<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Wisata MICE di Periode Kedua Presiden Jokowi dan Peningkatan Peran Wamen</title><description>INCCA mendukung Wishnutama dan Angela agar dapat mengembangkan industri MICE dengan pesat.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/08/337/2127367/wisata-mice-di-periode-kedua-presiden-jokowi-dan-peningkatan-peran-wamen</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/11/08/337/2127367/wisata-mice-di-periode-kedua-presiden-jokowi-dan-peningkatan-peran-wamen"/><item><title>Wisata MICE di Periode Kedua Presiden Jokowi dan Peningkatan Peran Wamen</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/08/337/2127367/wisata-mice-di-periode-kedua-presiden-jokowi-dan-peningkatan-peran-wamen</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/11/08/337/2127367/wisata-mice-di-periode-kedua-presiden-jokowi-dan-peningkatan-peran-wamen</guid><pubDate>Jum'at 08 November 2019 14:20 WIB</pubDate><dc:creator></dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/08/337/2127367/wisata-mice-di-periode-kedua-presiden-jokowi-dan-peningkatan-peran-wamen-PCuLxq2ff1.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo bersalaman dengan Presiden Jokowi. (Foto : Okezone.com/Arif Julianto)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/08/337/2127367/wisata-mice-di-periode-kedua-presiden-jokowi-dan-peningkatan-peran-wamen-PCuLxq2ff1.jpg</image><title>Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo bersalaman dengan Presiden Jokowi. (Foto : Okezone.com/Arif Julianto)</title></images><description>PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) telah mengubah nomenklatur kementerian yang mengurusi pariwisata dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan menunjuk Wishnutama sebagai Menteri dan Angela Tanoesoedibjo sebagai Wakil Menteri. Seperti biasa setiap kali kabinet baru terbentuk perdebatan pun muncul, mulai dari mempertanyakan perubahan nomenklatur, pemilihan Wishnutama dan Angela, gebrakan apa yang bisa dilakukan dalam urusan destinasi, pemasaran, kelembagaan, hingga bagaimana mereka akan mengembangkan wisata Meeting, Incentive, Conference, Exhibition (MICE).
Bahwa Wishnutama dan Angela tampak masih begitu irit untuk berbicara mengenai langkah apa yang akan dilakukan ke depan, itu tentunya wajar, karena mereka orang baru. Mereka masih perlu untuk mendengar, menganalisis sebelum kemudian mengambil langkah-langkah baru. Tak melulu soal pariwisata dan ekonomi kreatif tapi juga mengenai birokrasi atau internal kementerian. Menariknya, semangat baru terasa d iantara kedua orang ini. Semangat merah putih, semangat untuk mengabdi kepada Indonesia. Modal yang menurut saya, sangat penting dibanding apapun.
Sebagai ketua umum asosiasi MICE dan juga pelaku usaha penyelenggara kegiatan MICE, kepentingan saya tentunya adalah bagaimana agar industri MICE ini berkembang pesat, dan berdampak besar bagi ekonomi Indonesia.Saya juga berkepentingan untuk ikut mengangkat citra Indonesia di dunia internasional melalui berbagai pertemuan internasional yang bisa mendorong arus investasi dan perdagangan ke Indonesia di tengah tekanan besar yang sedang dihadapi ekonomi global. Dalam hal ini INCCA mendukung Wishnutama dan Angela.
Pentingnya MICE menjadi inti pokok pikiran yang juga telah kami sampaikan kepada Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu. Yang jelas spending of money dan lenght of stay lebih besar daripada wisata lainnya, serta mampu mendatangkan banyak wisatawan dalam satu kali kegiatan pertemuan. Dari sisi bisnis, ada puluhan jenis usaha yang digerakkan, bahkan bisnis ini lebih besar daripada industri otomotif, menyerap jutaan tenaga kerja baik langsung maupun tidak langsung, serta mendorong lebih banyak investasi seperti di bidang pembangunan venue, akomodasi, dan lainnya.
Menariknya, industri yang siap digerakkan saat ini juga. Hampir semua kota baik itu ibu kota provinsi atau ibu kota kabupaten/ kota memiliki venue atau tempat pertemuan minimal hotel dengan kapasitas ruang pertemuan sekitar 300 pak, sehingga dengan demikian semua kota itu layak menjadi tuan rumah kegiatan pertemuan MICE. Bahkan dengan kemajuan infrastruktur dalam lima tahun terakhir sangat membantu industri ini bisa melaju cepat.

