<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Ki Genjlong, Jawara Bekasi Pengusir Penjajah yang Berakhir Tragis</title><description>Boan masih bisa mengingat sedikit kisah perjuangan pada masa penjajahan Belanda.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/02/337/2124833/kisah-ki-genjlong-jawara-bekasi-pengusir-penjajah-yang-berakhir-tragis</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/11/02/337/2124833/kisah-ki-genjlong-jawara-bekasi-pengusir-penjajah-yang-berakhir-tragis"/><item><title>Kisah Ki Genjlong, Jawara Bekasi Pengusir Penjajah yang Berakhir Tragis</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/02/337/2124833/kisah-ki-genjlong-jawara-bekasi-pengusir-penjajah-yang-berakhir-tragis</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/11/02/337/2124833/kisah-ki-genjlong-jawara-bekasi-pengusir-penjajah-yang-berakhir-tragis</guid><pubDate>Sabtu 02 November 2019 11:00 WIB</pubDate><dc:creator>Wijayakusuma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/02/337/2124833/kisah-ki-genjlong-jawara-bekasi-pengusir-penjajah-yang-berakhir-tragis-TdDvbh1mpG.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Boan, kerabat Ki Genjlong ceritakan kisah kakak iparnya (Foto: Okezone/Wijaya)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/02/337/2124833/kisah-ki-genjlong-jawara-bekasi-pengusir-penjajah-yang-berakhir-tragis-TdDvbh1mpG.jpg</image><title>Boan, kerabat Ki Genjlong ceritakan kisah kakak iparnya (Foto: Okezone/Wijaya)</title></images><description>KISAH kepahlawanan jawara-jawara kampung yang mewariskan peninggalan budaya usai merebut kemerdekaan, tentu menjadi cerita yang patut diperdengarkan dari masa ke masa. Hal ini demi menanamkan rasa cinta terhadap daerah serta budaya yang diwariskan sejak zaman penjajahan.

Seperti halnya daerah lain, Bekasi juga memiliki jawara-jawara kampung yang cukup tersohor. Cikal bakal pencak silat yang menjadi kebudayaan asli Betawi pun, dilahirkan dari beberapa diantaranya. Sebut saja Sabeni, salah satu jawara Betawi yang menggunakan silat sebagai upaya membela diri dari penjajah pada masa itu.

Cerita para jawara Betawi dalam keahliannya bersilat juga bisa diketahui dari para keturunannya maupun kerabat. Seperti yang diceritakan Boan (98), warga Kampung Cibitung Sebrang, Cimuning, Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat, yang merupakan kerabat dari Ki Genjlong, salah satu jawara Betawi.



Di usianya yang hampir menginjak seabad, Boan masih bisa mengingat sedikit kisah perjuangan pada masa penjajahan Belanda. Kala itu Ki Genjlong yang tak lain abang iparnya, sempat menjadi andalan masyarakat di kampungnya dalam melawan tirani. Dengan berbekal nyali serta keahlian bela diri silat, Ki Genjlong dengan gigih melawan penjajah.

&quot;Ki Genjlong kalo udah katanya besok lo (penjajah) mati, ya pada modar udah. Saya mah tibang (cuma) ikut-ikutan, punya abang mah jawara. Ki Genjlong abang ipar saya, orang Citarik,&quot; kata Boan saat diwawancarai Okezone, Jum'at (1/11/2019).

Ia mengaku masih terkenang masa-masa kengerian saat perang. Suara bom  dan senjata menjadi makanan sehari-hari warga. Bahkan tak sedikit  jawara maupun rakyat jelata yang mengalami luka-luka akibat terkena  senjata musuh.

&quot;Ya memang susah waktu itu. Ngerasain nyungsep dari gorong-gorong  supaya hidup. Lah bayangin aja, baru Maghrib udah perang nih jalanan  ini. Jawaranya juga pada ngikut, cuma masing-masing cari selamat aja.  Nah yang dari Tambun ke sana itu dibom lagi. Saya aja sampe mikir bakal  mati. Bapak saya pulang dari warung Setu bawa beras, udah kakinya pada  berdarah,&quot; kenangnya.

