<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Tuntut Imbalan, Korut Nyatakan Ogah &quot;Hadiahkan&quot; Pertemuan Tingkat Tinggi untuk Trump</title><description></description><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/19/18/2131774/tuntut-imbalan-korut-nyatakan-ogah-hadiahkan-pertemuan-tingkat-tinggi-untuk-trump</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/11/19/18/2131774/tuntut-imbalan-korut-nyatakan-ogah-hadiahkan-pertemuan-tingkat-tinggi-untuk-trump"/><item><title>Tuntut Imbalan, Korut Nyatakan Ogah &quot;Hadiahkan&quot; Pertemuan Tingkat Tinggi untuk Trump</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/19/18/2131774/tuntut-imbalan-korut-nyatakan-ogah-hadiahkan-pertemuan-tingkat-tinggi-untuk-trump</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/11/19/18/2131774/tuntut-imbalan-korut-nyatakan-ogah-hadiahkan-pertemuan-tingkat-tinggi-untuk-trump</guid><pubDate>Selasa 19 November 2019 15:23 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/19/18/2131774/tuntut-imbalan-korut-nyatakan-ogah-hadiahkan-pertemuan-tingkat-tinggi-untuk-trump-7yhc2HDbTU.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pemimpin Besar Korea Utara, kim Jong-un dan Presiden AS Donald Trump. (CNN)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/19/18/2131774/tuntut-imbalan-korut-nyatakan-ogah-hadiahkan-pertemuan-tingkat-tinggi-untuk-trump-7yhc2HDbTU.jpg</image><title>Pemimpin Besar Korea Utara, kim Jong-un dan Presiden AS Donald Trump. (CNN)</title></images><description>PYONGYANG &amp;ndash; Korea Utara dengan jelas menyatakan tidak akan menyetujui pembicaraan tingkat tinggi antara pemimpinnya, Kim Jong-un dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, kecuali Washington meninggalkan kebijakan &amp;ldquo;bermusuhannya&amp;rdquo; terhadap Pyongyang.
Penasihat Kementerian Luar Negeri Korea Utara, Kim Kye Gwan mengatakan bahwa pembicaraan antara Korea Utara dan AS mengenai program nuklir Pyongyang, yang dimulai dengan KTT Trump-Kim di Singapura pada Juni 2018, telah gagal menghasilkan hasil yang berarti dan meningkatkan hubungan bilateral antara kedua negara. Proses negosiasi berakhir di jalan buntu meskipun dua pemimpin mengadakan pertemuan pada Februari, bertukar surat dan bertemu di perbatasan antara dua Korea pada Juni tahun ini.
BACA JUGA: Kecam Kebijakan Bermusuhan AS, Korut Sebut Negosiasi di Stockholm &quot;Memuakkan&quot;
&quot;AS hanya mencari waktu, berpura-pura telah membuat kemajuan dalam menyelesaikan masalah Semenanjung Korea,&quot; kata Kim dikutip kantor berita KCNA. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa Pyongyang benar-benar tidak mendapatkan apa-apa dari pembicaraan ini, dan dengan demikian akan berhenti melakukan bantuan politik kepada Trump sampai mendapat sesuatu sebagai imbalannya.
&amp;ldquo;Kami tidak lagi tertarik dengan pembicaraan seperti itu, yang tidak membawa apa-apa bagi kami. Karena kami tidak mendapatkan imbalan apa pun, kami tidak akan lagi memberi presiden AS sesuatu yang dapat ia pamerkan, kecuali mendapatkan kompensasi atas keberhasilan yang dibanggakan oleh Presiden Trump sebagai pencapaian administratifnya,&amp;rdquo; kata Kim sebagaimana dilansir RT, Selasa (19/11/2019).
Pernyataan itu muncul sehari setelah Trump mengindikasikan dia bersedia mengadakan pertemuan lain dengan Kim dengan menyapanya dalam tweet yang berbunyi: &quot;Anda harus bertindak cepat, selesaikan kesepakatan. Sampai jumpa lagi!&quot;
BACA JUGA: AS dan Korsel Batalkan Latihan Militer, Tunjukkan &quot;Itikad Baik&quot; pada Pyongyang
Pyongyang memang membuat beberapa langkah menuju penghapusan program nuklir dengan menghentikan uji coba nuklir, menghancurkan lokasi uji coba nuklir Punggye-ri pada Mei 2018 dan membongkar situs uji roket dua bulan kemudian. Namun, AS masih menolak untuk membuat konsesi kepada Pyongyang, dengan alasan bahwa mereka akan mempertimbangkan untuk mencabut sanksi hanya setelah Korea Utara melakukan denuklirisasi sepenuhnya.


