<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Saat Aksi Debus Anak 11 Tahun Memukau Publik Malaysia</title><description>Ihzam berhasil mematahkan besi dan meringankan tubuhnya sehingga mampu berdiri di atas bola lampu neon.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/17/340/2130887/saat-aksi-debus-anak-11-tahun-memukau-publik-malaysia</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/11/17/340/2130887/saat-aksi-debus-anak-11-tahun-memukau-publik-malaysia"/><item><title>Saat Aksi Debus Anak 11 Tahun Memukau Publik Malaysia</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/17/340/2130887/saat-aksi-debus-anak-11-tahun-memukau-publik-malaysia</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/11/17/340/2130887/saat-aksi-debus-anak-11-tahun-memukau-publik-malaysia</guid><pubDate>Minggu 17 November 2019 22:59 WIB</pubDate><dc:creator>Ade Putra</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/17/340/2130887/saat-aksi-debus-anak-11-tahun-memukau-publik-malaysia-2cc7cXMiax.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/17/340/2130887/saat-aksi-debus-anak-11-tahun-memukau-publik-malaysia-2cc7cXMiax.jpg</image><title></title></images><description>BINTULU - Muh Ihzam, bocah berusia 11 tahun ini menunjukkan kebolehannya dalam atraksi debus. Ihzam berhasil mematahkan besi dan meringankan tubuhnya sehingga mampu berdiri di atas bola lampu neon.

Atraksi ini dilakukan Ihzam usai upacara pembukaan Jambore Anak Indonesia di Malaysia Zona Sarawak (Jaim Zore) 3.0 di lapangan Ladang Saremas Wilmar Internasional Bintulu, Sarawak, Malaysia, Sabtu (16/11/2019).

Ihzam merupakan anak Buruh Migran Indonesia (BMI). Ayah dan ibunya bekerja di ladang sawit di Sarawak. Ihzam dan puluhan murid Community Learning Center (CLC) Sebakong Mukah tempatnya sekolah, ikut terlibat dalam Pesta Siaga itu.

Usai upacara pembukaan yang dipimpin Wakil Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka Prof. Dr. Jana T Anggadiredja, setiap perwakilan CLC menyuguhkan atraksi dan keterampilan diri.

Yang paling memukau adalah penampilan dari murid CLC Sebakong Mukah. Ihzam dan kawan-kawannya menyuguhkan gerakan seni bela diri pencak silat serta atraksi debus. Meski sempat gagal, peserta upacara tetap antusias menyaksikan anak sekecil itu bisa mematahkan besi dan berdiri di atas bola lampu.



&quot;Muh Ihzam adalah murid saya. Sejak saya dikirim oleh Kemendikbud dan ditempatkan pada CLC Sebakong pada awal Desember 2018, saya juga membuka ekstrakurikuler pencak silat perguruan Merpati Putih, setiap Sabtu,&quot; tutur Eko Yudi Setiawan, guru Muh Ihzam kepada Okezone, Minggu (17/11/2019).

Eko menjelaskan, untuk mematahkan besi dan meringankan tubuh, Ihzam menggunakan tehnik pernafasan. &quot;Atraksi tadi menggunakan latihan pernafasan yang memang setiap kegiatan ekstrakurikulernya dilatih selain tehnik beladiri silat tersebut,&quot; kata Eko.

Saat keberhasilan Ihzam mematahkan empat besi dan berdiri di atas lampu neon, semua peserta upacara bertepuk tangan kagum. Sehingga Ihzam dipanggil pendekar cilik.

Ihzam adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Ayahnya bernama Udin  Sarudin dan Ibunya bernama Rosdiana. Mereka keluarga berasal dari  Sulawesi Selatan tepatnya di Bulukumba. Saat duduk di kelas 4 Sekolah  Dasar (SD), Ihzam dibawa orangtuanya ikut merantau ke Jiran.

Saat itulah Ihzam mulai mengikuti pendidikan di CLC, sekolah khusus  anak-anak BMI. &quot;CLC kami berdiri sejak 2018. Kalau Ihzam sekarang sudah  kelas lima. Khusus silat, dia banyak memiliki kelebihan dibandingkan  murid lainya yang hanya menguasai tehnik gerakan bela diri,&quot; tutur Eko.

Bahkan, Ihzam kerap diundang untuk menampilkan atraksi seni bela diri  pencak silat dalam kegiatan di ladang-ladang sekitar. &quot;Untuk prestasi  dalam even pencak silat belum ada. Karena di Sarawak belum ada even  pencak silat yang melibatkan CLC. Tapi Ihzam ini beberapa kali tampil  pada acara yang diadakan oleh pihak syarikat (ladang),&quot; tutup Eko.