Ki Genjlong sendiri, kata dia, kerap memukul mundur musuh dengan  senjata golok dibarengi ilmu silat. Melihat kegigihan sang abang ipar,  Boan muda pun terpikir untuk ikut berperang dengan senjata yang  diciptakannya.

&quot;Saya waktu itu juga punya senjata, senjatanya bukan senjata bener.  Dari bambu terus saya tutupin daun. Suaranya kan kaya bom, nah itu dia  (musuh) juga pada mati,&quot; akunya.



Sayangnya, keberanian Ki Genjlong melawan penjajah, tak sebanding  lurus dengan akhlaknya. Ia dikabarkan tewas secara tragis lantaran  terkena santet orang-orang yang dendam kepadanya.

&quot;Jadi dia juga emang udah punya salah. Waktu itu ngambil surat-surat  sawah orang-orang. Dia juga mati diteluh sama orang-orang Gabus,&quot; ungkap  Boan.

Meski tewas dengan cara tidak hormat, namun keberanian Ki Genjlong  cukup diapresiasi warga kala itu. Sejumlah anak-anak muda, bahkan ikut  terinsipirasi oleh keahlian silat yang dimiliki jawara Betawi tersebut.  Dari situlah pencak silat mulai digandrungi warga setempat dan mengalami  perkembangan dari waktu ke waktu. Hingga akhirnya bermunculan  wadah-wadah yang melestarikan pencak silat sebagai kebudayaan asli  masyarakat Betawi.

&quot;Coba dimana kampung ada (pencak silat). Banyak mah di sini, di  Pisangan. Jadi dulu permainan itu kalo perempuan gak boleh lihat itu,  karena khusus laki yang main silat, cuma jangan pake golok. Beradunya di  Pisangan. Jadi itu ada yang nyebut ujungan (bahasa sandi) yang ada neng  nong neng plok (klenongan). Asal ada ujungan itu, dateng kita,&quot;  paparnya.

Di masa tuanya, Boan masih memiliki harapan agar kesenian pencak  silat bisa terus dilestarikan khususnya oleh kaum muda Bekasi. Ia juga  berharap pemerintah lebih berperan dalam upaya pelestarian budaya Betawi  yang dilahirkan oleh para Jawara Betawi tersebut.

&quot;Udah lumayan emang tempat-tempat ngelatih silat. Tapi kalo bisa ya  terus ada, jangan sampe berhenti. Kalo saya mah pengennya biar tambah  maju aja silat di Bekasi ini,&quot; imbuhnya.
</description><content:encoded>KISAH kepahlawanan jawara-jawara kampung yang mewariskan peninggalan budaya usai merebut kemerdekaan, tentu menjadi cerita yang patut diperdengarkan dari masa ke masa. Hal ini demi menanamkan rasa cinta terhadap daerah serta budaya yang diwariskan sejak zaman penjajahan.

Seperti halnya daerah lain, Bekasi juga memiliki jawara-jawara kampung yang cukup tersohor. Cikal bakal pencak silat yang menjadi kebudayaan asli Betawi pun, dilahirkan dari beberapa diantaranya. Sebut saja Sabeni, salah satu jawara Betawi yang menggunakan silat sebagai upaya membela diri dari penjajah pada masa itu.

Cerita para jawara Betawi dalam keahliannya bersilat juga bisa diketahui dari para keturunannya maupun kerabat. Seperti yang diceritakan Boan (98), warga Kampung Cibitung Sebrang, Cimuning, Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat, yang merupakan kerabat dari Ki Genjlong, salah satu jawara Betawi.



