<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Silat Betawi, Simbol Perlawanan ke Penjajah Kini &quot;Hanya&quot; Dipakai di Acara Pernikahan</title><description>Silat Betawi merupakan salah satu jenis pencak silat khas Indonesia yang masih banyak ditekuni sampai kini.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/02/337/2124226/silat-betawi-simbol-perlawanan-ke-penjajah-kini-hanya-dipakai-di-acara-pernikahan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/11/02/337/2124226/silat-betawi-simbol-perlawanan-ke-penjajah-kini-hanya-dipakai-di-acara-pernikahan"/><item><title>Silat Betawi, Simbol Perlawanan ke Penjajah Kini &quot;Hanya&quot; Dipakai di Acara Pernikahan</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/02/337/2124226/silat-betawi-simbol-perlawanan-ke-penjajah-kini-hanya-dipakai-di-acara-pernikahan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/11/02/337/2124226/silat-betawi-simbol-perlawanan-ke-penjajah-kini-hanya-dipakai-di-acara-pernikahan</guid><pubDate>Sabtu 02 November 2019 10:32 WIB</pubDate><dc:creator>Isty Maulidya</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/10/31/337/2124226/silat-betawi-simbol-perlawanan-ke-penjajah-kini-hanya-dipakai-di-acara-pernikahan-2AxWEVpaR6.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pemilik sanggat silat di Kampung Belendung Tangerang, Syafii (Foto: Okezone/Isty)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/10/31/337/2124226/silat-betawi-simbol-perlawanan-ke-penjajah-kini-hanya-dipakai-di-acara-pernikahan-2AxWEVpaR6.jpg</image><title>Pemilik sanggat silat di Kampung Belendung Tangerang, Syafii (Foto: Okezone/Isty)</title></images><description>TANGERANG - Silat Betawi merupakan salah satu jenis pencak silat khas Indonesia yang masih banyak ditekuni sampai kini. Meski eksistensinya saat ini hanya sebagai pelengkap upacara pernikahan dan pentas budaya, silat betawi pernah jadi alat perlawanan rakyat Indonesia terhadap penjajah di jaman pra-kemerdekaan.

Menurut Syafi'i, salah satu pemilik sanggar silat betawi di Kampung Belendung, kota Tangerang aliran silat betawi yang berkembang di Kota Tangerang salah satunya silat Beksi. Beksi sendiri awalnya berkembang di daerah Dadap kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang.

Jurus ini diperkenalkan oleh seorang Tionghoa yang bernama Lie Ceng Oek dan jurus tersebut diberi nama Bie Sie, namun akhirnya berubah menjadi Beksi karena logat masyarakat Betawi saat itu. Ada juga yang mengartikan Bek artinya pertahanan dan Sie artinya empat, yang berarti pertahanan empat arah.



Selain Beksi, Syafi'i juga mengajarkan aliran Seliwa, ciri khas aliran silat ini adalah pada permainan golok. Permainan golok pada aliran Seliwa ini sangat cepat, sehingga butuh ketangkasan dalam mengayunkan golok.

Syafi'i menuturkan, keahlian beladiri pada zaman itu memang penting. Orang yang keahlian silat yang tinggi akan dipanggil dengan sebutan jawara dan sangat disegani oleh orang banyak. Belajar bela diri bagi anak-anak betawi jadi salah satu kewajiban. Bahkan sama wajibnya dengan belajar mengaji. Sedari kecil, ilmu beladiri itu diajari secara turun-temurun. Setelah beranjak remaja, mereka mulai belajar di padepokan yang didirikan oleh para jawara kampung.

&quot;Saya belajar silat itu dari kecil, dulu anak-anak sini memang banyak yang belajar silat. Sudah turun temurun istilahnya. Orang zaman dulu pasti bisa silat, apalagi pas jaman penjajah&quot; ujar Syafi'i.

Padepokan silat di Kampung Belendung sendiri banyak didirikan oleh murid Haji Kilin dan ketiga saudaranya. Haji Kilin sendiri dikenal sebagai ulama yang tak hanya pandai mengeluarkan jurus silat, namun juga mendalami ilmu agama sehingga sangat disegani oleh warga kampung Belendung. Banyak orang yang belajar agama pada mereka berempat.

Para jawara saat itu memang banyak yang dibekali ilmu agama, karena  kekuataan para jawara bukan hanya lewat ketahanan fisik, namun juga  kekuatan batin. Para jawara akan membekali diri dengan ilmu agama agar  menghasilkan kekuatan yang tidak tertandingi. Saat itu, jawara memang  masih banyak yang memakai kekuatan tenaga dalam untuk melumpuhkan musuh.

&quot;Kalau dulu kan, masih banyak yang pakai tenaga dalam. Itu mereka  dapat kekuatannya bukan hanya latihan silat, tapi juga lewat pendalaman  ilmu agama. Lewat zikir, doa, puasa dan ibadah lainnya&quot; jelas Syafi'i.

