<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Megawati Soekarnoputri, Wanita Perkasa di Perpolitikan Indonesia</title><description>Megawati sudah kerap bersentuhan langsung dengan pahit dan manisnya dinamika politik.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/09/337/2127556/megawati-soekarnoputri-wanita-perkasa-di-perpolitikan-indonesia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/11/09/337/2127556/megawati-soekarnoputri-wanita-perkasa-di-perpolitikan-indonesia"/><item><title>Megawati Soekarnoputri, Wanita Perkasa di Perpolitikan Indonesia</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/09/337/2127556/megawati-soekarnoputri-wanita-perkasa-di-perpolitikan-indonesia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/11/09/337/2127556/megawati-soekarnoputri-wanita-perkasa-di-perpolitikan-indonesia</guid><pubDate>Sabtu 09 November 2019 09:03 WIB</pubDate><dc:creator>Fahreza Rizky</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/08/337/2127556/megawati-soekarnoputri-wanita-perkasa-di-perpolitikan-indonesia-8mQgoEWMM0.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Megawati Soekarnoputri (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/08/337/2127556/megawati-soekarnoputri-wanita-perkasa-di-perpolitikan-indonesia-8mQgoEWMM0.jpg</image><title>Megawati Soekarnoputri (Foto: Okezone)</title></images><description>Perempuan tak melulu berkutat pada urusan domestik. Mereka bisa memasuki jagat publik untuk memberikan kontribusi besar kepada bangsa dan negara. Sudah banyak 'bidadari' yang memberikan inspirasi bagi perjalanan bangsa ini, satu di antaranya Megawati Soekarnoputri. 
 
POLITIK adalah hal yang menyatu dalam darahnya. Sejak kecil, Megawati sudah kerap bersentuhan langsung dengan pahit dan manisnya dinamika politik. Wajar saja, ia merupakan puteri Presiden RI pertama, Soekarno.
Saat berpidato di podium atau mimbar, Megawati tampak seperti ayahnya. Suaranya bisa memekik bagai singa dan bisa juga merendah. Intonasi suaranya seakan bisa menghentak audiens yang hadir dan membakar semangat massa banteng moncong putih.
Megawati Soekarnoputri lahir di Yogyakarta pada 23 Januari 1947. Ia merupakan perempuan pertama yang menduduki kursi Presiden RI. Pada 2001, MPR menggelar sidang istimewa yang mengantarkan dirinya dan Hamzah Haz menduduki tampuk kepemimpinan nasional.
Sejak muda, Megawati memang aktif dalam kegiatan sosial-politik. Hal itu terlihat ketika dirinya berkuliah di Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran dan aktif di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Seiring perjalanan waktu, Megawati menjadi anggota Partai Demokrasi Indonesia (PDI) sejak 1986.

Karirnya di politik cukup melesat hingga dalam Kongres Luar Biasa (KLB) di Surabaya pada 1993, ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PDI. Namun perjalanan politik Megawati tidak sepenuhnya penuh 'taburan bunga.' Ia harus menghadapi getirnya persaingan di internal partai yang menyebabkan terjadinya pertikaian.
Mengutip berbagai sumber, pemerintahan Orde Baru kala itu tidak puas PDI dipimpin oleh Megawati. Akhirnya dengan berbagai instrumen yang ada, kepemimpinan Megawati didongkel dalam Kongres PDI di Medan pada 1996, yang memilih Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI.

Dualisme kepemimpinan di PDI menyebabkan konflik berdarah. Megawati tetap memertahankan kuasanya sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Ia beserta para pendukungnya tetap memertahankan kantor DPP partai yang terletak di Jalan Diponegoro, Cikini, Jakarta Pusat.
Namun, Soerjadi yang didukung pemerintah mengancam akan merebut paksa kantor DPP PDI tersebut. Walhasil ancaman itu menjadi nyata. Pada 27 Juli 1996, kelompok Soerjadi benar-benar merebut kantor DPP PDI dari simpatisan Megawati. Penyerangan dan konflik horizontal antar dua kubu tidak bisa dihindarkan.Konflik politik yang meluas jadi kerusuhan massal ini dikenal dengan  Peristiwa 27 Juli (Kudatuli). Banyak korban bergelimpangan dalam  peristiwa tersebut dan menjadi sejarah kelam perjalanan demokrasi di  tanah air. Singkat cerita, PDI terbelah dua, yakni pimpinan Megawati dan  Soerjadi.
Perolehan suara PDI di bawah Soerjadi merosot tajam pada Pemilu 1997.  Pasalnya sebagian massa pendukung PDI yang pro Megawati mengalihkan  dukungannya ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Peristiwa ini  kemudian melahirkan istilah &amp;ldquo;Mega Bintang.&amp;rdquo; Dan, Mega kala itu memilih  golput.
Pada perjalanannya PDI pimpinan Megawati berubah nama menjadi PDI  Perjuangan (PDIP). Saat kondisi sudah stabil di bawah kendalinya, PDIP  berhasil meraup suara signifikan pada Pemilu 1999 atau era reformasi.

