<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jangan Gunakan Gadget untuk Hentikan Tangis Anak</title><description>Orangtua diimbau tidak memberikan gadget untuk meredam tangis anak.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/10/26/337/2121995/jangan-gunakan-gadget-untuk-hentikan-tangis-anak</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/10/26/337/2121995/jangan-gunakan-gadget-untuk-hentikan-tangis-anak"/><item><title>Jangan Gunakan Gadget untuk Hentikan Tangis Anak</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/10/26/337/2121995/jangan-gunakan-gadget-untuk-hentikan-tangis-anak</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/10/26/337/2121995/jangan-gunakan-gadget-untuk-hentikan-tangis-anak</guid><pubDate>Sabtu 26 Oktober 2019 14:01 WIB</pubDate><dc:creator>Taufik Budi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/26/337/2121995/jangan-gunakan-gadget-untuk-hentikan-tangis-anak-AdSNYN6nKm.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi game online. (Foto: Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/26/337/2121995/jangan-gunakan-gadget-untuk-hentikan-tangis-anak-AdSNYN6nKm.jpg</image><title>Ilustrasi game online. (Foto: Ist)</title></images><description>SEMARANG &amp;ndash; Pola asuh salah menjadi penyumbang terbesar bagi anak-anak yang akhirnya kecanduan game online. Bagi sebagian orangtua, ponsel pintar merupakan jurus paling ampuh untuk menghentikan tangisan anak.
Beragam game atau fitur-fitur yang tertanam dalam gawai menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak. Padahal tanpa disadari anak akan semakin asyik dengan kotak ponsel tersebut hingga semakin jauh dari lingkungan sekitarnya.

&quot;Remaja dan anak-anak itu punya kerentanan (kecanduan game gadget) yang cukup besar, karena secara psikologis bagian otaknya pun perkembangannya juga masih belum matang. Remaja itu juga suka tantangan,&quot; kata psikolog klinis Indra Dwi Purnomo S.Psi M.Psi, Jumat 25 Oktober 2019.
&quot;Untuk mencegah sebenarnya itu sejak dini. Karena ibu-ibu sekarang ini kalau anaknya rewel justru dikasihnya HP. Itu sudah cara yang salah. Harusnya itu ya memang mencari hal-hal yang menarik bagi anak-anak,&quot; terangnya.Indra menjelaskan, anak-anak perlu diperkenalkan dengan permainan tradisional karena dinilai lebih mengajarkan bersosialisasi. Bukan hanya melestarikan budaya asli Tanah Air, tetapi juga banyak nilai yang bisa dipetik dari permainan tradisional.
&quot;Usia perkembangan awal-awal itu sampai 4 tahun 5 tahun pertama sebaiknya jangan terlalu banyak gadget, karena perkembangan motorik, perkembangan sosialnya, jadi tidak tersimulasi bagus. Kalau zaman dulu kita usia 3&amp;ndash;4 tahun ada mainan pasaran, interaksi sama orang. Jadi kemampuan bersosialisasi juga lebih berkembang,&quot; lugasnya.

&quot;Jadi anak itu dicarikan hal yang menarik. Kalau dulu ada mainan-mainan tradisional yang mengajarkan atau mengedukasi,&quot; imbuh dia.
Jika sejak dini anak-anak sudah didekatkan dengan gadget, maka mereka akan berpotensi menjadi pecandu game online. &quot;Kalau misalkan dari pecandu game online mulai dari remaja, itu peluang atau prevalensi akan lebih gede jadi pecandu bahkan bisa sampai seumur hidup,&quot; tandasnya. (kha)</description><content:encoded>SEMARANG &amp;ndash; Pola asuh salah menjadi penyumbang terbesar bagi anak-anak yang akhirnya kecanduan game online. Bagi sebagian orangtua, ponsel pintar merupakan jurus paling ampuh untuk menghentikan tangisan anak.
Beragam game atau fitur-fitur yang tertanam dalam gawai menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak. Padahal tanpa disadari anak akan semakin asyik dengan kotak ponsel tersebut hingga semakin jauh dari lingkungan sekitarnya.

&quot;Remaja dan anak-anak itu punya kerentanan (kecanduan game gadget) yang cukup besar, karena secara psikologis bagian otaknya pun perkembangannya juga masih belum matang. Remaja itu juga suka tantangan,&quot; kata psikolog klinis Indra Dwi Purnomo S.Psi M.Psi, Jumat 25 Oktober 2019.
&quot;Untuk mencegah sebenarnya itu sejak dini. Karena ibu-ibu sekarang ini kalau anaknya rewel justru dikasihnya HP. Itu sudah cara yang salah. Harusnya itu ya memang mencari hal-hal yang menarik bagi anak-anak,&quot; terangnya.Indra menjelaskan, anak-anak perlu diperkenalkan dengan permainan tradisional karena dinilai lebih mengajarkan bersosialisasi. Bukan hanya melestarikan budaya asli Tanah Air, tetapi juga banyak nilai yang bisa dipetik dari permainan tradisional.
&quot;Usia perkembangan awal-awal itu sampai 4 tahun 5 tahun pertama sebaiknya jangan terlalu banyak gadget, karena perkembangan motorik, perkembangan sosialnya, jadi tidak tersimulasi bagus. Kalau zaman dulu kita usia 3&amp;ndash;4 tahun ada mainan pasaran, interaksi sama orang. Jadi kemampuan bersosialisasi juga lebih berkembang,&quot; lugasnya.

&quot;Jadi anak itu dicarikan hal yang menarik. Kalau dulu ada mainan-mainan tradisional yang mengajarkan atau mengedukasi,&quot; imbuh dia.
Jika sejak dini anak-anak sudah didekatkan dengan gadget, maka mereka akan berpotensi menjadi pecandu game online. &quot;Kalau misalkan dari pecandu game online mulai dari remaja, itu peluang atau prevalensi akan lebih gede jadi pecandu bahkan bisa sampai seumur hidup,&quot; tandasnya. (kha)</content:encoded></item></channel></rss>
