak sedikit merah, atau kelihatan jelas mukanya tidak enak lah.  Tapi dengan perubahan mentalnya baik, mukanya jadi enak dan pasien  lebih santun. Terus mungkin rasa malu yang tinggi, beda dari pasien yang  belum ada kesembuhan. Terus bertanya pak kenapa saya ada di sini, apa  dasarnya, jadi banyak tanya dan akhirnya kita terangkan. Itu awal  perubahan jelas dari situ,&quot; jelasnya.

Lanjut Hartono, tak ada pemeriksaan lanjutan untuk pasien yang sudah   diperbolehkan pulang. Pihak yayasan hanya menyarankan keluarga untuk   aktif berkomunikasi terkait perkembangan pasien di rumah. &quot;Seperti pak   Bagio kemarin hubungi saya memberitahu kondisi anaknya Yuda sudah lebih   baik,&quot; katanya.

Hartono sendiri mengaku termasuk pihak yang tak menyetujui pemberian   gadget smartphone pada anak-anak. Menurutnya hal itu hanya akan memberi   dampak buruk bagi perkembangan mental dan fisik anak. Alih-alih  sebagai  alat komunikasi, smartphone justru digunakan anak untuk bermain  game  yang bisa berujung kecanduan.

&quot;Sekarang memang zaman canggih teknologi yang bisa mengarah kepada   kemudahan atau instan. Tapi kembali juga kepada efek ya, semuanya yang   disebut instan, ada efek baik tapi ada juga efek buruknya. Lebih baik   mencegah daripada mengobati. Mungkin itu menjadi suatu motto bagi   orangtua,&quot; ujarnya.

Ketegasan Hartono terkait hal ini juga ditujukan kepada keluarga dan   orang-orang terdekatnya. Ia melarang penggunaan gadget kepada anak dan   juga ponakannya, dengan alasan tidak ingin masa depan mereka hancur   akibat terpapar gadget.

&quot;Seperti keponakan saya yang masih SD, lebih baik handphonenya saya   hancurkan daripada nanti akan menghancurkan dirinya. Kalau dia hanya   sekedar untuk edukasi, belajar sekolah, betul-betul teknologi ini dibuat   untuk pengetahuan dan kemajuan hidup, itu harapan semua masyarakat   kita. Tapi kalau hanya untuk merusak mental dan membuat orang yang   menggunakan ini terobsesi dengan keadaannya atau kelakuannya, itu lebih   parah,&quot; tegasnya.

&quot;Berapa harga gadget dengan kehancuran dirinya kelak, itu lebih   mahal. Boleh kita berikan gadget dengan terbatas, dengan waktu sesaat.   Boleh setelah belajar kita kasih waktu setengah jam atau 10-15 menit,   setelah itu dia tidur. Ke sekolah gak perlu bawa gadget. Gadget hanya   diperlukan untuk anak-anak itu paling jauh hanya game. Kalau untuk   komunikasi mungkin tidak seperti kita yang dewasa,&quot; paparnya.

Karenanya ia berharap pemerintah serta orangtua lebih berperan dalam   membatasi penggunaan gadget kepada anak. Hal ini demi menghindari  dampak  buruk gadget dari anak-anak yang merupakan generasi bangsa.

&quot;Anak-anak kita ini penerus generasi muda bangsa kita. Kalau   anak-anak dari sekarang sudah rusak, mau seperti apa bangsa kita   nantinya. Jadi anak-anak adalah modal kita, harus dijaga, kita perbaiki   yang terlebih lagi kita bisa memotivasi anak mana yang lebih baik, mana   yang tidak baik,&quot; pungkasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