Para pendukungnya meminta Megawati menjadi Presiden, tetapi sidang  istimewa MPR pada 1999 memenangkan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.  Setelahnya, tepatnya pada 2001, sidang istimewa mengangkat Megawati  menjadi Presiden untuk menggantikan Gus Dur yang dicabut mandatnya.
Di bawah kepemimpinan Megawati konsolidasi demokrasi di Indonesia  terus berjalan. Buktinya, pada 2004, Indonesia untuk pertama kalinya  melaksanakan pemilihan umum presiden dan wakil presiden secara langsung.  Aspek langsung ini mengindikasikan terbukanya kran demokratisasi yang  lebih luas.
Namun sayang, pada Pemilu 2004, Megawati yang mencalonkan kembali  sebagai Presiden berpasangan dengan Hasyim Muzadi berhasil dikalahkan  oleh duet Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla. Begitu juga  pada 2009, Megawati yang kembali maju bersama Prabowo Subianto berhasil  dikalahkan lagi oleh duet SBY-Boediono.
Dalam kondisi itulah Megawati harus menelan pil pahit menjadi oposisi  selama dua periode atau 10 tahun. Setelah itu, pada Pemilu 2014,  Megawati berjasa dalam memenangkan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Kemudian,  pada Pemilu 2019 lalu, Megawati juga kembali mencalonkan Jokowi dan KH  Ma&amp;rsquo;ruf Amin dan memenangkan kontestasi.Kehidupan Keluarga
Seperti ditulis dalam Satyam Eva Jayate: Pada Akhirnya Kebenaranlah  yang Akan Menang (2019: 76-78), Megawati menikah dengan Letnan II  (penerbang) Surindro Supjarso pada 1968. Pernikahannya tidak berjalan  lama karena suaminya pada awal 1971 terlibat kecelakaan pesawat di  perairan Biak, Irian Jaya, dan dinyatakan hilang.
Megawati akhirnya resmi menjanda dengan dua orang anak, yakni  Muhammad Rizky Pratama dan Muhammad Prananda Prabowo. Singkat cerita,  pada 1973, Megawati menemukan tambatan hatinya yakni dengan Taufiq  Kiemas.
Taufiq merupakan sahabat kakaknya Megawati. Keduanya akhirnya  melangsungkan pernikahan dan dikaruniai keturunan anak perempuan bernama  Puan Maharani.
Pengaruh dan Legacy Politik