Meluruskan Pemahaman yang Keliru
Namun begitu, sebelum kita membahas lebih jauh, kita perlu meluruskan  sejumlah pengertian tentang MICE yang keliru. Banyak yang menyangka,  termasuk Menteri Wishnutama, bahwa MICE itu adalah event atau special  event. Satu sisi &amp;ldquo;Event&amp;rdquo;, seperti &amp;ldquo;meeting&amp;rdquo; (Kepanjangan dari M dalam  MICE) sebenarnya merupakan terminologi yang generik yang biasanya  digunakan untuk menggambarkan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan  pertemuan, namun dalam perjalanannya saat ini, event telah bertumbuh  menjadi sebuah kegiatan bisnis yang semakin kompleks, &amp;ldquo;menyerempet&amp;rdquo; ke  MICE, tapi sebenarnya bergerak di luar segmen yang digarap oleh Industri  Konvensi, Industri Pameran dan Industri Perjalanan Insentif.
Umumnya event itu digambarkan kepada skalanya lebih kecil, lebih ke  kegiatan sosial, bersifat lokal, seperti pesta ulang tahun, perkawinan,  kegiatan bazaar dan lainnya. Dari persepsi kalangan professional  conference/ exhbition organizer (PCO/PEO) event itu merujuk kepada event  organizer (EO) sebagai penyelenggaranya, sedangkan MICE itu merujuk  kepada PCO/PEO sebagai penyelenggaranya. Dan, yang peling penting, PCO  harus punya Sertifikat Usaha Jasa Penyelenggara MICE.
Kemudian jenis wisatawan MICE itu juga berbeda dengan wisatawan  biasanya. Mereka umumnya adalah pelaku perjalanan dengan tujuan bisnis,  pejabat atau penentu kebijakan, aktivis NGO, organisasi antarpemerintah  (IGO), atau pihak-pihak lain yang berkaitan dengan kegiatan pertemuan.  Bahkan pemasarannya pun berbeda jika dibandingkan dengan wisatawan  biasa, termasuk pengembangan destinasi hingga kelembagaan. Contohnya  kalau kita memasarkan meeting atau conference kita mau kemana kan beda.  MICE itu ke negara yang markas organisasi internasional termasuk yang  memiliki perusahaan multinasional. Misalnya Swiss (Geneva), Austria  (Vienna), Inggris (London), Italia (Roma), Jerman (Berlin, Bonn),  Amerika Serikat (New York dan Washington DC), dan sejumlah negara lain  di Asia yaitu Jepang, China dan Singapura.

