<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Aditya Galih Mastika dan Cerita Perjuangan Seorang Ibu Memberikan ASI</title><description>Meski banyak manfaat dari ASI, tidak semua paham dan mengerti lantas mengaplikasikan kepada seluruh bayi</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/09/337/2127599/aditya-galih-mastika-dan-cerita-perjuangan-seorang-ibu-memberikan-asi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/11/09/337/2127599/aditya-galih-mastika-dan-cerita-perjuangan-seorang-ibu-memberikan-asi"/><item><title>Aditya Galih Mastika dan Cerita Perjuangan Seorang Ibu Memberikan ASI</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/09/337/2127599/aditya-galih-mastika-dan-cerita-perjuangan-seorang-ibu-memberikan-asi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/11/09/337/2127599/aditya-galih-mastika-dan-cerita-perjuangan-seorang-ibu-memberikan-asi</guid><pubDate>Sabtu 09 November 2019 12:05 WIB</pubDate><dc:creator>Dina Prihatini</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/08/337/2127599/aditya-galih-mastika-dan-cerita-perjuangan-seorang-ibu-memberikan-asi-gEPzPgCun5.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Aditya Galih Mastika beri penyuluhan ibu muda cara memberikan ASI yang baik (Foto: Okezone/Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/08/337/2127599/aditya-galih-mastika-dan-cerita-perjuangan-seorang-ibu-memberikan-asi-gEPzPgCun5.jpg</image><title>Aditya Galih Mastika beri penyuluhan ibu muda cara memberikan ASI yang baik (Foto: Okezone/Ist)</title></images><description>PONTIANAK - Pentingnya air susu ibu (ASI) bagi generasi penerus salah satunya adalah ampuh melawan bakteri penyebab penyakit, dan juga dapat menjaga daya tahan tubuh bayi agar kebal terhadap penyakit berbahaya.

Meski banyak manfaat dari ASI, tidak semua paham dan mengerti lantas mengaplikasikan kepada seluruh bayi yang lahir terutama kepada para ibu muda dengan berbagai alasan, salah satunya lebih memasrahkan anaknya dengan cairan pengganti selain ASI yang banyak diproduksi di seluruh pasar yang ada.

Seperti pengalaman ibu muda asal Kalimantan Barat yang pada akhirnya berjuang agar masyarakat luas memberikan ASI untuk bayi mereka terutama di 6 bulan kelahiran, Aditya Galih Mastika.

Berawal di Tahun 2012 saat pengalamannya susah saat melahirkan, bermasalah dalam menyusui, kesulitan menyusui karena nipple flat.

Akibat kurangnya informasi dan kurangnya akses ke konselor menyusui, sarjana Ekonomi Universitas Tanjungpura itu mengandalkan internet dan menemukan akun Twitter asosiasi ibu menyusui Indonesia pusat.



Banyak bertanya dan sering membaca websitenya yang sarat informasi tentang menyusui, akhirnya ia mengerti bahwa nipple flat itu bukanlah halangan dalam menyusui, dan akhirnya mengerti bagaimana supaya bisa menyusui. Berhasil menyusui karena dukungan dan informasi itu ia merasa tak cukup.

Pada tahun itu pula, akun twitter AIMI saat itu mencoba mengumpulkan ibu - ibu sesama yang sedang menyusui, di daerah Kalbar dengan men-tag beberapa akun yang biasa aktif bertanya dari Kalbar.

&quot;Akhirnya terkumpulah beberapa orang. kami mengadakan kopi darat pada januari 2012, dan kemudian berlanjut membentuk komunitas Kalbar Peduli ASI,&quot; ungkapnya kepada Okezone.

Setahun kemudian, wanita satu putri ini menjelaskan setelah  serentetan syarat yang harus dilalui, Kalbar peduli ASI kemudian  bertransformasi menjadi Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia Kalimantan Barat  pada Maret 2013.

&quot;Sukses menyusui saja rasanya tak cukup, saya inginnya bisa juga  membantu ibu ibu lain yang mengalami masalah menyusui, menjadi sukses  menyusui, karena itulah, kemudian saya mengikuti pelatihan konselor  menyusui pada tahun 2012,&quot; paparnya.

Dan di Tahun itu juga, juara debat Bahasa Inggris Tingkat Nasional  inipun didaulat menjadi kepala divisi konseling, yang dimana kerjanya  melakukan home visit dan menerima konseling dari ibu ibu yang bermasalah  dalam menyusui.

Tahun demi tahun berlalu, AIMI Kalbar semakin berkibar, dengan misi  sebenarnya sejalan dengan kondisi Kalbar yang posisinya masih 5 besar  sebagai provinsi dengan angka stunting tertinggi.

