<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Cerita dr Louisa Jadi Srikandi Kesehatan untuk Korban Bencana Alam</title><description>Dosen terbaik Fakultas Kedokteran di Dies Natalies ke-66 UKI lalu patut diapresiasi sebagai salah satu wanita tangguh di Indonesia.
&amp;nbsp;</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/09/337/2127616/cerita-dr-louisa-jadi-srikandi-kesehatan-untuk-korban-bencana-alam</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/11/09/337/2127616/cerita-dr-louisa-jadi-srikandi-kesehatan-untuk-korban-bencana-alam"/><item><title>Cerita dr Louisa Jadi Srikandi Kesehatan untuk Korban Bencana Alam</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/09/337/2127616/cerita-dr-louisa-jadi-srikandi-kesehatan-untuk-korban-bencana-alam</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/11/09/337/2127616/cerita-dr-louisa-jadi-srikandi-kesehatan-untuk-korban-bencana-alam</guid><pubDate>Sabtu 09 November 2019 13:03 WIB</pubDate><dc:creator>Amril Amarullah</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/08/337/2127616/cerita-dr-louisa-jadi-srikandi-kesehatan-untuk-korban-bencana-alam-Kh0F7OUNoL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Dokter Louisa (Foto: FKUKI)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/08/337/2127616/cerita-dr-louisa-jadi-srikandi-kesehatan-untuk-korban-bencana-alam-Kh0F7OUNoL.jpg</image><title>Dokter Louisa (Foto: FKUKI)</title></images><description>JAKARTA - Pejuang kesehatan tak melulu hadir dari pihak laki-laki, wanita, justru kadang memiliki jiwa sosial yang lebih tinggi seiring dengan sesitivitas mereka dalam melihat sebuah masalah.

Adalah dr Louisa A Langi, dosen terbaik Fakultas Kedokteran di Dies Natalies ke-66 Universitas Kristen Indonesia (UKI) lalu patut diapresiasi sebagai salah satu wanita tangguh di Indonesia.

Louisa menceritakan tentang kisah hidupnya yang penuh dengan pengorbanan sampai masuk ke pelosok desa untuk membantu korban benca alam, dan anak-anak gizi buruk di kantornya.



Dr. Louisa yang saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan 3 Bidang Kemahasiswaan dan juga merupakan salah satu alumni di FKUKI menceritakan kisah hidupnya. Bermula saat duduk di bangku sekolah dasar, kedua orang tuanya memanggil dan menanyakan cita-cita dari anak-anaknya.

&quot;Pada waktu itu adik saya menjawab jadi dokter, banyak uang supaya dapat keliling dunia dan saya sang kakak menjawab jadi Pendeta supaya bisa melayani Tuhan keliling Indonesia,&quot; kisahnya.

&quot;Setelah dewasa Tuhan mengabulkan keinginan hati kami,   Adik saya dapat berkeliling dunia dan saya sendiri berkeliling Indonesia,&quot; ungkapnya

Meskipun cita-cita Louisa berbeda dari keinginan awal, namun Tuhan menurutnya mewujudkan cita-cita adiknya Elsye Langi MTh yang lulus sebagai Sarjana Theology saat ini di USA.

&quot;Malah saya yang menjadi dokter dan juga sebagai dosen FKUKI Jakarta,&quot; ujarnya

Setelah 25 tahun jadi dokter, menurutnya, Tuhan juga memberikan bonus kuliah si STT Jafray dan mendapat gelar MA.

&quot;Tidak terasa saya sudah 30 tahun menjadi dokter juga termasuk Ahli  Gizi Masyarakat, syukur kepada Tuhan yang telah memberikan kesempatan  lagi study S3 Program Doktor di FK UKI Jakarta dan juga adik saya Elsye  Sasongko Langi saat ini di Southeastern Baptist Theological Seminary  Doctor of Education,&quot; jelasnya.

Diceritakan Louisa, keliling Indonesia sebagai dokter dalam rangka  menolong masyarakat korban bencana alam, telah membuatnya bisa  berkeliling Indonesia, bahkan keluar negeri saat jadi sukarelawan korban  gempa Nepal.

&quot;Di tengah kesibukan mengajar, saya masih dapat menyempatkan diri  menolong para korban bencana tsunami dan likuefakasi di Palu dan  Banten,&quot; ucapnya.

&quot;Keinginan melayani kesehatan masyarakat korban bencana alam di  seluruh Indonesia dan juga menangani anak-anak yang bermasalah dengan  gizi buruk atau stunting adalah panggilan jiwa saya,&quot; tambahnya.

Ia melanjutkan, pengalaman yang paling mendebarkan, yakni saat sedang  menolong korban gempa di Aceh, Lombok dan Nepal. Saat itu, ia akan  menolong pasien, tiba-tiba gempa datang lagi melebihi gempa pertama.