Sebagaimana diketahui, Jaim Zora ini dihelat selama empat hari. Even  tahunan yang ketiga ini dihelat dalam rangka meningkatkan kualitas  pelayanan pendidikan bagi anak-anak BMI melalui CLC untuk menambah  wawasan dan pengalaman dalam bidang kepramukaan.

Guru Indonesia Sarawak (GIS) bekerjasama dengan Konsulat Jenderal  Republik Indonesia (KJRI) Kuching sebagai pelaksana kegiatan ini.



Ketua Pelaksana Jaim Zora 3.0, Taufan Bahtiar menambahkan, jambore  ini yang ketiga kali diadakan di Sarawak. Diikuti 32 CLC yang ada di  Sarawak. Terdiri dari 358 murid dan 79 guru.

&quot;Tujuannya simpel. Kegiatan apa yang bisa mengumpulkan anak-anak,  melakukan kegiatan yang menyenangkan dan edukatif, ya ini. Berjambore  bersama-sama. Kita berpesta dan belajar bersama-sama,&quot; tutur Taufan.

Apa saja yang ada dalam jambore ini? Topan menjelaskan, jambore ini  tidak hanya berpesta dan bermain saja. Tapi anak-anak belajar tentang  giat-giat pramuka. Bahkan, menunjukkan skil-skil pentas seni dan  kemampuan diri.

&quot;Semuanya ada di sini. Kita juga adakan sesi motivasi. Jadi, ada  motivator yang didatangkan untuk memotivasi anak-anak dan guru-gurunya.  Jaim Zora ini juga untuk guru-guru,&quot; ujarnya.

Sementara itu, Konsul Jenderal RI di Kuching, Sarawak, Yonny Tri   Prayitno mengaku kagum dengan kemampuan anak-anak CLC ini. &quot;Anak-anak   Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari berbagai tempat digabungkan menjadi   satu. Anak-anak ini juga kreatif dengan menampilkan pertunjukan yang   sangat luar biasa. Hal tersebut juga tidak terlepas dari pembinaan   guru-guru,&quot; ujarnya.

Ia berharap, kegiatan semacam ini kedepannya terus dilakukan. Bahkan   dia yang baru dilantik sebagai Majelis Pembimbing Gugusdepan Gerakan   Pramuka 001-002 KJRI Kuching periode 2019-2021 ini meminta Kwrtir   Nasional (Kwarnas) untuk mendukung dan menyiapkan program lainnya.   Karena hal ini akan memperkuat kerjasama Pramuka Sarawak dengan Pramuka   Indonesia.

&quot;Kami bersyukur dari pihak Kwarnas datang dan melihat langsung. Hal   ini baru pertama kali Kwarnas melihat secara langsung. Kita ingin   Kwarnas juga memperhatikan kepramukaan di Sarawak. Di Sarawak kita bisa   kompak dan bergembira. Bisa membahagiakan anak-anak sekolah yang  mungkin  tidak terpikirkan sebelumnya,&quot; kata Yonny Tri.

Anak-anak PMI, sambung dia, sudah terdidik mandiri, disiplin,   bersatu. Anak-anak ini juga diajarkan untuk berinovasi dari kreativitas   yang cukup menggembirakan. &quot;Maka kegiatan semacam ini merangsang anak   Pekerja Migran Indonesia di luar negeri untuk tidak hanya berdiam diri   mengikut orang tua,&quot; tutur dia

Kalaupun nantinya anak PMI pulang ke tanah air, maka telah memiliki   bekal yang mungkin melebihi anak-anak di Indonesia. &quot;Dengan kegiatan   seperti ini anak-anak PMI akan memiliki bekal untuk kembali ke   Indonesia. Sehingga tidak minder dan berkecil hati, karena telah   memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan anak-anak yang ada di   Indonesia,&quot; tutupnya.

Wakil Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Prof. Dr. Jana T   Anggadiredjamenambahkan, tantangan bagi kegiatan pramuka kedepan bukan   semakin mengecil. Namun semakin membesar. Oleh karena itu, tuntutan bagi   gerakan pramuka itu bagaimana pendidikan pramuka bisa dijalankan  dengan  baik.

&quot;Tentunya problematika yang ada di wilayah Sarawak, Malaysia ini ada.   Teman-teman pembina tentu mempunyai tantangan yang saya yakin lebih   berat dibandingkan teman-teman pembina gerakan pramuka di tanah air.   Hanya keikhlasan dan ketulusan para pembina ini dalam membina adik-adik   kita mulai dari siaga, pengalang, penegak dan pandega hingga gerakan   pramuka di Ssrawak ini bisa berjalan dengan baik,&quot; kata Jana.

Menurutnya, kegiatan kepramukaan ini tidak terlepas dari adanya   pendidikan formal di sekolah-sekolah yang ada di Sarawak Malaysia.   Karena hal itu saling terkait dan merupakan kebijakan pihak perusahaan   di Malaysia yang sangat perlu diberi apresiasi dengan baik. Sehingga   anak-anak para PMI/BMI ini mendapat kesempatan belajar di   sekolah-sekolah tersebut.