Di usianya yang hampir menginjak seabad, Boan masih bisa mengingat sedikit kisah perjuangan pada masa penjajahan Belanda. Kala itu Ki Genjlong yang tak lain abang iparnya, sempat menjadi andalan masyarakat di kampungnya dalam melawan tirani. Dengan berbekal nyali serta keahlian bela diri silat, Ki Genjlong dengan gigih melawan penjajah.

&quot;Ki Genjlong kalo udah katanya besok lo (penjajah) mati, ya pada modar udah. Saya mah tibang (cuma) ikut-ikutan, punya abang mah jawara. Ki Genjlong abang ipar saya, orang Citarik,&quot; kata Boan saat diwawancarai Okezone, Jum'at (1/11/2019).

Ia mengaku masih terkenang masa-masa kengerian saat perang. Suara bom  dan senjata menjadi makanan sehari-hari warga. Bahkan tak sedikit  jawara maupun rakyat jelata yang mengalami luka-luka akibat terkena  senjata musuh.

&quot;Ya memang susah waktu itu. Ngerasain nyungsep dari gorong-gorong  supaya hidup. Lah bayangin aja, baru Maghrib udah perang nih jalanan  ini. Jawaranya juga pada ngikut, cuma masing-masing cari selamat aja.  Nah yang dari Tambun ke sana itu dibom lagi. Saya aja sampe mikir bakal  mati. Bapak saya pulang dari warung Setu bawa beras, udah kakinya pada  berdarah,&quot; kenangnya.

Ki Genjlong sendiri, kata dia, kerap memukul mundur musuh dengan  senjata golok dibarengi ilmu silat. Melihat kegigihan sang abang ipar,  Boan muda pun terpikir untuk ikut berperang dengan senjata yang  diciptakannya.

&quot;Saya waktu itu juga punya senjata, senjatanya bukan senjata bener.  Dari bambu terus saya tutupin daun. Suaranya kan kaya bom, nah itu dia  (musuh) juga pada mati,&quot; akunya.



Sayangnya, keberanian Ki Genjlong melawan penjajah, tak sebanding  lurus dengan akhlaknya. Ia dikabarkan tewas secara tragis lantaran  terkena santet orang-orang yang dendam kepadanya.

&quot;Jadi dia juga emang udah punya salah. Waktu itu ngambil surat-surat  sawah orang-orang. Dia juga mati diteluh sama orang-orang Gabus,&quot; ungkap  Boan.

Meski tewas dengan cara tidak hormat, namun keberanian Ki Genjlong  cukup diapresiasi warga kala itu. Sejumlah anak-anak muda, bahkan ikut  terinsipirasi oleh keahlian silat yang dimiliki jawara Betawi tersebut.  Dari situlah pencak silat mulai digandrungi warga setempat dan mengalami  perkembangan dari waktu ke waktu. Hingga akhirnya bermunculan  wadah-wadah yang melestarikan pencak silat sebagai kebudayaan asli  masyarakat Betawi.

&quot;Coba dimana kampung ada (pencak silat). Banyak mah di sini, di  Pisangan. Jadi dulu permainan itu kalo perempuan gak boleh lihat itu,  karena khusus laki yang main silat, cuma jangan pake golok. Beradunya di  Pisangan. Jadi itu ada yang nyebut ujungan (bahasa sandi) yang ada neng  nong neng plok (klenongan). Asal ada ujungan itu, dateng kita,&quot;  paparnya.

Di masa tuanya, Boan masih memiliki harapan agar kesenian pencak  silat bisa terus dilestarikan khususnya oleh kaum muda Bekasi. Ia juga  berharap pemerintah lebih berperan dalam upaya pelestarian budaya Betawi  yang dilahirkan oleh para Jawara Betawi tersebut.

&quot;Udah lumayan emang tempat-tempat ngelatih silat. Tapi kalo bisa ya  terus ada, jangan sampe berhenti. Kalo saya mah pengennya biar tambah  maju aja silat di Bekasi ini,&quot; imbuhnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
