<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Kisah Irna Riza, Srikandi Penyelamat Para Disabilitas</title><description>Bagi penyandang disabilitas di provinsi Bengkulu, sudah tak asing dengan sosok Irna Riza Yuliastuty.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/09/337/2127596/kisah-irna-riza-srikandi-penyelamat-para-disabilitas</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/11/09/337/2127596/kisah-irna-riza-srikandi-penyelamat-para-disabilitas"/><item><title>Kisah Irna Riza, Srikandi Penyelamat Para Disabilitas</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/09/337/2127596/kisah-irna-riza-srikandi-penyelamat-para-disabilitas</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/11/09/337/2127596/kisah-irna-riza-srikandi-penyelamat-para-disabilitas</guid><pubDate>Sabtu 09 November 2019 11:31 WIB</pubDate><dc:creator>Demon Fajri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/08/337/2127596/kisah-irna-riza-srikandi-penyelamat-para-disabilitas-YLnuMvq4Bb.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Irna Riza, penyelamat para penyandang disabilitas (Foto: Okezone/Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/08/337/2127596/kisah-irna-riza-srikandi-penyelamat-para-disabilitas-YLnuMvq4Bb.jpg</image><title>Irna Riza, penyelamat para penyandang disabilitas (Foto: Okezone/Ist)</title></images><description>BENGKULU - Bagi penyandang disabilitas di provinsi Bengkulu, sudah tak asing dengan sosok Irna Riza Yuliastuty. Di mata mereka perempuan kelahiran Palembang, 7 Juli 1977 itu bak pahlawan.

Layaknya sosok ibu negara pertama, Fatmawati. Irna menjadi sosok yang konsisten memperjuangkan hak disabilitas di provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia''.

Di provinsi yang dihuni tidak kurang dari 1,9 juta, Fatmawati dikenal sebagai penjahit bendera sang saka merah putih untuk dikibarkan ketika proklamasi kemerdekaan RI, pada 17 Agustus 1945.

Di era generasi millennial ada sosok Fatmawati, bagi penyandang disabilitas di ''Bumi Rafflesia''. Perempuan jebolan SD Negeri 6 Kasala Lampung, tahun 1989 itu layak mendapatkan julukan 'Fatmawati'.



Perempuan berusia 42 tahun itu merupakan pendiri Mitra Masyarakat Inklusif (MMI) Bengkulu. Lulusan SMPN 4 Tanjung Karang, Bandar Lampung ini terus berjuang untuk penyandang disabilitas.

Alumnus SMAN 3 Tanjung Karang, Bandar Lampung ini mulai memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas ketika ada korban kekerasan di kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu, yang menimpa perempuan penyandang disabilitas.

Kala itu, korban kurang mendapatkan hak advokasi. Sehingga jebolan Universitas Bengkulu, 2001, prihatin. Berangkat dari keprihatinan itu hak-hak penyandang disabilitas mulai gencar diperjuangkan.

''Waktu ada korban kekerasan perempuan. Korban kekerasan itu penyandang disabilitas. Dari kondisi itu saya tergerak memperjuangkan hak-hak disabilitas,'' kata Tim Penelitian, Pendidikan dan Advokasi, Cahaya Perempuan- Women&amp;rsquo;s Crisis Centre Bengkulu, periode 2000, kepada okezone, Selasa 5 November 2019.

Aktivitas Jaringan Peduli Perempuan Bengkulu periode 2005 itu sangat  prihatin dengan perlakukan dan hak-hak yang belum sepenuhnya diperoleh  penyandang disabilitas di tanah ''Bumi Rafflesia''.

Keprihatinan itu membuat aktivis Koalisi Perempuan Indonesia (KPI)  periode 2007 ini bersama rekan-rekannya mendirikan, Perkumpulan Mitra  Masyarakat Inklusif (MMI) Bengkulu, pada tahun 2016.

