<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pertemuan Nasdem-PKS Dinilai sebagai Sindiran Halus ke Gerindra</title><description>Pertemuan Nasdem-PKS dinilai sebagai bentuk sindiran halus terhadap parpol oposisi yang merapat ke Jokowi, padahal dulunya berseberangan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/01/337/2124429/pertemuan-nasdem-pks-dinilai-sebagai-sindiran-halus-ke-gerindra</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/11/01/337/2124429/pertemuan-nasdem-pks-dinilai-sebagai-sindiran-halus-ke-gerindra"/><item><title>Pertemuan Nasdem-PKS Dinilai sebagai Sindiran Halus ke Gerindra</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/01/337/2124429/pertemuan-nasdem-pks-dinilai-sebagai-sindiran-halus-ke-gerindra</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/11/01/337/2124429/pertemuan-nasdem-pks-dinilai-sebagai-sindiran-halus-ke-gerindra</guid><pubDate>Jum'at 01 November 2019 09:24 WIB</pubDate><dc:creator>Erha Aprili Ramadhoni</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/01/337/2124429/pertemuan-nasdem-pks-dinilai-sebagai-sindiran-halus-ke-gerindra-RQiL9QVxvo.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh. (Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/01/337/2124429/pertemuan-nasdem-pks-dinilai-sebagai-sindiran-halus-ke-gerindra-RQiL9QVxvo.jpg</image><title>Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh. (Okezone)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Langkah petinggi DPP Partai Nasdem menyambangi petinggi PKS dinilai sebagai bentuk halus untuk parpol yang dahulunya berseberangan dengan Jokowi-Ma&amp;rsquo;ruf Amin, tapi ingin merapat ke pemerintah.
&amp;ldquo;Bisa ditafsirkan sikap Nasdem datang ke PKS sebagai bentuk sindiran halus ke parpol oposisi yang (ingin) merapat ke Jokowi, padahal dulunya berseberangan ekstrem,&amp;rdquo; ujar Direktur Eksekutif Parameter Politik, Adi Prayitno, kepada Okezone, Jumat (1/11/2019).
Pada Pilpres 2019, Gerindra mengusung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno untuk bersaing Jokowi-Ma&amp;rsquo;ruf. Namun, usai gelaran Pilpres 2019, Gerindra justru merapat ke pemerintah. Bahkan, Prabowo yang menjadi capres duduk sebagai menteri pertahanan di Kabinet Indonesia Maju.
Selain Gerindra, Demokrat dan PAN juga berupaya jalin komunikasi dengan Jokowi-Ma&amp;rsquo;ruf Amin usai Pilpres 2019. Namun, upaya kedua partai tidak mendapatkan kursi menteri di kabinet. Menurut Adi, ini berbeda dengan sikap PKS yang tetap memilih berada di luar pemerintahan.



&amp;ldquo;Nasdem ingin berterima kasih pada PKS yang konsisten memilih oposisi. Jalan sunyi yang tak diminati parpol yang kalah Pilpres,&amp;rdquo; ucapnya.
Adi melihat, dengan pertemuan kedua petinggi partai, Nasdem membuka komunikasi politik dengan PKS yg selama ini relatif berbeda  pilihan politiknya. &amp;ldquo;Tentu ini langkah baik menyolidkan suasana bahwa dalam politik tak bisa hitam putih, kerjasama yang utama,&amp;rdquo; ujarnya.

Baca Juga : Usai Bertemu, PKS-NasDem Kompak Tegaskan Hanya Silaturahmi

Sementara itu, menurutnya, sejak awal koalisi Jokowi pada periode keduanya menunjukkan gejala insoliditas. Gejolak itu, kata dia, tampak dari pembentukan Kabinet Indonesia Maju yang kisruh.
&amp;ldquo;Berat membangun soliditas koalisi jika sejak awal pembentukan kabinet kisruh dan chemistry antar koalisi belum menyatu. Bulan madu koalisi Jokowi sepertinya sedang diuji,&amp;rdquo; tuturnya.

Baca Juga : NasDem dan PKS Bertemu, PDIP Ingatkan Parpol Koalisi Jaga Sikap

</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Langkah petinggi DPP Partai Nasdem menyambangi petinggi PKS dinilai sebagai bentuk halus untuk parpol yang dahulunya berseberangan dengan Jokowi-Ma&amp;rsquo;ruf Amin, tapi ingin merapat ke pemerintah.
&amp;ldquo;Bisa ditafsirkan sikap Nasdem datang ke PKS sebagai bentuk sindiran halus ke parpol oposisi yang (ingin) merapat ke Jokowi, padahal dulunya berseberangan ekstrem,&amp;rdquo; ujar Direktur Eksekutif Parameter Politik, Adi Prayitno, kepada Okezone, Jumat (1/11/2019).
Pada Pilpres 2019, Gerindra mengusung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno untuk bersaing Jokowi-Ma&amp;rsquo;ruf. Namun, usai gelaran Pilpres 2019, Gerindra justru merapat ke pemerintah. Bahkan, Prabowo yang menjadi capres duduk sebagai menteri pertahanan di Kabinet Indonesia Maju.
Selain Gerindra, Demokrat dan PAN juga berupaya jalin komunikasi dengan Jokowi-Ma&amp;rsquo;ruf Amin usai Pilpres 2019. Namun, upaya kedua partai tidak mendapatkan kursi menteri di kabinet. Menurut Adi, ini berbeda dengan sikap PKS yang tetap memilih berada di luar pemerintahan.



&amp;ldquo;Nasdem ingin berterima kasih pada PKS yang konsisten memilih oposisi. Jalan sunyi yang tak diminati parpol yang kalah Pilpres,&amp;rdquo; ucapnya.
Adi melihat, dengan pertemuan kedua petinggi partai, Nasdem membuka komunikasi politik dengan PKS yg selama ini relatif berbeda  pilihan politiknya. &amp;ldquo;Tentu ini langkah baik menyolidkan suasana bahwa dalam politik tak bisa hitam putih, kerjasama yang utama,&amp;rdquo; ujarnya.

Baca Juga : Usai Bertemu, PKS-NasDem Kompak Tegaskan Hanya Silaturahmi

Sementara itu, menurutnya, sejak awal koalisi Jokowi pada periode keduanya menunjukkan gejala insoliditas. Gejolak itu, kata dia, tampak dari pembentukan Kabinet Indonesia Maju yang kisruh.
&amp;ldquo;Berat membangun soliditas koalisi jika sejak awal pembentukan kabinet kisruh dan chemistry antar koalisi belum menyatu. Bulan madu koalisi Jokowi sepertinya sedang diuji,&amp;rdquo; tuturnya.

Baca Juga : NasDem dan PKS Bertemu, PDIP Ingatkan Parpol Koalisi Jaga Sikap

</content:encoded></item></channel></rss>