Iapun terus mengedukasi dan membantu ibu ibu dengan masalah menyusui.  Masalah yang sering ditemui biasanya tentang ibu yang merasa asinya  kurang, membantu ibu-ibu yang mau kembali bekerja namun tetap menyusui  eksklusif, payudara bengkak, nipple flat (puting terbenam) seperti yang  ia alami, hingga salah satu hal atau kasus yang paling membekas  didirinya adalah, kasus ibu yang merasa tidak didukung oleh keluarga  untuk menyusui, sehingga merasa stress dan produksi asinya pun ikut drop  karena menurun pulalah kinerja hormon oksitoksin di dalam badannya.



&quot;Kami memberi semangat, dukungan, dan informasi bukan hanya pada ibu,  tapi juga pada ayah hingga ibu dan mertua, untuk mendukung ibu tersebut  menyusui,&quot; tegasnya.

Selain melakukan home visit atau hospital visit, hanya curhat melalui  sambungan telefon, pihaknya juga berkerjasama dengan dinas terkait, NGO  lain, dan berbagai mitra, mengadakan seminar, sosialisasi dan konseling  gratis, dan tak luput juga mengusahakan terbentuknya cabang AIMI di  Kabupaten - kabupaten lain di wilayah Kalbar.

Sejauh ini, beberapa kabupaten yang sedang dalam tahap pembentukan  cabang antara lain Kota Singkawang, Sanggau, Kapuas Hulu, dengan harapan  akan menyebar ke kabupaten - kabupaten lainnya.

Tahun 2018 adalah tahun yang sangat bersejarah bagi wanita hobi masak  ini karena banyak pelajaran dan pengalaman baru yang ia dapat dalam  perjuangan menjadi seorang laktivis, di April 2018 ia lantas dipercaya  menjadi Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia Kalbar hingga Tahun 2023  nanti.

Akhir September 2018, ketika tsunami dan gempa menerjang Pasigala   (Palu Sigi dan Donggala) UNiCEF berkerjasama dengan sentra laktasi   Indonesia serta Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia berkolaborasi dan   menjalankan program yang dinamakan Infant Feeding in Emergency.

Berbekal izin dari suami, dan juga dukungan dari teman - teman AIMI   Kalbar,  Ditya, panggilan akrabnya mendaftar menjadi salah satu relawan   yang terjun ke dalam program tersebut, bergabung dengan relawan -   relawan lainnya.

&quot;Di sana kami membantu ibu - ibu yang mengalami masalah menyusui,   hingga yang utama pula, membantu mengedukasi mengenai pemberian makan   bayi dan anak di sekitar Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Banyak hal   baru yang saya pelajari di sana. Betapa menyusui dan memberikan makanan   rumahan adalah salah satu cara paling tepat, teraman, untuk   mempertahankan kebutuhan bayi dan balita yang selamat dari gempa dan   tsunami,&quot; paparnya.

Proses Menyusui dan Makanan Rumahan yang dibuat oleh ibu serta   bonding ketika menyusui pula, dapat menenangkan bagi bayi, dan penting   rasanya untuk membantu mereka yang mengalami masalah menyusui setelah   bencana tersebut.



Banyak pula ibu yang merasa asinya seret setelah mengalami luka luka   akibat bencana alam, sehingga mereka butuh dukungan moril dan semangat   untuk kembali bisa menyusui.

Kembalinya dari Sulawesi Tengah dengan segudang pelajaran, Ditya   merasa ingin mengaplikasikan apa yang ia pelajari selama disana untuk   masyarakt Kalbar.

Saat ini, Kalbar secara general jika melihat proporsi pemberian ASI secara kelompok umur, 0 hingga 5 bulan. Cakupan keseluruhan porsi pemberian ASI dalam 24 jam terakhir mencapai 80,61%.

Masyarakat Kalbar, diakuinya sejauh ini rata-rata sudah sadar terkait    manfaat menyusui dan sudah semakin paham juga semakin kritis bertanya    melalui Sosmed  AIMI termasuk ke konseling.

Tak sedikit masyarakat yang mengikuti kelas online atau offline AIMI.    &quot;Apalagi saat ini informasi tak terbatas kan, jadi mungkin udah  banyak   dapat informasi secara online juga. biasanya kendala ibu-ibu tu  bukan   karena males atau ndak mau, biasanya ada merasa masalah  menyusui.  contoh  kasus yang sering ditemui misalnya merasa asinya  kurang, banyak  yang  mengeluh begitu, padahal sebenarnya niscaya ASI  akan selalu  mencukupi  kebutuhan bayi, asal memahami konsep produksi  ASI yang  semakin banyak  dikeluarkan dan disusui akan semakin meningkat  juga  produksinya,&quot;  terangnya.

Iapun memberikan tips kepada masyarakat yang memiliki masalah terkait    ASI maka mendatangi konsul ke konselor dan kembali semangat menyusu,    mendapat dukungan, mengerti konsep produksi ASI maka biasanya para ibu    akan kembali banyak asinya.