Tidak hanya itu sosok aktivis Centra Citra Remaja Rafflesia, Bengkulu  ini juga berjuang melalui mendampingi lima organisasi berbasis  disabilitas di Bengkulu.

Seperti, mendampingi organisasi Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia  (HWDI) Bengkulu, Pusat Informasi dan Konsultasi Perempuan Penyandang  Disabilitas (PIK PPD) Bengkulu.



Lalu, Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin)  Bengkulu, Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Bengkulu, Kelompok  Kepentingan Disabilitas Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Bengkulu.

''yang tergabung dalam organisasi berbasis disabilitas ada sekira 200  orang penyandang disabilitas. Saya mendampingi dalam rangka  memperjuangkan hak-hak mereka, serta pengembangan potensi yang dimiliki  penyandang disabilitas,'' jelas aktivis Women&amp;rsquo;s Crisis Centre, Cahaya  Perempuan Bengkulu, periode	1999 hingga 2009.

Pentingnya Membangun Masyarakat Inklusif

Keterbatasan tidak menghalangi penyandang disabilitas dalam menjalani   aktivitas. Sebab mereka tetap menyuguhkan karya. Bahkan, prestasi pada   masyarakat.

Mereka memiliki berbagai keterampilan. Kelebihan tersebut tentu musti   diperjuangkan dan dipertahankan agar mereka dapat mengembangkan  potensi  dalam diri mereka.

Tim Peneliti Remaja CCRR&amp;ndash;PKBI Bengkulu periode 1997 ini, berjuang   dengan cara memfasilitasi penyandang disabilitas yang menjadi pelaku UKM   guna mendapatkan hak atas informasi, terkait akses permodalan untuk   peningkatan usaha kecil yang mereka lakoni.



Ibu dari dua orang anak ini, juga memperjuangkan dengan   merekomendasikan penyandang disabilitas mengikuti kegiatan Badan Ekonomi   Kreatif (BEKRAF) RI.

Lalu, sosok perempuan yang menjadi Tim Peneliti CCRR-PKBI Bengkulu   periode 1999, ikut andil dalam memfasilitasi kelompok disabilitas di   event-event yang diselenggarakan komunitas non difabel. Event ini   sharing seiring menjadi ajang promosi karya-karya disabilitas.

Perjuangan lainnya, dari sosok perempuan Peneliti Daerah KPI-MAMPU   periode 2013 itu juga berupaya dengan mengadvokasi yang ramah dan   menyenangkan. Di mana Irna mengajak kelompok disabilitas ke layanan   publik.

Berangkat dari advokasi ramah dan menyenangkan itu kelompok   disabikitas banyak belajar. Bahkan, dari pelayan publik juga banyak   belajar untuk pembenahan kualitas layanan.

Peneliti daerah 'pengalaman hidup perempuan miskin', KPI-MAMPU   periode 2014 ini bersama ketua lintas organisasi disabilitas beraudiensi   dengan Kapolda Bengkulu guna menyampaikan persoalan hukum yang bisa   melindungi hak-hak disabilitas.

''Membangun masyarakat yang inklusif, penting. Masyarakat yang tanpa   ada perbedaan perlakuan dan saling menghormati,'' ujar tim peneliti   'pengaruh media penyiaran terhadap prilaku remaja di provinsi Bengkulu,   komisi penyiaran Indonesia daerah (KPID) Bengkulu, periode 2015.

Pengembangan potensi diri penyandang disabilitas tidak hanya sebatas   UKM. Namun, sosok tim peneliti nasional, KPI-MAMPU, periode 2016 ini   mengembangkan jati diri mereka juga membentuk kelas menulis dengan   melibatkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu dan Genik.

Penyandang disabilitas dalam pengembang jati diri juga dilibatkan   secara langsung. Mereka ikut andil ketika berdiskusi tentang kolaborasi   pendataan penyandang disabilitas dan upaya pemberdayaan utk penyandang   disabilitas.