Seiring berjalannya waktu, fungsi dari silat betawi mengalami  perubahan. Jika di jaman pra-kemerdekaan silat digunakan jawara untuk  mengalahkan musuh dan juga menjaga rumah orang kaya, saat ini silat  betawi juga digunakan sebagai hiburan untuk pelestarian budaya. Salah  satunya, tradisi palang pintu.



&quot;Kalau jawara dulu itu sebagai penjaga dan penguasa kampung. Beberapa  juga dipakai jadi centeng, yang jaga rumah orang Belanda atau warga  pribumi yang kaya. Sekarang, selain untuk bela diri silat jadi hiburan  dan tradisi seperti palang pintu&quot; ujar Syafi'i.

Palang pintu sendiri merupakan tradisi pernikahan budaya betawi.  Palang pintu dilakukan untuk membuka jalan bagi calon pengantin pria  untuk bisa menemui calon pengantin wanita. Perwakilan jawara dari kedua  pihak akan beradu silat untuk menentukan apakah calon pengantin pria  diizinkan menemui calon pengantin wanita. Palang pintu tak hanyak  menampilkan kehebatan jawara mengeluarkan jurus silat, tapi juga  menunjukan kepiawaian berbalas pantun.

&quot;Palang pintu sendiri menggabungkan dua budaya betawi, pantun dan  silat. Dua orang perwakilan dari pihak perempuan dan laki-laki bertarung  untuk menentukan boleh tidaknya pengantin laki-laki menemui pengantin  perempuan&quot; jelas Syafi'i.

Belum ada kepastian mengenai kapan dimulainya tradisi palang pintu   sendiri, namun duel silat antara dua orang tersebut memang lazim   dilakukan untuk bisa mempersunting wanita terutama jika wanita tersebut   merupakan putri seorang jawara. Sang jawara akan menikahkan putrinya   dengan seorang pria yang bisa mengalahkan putrinya. Bahkan, menurut   cerita yang beredar si Pitung juga mengalahkan seorang jawara untuk   mempersunting putri jawara itu.

&quot;Kurang tau yang sejak kapan, yang pasti tradisi palang pintu itu   untuk menunjukan kalau laki-laki itu mampu melindungi dan mengayomi   istrinya&quot; jelas Syafi'i.

Murid di sanggar silat yang dikelola oleh Syafi'i sendiri banyak   dipanggil untuk kepentingan palang pintu atau sekedar pentas budaya. Tak   hanya sanggar silat milik Syafi'i, sanggar silat lain di daerah   kecamatan Benda juga kerap dipanggil untuk mengisi acara budaya.

&quot;Sanggar kecil ada 40 yangg besar paling 3, sekarang ada   kelompok-kelompoknya istilahnya paguyuban lah. Jadi kalau ada yang mau   menikah pakai palang pintu yang ngambil disini atau di sanggar yang   lain,&quot; ujar pria yang sudah 30 tahun mengajar silat betawi ini.



Syafi'i berharap silat betawi dan budaya lainnya, masih tetap   lestari. Terakhir, Syafi'i mengingatkan siapapun bisa mempelajari silat   betawi, karena silat betawi tidak dikhususkan untuk golongan tertentu.   Namun yang terpenting adalah niat dan kesungguhan untuk bisa menguasai   ilmu silat.

&quot;Silat betawi bisa dipelajari siapapun, laki-laki perempuan, mau dia   suku apapun agama apapun boleh, yang penting niat sungguh-sungguh.   Karena ilmu silat tidak bisa dikuasai tanpa niat dan kesungguhan hati,&quot;   tutupnya.
</description><content:encoded>TANGERANG - Silat Betawi merupakan salah satu jenis pencak silat khas Indonesia yang masih banyak ditekuni sampai kini. Meski eksistensinya saat ini hanya sebagai pelengkap upacara pernikahan dan pentas budaya, silat betawi pernah jadi alat perlawanan rakyat Indonesia terhadap penjajah di jaman pra-kemerdekaan.

Menurut Syafi'i, salah satu pemilik sanggar silat betawi di Kampung Belendung, kota Tangerang aliran silat betawi yang berkembang di Kota Tangerang salah satunya silat Beksi. Beksi sendiri awalnya berkembang di daerah Dadap kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang.

Jurus ini diperkenalkan oleh seorang Tionghoa yang bernama Lie Ceng Oek dan jurus tersebut diberi nama Bie Sie, namun akhirnya berubah menjadi Beksi karena logat masyarakat Betawi saat itu. Ada juga yang mengartikan Bek artinya pertahanan dan Sie artinya empat, yang berarti pertahanan empat arah.



Selain Beksi, Syafi'i juga mengajarkan aliran Seliwa, ciri khas aliran silat ini adalah pada permainan golok. Permainan golok pada aliran Seliwa ini sangat cepat, sehingga butuh ketangkasan dalam mengayunkan golok.

Syafi'i menuturkan, keahlian beladiri pada zaman itu memang penting. Orang yang keahlian silat yang tinggi akan dipanggil dengan sebutan jawara dan sangat disegani oleh orang banyak. Belajar bela diri bagi anak-anak betawi jadi salah satu kewajiban. Bahkan sama wajibnya dengan belajar mengaji. Sedari kecil, ilmu beladiri itu diajari secara turun-temurun. Setelah beranjak remaja, mereka mulai belajar di padepokan yang didirikan oleh para jawara kampung.

