<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sumpah Pemuda Diminta Jadi Ajang untuk Lestarikan Bahasa Daerah</title><description>Peringatan sumpah pemuda seharusnya dapat dijadikan oleh anak-anak muda Indonesia sebagai ajang untuk melestarikan bahasa daerah</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/10/28/337/2122474/sumpah-pemuda-diminta-jadi-ajang-untuk-lestarikan-bahasa-daerah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/10/28/337/2122474/sumpah-pemuda-diminta-jadi-ajang-untuk-lestarikan-bahasa-daerah"/><item><title>Sumpah Pemuda Diminta Jadi Ajang untuk Lestarikan Bahasa Daerah</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/10/28/337/2122474/sumpah-pemuda-diminta-jadi-ajang-untuk-lestarikan-bahasa-daerah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/10/28/337/2122474/sumpah-pemuda-diminta-jadi-ajang-untuk-lestarikan-bahasa-daerah</guid><pubDate>Senin 28 Oktober 2019 08:27 WIB</pubDate><dc:creator>Arie Dwi Satrio</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/28/337/2122474/sumpah-pemuda-diminta-jadi-ajang-untuk-lestarikan-bahasa-daerah-hBYY01U5YP.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi Sumpah Pemuda (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/28/337/2122474/sumpah-pemuda-diminta-jadi-ajang-untuk-lestarikan-bahasa-daerah-hBYY01U5YP.jpg</image><title>Ilustrasi Sumpah Pemuda (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Peringatan sumpah pemuda seharusnya dapat dijadikan oleh anak-anak muda Indonesia sebagai ajang untuk melestarikan bahasa daerah. Sebab, sebanyak 79,5 persen warga Indonesia masih menggunakan bahasa daerah dab 19,9 persen menggunakan bahasa Indonesia berdasarkan data BPS 2011.
&amp;ldquo;Salah satu anugerah terbesar bagi bangsa Indonesia yakni sejak 91 tahun lalu, tokoh warga menetapkan bahasa resmi yakni bahasa Indonesia. Padahal kala itu penutur bahasa Indonesia di Nusantara sekitar 2%, kalangan lain seperti dari Jawa yang mayoritas bisa saja menolak dengan menawarkan bahasa Jawa sebagai bahasa resmi Indonesia,&amp;rdquo; kata Direktur Eksekutif The Jokowi Center, Teuku Neta Firdaus, Minggu (28/10/2019).
Dari catatan sejarah, beber Teuku Neta, sumpah pemuda adalah momentum persatuan pemuda. Dimana saat itu, terdapat kesepakatan para pemuda dari seluruh nusantara yang diikrarkan pada Minggu 28 Oktober 1928.
Kesepaatan itu yakni merumuskan gagasan untuk mencapai Indonesia merdeka. Disebutkan dalam konsensus Sumpah Pemuda secara ringkas yakni mengumumkan Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa.

Baca Juga: Peringati Sumpah Pemuda, Ketua MPR Soroti Ancaman Bangsa di Tengah Arus Globalisasi
Jika diulas kembali, kata Neta, kala itu sudah timbul kesadaran bersama bahwasanya bahasa Melayu Indonesia disepakati sebagai bahasa pemersatu.
&amp;ldquo;Kita berusaha agar bahasa Melayu dan bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional. Ada ratusan juta pemakai bahasa Indonesia dan Melayu seperti di Malaysia, Brunai Darussalam, Timor Leste dan lain-lain,&amp;rdquo; ajaknya.Di sisi lain, Teuku mengimbau warga dapat  melestarikan bahasa ibu atau bahasa daerah di rumah atau komunitas.  Ditekankan dia, seharusnya bangsa Indonesia patut bangga karena menjadi  negara kedua di dunia yang mempunyai bahasa terbanyak setelah Papua  Nugini.
&quot;Indonesia memiliki 707 bahasa. Sayang, meski kaya dengan  keragaman bahasa, sekitar 98 bahasa lokal terancam punah. Bahasa  Indonesia sendiri memiliki akar kuat dari Bahasa Melayu,&amp;rdquo; ujar Teuku  Neta.
