<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sulitnya Menyuruh Warga Jakarta Evakuasi saat Banjir: Sampai &quot;Ngajak&quot; Berantem</title><description>Banjir di DKI Jakarta sudah seperti tradisi, hampir selalu terjadi di setiap musim hujan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/16/337/2130482/sulitnya-menyuruh-warga-jakarta-evakuasi-saat-banjir-sampai-ngajak-berantem</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/11/16/337/2130482/sulitnya-menyuruh-warga-jakarta-evakuasi-saat-banjir-sampai-ngajak-berantem"/><item><title>Sulitnya Menyuruh Warga Jakarta Evakuasi saat Banjir: Sampai &quot;Ngajak&quot; Berantem</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/16/337/2130482/sulitnya-menyuruh-warga-jakarta-evakuasi-saat-banjir-sampai-ngajak-berantem</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/11/16/337/2130482/sulitnya-menyuruh-warga-jakarta-evakuasi-saat-banjir-sampai-ngajak-berantem</guid><pubDate>Sabtu 16 November 2019 09:32 WIB</pubDate><dc:creator>Muhamad Rizky</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/15/337/2130482/sulitnya-menyuruh-warga-jakarta-evakuasi-saat-banjir-sampai-ngajak-berantem-zPyH7X2K6O.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/15/337/2130482/sulitnya-menyuruh-warga-jakarta-evakuasi-saat-banjir-sampai-ngajak-berantem-zPyH7X2K6O.jpg</image><title>Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Banjir di DKI Jakarta sudah seperti tradisi, hampir selalu terjadi di setiap musim hujan. Cerita warga yang sudah bosan akan banjir terus menggema. Mereka kebanyakan mengaku khawatir akan keselamatan diri dan harta benda jika terjadi banjir.

Namun, cerita soal banjir tak hanya datang dari warga yang terkena dampak. Para petugas penanganan banjir pun memiliki tantangan dan hambatan dalam menangani persoalan yang menahun di ibukota itu.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD DKI Jakarta Joko Indro Martono menceritakan pengalamannya saat berupaya menangani bencana khususnya di bidang banjir. Berbagai macam kendala ditemui namun hal itu tak membuatnya menjadi patah semangat.



Indro mengatakan, pada April 2016 lalu dirinya baru diangkat sebagai Kepala Pelaksana Penanggulangan Bencana Tingkat Kota khususnya di Jakarta Timur. Kurang dari sebulan ia diuji dengan banjir pada bulan Mei.

&quot;Waktu saya jadi kepala pelaksana waktu April 2016 nah waktu itu banjir bulan Mei,&quot; tuturnya kepada Okezone.

Sebagai pimpinan di wilayah dirinya bertugas untuk mensosialisasikan kondisi kebencanaan termasuk ancaman banjir sesuai dengan informasi yang diterima. Namun tak jarang di antara masyarakat yang tidak mau mendengarkan imbauan.

Mereka memilih bertahan di rumah padahal kawasan tersebut akan  terdampak banjir. Hal ini terkadang membuat petugas kesulitan dalam  mengantisipasi warga yang terdampak.

&quot;Warga kebanyakan sudah biasa, habbit, jadi pas disuruh pergi enggak  mau karena mereka juga senang makan itu ditanggung pemerintah sampai  sekarang walaupun udah enggak banjir sekarang,&quot; terangnya.

Sepengalamannya, banjir yang kerap menimpa rumah warga seringkali  datang di waktu malam bahkan dini hari. Ia masih ingat ketika banjir  melanda di Gang Arus, Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur.

&quot;Kita enggak pernah dateng (ke lokasi banjir) siang itu yang dateng  jam 2 pagi karena kan banjir udah siaga tiga jam 2 siang (di Bogor)  ditambah enam jam (air ke Jakarta) itu udah jam delapan (malam) bisa jam  sembilan malam nah puncaknya bisa tengah malam,&quot; terangnya.



Saat itu pula pihaknya telah berkordinasi dengan kelurahan setempat.  Mulai dari penyediaan fasilitas hingga logistik dilakukan demi warga.

Tak hanya itu, selain tak kenal waktu tantangan yang dihadapi petugas  juga minimnya SDM. Hal ini menyulitkan petugas dalam mengantisipasi  banjir di lapangan.