Sebagai perempuan yang pernah menduduki kursi pemimpin nasional,  Megawati tentu memiliki pengaruh politik yang sangat besar: baik untuk  masyarakat maupun untuk koleganya yang pernah gawe bareng. Selain itu,  Megawati juga diyakini memiliki warisan (legacy) politik yang  ditinggalkannya.
Pengaruh politik dan legacy Megawati ini diceritakan oleh Yusril Ihza  Mahendra, Mantan Menteri Kehakiman dan HAM pada Kabinet Gotong Royong.
Yusril dalam The Brave Lady: Megawati dalam Catatan Kabinet Gotong  Royong (2019: 26-34) mengatakan terdapat hampir 200 produk  perundang-undangan yang dihasilkan pada masa pemerintahan Megawati.  Yusril mengaku mendapat tugas cukup besar ketika menjabat sebagai  menteri, tetapi dirinya berhasil menyelesaikan tugas-tugas itu berkat  Megawati.
Salah satu pekerjaan besar di bidang hukum pada masa itu ialah  keluarnya perundang-undangan yang menata bidang pertahanan. Polri yang  semula berada di bawah ABRI akhirnya dipisah berdasarkan UU Nomor 2  Tahun 2002. Setelah beleid itu, lalu dikeluarkan UU Nomor 3 Tahun 2002  tentang Pertahanan Negara. Sedangkan TNI diatur dalam UU Nomor 34 Tahun  2004.
Selain itu, pada era Megawati juga dikeluarkan UU Nomor 30 Tahun 2002  tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. UU itu, lanjut  Yusril, merupakan revisi atas UU Nomor 31 Tahun 1999.
&amp;ldquo;Sejak dikeluarkannya UU Nomor 30 Tahun 2002 itulah pemberantasan  korupsi menjadi sangat keras seperti sekarang ini karena masuknya  pasal-pasal baru yang belum diatur sebelumnya,&amp;rdquo; kata Yusril dalam  catatanya, sebagaimana dikutip dari The Brave Lady: Megawati dalam  Catatan Kabinet Gotong Royong.
Sebagai amanat dari UU Nomor 30 Tahun 2002, maka dibentuklah badan  khusus untuk menangani korupsi yang disebut Komisi Pemberantasan Korupsi  (KPK). &amp;ldquo;Semua proses dilakukan dengan cepat termasuk pembentukan  panitia seleksi sehingga terbentuk struktur KPK yang dipimpin  Taufiqurrahman Ruki,&amp;rdquo; ungkap Yusril.Megawati di Mata Kader PDIP
Politikus PDI Perjuangan (PDIP), Yayan Sopyani Al Hadi mengatakan   Megawati bukan sekadar ketua umum partai, melainkan juga seorang ibu   yang mengetahui dan memahami anak-anaknya dengan baik. Dengan pemahaman   yang baik itulah, Megawati memberikan tugas kepada anak-anaknya.
&amp;ldquo;Maka bagi setiap kader, penugasan partai yang selalu dalam ideologi   Pancasila dan NKRI merupakan kewajiban yang harus dijalankan. Dan bagi   kader, kehormatan Ibu Mega adalah kehormatan seorang ibu yang harus   dijaga,&amp;rdquo; kata Yayan saat dihubungi Okezone, beberapa waktu lalu.

Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) ini mengungkapkan,   hubungan orang per orang dalam PDIP bukan semata hubungan   structural-organisatoris, tetapi hubungan kekeluargaan dalam bingkai   ideologis.
Megawati, sambung Yayan, telah menebar banyak inspirasi bagi   anak-anak ideologisnya. Misalnya saja, Megawati mengajarkan kader PDIP   untuk berpegang teguh pada Pancasila 1 Juni 1945. Pada saat yang sama,   Presiden RI kelima itu juga mengajarkan kader PDIP untuk selalu kokoh   pada prinsip dan keyakinan sebagai sebuah kebenaran.
&amp;ldquo;Bu Mega juga berpesan agar kader-kader partai terus bersatu dengan   denyut nadi rakyat, tertawa dan menangis bersama rakyat,&amp;rdquo; pungkas dia. (kha)</description><content:encoded>Perempuan tak melulu berkutat pada urusan domestik. Mereka bisa memasuki jagat publik untuk memberikan kontribusi besar kepada bangsa dan negara. Sudah banyak 'bidadari' yang memberikan inspirasi bagi perjalanan bangsa ini, satu di antaranya Megawati Soekarnoputri. 
 
POLITIK adalah hal yang menyatu dalam darahnya. Sejak kecil, Megawati sudah kerap bersentuhan langsung dengan pahit dan manisnya dinamika politik. Wajar saja, ia merupakan puteri Presiden RI pertama, Soekarno.
Saat berpidato di podium atau mimbar, Megawati tampak seperti ayahnya. Suaranya bisa memekik bagai singa dan bisa juga merendah. Intonasi suaranya seakan bisa menghentak audiens yang hadir dan membakar semangat massa banteng moncong putih.
Megawati Soekarnoputri lahir di Yogyakarta pada 23 Januari 1947. Ia merupakan perempuan pertama yang menduduki kursi Presiden RI. Pada 2001, MPR menggelar sidang istimewa yang mengantarkan dirinya dan Hamzah Haz menduduki tampuk kepemimpinan nasional.
Sejak muda, Megawati memang aktif dalam kegiatan sosial-politik. Hal itu terlihat ketika dirinya berkuliah di Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran dan aktif di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Seiring perjalanan waktu, Megawati menjadi anggota Partai Demokrasi Indonesia (PDI) sejak 1986.