Merujuk penelitian Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan  Kebudayaan, jumlah bahasa daerah di Indonesia yakni 668 bahasa daerah.  Dari ratusan bahasa daerah itu, 11 bahasa daerah sudah punah, empat  bahasa daerah sudah kritis, 22 bahasa daerah terancam punah, dua bahasa  daerah mengalami kemunduran, dan 16 bahasa daerah rentan punah.
&amp;ldquo;Bahasa-bahasa  daerah sebagai kearifan lokal akan memperkokoh rasa persatuan  kebangsaan Indonesia. Mari kita utamakan bahasa Indonesia, lestarikan  bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing,&amp;rdquo; pungkas Teuku.</description><content:encoded>JAKARTA - Peringatan sumpah pemuda seharusnya dapat dijadikan oleh anak-anak muda Indonesia sebagai ajang untuk melestarikan bahasa daerah. Sebab, sebanyak 79,5 persen warga Indonesia masih menggunakan bahasa daerah dab 19,9 persen menggunakan bahasa Indonesia berdasarkan data BPS 2011.
&amp;ldquo;Salah satu anugerah terbesar bagi bangsa Indonesia yakni sejak 91 tahun lalu, tokoh warga menetapkan bahasa resmi yakni bahasa Indonesia. Padahal kala itu penutur bahasa Indonesia di Nusantara sekitar 2%, kalangan lain seperti dari Jawa yang mayoritas bisa saja menolak dengan menawarkan bahasa Jawa sebagai bahasa resmi Indonesia,&amp;rdquo; kata Direktur Eksekutif The Jokowi Center, Teuku Neta Firdaus, Minggu (28/10/2019).
Dari catatan sejarah, beber Teuku Neta, sumpah pemuda adalah momentum persatuan pemuda. Dimana saat itu, terdapat kesepakatan para pemuda dari seluruh nusantara yang diikrarkan pada Minggu 28 Oktober 1928.
Kesepaatan itu yakni merumuskan gagasan untuk mencapai Indonesia merdeka. Disebutkan dalam konsensus Sumpah Pemuda secara ringkas yakni mengumumkan Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa.

Baca Juga: Peringati Sumpah Pemuda, Ketua MPR Soroti Ancaman Bangsa di Tengah Arus Globalisasi
Jika diulas kembali, kata Neta, kala itu sudah timbul kesadaran bersama bahwasanya bahasa Melayu Indonesia disepakati sebagai bahasa pemersatu.
&amp;ldquo;Kita berusaha agar bahasa Melayu dan bahasa Indonesia menjadi bahasa internasional. Ada ratusan juta pemakai bahasa Indonesia dan Melayu seperti di Malaysia, Brunai Darussalam, Timor Leste dan lain-lain,&amp;rdquo; ajaknya.Di sisi lain, Teuku mengimbau warga dapat  melestarikan bahasa ibu atau bahasa daerah di rumah atau komunitas.  Ditekankan dia, seharusnya bangsa Indonesia patut bangga karena menjadi  negara kedua di dunia yang mempunyai bahasa terbanyak setelah Papua  Nugini.
&quot;Indonesia memiliki 707 bahasa. Sayang, meski kaya dengan  keragaman bahasa, sekitar 98 bahasa lokal terancam punah. Bahasa  Indonesia sendiri memiliki akar kuat dari Bahasa Melayu,&amp;rdquo; ujar Teuku  Neta.
Merujuk penelitian Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan  Kebudayaan, jumlah bahasa daerah di Indonesia yakni 668 bahasa daerah.  Dari ratusan bahasa daerah itu, 11 bahasa daerah sudah punah, empat  bahasa daerah sudah kritis, 22 bahasa daerah terancam punah, dua bahasa  daerah mengalami kemunduran, dan 16 bahasa daerah rentan punah.
&amp;ldquo;Bahasa-bahasa  daerah sebagai kearifan lokal akan memperkokoh rasa persatuan  kebangsaan Indonesia. Mari kita utamakan bahasa Indonesia, lestarikan  bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing,&amp;rdquo; pungkas Teuku.</content:encoded></item></channel></rss>