&quot;Di Lombok Utara, diatas bukit tempat tinggal pengungsi, saat gempa  susulan M7,1 datang para pengungsi berteriak ketakutan dan saling  bertabrakan, hingga mengalami luka bahkan pingsan karena terinjak- injak  mengakibatkan jatuh korban dan pada saat itupun korban begitu banyak  dan harus saya tangani sendirian,&quot; ungkapnya.

Dr. Louisa yang lahir di Minahasa, Sulawesi Utara tepatnya pada  tanggal 4 November 1961, walaupun usia sudah memasuki 58 tahun bertekad  untuk terus mengabdi kepada masyarakat.

&quot;Selama saya masih hidup dan diberi kekuatan oleh Tuhan, saya dan  suami saya Dr Heru Mustika. Kami akan terus melayani masyarakat tanpa  takut dengan tantangan dan bahaya yang dihadapi,&quot; pungkasnya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Pejuang kesehatan tak melulu hadir dari pihak laki-laki, wanita, justru kadang memiliki jiwa sosial yang lebih tinggi seiring dengan sesitivitas mereka dalam melihat sebuah masalah.

Adalah dr Louisa A Langi, dosen terbaik Fakultas Kedokteran di Dies Natalies ke-66 Universitas Kristen Indonesia (UKI) lalu patut diapresiasi sebagai salah satu wanita tangguh di Indonesia.

Louisa menceritakan tentang kisah hidupnya yang penuh dengan pengorbanan sampai masuk ke pelosok desa untuk membantu korban benca alam, dan anak-anak gizi buruk di kantornya.



Dr. Louisa yang saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan 3 Bidang Kemahasiswaan dan juga merupakan salah satu alumni di FKUKI menceritakan kisah hidupnya. Bermula saat duduk di bangku sekolah dasar, kedua orang tuanya memanggil dan menanyakan cita-cita dari anak-anaknya.

&quot;Pada waktu itu adik saya menjawab jadi dokter, banyak uang supaya dapat keliling dunia dan saya sang kakak menjawab jadi Pendeta supaya bisa melayani Tuhan keliling Indonesia,&quot; kisahnya.

&quot;Setelah dewasa Tuhan mengabulkan keinginan hati kami,   Adik saya dapat berkeliling dunia dan saya sendiri berkeliling Indonesia,&quot; ungkapnya

Meskipun cita-cita Louisa berbeda dari keinginan awal, namun Tuhan menurutnya mewujudkan cita-cita adiknya Elsye Langi MTh yang lulus sebagai Sarjana Theology saat ini di USA.

&quot;Malah saya yang menjadi dokter dan juga sebagai dosen FKUKI Jakarta,&quot; ujarnya

Setelah 25 tahun jadi dokter, menurutnya, Tuhan juga memberikan bonus kuliah si STT Jafray dan mendapat gelar MA.

&quot;Tidak terasa saya sudah 30 tahun menjadi dokter juga termasuk Ahli  Gizi Masyarakat, syukur kepada Tuhan yang telah memberikan kesempatan  lagi study S3 Program Doktor di FK UKI Jakarta dan juga adik saya Elsye  Sasongko Langi saat ini di Southeastern Baptist Theological Seminary  Doctor of Education,&quot; jelasnya.

Diceritakan Louisa, keliling Indonesia sebagai dokter dalam rangka  menolong masyarakat korban bencana alam, telah membuatnya bisa  berkeliling Indonesia, bahkan keluar negeri saat jadi sukarelawan korban  gempa Nepal.

&quot;Di tengah kesibukan mengajar, saya masih dapat menyempatkan diri  menolong para korban bencana tsunami dan likuefakasi di Palu dan  Banten,&quot; ucapnya.

&quot;Keinginan melayani kesehatan masyarakat korban bencana alam di  seluruh Indonesia dan juga menangani anak-anak yang bermasalah dengan  gizi buruk atau stunting adalah panggilan jiwa saya,&quot; tambahnya.

Ia melanjutkan, pengalaman yang paling mendebarkan, yakni saat sedang  menolong korban gempa di Aceh, Lombok dan Nepal. Saat itu, ia akan  menolong pasien, tiba-tiba gempa datang lagi melebihi gempa pertama.



&quot;Di Lombok Utara, diatas bukit tempat tinggal pengungsi, saat gempa  susulan M7,1 datang para pengungsi berteriak ketakutan dan saling  bertabrakan, hingga mengalami luka bahkan pingsan karena terinjak- injak  mengakibatkan jatuh korban dan pada saat itupun korban begitu banyak  dan harus saya tangani sendirian,&quot; ungkapnya.

Dr. Louisa yang lahir di Minahasa, Sulawesi Utara tepatnya pada  tanggal 4 November 1961, walaupun usia sudah memasuki 58 tahun bertekad  untuk terus mengabdi kepada masyarakat.

&quot;Selama saya masih hidup dan diberi kekuatan oleh Tuhan, saya dan  suami saya Dr Heru Mustika. Kami akan terus melayani masyarakat tanpa  takut dengan tantangan dan bahaya yang dihadapi,&quot; pungkasnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