Mereka juga diberikan pengetahuan tentang media. Hal tersebut   ditandai dengan mendampingi kelompok belajar menulis berkunjung ke salah   satu stasiun televisi lokal Bengkulu, difasilitasi AJI Bengkulu.

''Penyandang disabilitas juga menyampaikan aspirasi ke Komisi 1 DPRD   Kota Bengkulu, secara langsung. Hanya saja penyampaian aspirasi itu  saya  bersama rekan-rekan pengurus lintas organisasi disabilitas   didampingi,'' terang Irna.

Kerja Tanpa Digaji, Irna Dibilang Macam-macam

Perjuangan hak-hak disabiltas, perempuan yang ikut terlibat dalam    Pokja Pengarusutamaan Gender provinsi Bengkulu periode 2012 ini, tidak    berjalan mulus.

Sebab, mantan Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID)    Bengkulu ini sempat mendapat cibiran dan hinaan dari rekan-rekannya.    Lebih menyakitkan, jika Irna terjun mendampingi penyandang disabilitas    dituding macam-macam.

Cibiran, hinaan dan tudingan itu tidak mematahkan semangat perempuan    yang tinggal di jalan Adam Malik I No.6 RT/RW.04/02, Kelurahan Pagar    Dewa Kecamatan Selebar kota Bengkulu.

Irna terus berjalan dalam memperjuangkan apa yang menjadi hak-hak    penyandang disabilitas. Meskipun berbagai tanggapan negatif menghampiri    sosok ibu dari dua anak ini.

Tanggapan miring itu dijadikan semangat untuk terus berjuang bersama    penyandang disabilitas. Meskipun dalam mendampingi penyandang    disabilitas tidak menerima honor atau gaji.

''Di luar sana saya di bilang macam-macam. Saya berjuang ini karena    ada kepedulian terhadap penyandang disabilitas. Saya sama sekali tidak    ada honor,'' terang Irna.

''Saya sempat dibilang ngapain ngurus disabilitas seperti tidak ada    kerjaan,'' ingat Irna, atas sindiran yang diterima kepada dirinya.

Penyandang disabilitas di Bengkulu yang tergabung dalam organisasi    berbasis disabilitas, kata Irna, tidak kurang dari 200 orang. Dari    ratusan orang itu mereka berusia produktif dari usia 20 tahun hingga 40    tahun.

''Penyandang yang tergabung dalam organisasi berbasis disabilitas berasal dari berbagai daerah di Bengkulu,'' sampai Irna.

Sulit Berkomunikasi Hingga 'Tangkap' Penyandang Disabilitas

Berkecimpung secara langsung dengan penyandang disabilitas bukan hal     mudah. Irna mengakui, jika karakter penyandang berbeda-beda. Bahkan,     berkomunikasi pun cukup kesulitan.

Irna musti mensiasati komunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat.     Bahkan, melalui melalui menulis secara langsung di selembar kertas.     Namun, cara komunitasi itu tidak langsung bisa dipahami.

Mulanya cara berkomunikasi tersebut kesulitan. Seiring perjalanan     waktu. Cara komunikasi itu dapat dipahami. Pekerjaan mendampingi     penyandang disabilitas memiliki tantangan tersendiri.

''Pertama-tama saya kesulitan dalam berkomunukasi dengan penyandang disabilitas,'' jelas Irna.

Tantangan tidak hanya cara berkomunikasi. Irna juga memiliki     tantangan untuk ''menangkap'' penyandang disabilitas yang belum     tergabung dalam organisasi berbasis disabilitas.

Di mana dalam pendampingan yang telah dilakoni tidak kurang dari tiga     tahun terakhir, Irna sudah 'menangkap' sekira 20 penyandang     disabilitas. Mereka 'ditangkap' lantaran untuk diberikan pembelajaran.

Baik peningkatan ekonomi kerakyatan serta pelatihan-pelatihan     lainnya. Hal tersebut salah satu langkah untuk memberikan hak dari     penyandang disabilitas dalam mengembangkan kemampuan yang dimiliki.