Peran Wamen dan Ditjen MICE
Selama lima tahun belakangan, MICE Indonesia sepertinya tidak ada  kemajuan. Betul kita ada pertemuan besar seperti pertemuan IMF-Bank  Dunia di Bali, serta Asian Games 2018, tapi setelah itu seperti mati  suri. Padahal MICE itu perlu upaya-upaya lain, pertemuan-pertemuan lain  melalui upaya yang terus-menerus dilakukan untuk bisa membawa lebih  banyak kegiatan MICE internasional ke Indonesia.
Di sisi lain, meskipun Presiden Jokowi sangat tepat ketika  memfokuskan pariwisata ke dalam Kementerian Pariwisata tanpa embel-embel  lain, bahkan memberikan begitu banyak kemudahan seperti kebijakan bebas  visa kunjungan dan peningkatan anggaran pariwisata dibandingkan periode  sebelumnya, namun di bawah menteri atau di tingkat operasionalnya, MICE  malah kehilangan jatidirinya dengan tidak adanya Direktorat Jenderal  (Ditjen) MICE. Artinya MICE tidak punya tangan langsung untuk  mengangkatnya.
Itu sebabnya momentum periode kedua Presiden Jokowi ini, terutama   dengan hadirnya Wishnutama dan Angela memimpin Kementerian Pariwisata   dan Ekonomi Kreatif, harus ada keberanian untuk melakukan perubahan,   mulai dari perubahan kulkur pelayanan di kementerian, juga perubahan   dalam organisasi kementerian, dengan memberikan perhatian khusus kepada   MICE.
Pertama, kita berharap agar Wamen Pariwisata dan Ekonomi Kreatif   diberikan tugas dan kewenangan khusus untuk mengoornisasikan   pengembangan wisata MICE sehingga perkembangan MICE bisa lebih cepat dan   fokus ke depan. Jadi nanti semua unsur yang ada di kementerian maupun   badan yang memiliki kaitan dengan MICE akan dikoordinasikan oleh wamen   yang menurut Perpres Nomor 69 Tahun 2019 memiliki tugas membantu   menteri.
Usulan itu selain dilatar belakangi pentingnya pengembangan MICE dan   menjadikan Indonesia sebagai destinasi MICE utama di dunia yaitu 10   besar dunia dari sisi kota penyelenggara MICE dan 20 besar dunia untuk   negara, juga karena melihat kemampuan Angela selama ini di bidang media,   dan juga pemahamannya yang baik dalam bidang pariwisata. Saya sendiri   melihat Angela mampu untuk itu, dan kita dari asosiasi penyelenggara   MICE siap membantu Menteri Wishnutama dan Wamen Angela untuk   mengembangkan MICE tahun 2018 lalu Bangkok saja sudah masuk 10 besar   kota MICE dunia, sedangkan Bali ranking 69 dan Jakarta 120. Jadi kita   harus bisa mengejar.
Bersamaan dengan usul itu, seperti saya katakan tadi, harus   dihidupkan kembali Direktorat Jenderal MICE di Kementerian maupun Badan   Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang direct atau langsung ke wamen.   Kenapa ini penting? Karena untuk mendatangkan lebih banyak kegiatan MICE   internasional ke Indonesia perlu perwakilan pemerintah dimana wamen   dengan kemampuannya dalam negosiasi bisa berperan di sini.

Kita percaya dengan kepemimpinan Wishutama dan Angela yang pro-MICE   ini akan mampu mengangkat pariwisata Indonesia lebih tinggi. Tak hanya   akan mendatangkan lebih banyak wisatawan mancanegara, tapi juga   mendatangkan lebih banyak investasi, mendorong pertumbuhan perdagangan,   dan mampu meningkatkan kebanggaan masyarakat Indoensia kepada Tanah   Airnya. Semoga. ***


oleh Dr Iqbal Alan Abdullah, MSc, CMMC
 
&amp;nbsp;
 