Sebelumnya, Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengumumkan bahwa  latihan militer gabungan lain antara AS dan Korea Selatan - sumber  iritasi konstan bagi Korea Utara - telah dibatalkan dalam apa yang  disebutnya isyarat &quot;niat baik&quot;. Namun demikian, langkah itu tampaknya  gagal membuat Pyogyang, yang menuntut Washington menghentikan kebijakan  &quot;bermusuhan&quot; terhadap negaranya, terkesan.
Sekarang, kedua negara mendekati tenggat akhir tahun yang ditetapkan  oleh Kim kepada pemerintahan Trump untuk menawarkan kesepakatan yang  dapat diterima untuk menyelamatkan negosiasi. Pyongyang mengatakan pekan  lalu bahwa Washington telah menawarkan untuk melanjutkan pembicaraan  pada Desember, namun belum jelas apakah Korea Utara akan menyetujui  tawaran yang tampaknya masih belum jelas itu.</description><content:encoded>PYONGYANG &amp;ndash; Korea Utara dengan jelas menyatakan tidak akan menyetujui pembicaraan tingkat tinggi antara pemimpinnya, Kim Jong-un dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, kecuali Washington meninggalkan kebijakan &amp;ldquo;bermusuhannya&amp;rdquo; terhadap Pyongyang.
Penasihat Kementerian Luar Negeri Korea Utara, Kim Kye Gwan mengatakan bahwa pembicaraan antara Korea Utara dan AS mengenai program nuklir Pyongyang, yang dimulai dengan KTT Trump-Kim di Singapura pada Juni 2018, telah gagal menghasilkan hasil yang berarti dan meningkatkan hubungan bilateral antara kedua negara. Proses negosiasi berakhir di jalan buntu meskipun dua pemimpin mengadakan pertemuan pada Februari, bertukar surat dan bertemu di perbatasan antara dua Korea pada Juni tahun ini.
BACA JUGA: Kecam Kebijakan Bermusuhan AS, Korut Sebut Negosiasi di Stockholm &quot;Memuakkan&quot;
&quot;AS hanya mencari waktu, berpura-pura telah membuat kemajuan dalam menyelesaikan masalah Semenanjung Korea,&quot; kata Kim dikutip kantor berita KCNA. Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa Pyongyang benar-benar tidak mendapatkan apa-apa dari pembicaraan ini, dan dengan demikian akan berhenti melakukan bantuan politik kepada Trump sampai mendapat sesuatu sebagai imbalannya.
&amp;ldquo;Kami tidak lagi tertarik dengan pembicaraan seperti itu, yang tidak membawa apa-apa bagi kami. Karena kami tidak mendapatkan imbalan apa pun, kami tidak akan lagi memberi presiden AS sesuatu yang dapat ia pamerkan, kecuali mendapatkan kompensasi atas keberhasilan yang dibanggakan oleh Presiden Trump sebagai pencapaian administratifnya,&amp;rdquo; kata Kim sebagaimana dilansir RT, Selasa (19/11/2019).
Pernyataan itu muncul sehari setelah Trump mengindikasikan dia bersedia mengadakan pertemuan lain dengan Kim dengan menyapanya dalam tweet yang berbunyi: &quot;Anda harus bertindak cepat, selesaikan kesepakatan. Sampai jumpa lagi!&quot;
BACA JUGA: AS dan Korsel Batalkan Latihan Militer, Tunjukkan &quot;Itikad Baik&quot; pada Pyongyang
Pyongyang memang membuat beberapa langkah menuju penghapusan program nuklir dengan menghentikan uji coba nuklir, menghancurkan lokasi uji coba nuklir Punggye-ri pada Mei 2018 dan membongkar situs uji roket dua bulan kemudian. Namun, AS masih menolak untuk membuat konsesi kepada Pyongyang, dengan alasan bahwa mereka akan mempertimbangkan untuk mencabut sanksi hanya setelah Korea Utara melakukan denuklirisasi sepenuhnya.


Sebelumnya, Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengumumkan bahwa  latihan militer gabungan lain antara AS dan Korea Selatan - sumber  iritasi konstan bagi Korea Utara - telah dibatalkan dalam apa yang  disebutnya isyarat &quot;niat baik&quot;. Namun demikian, langkah itu tampaknya  gagal membuat Pyogyang, yang menuntut Washington menghentikan kebijakan  &quot;bermusuhan&quot; terhadap negaranya, terkesan.
Sekarang, kedua negara mendekati tenggat akhir tahun yang ditetapkan  oleh Kim kepada pemerintahan Trump untuk menawarkan kesepakatan yang  dapat diterima untuk menyelamatkan negosiasi. Pyongyang mengatakan pekan  lalu bahwa Washington telah menawarkan untuk melanjutkan pembicaraan  pada Desember, namun belum jelas apakah Korea Utara akan menyetujui  tawaran yang tampaknya masih belum jelas itu.</content:encoded></item></channel></rss>