Karirnya di politik cukup melesat hingga dalam Kongres Luar Biasa (KLB) di Surabaya pada 1993, ia terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PDI. Namun perjalanan politik Megawati tidak sepenuhnya penuh 'taburan bunga.' Ia harus menghadapi getirnya persaingan di internal partai yang menyebabkan terjadinya pertikaian.
Mengutip berbagai sumber, pemerintahan Orde Baru kala itu tidak puas PDI dipimpin oleh Megawati. Akhirnya dengan berbagai instrumen yang ada, kepemimpinan Megawati didongkel dalam Kongres PDI di Medan pada 1996, yang memilih Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI.

Dualisme kepemimpinan di PDI menyebabkan konflik berdarah. Megawati tetap memertahankan kuasanya sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Ia beserta para pendukungnya tetap memertahankan kantor DPP partai yang terletak di Jalan Diponegoro, Cikini, Jakarta Pusat.
Namun, Soerjadi yang didukung pemerintah mengancam akan merebut paksa kantor DPP PDI tersebut. Walhasil ancaman itu menjadi nyata. Pada 27 Juli 1996, kelompok Soerjadi benar-benar merebut kantor DPP PDI dari simpatisan Megawati. Penyerangan dan konflik horizontal antar dua kubu tidak bisa dihindarkan.Konflik politik yang meluas jadi kerusuhan massal ini dikenal dengan  Peristiwa 27 Juli (Kudatuli). Banyak korban bergelimpangan dalam  peristiwa tersebut dan menjadi sejarah kelam perjalanan demokrasi di  tanah air. Singkat cerita, PDI terbelah dua, yakni pimpinan Megawati dan  Soerjadi.
Perolehan suara PDI di bawah Soerjadi merosot tajam pada Pemilu 1997.  Pasalnya sebagian massa pendukung PDI yang pro Megawati mengalihkan  dukungannya ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Peristiwa ini  kemudian melahirkan istilah &amp;ldquo;Mega Bintang.&amp;rdquo; Dan, Mega kala itu memilih  golput.
Pada perjalanannya PDI pimpinan Megawati berubah nama menjadi PDI  Perjuangan (PDIP). Saat kondisi sudah stabil di bawah kendalinya, PDIP  berhasil meraup suara signifikan pada Pemilu 1999 atau era reformasi.

Para pendukungnya meminta Megawati menjadi Presiden, tetapi sidang  istimewa MPR pada 1999 memenangkan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.  Setelahnya, tepatnya pada 2001, sidang istimewa mengangkat Megawati  menjadi Presiden untuk menggantikan Gus Dur yang dicabut mandatnya.
Di bawah kepemimpinan Megawati konsolidasi demokrasi di Indonesia  terus berjalan. Buktinya, pada 2004, Indonesia untuk pertama kalinya  melaksanakan pemilihan umum presiden dan wakil presiden secara langsung.  Aspek langsung ini mengindikasikan terbukanya kran demokratisasi yang  lebih luas.
Namun sayang, pada Pemilu 2004, Megawati yang mencalonkan kembali  sebagai Presiden berpasangan dengan Hasyim Muzadi berhasil dikalahkan  oleh duet Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla. Begitu juga  pada 2009, Megawati yang kembali maju bersama Prabowo Subianto berhasil  dikalahkan lagi oleh duet SBY-Boediono.
Dalam kondisi itulah Megawati harus menelan pil pahit menjadi oposisi  selama dua periode atau 10 tahun. Setelah itu, pada Pemilu 2014,  Megawati berjasa dalam memenangkan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Kemudian,  pada Pemilu 2019 lalu, Megawati juga kembali mencalonkan Jokowi dan KH  Ma&amp;rsquo;ruf Amin dan memenangkan kontestasi.Kehidupan Keluarga
Seperti ditulis dalam Satyam Eva Jayate: Pada Akhirnya Kebenaranlah  yang Akan Menang (2019: 76-78), Megawati menikah dengan Letnan II  (penerbang) Surindro Supjarso pada 1968. Pernikahannya tidak berjalan  lama karena suaminya pada awal 1971 terlibat kecelakaan pesawat di  perairan Biak, Irian Jaya, dan dinyatakan hilang.
Megawati akhirnya resmi menjanda dengan dua orang anak, yakni  Muhammad Rizky Pratama dan Muhammad Prananda Prabowo. Singkat cerita,  pada 1973, Megawati menemukan tambatan hatinya yakni dengan Taufiq  Kiemas.
Taufiq merupakan sahabat kakaknya Megawati. Keduanya akhirnya  melangsungkan pernikahan dan dikaruniai keturunan anak perempuan bernama  Puan Maharani.
Pengaruh dan Legacy Politik