Ketua Umum DPP Indonesia Congress and Convention Association (INCCA/AKKINDO) 
&amp;nbsp;
</description><content:encoded>PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) telah mengubah nomenklatur kementerian yang mengurusi pariwisata dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan menunjuk Wishnutama sebagai Menteri dan Angela Tanoesoedibjo sebagai Wakil Menteri. Seperti biasa setiap kali kabinet baru terbentuk perdebatan pun muncul, mulai dari mempertanyakan perubahan nomenklatur, pemilihan Wishnutama dan Angela, gebrakan apa yang bisa dilakukan dalam urusan destinasi, pemasaran, kelembagaan, hingga bagaimana mereka akan mengembangkan wisata Meeting, Incentive, Conference, Exhibition (MICE).
Bahwa Wishnutama dan Angela tampak masih begitu irit untuk berbicara mengenai langkah apa yang akan dilakukan ke depan, itu tentunya wajar, karena mereka orang baru. Mereka masih perlu untuk mendengar, menganalisis sebelum kemudian mengambil langkah-langkah baru. Tak melulu soal pariwisata dan ekonomi kreatif tapi juga mengenai birokrasi atau internal kementerian. Menariknya, semangat baru terasa d iantara kedua orang ini. Semangat merah putih, semangat untuk mengabdi kepada Indonesia. Modal yang menurut saya, sangat penting dibanding apapun.
Sebagai ketua umum asosiasi MICE dan juga pelaku usaha penyelenggara kegiatan MICE, kepentingan saya tentunya adalah bagaimana agar industri MICE ini berkembang pesat, dan berdampak besar bagi ekonomi Indonesia.Saya juga berkepentingan untuk ikut mengangkat citra Indonesia di dunia internasional melalui berbagai pertemuan internasional yang bisa mendorong arus investasi dan perdagangan ke Indonesia di tengah tekanan besar yang sedang dihadapi ekonomi global. Dalam hal ini INCCA mendukung Wishnutama dan Angela.
Pentingnya MICE menjadi inti pokok pikiran yang juga telah kami sampaikan kepada Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu. Yang jelas spending of money dan lenght of stay lebih besar daripada wisata lainnya, serta mampu mendatangkan banyak wisatawan dalam satu kali kegiatan pertemuan. Dari sisi bisnis, ada puluhan jenis usaha yang digerakkan, bahkan bisnis ini lebih besar daripada industri otomotif, menyerap jutaan tenaga kerja baik langsung maupun tidak langsung, serta mendorong lebih banyak investasi seperti di bidang pembangunan venue, akomodasi, dan lainnya.
Menariknya, industri yang siap digerakkan saat ini juga. Hampir semua kota baik itu ibu kota provinsi atau ibu kota kabupaten/ kota memiliki venue atau tempat pertemuan minimal hotel dengan kapasitas ruang pertemuan sekitar 300 pak, sehingga dengan demikian semua kota itu layak menjadi tuan rumah kegiatan pertemuan MICE. Bahkan dengan kemajuan infrastruktur dalam lima tahun terakhir sangat membantu industri ini bisa melaju cepat.

Meluruskan Pemahaman yang Keliru
Namun begitu, sebelum kita membahas lebih jauh, kita perlu meluruskan  sejumlah pengertian tentang MICE yang keliru. Banyak yang menyangka,  termasuk Menteri Wishnutama, bahwa MICE itu adalah event atau special  event. Satu sisi &amp;ldquo;Event&amp;rdquo;, seperti &amp;ldquo;meeting&amp;rdquo; (Kepanjangan dari M dalam  MICE) sebenarnya merupakan terminologi yang generik yang biasanya  digunakan untuk menggambarkan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan  pertemuan, namun dalam perjalanannya saat ini, event telah bertumbuh  menjadi sebuah kegiatan bisnis yang semakin kompleks, &amp;ldquo;menyerempet&amp;rdquo; ke  MICE, tapi sebenarnya bergerak di luar segmen yang digarap oleh Industri  Konvensi, Industri Pameran dan Industri Perjalanan Insentif.
Umumnya event itu digambarkan kepada skalanya lebih kecil, lebih ke  kegiatan sosial, bersifat lokal, seperti pesta ulang tahun, perkawinan,  kegiatan bazaar dan lainnya. Dari persepsi kalangan professional  conference/ exhbition organizer (PCO/PEO) event itu merujuk kepada event  organizer (EO) sebagai penyelenggaranya, sedangkan MICE itu merujuk  kepada PCO/PEO sebagai penyelenggaranya. Dan, yang peling penting, PCO  harus punya Sertifikat Usaha Jasa Penyelenggara MICE.
Kemudian jenis wisatawan MICE itu juga berbeda dengan wisatawan  biasanya. Mereka umumnya adalah pelaku perjalanan dengan tujuan bisnis,  pejabat atau penentu kebijakan, aktivis NGO, organisasi antarpemerintah  (IGO), atau pihak-pihak lain yang berkaitan dengan kegiatan pertemuan.  Bahkan pemasarannya pun berbeda jika dibandingkan dengan wisatawan  biasa, termasuk pengembangan destinasi hingga kelembagaan. Contohnya  kalau kita memasarkan meeting atau conference kita mau kemana kan beda.  MICE itu ke negara yang markas organisasi internasional termasuk yang  memiliki perusahaan multinasional. Misalnya Swiss (Geneva), Austria  (Vienna), Inggris (London), Italia (Roma), Jerman (Berlin, Bonn),  Amerika Serikat (New York dan Washington DC), dan sejumlah negara lain  di Asia yaitu Jepang, China dan Singapura.