&quot;Belum lagi kadang kala pihak kelurahan cari tempat susah buat pengungsi, warga juga enggak aware akan itu,&quot; ungkapnya.

Indro pun berharap, kedepan semua antisipasi yang sudah disiapkan  oleh pemerintah DKI Jakarta bisa berjalan dengan baik. Begitu juga  dengan imbauan agar diperhatikan oleh masyarakat dengan baik.

&quot;Jadi sekarang udah kita sosialisasi dan itu bisa di lakukan. Kita  enggak bisa ubah kebiasaan mereka orang Jakarta kesadarannya sangat  rendah kalau dikasih tahu balik lagi. Kalau perlu ditantangin berantem,  ada digituin, padahal maksudnya baik,&quot; ungkapnya.
</description><content:encoded>JAKARTA - Banjir di DKI Jakarta sudah seperti tradisi, hampir selalu terjadi di setiap musim hujan. Cerita warga yang sudah bosan akan banjir terus menggema. Mereka kebanyakan mengaku khawatir akan keselamatan diri dan harta benda jika terjadi banjir.

Namun, cerita soal banjir tak hanya datang dari warga yang terkena dampak. Para petugas penanganan banjir pun memiliki tantangan dan hambatan dalam menangani persoalan yang menahun di ibukota itu.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD DKI Jakarta Joko Indro Martono menceritakan pengalamannya saat berupaya menangani bencana khususnya di bidang banjir. Berbagai macam kendala ditemui namun hal itu tak membuatnya menjadi patah semangat.



Indro mengatakan, pada April 2016 lalu dirinya baru diangkat sebagai Kepala Pelaksana Penanggulangan Bencana Tingkat Kota khususnya di Jakarta Timur. Kurang dari sebulan ia diuji dengan banjir pada bulan Mei.

&quot;Waktu saya jadi kepala pelaksana waktu April 2016 nah waktu itu banjir bulan Mei,&quot; tuturnya kepada Okezone.

Sebagai pimpinan di wilayah dirinya bertugas untuk mensosialisasikan kondisi kebencanaan termasuk ancaman banjir sesuai dengan informasi yang diterima. Namun tak jarang di antara masyarakat yang tidak mau mendengarkan imbauan.

Mereka memilih bertahan di rumah padahal kawasan tersebut akan  terdampak banjir. Hal ini terkadang membuat petugas kesulitan dalam  mengantisipasi warga yang terdampak.

&quot;Warga kebanyakan sudah biasa, habbit, jadi pas disuruh pergi enggak  mau karena mereka juga senang makan itu ditanggung pemerintah sampai  sekarang walaupun udah enggak banjir sekarang,&quot; terangnya.

Sepengalamannya, banjir yang kerap menimpa rumah warga seringkali  datang di waktu malam bahkan dini hari. Ia masih ingat ketika banjir  melanda di Gang Arus, Jalan Dewi Sartika, Jakarta Timur.

&quot;Kita enggak pernah dateng (ke lokasi banjir) siang itu yang dateng  jam 2 pagi karena kan banjir udah siaga tiga jam 2 siang (di Bogor)  ditambah enam jam (air ke Jakarta) itu udah jam delapan (malam) bisa jam  sembilan malam nah puncaknya bisa tengah malam,&quot; terangnya.



Saat itu pula pihaknya telah berkordinasi dengan kelurahan setempat.  Mulai dari penyediaan fasilitas hingga logistik dilakukan demi warga.

Tak hanya itu, selain tak kenal waktu tantangan yang dihadapi petugas  juga minimnya SDM. Hal ini menyulitkan petugas dalam mengantisipasi  banjir di lapangan.

&quot;Belum lagi kadang kala pihak kelurahan cari tempat susah buat pengungsi, warga juga enggak aware akan itu,&quot; ungkapnya.

Indro pun berharap, kedepan semua antisipasi yang sudah disiapkan  oleh pemerintah DKI Jakarta bisa berjalan dengan baik. Begitu juga  dengan imbauan agar diperhatikan oleh masyarakat dengan baik.

&quot;Jadi sekarang udah kita sosialisasi dan itu bisa di lakukan. Kita  enggak bisa ubah kebiasaan mereka orang Jakarta kesadarannya sangat  rendah kalau dikasih tahu balik lagi. Kalau perlu ditantangin berantem,  ada digituin, padahal maksudnya baik,&quot; ungkapnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