&quot;Kegiatan gerakan pramuka dan pendidikan di sekolah-sekolah itu harus   mampu mengikuti dengan baik perkembangan zaman. Terutama terhadap   dampak negatif bagi anak didik kita, peserta didik kita dan masyarakat   kita Indonesia, termasuk yang ada di Sarawak, Malaysia ini,&quot; tutupnya.
</description><content:encoded>BINTULU - Muh Ihzam, bocah berusia 11 tahun ini menunjukkan kebolehannya dalam atraksi debus. Ihzam berhasil mematahkan besi dan meringankan tubuhnya sehingga mampu berdiri di atas bola lampu neon.

Atraksi ini dilakukan Ihzam usai upacara pembukaan Jambore Anak Indonesia di Malaysia Zona Sarawak (Jaim Zore) 3.0 di lapangan Ladang Saremas Wilmar Internasional Bintulu, Sarawak, Malaysia, Sabtu (16/11/2019).

Ihzam merupakan anak Buruh Migran Indonesia (BMI). Ayah dan ibunya bekerja di ladang sawit di Sarawak. Ihzam dan puluhan murid Community Learning Center (CLC) Sebakong Mukah tempatnya sekolah, ikut terlibat dalam Pesta Siaga itu.

Usai upacara pembukaan yang dipimpin Wakil Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka Prof. Dr. Jana T Anggadiredja, setiap perwakilan CLC menyuguhkan atraksi dan keterampilan diri.

Yang paling memukau adalah penampilan dari murid CLC Sebakong Mukah. Ihzam dan kawan-kawannya menyuguhkan gerakan seni bela diri pencak silat serta atraksi debus. Meski sempat gagal, peserta upacara tetap antusias menyaksikan anak sekecil itu bisa mematahkan besi dan berdiri di atas bola lampu.



&quot;Muh Ihzam adalah murid saya. Sejak saya dikirim oleh Kemendikbud dan ditempatkan pada CLC Sebakong pada awal Desember 2018, saya juga membuka ekstrakurikuler pencak silat perguruan Merpati Putih, setiap Sabtu,&quot; tutur Eko Yudi Setiawan, guru Muh Ihzam kepada Okezone, Minggu (17/11/2019).

Eko menjelaskan, untuk mematahkan besi dan meringankan tubuh, Ihzam menggunakan tehnik pernafasan. &quot;Atraksi tadi menggunakan latihan pernafasan yang memang setiap kegiatan ekstrakurikulernya dilatih selain tehnik beladiri silat tersebut,&quot; kata Eko.

Saat keberhasilan Ihzam mematahkan empat besi dan berdiri di atas lampu neon, semua peserta upacara bertepuk tangan kagum. Sehingga Ihzam dipanggil pendekar cilik.

Ihzam adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Ayahnya bernama Udin  Sarudin dan Ibunya bernama Rosdiana. Mereka keluarga berasal dari  Sulawesi Selatan tepatnya di Bulukumba. Saat duduk di kelas 4 Sekolah  Dasar (SD), Ihzam dibawa orangtuanya ikut merantau ke Jiran.

Saat itulah Ihzam mulai mengikuti pendidikan di CLC, sekolah khusus  anak-anak BMI. &quot;CLC kami berdiri sejak 2018. Kalau Ihzam sekarang sudah  kelas lima. Khusus silat, dia banyak memiliki kelebihan dibandingkan  murid lainya yang hanya menguasai tehnik gerakan bela diri,&quot; tutur Eko.

Bahkan, Ihzam kerap diundang untuk menampilkan atraksi seni bela diri  pencak silat dalam kegiatan di ladang-ladang sekitar. &quot;Untuk prestasi  dalam even pencak silat belum ada. Karena di Sarawak belum ada even  pencak silat yang melibatkan CLC. Tapi Ihzam ini beberapa kali tampil  pada acara yang diadakan oleh pihak syarikat (ladang),&quot; tutup Eko.

Sebagaimana diketahui, Jaim Zora ini dihelat selama empat hari. Even  tahunan yang ketiga ini dihelat dalam rangka meningkatkan kualitas  pelayanan pendidikan bagi anak-anak BMI melalui CLC untuk menambah  wawasan dan pengalaman dalam bidang kepramukaan.

Guru Indonesia Sarawak (GIS) bekerjasama dengan Konsulat Jenderal  Republik Indonesia (KJRI) Kuching sebagai pelaksana kegiatan ini.



Ketua Pelaksana Jaim Zora 3.0, Taufan Bahtiar menambahkan, jambore  ini yang ketiga kali diadakan di Sarawak. Diikuti 32 CLC yang ada di  Sarawak. Terdiri dari 358 murid dan 79 guru.