Peran Wamen dan Ditjen MICE
Selama lima tahun belakangan, MICE Indonesia sepertinya tidak ada  kemajuan. Betul kita ada pertemuan besar seperti pertemuan IMF-Bank  Dunia di Bali, serta Asian Games 2018, tapi setelah itu seperti mati  suri. Padahal MICE itu perlu upaya-upaya lain, pertemuan-pertemuan lain  melalui upaya yang terus-menerus dilakukan untuk bisa membawa lebih  banyak kegiatan MICE internasional ke Indonesia.
Di sisi lain, meskipun Presiden Jokowi sangat tepat ketika  memfokuskan pariwisata ke dalam Kementerian Pariwisata tanpa embel-embel  lain, bahkan memberikan begitu banyak kemudahan seperti kebijakan bebas  visa kunjungan dan peningkatan anggaran pariwisata dibandingkan periode  sebelumnya, namun di bawah menteri atau di tingkat operasionalnya, MICE  malah kehilangan jatidirinya dengan tidak adanya Direktorat Jenderal  (Ditjen) MICE. Artinya MICE tidak punya tangan langsung untuk  mengangkatnya.
Itu sebabnya momentum periode kedua Presiden Jokowi ini, terutama   dengan hadirnya Wishnutama dan Angela memimpin Kementerian Pariwisata   dan Ekonomi Kreatif, harus ada keberanian untuk melakukan perubahan,   mulai dari perubahan kulkur pelayanan di kementerian, juga perubahan   dalam organisasi kementerian, dengan memberikan perhatian khusus kepada   MICE.
Pertama, kita berharap agar Wamen Pariwisata dan Ekonomi Kreatif   diberikan tugas dan kewenangan khusus untuk mengoornisasikan   pengembangan wisata MICE sehingga perkembangan MICE bisa lebih cepat dan   fokus ke depan. Jadi nanti semua unsur yang ada di kementerian maupun   badan yang memiliki kaitan dengan MICE akan dikoordinasikan oleh wamen   yang menurut Perpres Nomor 69 Tahun 2019 memiliki tugas membantu   menteri.
Usulan itu selain dilatar belakangi pentingnya pengembangan MICE dan   menjadikan Indonesia sebagai destinasi MICE utama di dunia yaitu 10   besar dunia dari sisi kota penyelenggara MICE dan 20 besar dunia untuk   negara, juga karena melihat kemampuan Angela selama ini di bidang media,   dan juga pemahamannya yang baik dalam bidang pariwisata. Saya sendiri   melihat Angela mampu untuk itu, dan kita dari asosiasi penyelenggara   MICE siap membantu Menteri Wishnutama dan Wamen Angela untuk   mengembangkan MICE tahun 2018 lalu Bangkok saja sudah masuk 10 besar   kota MICE dunia, sedangkan Bali ranking 69 dan Jakarta 120. Jadi kita   harus bisa mengejar.
Bersamaan dengan usul itu, seperti saya katakan tadi, harus   dihidupkan kembali Direktorat Jenderal MICE di Kementerian maupun Badan   Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang direct atau langsung ke wamen.   Kenapa ini penting? Karena untuk mendatangkan lebih banyak kegiatan MICE   internasional ke Indonesia perlu perwakilan pemerintah dimana wamen   dengan kemampuannya dalam negosiasi bisa berperan di sini.

Kita percaya dengan kepemimpinan Wishutama dan Angela yang pro-MICE   ini akan mampu mengangkat pariwisata Indonesia lebih tinggi. Tak hanya   akan mendatangkan lebih banyak wisatawan mancanegara, tapi juga   mendatangkan lebih banyak investasi, mendorong pertumbuhan perdagangan,   dan mampu meningkatkan kebanggaan masyarakat Indoensia kepada Tanah   Airnya. Semoga. ***


oleh Dr Iqbal Alan Abdullah, MSc, CMMC
 
&amp;nbsp;
 
Ketua Umum DPP Indonesia Congress and Convention Association (INCCA/AKKINDO) 
&amp;nbsp;
</content:encoded></item></channel></rss>