Dikarenakan kurangnya akses ke konselor atau kurangnya informasi,    sehingga banyak yang mencari jalan singkat, yaitu cepat beralih ke    cairan pengganti dan menjadi pe er bagi semua pihak.

&quot;Termasuk tenaga kesehatan, AIMI, sehingga memudahkan akses ibu ibu    ke konselor sehingga mendapatkan dukungan yang sekarang sedang kami    galakkan terutama dukungan suami dan orang orang terdekat untuk    menyusui. Karena memang sejauh ini kalau tak didukung, tak disupport ibu    bise down, stress dan akhirnya berujung ASI juga mandek,&quot; pungkasnya.
</description><content:encoded>PONTIANAK - Pentingnya air susu ibu (ASI) bagi generasi penerus salah satunya adalah ampuh melawan bakteri penyebab penyakit, dan juga dapat menjaga daya tahan tubuh bayi agar kebal terhadap penyakit berbahaya.

Meski banyak manfaat dari ASI, tidak semua paham dan mengerti lantas mengaplikasikan kepada seluruh bayi yang lahir terutama kepada para ibu muda dengan berbagai alasan, salah satunya lebih memasrahkan anaknya dengan cairan pengganti selain ASI yang banyak diproduksi di seluruh pasar yang ada.

Seperti pengalaman ibu muda asal Kalimantan Barat yang pada akhirnya berjuang agar masyarakat luas memberikan ASI untuk bayi mereka terutama di 6 bulan kelahiran, Aditya Galih Mastika.

Berawal di Tahun 2012 saat pengalamannya susah saat melahirkan, bermasalah dalam menyusui, kesulitan menyusui karena nipple flat.

Akibat kurangnya informasi dan kurangnya akses ke konselor menyusui, sarjana Ekonomi Universitas Tanjungpura itu mengandalkan internet dan menemukan akun Twitter asosiasi ibu menyusui Indonesia pusat.



Banyak bertanya dan sering membaca websitenya yang sarat informasi tentang menyusui, akhirnya ia mengerti bahwa nipple flat itu bukanlah halangan dalam menyusui, dan akhirnya mengerti bagaimana supaya bisa menyusui. Berhasil menyusui karena dukungan dan informasi itu ia merasa tak cukup.

Pada tahun itu pula, akun twitter AIMI saat itu mencoba mengumpulkan ibu - ibu sesama yang sedang menyusui, di daerah Kalbar dengan men-tag beberapa akun yang biasa aktif bertanya dari Kalbar.

&quot;Akhirnya terkumpulah beberapa orang. kami mengadakan kopi darat pada januari 2012, dan kemudian berlanjut membentuk komunitas Kalbar Peduli ASI,&quot; ungkapnya kepada Okezone.

Setahun kemudian, wanita satu putri ini menjelaskan setelah  serentetan syarat yang harus dilalui, Kalbar peduli ASI kemudian  bertransformasi menjadi Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia Kalimantan Barat  pada Maret 2013.

&quot;Sukses menyusui saja rasanya tak cukup, saya inginnya bisa juga  membantu ibu ibu lain yang mengalami masalah menyusui, menjadi sukses  menyusui, karena itulah, kemudian saya mengikuti pelatihan konselor  menyusui pada tahun 2012,&quot; paparnya.

Dan di Tahun itu juga, juara debat Bahasa Inggris Tingkat Nasional  inipun didaulat menjadi kepala divisi konseling, yang dimana kerjanya  melakukan home visit dan menerima konseling dari ibu ibu yang bermasalah  dalam menyusui.

Tahun demi tahun berlalu, AIMI Kalbar semakin berkibar, dengan misi  sebenarnya sejalan dengan kondisi Kalbar yang posisinya masih 5 besar  sebagai provinsi dengan angka stunting tertinggi.

Iapun terus mengedukasi dan membantu ibu ibu dengan masalah menyusui.  Masalah yang sering ditemui biasanya tentang ibu yang merasa asinya  kurang, membantu ibu-ibu yang mau kembali bekerja namun tetap menyusui  eksklusif, payudara bengkak, nipple flat (puting terbenam) seperti yang  ia alami, hingga salah satu hal atau kasus yang paling membekas  didirinya adalah, kasus ibu yang merasa tidak didukung oleh keluarga  untuk menyusui, sehingga merasa stress dan produksi asinya pun ikut drop  karena menurun pulalah kinerja hormon oksitoksin di dalam badannya.



&quot;Kami memberi semangat, dukungan, dan informasi bukan hanya pada ibu,  tapi juga pada ayah hingga ibu dan mertua, untuk mendukung ibu tersebut  menyusui,&quot; tegasnya.