Sebagai perempuan yang pernah menduduki kursi pemimpin nasional,  Megawati tentu memiliki pengaruh politik yang sangat besar: baik untuk  masyarakat maupun untuk koleganya yang pernah gawe bareng. Selain itu,  Megawati juga diyakini memiliki warisan (legacy) politik yang  ditinggalkannya.
Pengaruh politik dan legacy Megawati ini diceritakan oleh Yusril Ihza  Mahendra, Mantan Menteri Kehakiman dan HAM pada Kabinet Gotong Royong.
Yusril dalam The Brave Lady: Megawati dalam Catatan Kabinet Gotong  Royong (2019: 26-34) mengatakan terdapat hampir 200 produk  perundang-undangan yang dihasilkan pada masa pemerintahan Megawati.  Yusril mengaku mendapat tugas cukup besar ketika menjabat sebagai  menteri, tetapi dirinya berhasil menyelesaikan tugas-tugas itu berkat  Megawati.
Salah satu pekerjaan besar di bidang hukum pada masa itu ialah  keluarnya perundang-undangan yang menata bidang pertahanan. Polri yang  semula berada di bawah ABRI akhirnya dipisah berdasarkan UU Nomor 2  Tahun 2002. Setelah beleid itu, lalu dikeluarkan UU Nomor 3 Tahun 2002  tentang Pertahanan Negara. Sedangkan TNI diatur dalam UU Nomor 34 Tahun  2004.
Selain itu, pada era Megawati juga dikeluarkan UU Nomor 30 Tahun 2002  tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. UU itu, lanjut  Yusril, merupakan revisi atas UU Nomor 31 Tahun 1999.
&amp;ldquo;Sejak dikeluarkannya UU Nomor 30 Tahun 2002 itulah pemberantasan  korupsi menjadi sangat keras seperti sekarang ini karena masuknya  pasal-pasal baru yang belum diatur sebelumnya,&amp;rdquo; kata Yusril dalam  catatanya, sebagaimana dikutip dari The Brave Lady: Megawati dalam  Catatan Kabinet Gotong Royong.
Sebagai amanat dari UU Nomor 30 Tahun 2002, maka dibentuklah badan  khusus untuk menangani korupsi yang disebut Komisi Pemberantasan Korupsi  (KPK). &amp;ldquo;Semua proses dilakukan dengan cepat termasuk pembentukan  panitia seleksi sehingga terbentuk struktur KPK yang dipimpin  Taufiqurrahman Ruki,&amp;rdquo; ungkap Yusril.Megawati di Mata Kader PDIP
Politikus PDI Perjuangan (PDIP), Yayan Sopyani Al Hadi mengatakan   Megawati bukan sekadar ketua umum partai, melainkan juga seorang ibu   yang mengetahui dan memahami anak-anaknya dengan baik. Dengan pemahaman   yang baik itulah, Megawati memberikan tugas kepada anak-anaknya.
&amp;ldquo;Maka bagi setiap kader, penugasan partai yang selalu dalam ideologi   Pancasila dan NKRI merupakan kewajiban yang harus dijalankan. Dan bagi   kader, kehormatan Ibu Mega adalah kehormatan seorang ibu yang harus   dijaga,&amp;rdquo; kata Yayan saat dihubungi Okezone, beberapa waktu lalu.

Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) ini mengungkapkan,   hubungan orang per orang dalam PDIP bukan semata hubungan   structural-organisatoris, tetapi hubungan kekeluargaan dalam bingkai   ideologis.
Megawati, sambung Yayan, telah menebar banyak inspirasi bagi   anak-anak ideologisnya. Misalnya saja, Megawati mengajarkan kader PDIP   untuk berpegang teguh pada Pancasila 1 Juni 1945. Pada saat yang sama,   Presiden RI kelima itu juga mengajarkan kader PDIP untuk selalu kokoh   pada prinsip dan keyakinan sebagai sebuah kebenaran.
&amp;ldquo;Bu Mega juga berpesan agar kader-kader partai terus bersatu dengan   denyut nadi rakyat, tertawa dan menangis bersama rakyat,&amp;rdquo; pungkas dia. (kha)</content:encoded></item></channel></rss>
