<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Manuver Surya Paloh Dinilai karena Sakit Hati Pada Jokowi</title><description>Berbagai manuver Nasdem belakangan ini bisa dipahami sebagai akumulasi sakit hatinya terhadap berbagai keputusan Jokowi</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/10/337/2128100/manuver-surya-paloh-dinilai-karena-sakit-hati-pada-jokowi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/11/10/337/2128100/manuver-surya-paloh-dinilai-karena-sakit-hati-pada-jokowi"/><item><title>Manuver Surya Paloh Dinilai karena Sakit Hati Pada Jokowi</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/10/337/2128100/manuver-surya-paloh-dinilai-karena-sakit-hati-pada-jokowi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/11/10/337/2128100/manuver-surya-paloh-dinilai-karena-sakit-hati-pada-jokowi</guid><pubDate>Minggu 10 November 2019 22:38 WIB</pubDate><dc:creator>Puteranegara Batubara</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/10/337/2128100/manuver-surya-paloh-dinilai-karena-sakit-hati-pada-jokowi-WO5jEOKe2h.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pertemuan Prabowo dan Surya Paloh (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/10/337/2128100/manuver-surya-paloh-dinilai-karena-sakit-hati-pada-jokowi-WO5jEOKe2h.jpg</image><title>Pertemuan Prabowo dan Surya Paloh (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dinilai melihat sosok Anies Baswedan sebagai calon pemimpin masa depan, dan di sisi lain melihat sosok Presiden Joko Widodo sebagai masa lalu yang sudah selesai.
Menurut Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, Anies termasuk salah satu yang membacakan naskah restorasi Nasional Demokrat. Kehadiran Anies di acara Nasdem, beberapa hari lalu, bisa dilihat sebagai bangunan komunikasi politik hingga Pilpres 2024.
&quot;Pada 2022, saya duga sudah dimulai arah ke pilpres 2024. Dan bagi Nasdem, Anies ini sedang di atas daun, setiap hari diberitakan media. Dan it's ok kalau Anies adalah masa depan bagi Surya Paloh, Pak Jokowi sudah selesai. Wajar kalau Surya kepincut lah,&quot; kata Pangi, saat dihubungi, Jakarta, Minggu (10/11/2019).

Baca Juga: Surya Paloh Disebut Lebih Pantas Jadi Capres Ketimbang Anies Baswedan
Menurut Pangi, berbagai manuver Nasdem belakangan ini bisa dipahami sebagai akumulasi sakit hatinya terhadap berbagai keputusan Jokowi belakangan ini. Dari lepasnya jabatan jaksa agung yang dulu diduduki kadernya, masuknya Gerindra ke kabinet, dan berbagai saling sindir serta gimmick politik melibatkan Jokowi dan Megawati Soekarnoputri.
Baginya, manuver-manuver politik demikian sama sekali tidak sehat. Bahkan Pangi menyebutnya sudah terjadi 'korslet' di internal koalisi pemerintahan.
&quot;Inikan sudah tidak sehat sih ke depannya. Di internal parpol koalisi sendiri saling sindir. Sehingga kabinet Jokowi tak ada honeymoon. Sudah banyak korsleting, arus pendek yang menyemburkan asap di mesin koalisi. Sebenarnya tak baik,&quot; kata dia.Lebih jauh, Pangi menyatakan memang belum bisa disebut bahwa Nasdem  akan tidak loyal kepada pemerintahan Jokowi ke depan. Diperlukan fase  panjang sebelum memastikan siapa yang sebenarnya loyal atau tak loyal  kepada pemerintahan.
Namun, Pangi mengatakan tak bisa dibantah pula bila ada sinyal kuat  Nasdem akan mengikuti langkah PKS dan PAN di era pemerintahan SBY  dahulu.
&quot;Jadi dia di dalam pemerintahan, tapi merecoki juga dari dalam. Tak  tegak lurus terhadap presiden. Banyak berbeda kebijakan dengan  pemerintahan, khususnya lewat parlemen. Memang ada gelagat ke sana. Tapi  butuh waktu untuk benar-benar memastikannya,&quot; ujar Pangi.</description><content:encoded>JAKARTA - Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dinilai melihat sosok Anies Baswedan sebagai calon pemimpin masa depan, dan di sisi lain melihat sosok Presiden Joko Widodo sebagai masa lalu yang sudah selesai.
Menurut Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, Anies termasuk salah satu yang membacakan naskah restorasi Nasional Demokrat. Kehadiran Anies di acara Nasdem, beberapa hari lalu, bisa dilihat sebagai bangunan komunikasi politik hingga Pilpres 2024.
&quot;Pada 2022, saya duga sudah dimulai arah ke pilpres 2024. Dan bagi Nasdem, Anies ini sedang di atas daun, setiap hari diberitakan media. Dan it's ok kalau Anies adalah masa depan bagi Surya Paloh, Pak Jokowi sudah selesai. Wajar kalau Surya kepincut lah,&quot; kata Pangi, saat dihubungi, Jakarta, Minggu (10/11/2019).

Baca Juga: Surya Paloh Disebut Lebih Pantas Jadi Capres Ketimbang Anies Baswedan
Menurut Pangi, berbagai manuver Nasdem belakangan ini bisa dipahami sebagai akumulasi sakit hatinya terhadap berbagai keputusan Jokowi belakangan ini. Dari lepasnya jabatan jaksa agung yang dulu diduduki kadernya, masuknya Gerindra ke kabinet, dan berbagai saling sindir serta gimmick politik melibatkan Jokowi dan Megawati Soekarnoputri.
Baginya, manuver-manuver politik demikian sama sekali tidak sehat. Bahkan Pangi menyebutnya sudah terjadi 'korslet' di internal koalisi pemerintahan.
&quot;Inikan sudah tidak sehat sih ke depannya. Di internal parpol koalisi sendiri saling sindir. Sehingga kabinet Jokowi tak ada honeymoon. Sudah banyak korsleting, arus pendek yang menyemburkan asap di mesin koalisi. Sebenarnya tak baik,&quot; kata dia.Lebih jauh, Pangi menyatakan memang belum bisa disebut bahwa Nasdem  akan tidak loyal kepada pemerintahan Jokowi ke depan. Diperlukan fase  panjang sebelum memastikan siapa yang sebenarnya loyal atau tak loyal  kepada pemerintahan.
Namun, Pangi mengatakan tak bisa dibantah pula bila ada sinyal kuat  Nasdem akan mengikuti langkah PKS dan PAN di era pemerintahan SBY  dahulu.
&quot;Jadi dia di dalam pemerintahan, tapi merecoki juga dari dalam. Tak  tegak lurus terhadap presiden. Banyak berbeda kebijakan dengan  pemerintahan, khususnya lewat parlemen. Memang ada gelagat ke sana. Tapi  butuh waktu untuk benar-benar memastikannya,&quot; ujar Pangi.</content:encoded></item></channel></rss>