&quot;Tujuannya simpel. Kegiatan apa yang bisa mengumpulkan anak-anak,  melakukan kegiatan yang menyenangkan dan edukatif, ya ini. Berjambore  bersama-sama. Kita berpesta dan belajar bersama-sama,&quot; tutur Taufan.

Apa saja yang ada dalam jambore ini? Topan menjelaskan, jambore ini  tidak hanya berpesta dan bermain saja. Tapi anak-anak belajar tentang  giat-giat pramuka. Bahkan, menunjukkan skil-skil pentas seni dan  kemampuan diri.

&quot;Semuanya ada di sini. Kita juga adakan sesi motivasi. Jadi, ada  motivator yang didatangkan untuk memotivasi anak-anak dan guru-gurunya.  Jaim Zora ini juga untuk guru-guru,&quot; ujarnya.

Sementara itu, Konsul Jenderal RI di Kuching, Sarawak, Yonny Tri   Prayitno mengaku kagum dengan kemampuan anak-anak CLC ini. &quot;Anak-anak   Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari berbagai tempat digabungkan menjadi   satu. Anak-anak ini juga kreatif dengan menampilkan pertunjukan yang   sangat luar biasa. Hal tersebut juga tidak terlepas dari pembinaan   guru-guru,&quot; ujarnya.

Ia berharap, kegiatan semacam ini kedepannya terus dilakukan. Bahkan   dia yang baru dilantik sebagai Majelis Pembimbing Gugusdepan Gerakan   Pramuka 001-002 KJRI Kuching periode 2019-2021 ini meminta Kwrtir   Nasional (Kwarnas) untuk mendukung dan menyiapkan program lainnya.   Karena hal ini akan memperkuat kerjasama Pramuka Sarawak dengan Pramuka   Indonesia.

&quot;Kami bersyukur dari pihak Kwarnas datang dan melihat langsung. Hal   ini baru pertama kali Kwarnas melihat secara langsung. Kita ingin   Kwarnas juga memperhatikan kepramukaan di Sarawak. Di Sarawak kita bisa   kompak dan bergembira. Bisa membahagiakan anak-anak sekolah yang  mungkin  tidak terpikirkan sebelumnya,&quot; kata Yonny Tri.

Anak-anak PMI, sambung dia, sudah terdidik mandiri, disiplin,   bersatu. Anak-anak ini juga diajarkan untuk berinovasi dari kreativitas   yang cukup menggembirakan. &quot;Maka kegiatan semacam ini merangsang anak   Pekerja Migran Indonesia di luar negeri untuk tidak hanya berdiam diri   mengikut orang tua,&quot; tutur dia

Kalaupun nantinya anak PMI pulang ke tanah air, maka telah memiliki   bekal yang mungkin melebihi anak-anak di Indonesia. &quot;Dengan kegiatan   seperti ini anak-anak PMI akan memiliki bekal untuk kembali ke   Indonesia. Sehingga tidak minder dan berkecil hati, karena telah   memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan anak-anak yang ada di   Indonesia,&quot; tutupnya.

Wakil Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Prof. Dr. Jana T   Anggadiredjamenambahkan, tantangan bagi kegiatan pramuka kedepan bukan   semakin mengecil. Namun semakin membesar. Oleh karena itu, tuntutan bagi   gerakan pramuka itu bagaimana pendidikan pramuka bisa dijalankan  dengan  baik.

&quot;Tentunya problematika yang ada di wilayah Sarawak, Malaysia ini ada.   Teman-teman pembina tentu mempunyai tantangan yang saya yakin lebih   berat dibandingkan teman-teman pembina gerakan pramuka di tanah air.   Hanya keikhlasan dan ketulusan para pembina ini dalam membina adik-adik   kita mulai dari siaga, pengalang, penegak dan pandega hingga gerakan   pramuka di Ssrawak ini bisa berjalan dengan baik,&quot; kata Jana.

Menurutnya, kegiatan kepramukaan ini tidak terlepas dari adanya   pendidikan formal di sekolah-sekolah yang ada di Sarawak Malaysia.   Karena hal itu saling terkait dan merupakan kebijakan pihak perusahaan   di Malaysia yang sangat perlu diberi apresiasi dengan baik. Sehingga   anak-anak para PMI/BMI ini mendapat kesempatan belajar di   sekolah-sekolah tersebut.

&quot;Kegiatan gerakan pramuka dan pendidikan di sekolah-sekolah itu harus   mampu mengikuti dengan baik perkembangan zaman. Terutama terhadap   dampak negatif bagi anak didik kita, peserta didik kita dan masyarakat   kita Indonesia, termasuk yang ada di Sarawak, Malaysia ini,&quot; tutupnya.
</content:encoded></item></channel></rss>