''Setelah saya 'tangkap' lalu, saya menawarkan apakah mau diberikan pembelajaran berbagai hal,'' terang Irna.

Kedepannya, harap Irna, mendapatkan perhatian khusus dari berbagai     segi. Sehingga mereka tidak merasa adanya perbedaan. Sebab hak-hak     mereka juga musti terpenuhi.

''Setidaknya kawan-kawan disabilitas harus dijadikan pengusaha dalam pengembangan keterampilan yang dimiliki,'' pungkas Irna.

</description><content:encoded>BENGKULU - Bagi penyandang disabilitas di provinsi Bengkulu, sudah tak asing dengan sosok Irna Riza Yuliastuty. Di mata mereka perempuan kelahiran Palembang, 7 Juli 1977 itu bak pahlawan.

Layaknya sosok ibu negara pertama, Fatmawati. Irna menjadi sosok yang konsisten memperjuangkan hak disabilitas di provinsi berjuluk ''Bumi Rafflesia''.

Di provinsi yang dihuni tidak kurang dari 1,9 juta, Fatmawati dikenal sebagai penjahit bendera sang saka merah putih untuk dikibarkan ketika proklamasi kemerdekaan RI, pada 17 Agustus 1945.

Di era generasi millennial ada sosok Fatmawati, bagi penyandang disabilitas di ''Bumi Rafflesia''. Perempuan jebolan SD Negeri 6 Kasala Lampung, tahun 1989 itu layak mendapatkan julukan 'Fatmawati'.



Perempuan berusia 42 tahun itu merupakan pendiri Mitra Masyarakat Inklusif (MMI) Bengkulu. Lulusan SMPN 4 Tanjung Karang, Bandar Lampung ini terus berjuang untuk penyandang disabilitas.

Alumnus SMAN 3 Tanjung Karang, Bandar Lampung ini mulai memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas ketika ada korban kekerasan di kabupaten Bengkulu Tengah, Bengkulu, yang menimpa perempuan penyandang disabilitas.

Kala itu, korban kurang mendapatkan hak advokasi. Sehingga jebolan Universitas Bengkulu, 2001, prihatin. Berangkat dari keprihatinan itu hak-hak penyandang disabilitas mulai gencar diperjuangkan.

''Waktu ada korban kekerasan perempuan. Korban kekerasan itu penyandang disabilitas. Dari kondisi itu saya tergerak memperjuangkan hak-hak disabilitas,'' kata Tim Penelitian, Pendidikan dan Advokasi, Cahaya Perempuan- Women&amp;rsquo;s Crisis Centre Bengkulu, periode 2000, kepada okezone, Selasa 5 November 2019.

Aktivitas Jaringan Peduli Perempuan Bengkulu periode 2005 itu sangat  prihatin dengan perlakukan dan hak-hak yang belum sepenuhnya diperoleh  penyandang disabilitas di tanah ''Bumi Rafflesia''.

Keprihatinan itu membuat aktivis Koalisi Perempuan Indonesia (KPI)  periode 2007 ini bersama rekan-rekannya mendirikan, Perkumpulan Mitra  Masyarakat Inklusif (MMI) Bengkulu, pada tahun 2016.

Tidak hanya itu sosok aktivis Centra Citra Remaja Rafflesia, Bengkulu  ini juga berjuang melalui mendampingi lima organisasi berbasis  disabilitas di Bengkulu.

Seperti, mendampingi organisasi Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia  (HWDI) Bengkulu, Pusat Informasi dan Konsultasi Perempuan Penyandang  Disabilitas (PIK PPD) Bengkulu.



Lalu, Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin)  Bengkulu, Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Bengkulu, Kelompok  Kepentingan Disabilitas Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Bengkulu.

