<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sukmawati: Pemerintah Harus Militan Hadapi Kelompok Radikal</title><description>Sukmawati Soekarnoputri mengungkapkan bahwa paham radikal sudah ada sejak zaman dahulu.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/11/337/2128600/sukmawati-pemerintah-harus-militan-hadapi-kelompok-radikal</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/11/11/337/2128600/sukmawati-pemerintah-harus-militan-hadapi-kelompok-radikal"/><item><title>Sukmawati: Pemerintah Harus Militan Hadapi Kelompok Radikal</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/11/337/2128600/sukmawati-pemerintah-harus-militan-hadapi-kelompok-radikal</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/11/11/337/2128600/sukmawati-pemerintah-harus-militan-hadapi-kelompok-radikal</guid><pubDate>Senin 11 November 2019 23:15 WIB</pubDate><dc:creator>Achmad Fardiansyah </dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/11/337/2128600/sukmawati-pemerintah-harus-militan-hadapi-kelompok-radikal-EN5RTZW6MO.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sukmawati Soekarnoputri. (Foto: Dok Okezone/Dede Kurniawan)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/11/337/2128600/sukmawati-pemerintah-harus-militan-hadapi-kelompok-radikal-EN5RTZW6MO.jpg</image><title>Sukmawati Soekarnoputri. (Foto: Dok Okezone/Dede Kurniawan)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Sukmawati Soekarnoputri, putri presiden pertama Republik Indonesia Ir Soekarno, meminta pemerintah menindak tegas kelompok-kelompok berpaham radikal. Pemerintah mesti lebih militan menghadapi mereka.
&quot;Pemerintah harus militan juga menghadapi kelompok seperti mereka,&quot; katanya kepada wartawan dalam acara Focus Group Discussion (FGD) Divisi Humas Polri bertajuk 'Bangkitkan Nasionalisme bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme' di The Tribrata, Jakarta Selatan, Senin (11/11/2019).
Baca juga:   Bamsoet: Ancaman Ideologis Terhadap Pancasila Nyata dan Harus Dilawan&amp;nbsp;
 
Meski demikian, Sukmawati mengatakan pemerintah sudah cukup tegas menindak paham serta gerakan radikal di Tanah Air.

&quot;Pemerintah sudah cukup tegas, tapi kita berpedoman dengan HAM, kalau terlalu menekan juga tidak baik. Inilah suasana demokrasi. Kita juga harus memberikan kesempatan kepada mereka selama mereka tidak mengacau,&quot; tegasnya.
Baca juga:   JK: Ada 1 Juta Masjid dan Musala, Tak Mungkin Semua Terpapar Radikalisme&amp;nbsp;
 
Sukmawati bercerita awal muncul gerakan terorisme di Indonesia bermula dari tragedi Perguruan Cikini (Percik) pada 30 November 1957.
&quot;Di dalam perjuangan membangun bangsa dan negara bangsa Indonesia ini. Saya dari kecil umur 6 tahun, saya menjadi saksi hidup mulainya adanya terorisme,&quot; ujarnya.Bahkan ketika itu, lanjut dia, Bung Karno yang diminta membuka bazar di Perguruan Cikini diserang oleh kelompok terorisme menggunakan granat.
Baca juga:   Ma'ruf Amin: Radikalisme Bukan soal Pakaian, tapi Cara Berpikir dan Bertindak&amp;nbsp;
 
&quot;Bung Karno diundang untuk membuka bazar. Bazar sudah siap sedia untuk menyambut Presiden datang. Presiden itu turun dari mobil anak-anak sekolah guru dan lain sebagainya begitu turun (ledakan),&quot; ungkapnya.
Sukmawati mengatakan hingga kini kelompok radikal masih tetap eksis. Sebab, kelompok semacam itu kerap memberi cap kafir kepada orang-orang.
Baca juga:   Dinilai Overdosis, Muhammadiyah Minta Pembicaraan soal Radikalisme Dikurangi&amp;nbsp;
 
&quot;Oh ini lho yang dimaksud pemimpin saya atau bapak saya ya Bung Karno. Kelompok sempit pikiran yang suka royal dengan kata-kata kafar, kafir, kafar, kafir. Jadi zaman Bung Karno kelompok sempit pikiran itu sudah ada sampai saya nenek-nenek masih ada,&quot; tutupnya.</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Sukmawati Soekarnoputri, putri presiden pertama Republik Indonesia Ir Soekarno, meminta pemerintah menindak tegas kelompok-kelompok berpaham radikal. Pemerintah mesti lebih militan menghadapi mereka.
&quot;Pemerintah harus militan juga menghadapi kelompok seperti mereka,&quot; katanya kepada wartawan dalam acara Focus Group Discussion (FGD) Divisi Humas Polri bertajuk 'Bangkitkan Nasionalisme bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme' di The Tribrata, Jakarta Selatan, Senin (11/11/2019).
Baca juga:   Bamsoet: Ancaman Ideologis Terhadap Pancasila Nyata dan Harus Dilawan&amp;nbsp;
 
Meski demikian, Sukmawati mengatakan pemerintah sudah cukup tegas menindak paham serta gerakan radikal di Tanah Air.

&quot;Pemerintah sudah cukup tegas, tapi kita berpedoman dengan HAM, kalau terlalu menekan juga tidak baik. Inilah suasana demokrasi. Kita juga harus memberikan kesempatan kepada mereka selama mereka tidak mengacau,&quot; tegasnya.
Baca juga:   JK: Ada 1 Juta Masjid dan Musala, Tak Mungkin Semua Terpapar Radikalisme&amp;nbsp;
 
Sukmawati bercerita awal muncul gerakan terorisme di Indonesia bermula dari tragedi Perguruan Cikini (Percik) pada 30 November 1957.
&quot;Di dalam perjuangan membangun bangsa dan negara bangsa Indonesia ini. Saya dari kecil umur 6 tahun, saya menjadi saksi hidup mulainya adanya terorisme,&quot; ujarnya.Bahkan ketika itu, lanjut dia, Bung Karno yang diminta membuka bazar di Perguruan Cikini diserang oleh kelompok terorisme menggunakan granat.
Baca juga:   Ma'ruf Amin: Radikalisme Bukan soal Pakaian, tapi Cara Berpikir dan Bertindak&amp;nbsp;
 
&quot;Bung Karno diundang untuk membuka bazar. Bazar sudah siap sedia untuk menyambut Presiden datang. Presiden itu turun dari mobil anak-anak sekolah guru dan lain sebagainya begitu turun (ledakan),&quot; ungkapnya.
Sukmawati mengatakan hingga kini kelompok radikal masih tetap eksis. Sebab, kelompok semacam itu kerap memberi cap kafir kepada orang-orang.
Baca juga:   Dinilai Overdosis, Muhammadiyah Minta Pembicaraan soal Radikalisme Dikurangi&amp;nbsp;
 
&quot;Oh ini lho yang dimaksud pemimpin saya atau bapak saya ya Bung Karno. Kelompok sempit pikiran yang suka royal dengan kata-kata kafar, kafir, kafar, kafir. Jadi zaman Bung Karno kelompok sempit pikiran itu sudah ada sampai saya nenek-nenek masih ada,&quot; tutupnya.</content:encoded></item></channel></rss>