Selain melakukan home visit atau hospital visit, hanya curhat melalui  sambungan telefon, pihaknya juga berkerjasama dengan dinas terkait, NGO  lain, dan berbagai mitra, mengadakan seminar, sosialisasi dan konseling  gratis, dan tak luput juga mengusahakan terbentuknya cabang AIMI di  Kabupaten - kabupaten lain di wilayah Kalbar.

Sejauh ini, beberapa kabupaten yang sedang dalam tahap pembentukan  cabang antara lain Kota Singkawang, Sanggau, Kapuas Hulu, dengan harapan  akan menyebar ke kabupaten - kabupaten lainnya.

Tahun 2018 adalah tahun yang sangat bersejarah bagi wanita hobi masak  ini karena banyak pelajaran dan pengalaman baru yang ia dapat dalam  perjuangan menjadi seorang laktivis, di April 2018 ia lantas dipercaya  menjadi Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia Kalbar hingga Tahun 2023  nanti.

Akhir September 2018, ketika tsunami dan gempa menerjang Pasigala   (Palu Sigi dan Donggala) UNiCEF berkerjasama dengan sentra laktasi   Indonesia serta Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia berkolaborasi dan   menjalankan program yang dinamakan Infant Feeding in Emergency.

Berbekal izin dari suami, dan juga dukungan dari teman - teman AIMI   Kalbar,  Ditya, panggilan akrabnya mendaftar menjadi salah satu relawan   yang terjun ke dalam program tersebut, bergabung dengan relawan -   relawan lainnya.

&quot;Di sana kami membantu ibu - ibu yang mengalami masalah menyusui,   hingga yang utama pula, membantu mengedukasi mengenai pemberian makan   bayi dan anak di sekitar Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Banyak hal   baru yang saya pelajari di sana. Betapa menyusui dan memberikan makanan   rumahan adalah salah satu cara paling tepat, teraman, untuk   mempertahankan kebutuhan bayi dan balita yang selamat dari gempa dan   tsunami,&quot; paparnya.

Proses Menyusui dan Makanan Rumahan yang dibuat oleh ibu serta   bonding ketika menyusui pula, dapat menenangkan bagi bayi, dan penting   rasanya untuk membantu mereka yang mengalami masalah menyusui setelah   bencana tersebut.



Banyak pula ibu yang merasa asinya seret setelah mengalami luka luka   akibat bencana alam, sehingga mereka butuh dukungan moril dan semangat   untuk kembali bisa menyusui.

Kembalinya dari Sulawesi Tengah dengan segudang pelajaran, Ditya   merasa ingin mengaplikasikan apa yang ia pelajari selama disana untuk   masyarakt Kalbar.

Saat ini, Kalbar secara general jika melihat proporsi pemberian ASI secara kelompok umur, 0 hingga 5 bulan. Cakupan keseluruhan porsi pemberian ASI dalam 24 jam terakhir mencapai 80,61%.

Masyarakat Kalbar, diakuinya sejauh ini rata-rata sudah sadar terkait    manfaat menyusui dan sudah semakin paham juga semakin kritis bertanya    melalui Sosmed  AIMI termasuk ke konseling.

Tak sedikit masyarakat yang mengikuti kelas online atau offline AIMI.    &quot;Apalagi saat ini informasi tak terbatas kan, jadi mungkin udah  banyak   dapat informasi secara online juga. biasanya kendala ibu-ibu tu  bukan   karena males atau ndak mau, biasanya ada merasa masalah  menyusui.  contoh  kasus yang sering ditemui misalnya merasa asinya  kurang, banyak  yang  mengeluh begitu, padahal sebenarnya niscaya ASI  akan selalu  mencukupi  kebutuhan bayi, asal memahami konsep produksi  ASI yang  semakin banyak  dikeluarkan dan disusui akan semakin meningkat  juga  produksinya,&quot;  terangnya.

Iapun memberikan tips kepada masyarakat yang memiliki masalah terkait    ASI maka mendatangi konsul ke konselor dan kembali semangat menyusu,    mendapat dukungan, mengerti konsep produksi ASI maka biasanya para ibu    akan kembali banyak asinya.

Dikarenakan kurangnya akses ke konselor atau kurangnya informasi,    sehingga banyak yang mencari jalan singkat, yaitu cepat beralih ke    cairan pengganti dan menjadi pe er bagi semua pihak.

&quot;Termasuk tenaga kesehatan, AIMI, sehingga memudahkan akses ibu ibu    ke konselor sehingga mendapatkan dukungan yang sekarang sedang kami    galakkan terutama dukungan suami dan orang orang terdekat untuk    menyusui. Karena memang sejauh ini kalau tak didukung, tak disupport ibu    bise down, stress dan akhirnya berujung ASI juga mandek,&quot; pungkasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