''yang tergabung dalam organisasi berbasis disabilitas ada sekira 200  orang penyandang disabilitas. Saya mendampingi dalam rangka  memperjuangkan hak-hak mereka, serta pengembangan potensi yang dimiliki  penyandang disabilitas,'' jelas aktivis Women&amp;rsquo;s Crisis Centre, Cahaya  Perempuan Bengkulu, periode	1999 hingga 2009.

Pentingnya Membangun Masyarakat Inklusif

Keterbatasan tidak menghalangi penyandang disabilitas dalam menjalani   aktivitas. Sebab mereka tetap menyuguhkan karya. Bahkan, prestasi pada   masyarakat.

Mereka memiliki berbagai keterampilan. Kelebihan tersebut tentu musti   diperjuangkan dan dipertahankan agar mereka dapat mengembangkan  potensi  dalam diri mereka.

Tim Peneliti Remaja CCRR&amp;ndash;PKBI Bengkulu periode 1997 ini, berjuang   dengan cara memfasilitasi penyandang disabilitas yang menjadi pelaku UKM   guna mendapatkan hak atas informasi, terkait akses permodalan untuk   peningkatan usaha kecil yang mereka lakoni.



Ibu dari dua orang anak ini, juga memperjuangkan dengan   merekomendasikan penyandang disabilitas mengikuti kegiatan Badan Ekonomi   Kreatif (BEKRAF) RI.

Lalu, sosok perempuan yang menjadi Tim Peneliti CCRR-PKBI Bengkulu   periode 1999, ikut andil dalam memfasilitasi kelompok disabilitas di   event-event yang diselenggarakan komunitas non difabel. Event ini   sharing seiring menjadi ajang promosi karya-karya disabilitas.

Perjuangan lainnya, dari sosok perempuan Peneliti Daerah KPI-MAMPU   periode 2013 itu juga berupaya dengan mengadvokasi yang ramah dan   menyenangkan. Di mana Irna mengajak kelompok disabilitas ke layanan   publik.

Berangkat dari advokasi ramah dan menyenangkan itu kelompok   disabikitas banyak belajar. Bahkan, dari pelayan publik juga banyak   belajar untuk pembenahan kualitas layanan.

Peneliti daerah 'pengalaman hidup perempuan miskin', KPI-MAMPU   periode 2014 ini bersama ketua lintas organisasi disabilitas beraudiensi   dengan Kapolda Bengkulu guna menyampaikan persoalan hukum yang bisa   melindungi hak-hak disabilitas.

''Membangun masyarakat yang inklusif, penting. Masyarakat yang tanpa   ada perbedaan perlakuan dan saling menghormati,'' ujar tim peneliti   'pengaruh media penyiaran terhadap prilaku remaja di provinsi Bengkulu,   komisi penyiaran Indonesia daerah (KPID) Bengkulu, periode 2015.

Pengembangan potensi diri penyandang disabilitas tidak hanya sebatas   UKM. Namun, sosok tim peneliti nasional, KPI-MAMPU, periode 2016 ini   mengembangkan jati diri mereka juga membentuk kelas menulis dengan   melibatkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bengkulu dan Genik.

Penyandang disabilitas dalam pengembang jati diri juga dilibatkan   secara langsung. Mereka ikut andil ketika berdiskusi tentang kolaborasi   pendataan penyandang disabilitas dan upaya pemberdayaan utk penyandang   disabilitas.

Mereka juga diberikan pengetahuan tentang media. Hal tersebut   ditandai dengan mendampingi kelompok belajar menulis berkunjung ke salah   satu stasiun televisi lokal Bengkulu, difasilitasi AJI Bengkulu.

''Penyandang disabilitas juga menyampaikan aspirasi ke Komisi 1 DPRD   Kota Bengkulu, secara langsung. Hanya saja penyampaian aspirasi itu  saya  bersama rekan-rekan pengurus lintas organisasi disabilitas   didampingi,'' terang Irna.