&quot;Saya belajar silat itu dari kecil, dulu anak-anak sini memang banyak yang belajar silat. Sudah turun temurun istilahnya. Orang zaman dulu pasti bisa silat, apalagi pas jaman penjajah&quot; ujar Syafi'i.

Padepokan silat di Kampung Belendung sendiri banyak didirikan oleh murid Haji Kilin dan ketiga saudaranya. Haji Kilin sendiri dikenal sebagai ulama yang tak hanya pandai mengeluarkan jurus silat, namun juga mendalami ilmu agama sehingga sangat disegani oleh warga kampung Belendung. Banyak orang yang belajar agama pada mereka berempat.

Para jawara saat itu memang banyak yang dibekali ilmu agama, karena  kekuataan para jawara bukan hanya lewat ketahanan fisik, namun juga  kekuatan batin. Para jawara akan membekali diri dengan ilmu agama agar  menghasilkan kekuatan yang tidak tertandingi. Saat itu, jawara memang  masih banyak yang memakai kekuatan tenaga dalam untuk melumpuhkan musuh.

&quot;Kalau dulu kan, masih banyak yang pakai tenaga dalam. Itu mereka  dapat kekuatannya bukan hanya latihan silat, tapi juga lewat pendalaman  ilmu agama. Lewat zikir, doa, puasa dan ibadah lainnya&quot; jelas Syafi'i.

Seiring berjalannya waktu, fungsi dari silat betawi mengalami  perubahan. Jika di jaman pra-kemerdekaan silat digunakan jawara untuk  mengalahkan musuh dan juga menjaga rumah orang kaya, saat ini silat  betawi juga digunakan sebagai hiburan untuk pelestarian budaya. Salah  satunya, tradisi palang pintu.



&quot;Kalau jawara dulu itu sebagai penjaga dan penguasa kampung. Beberapa  juga dipakai jadi centeng, yang jaga rumah orang Belanda atau warga  pribumi yang kaya. Sekarang, selain untuk bela diri silat jadi hiburan  dan tradisi seperti palang pintu&quot; ujar Syafi'i.

Palang pintu sendiri merupakan tradisi pernikahan budaya betawi.  Palang pintu dilakukan untuk membuka jalan bagi calon pengantin pria  untuk bisa menemui calon pengantin wanita. Perwakilan jawara dari kedua  pihak akan beradu silat untuk menentukan apakah calon pengantin pria  diizinkan menemui calon pengantin wanita. Palang pintu tak hanyak  menampilkan kehebatan jawara mengeluarkan jurus silat, tapi juga  menunjukan kepiawaian berbalas pantun.

&quot;Palang pintu sendiri menggabungkan dua budaya betawi, pantun dan  silat. Dua orang perwakilan dari pihak perempuan dan laki-laki bertarung  untuk menentukan boleh tidaknya pengantin laki-laki menemui pengantin  perempuan&quot; jelas Syafi'i.

Belum ada kepastian mengenai kapan dimulainya tradisi palang pintu   sendiri, namun duel silat antara dua orang tersebut memang lazim   dilakukan untuk bisa mempersunting wanita terutama jika wanita tersebut   merupakan putri seorang jawara. Sang jawara akan menikahkan putrinya   dengan seorang pria yang bisa mengalahkan putrinya. Bahkan, menurut   cerita yang beredar si Pitung juga mengalahkan seorang jawara untuk   mempersunting putri jawara itu.

&quot;Kurang tau yang sejak kapan, yang pasti tradisi palang pintu itu   untuk menunjukan kalau laki-laki itu mampu melindungi dan mengayomi   istrinya&quot; jelas Syafi'i.

Murid di sanggar silat yang dikelola oleh Syafi'i sendiri banyak   dipanggil untuk kepentingan palang pintu atau sekedar pentas budaya. Tak   hanya sanggar silat milik Syafi'i, sanggar silat lain di daerah   kecamatan Benda juga kerap dipanggil untuk mengisi acara budaya.

&quot;Sanggar kecil ada 40 yangg besar paling 3, sekarang ada   kelompok-kelompoknya istilahnya paguyuban lah. Jadi kalau ada yang mau   menikah pakai palang pintu yang ngambil disini atau di sanggar yang   lain,&quot; ujar pria yang sudah 30 tahun mengajar silat betawi ini.



Syafi'i berharap silat betawi dan budaya lainnya, masih tetap   lestari. Terakhir, Syafi'i mengingatkan siapapun bisa mempelajari silat   betawi, karena silat betawi tidak dikhususkan untuk golongan tertentu.   Namun yang terpenting adalah niat dan kesungguhan untuk bisa menguasai   ilmu silat.

&quot;Silat betawi bisa dipelajari siapapun, laki-laki perempuan, mau dia   suku apapun agama apapun boleh, yang penting niat sungguh-sungguh.   Karena ilmu silat tidak bisa dikuasai tanpa niat dan kesungguhan hati,&quot;   tutupnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