Kerja Tanpa Digaji, Irna Dibilang Macam-macam

Perjuangan hak-hak disabiltas, perempuan yang ikut terlibat dalam    Pokja Pengarusutamaan Gender provinsi Bengkulu periode 2012 ini, tidak    berjalan mulus.

Sebab, mantan Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID)    Bengkulu ini sempat mendapat cibiran dan hinaan dari rekan-rekannya.    Lebih menyakitkan, jika Irna terjun mendampingi penyandang disabilitas    dituding macam-macam.

Cibiran, hinaan dan tudingan itu tidak mematahkan semangat perempuan    yang tinggal di jalan Adam Malik I No.6 RT/RW.04/02, Kelurahan Pagar    Dewa Kecamatan Selebar kota Bengkulu.

Irna terus berjalan dalam memperjuangkan apa yang menjadi hak-hak    penyandang disabilitas. Meskipun berbagai tanggapan negatif menghampiri    sosok ibu dari dua anak ini.

Tanggapan miring itu dijadikan semangat untuk terus berjuang bersama    penyandang disabilitas. Meskipun dalam mendampingi penyandang    disabilitas tidak menerima honor atau gaji.

''Di luar sana saya di bilang macam-macam. Saya berjuang ini karena    ada kepedulian terhadap penyandang disabilitas. Saya sama sekali tidak    ada honor,'' terang Irna.

''Saya sempat dibilang ngapain ngurus disabilitas seperti tidak ada    kerjaan,'' ingat Irna, atas sindiran yang diterima kepada dirinya.

Penyandang disabilitas di Bengkulu yang tergabung dalam organisasi    berbasis disabilitas, kata Irna, tidak kurang dari 200 orang. Dari    ratusan orang itu mereka berusia produktif dari usia 20 tahun hingga 40    tahun.

''Penyandang yang tergabung dalam organisasi berbasis disabilitas berasal dari berbagai daerah di Bengkulu,'' sampai Irna.

Sulit Berkomunikasi Hingga 'Tangkap' Penyandang Disabilitas

Berkecimpung secara langsung dengan penyandang disabilitas bukan hal     mudah. Irna mengakui, jika karakter penyandang berbeda-beda. Bahkan,     berkomunikasi pun cukup kesulitan.

Irna musti mensiasati komunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat.     Bahkan, melalui melalui menulis secara langsung di selembar kertas.     Namun, cara komunitasi itu tidak langsung bisa dipahami.

Mulanya cara berkomunikasi tersebut kesulitan. Seiring perjalanan     waktu. Cara komunikasi itu dapat dipahami. Pekerjaan mendampingi     penyandang disabilitas memiliki tantangan tersendiri.

''Pertama-tama saya kesulitan dalam berkomunukasi dengan penyandang disabilitas,'' jelas Irna.

Tantangan tidak hanya cara berkomunikasi. Irna juga memiliki     tantangan untuk ''menangkap'' penyandang disabilitas yang belum     tergabung dalam organisasi berbasis disabilitas.

Di mana dalam pendampingan yang telah dilakoni tidak kurang dari tiga     tahun terakhir, Irna sudah 'menangkap' sekira 20 penyandang     disabilitas. Mereka 'ditangkap' lantaran untuk diberikan pembelajaran.

Baik peningkatan ekonomi kerakyatan serta pelatihan-pelatihan     lainnya. Hal tersebut salah satu langkah untuk memberikan hak dari     penyandang disabilitas dalam mengembangkan kemampuan yang dimiliki.

''Setelah saya 'tangkap' lalu, saya menawarkan apakah mau diberikan pembelajaran berbagai hal,'' terang Irna.

Kedepannya, harap Irna, mendapatkan perhatian khusus dari berbagai     segi. Sehingga mereka tidak merasa adanya perbedaan. Sebab hak-hak     mereka juga musti terpenuhi.

''Setidaknya kawan-kawan disabilitas harus dijadikan pengusaha dalam pengembangan keterampilan yang dimiliki,'' pungkas Irna.

</content:encoded></item></channel></rss>
