<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Yenny Wahid Sebut Perempuan Bisa Jadi Pendeteksi Dini Konflik Intoleransi</title><description>Putri presiden keempat, Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid mengucapkan bahwa perempuan bisa jadi pendeteksi intoleransi dan konflik kekerasan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/23/510/2133679/yenny-wahid-sebut-perempuan-bisa-jadi-pendeteksi-dini-konflik-intoleransi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/11/23/510/2133679/yenny-wahid-sebut-perempuan-bisa-jadi-pendeteksi-dini-konflik-intoleransi"/><item><title>Yenny Wahid Sebut Perempuan Bisa Jadi Pendeteksi Dini Konflik Intoleransi</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/23/510/2133679/yenny-wahid-sebut-perempuan-bisa-jadi-pendeteksi-dini-konflik-intoleransi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/11/23/510/2133679/yenny-wahid-sebut-perempuan-bisa-jadi-pendeteksi-dini-konflik-intoleransi</guid><pubDate>Sabtu 23 November 2019 23:45 WIB</pubDate><dc:creator>Kuntadi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/23/510/2133679/yenny-wahid-sebut-perempuan-bisa-jadi-pendeteksi-dini-konflik-intoleransi-mtm84HrAlB.jpg" expression="full" type="image/jpeg"></media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/23/510/2133679/yenny-wahid-sebut-perempuan-bisa-jadi-pendeteksi-dini-konflik-intoleransi-mtm84HrAlB.jpg</image><title></title></images><description>JAKARTA - Putri presiden keempat, Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid mengucapkan bahwa perempuan bisa jadi pendeteksi intoleransi dan konflik kekerasan.

Yenny melanjutkan, jika dilatih perempuan bahkan bisa menjadi pionir penerapan nilai-nilai perdamaian di masyarakat, sehingga warga sekitar tidak mudah terprovokasi dengan isu yang bisa memicu konflik horizontal.

Yenny menilai, Indonesia butuh ruang bersama untuk bisa menggelar dialog sebagai upaya perdamaian di masyarakat. Hal tersebut diutarakannya ketika memperkenalkan taman bermain luar ruang pertama yang dilengkapi dengan teknologi augmented reality. Taman bermain yang diberi nama Peace Village alias Desa Damai tersebut berlokasi di Kabupaten Sleman, Provinsi DI Yogyakarta.



&amp;rdquo;Peace Village merupakan taman augmented reality pertama di Indonesia. Kami percaya, penerapan teknologi dalam taman ini akan mampu memberikan pengalaman yang lebih menyenangkan, sekaligus mendidik para pengunjung,&amp;rdquo; jelas Yenny Wahid, inisiator Peace Village.

Taman seluas 5.000 meter persegi tersebut mengajak para pengunjung untuk belajar secara interaktif dengan konsep edutainment.

Pengunjung Peace Village akan dididik tentang berbagai hal seperti keberagaman, toleransi, dan lainnya. &amp;rdquo;Konsep ini juga diharapkan dapat memberikan sumbangsih pada masyarakat sekitar agar lebih terpacu untuk membangun daerahnya,&amp;rdquo; ujarnya.

Istilah augmented reality atau &amp;rdquo;realitas tertambah&amp;rdquo; adalah teknologi yang menggabungkan benda maya dua dimensi dan/atau tiga dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata tiga dimensi, lalu memproyeksikan benda-benda maya tersebut dalam waktu nyata.

Setiap pengunjung taman akan dilengkapi dengan perangkat mobile yang memberikan pengalaman augmented reality. Dengan perangkat tersebut, mereka harus menyelesaikan berbagai misi untuk berinteraksi dengan hewan-hewan virtual yang tersebar di dalam taman. Mereka juga dapat mempelajari karakteristik dari setiap hewan, serta menjawab berbagai pertanyaan.

Dalam kerangka yang lebih luas, Yenny Wahid menambahkan, Peace Village dirancang menjadi sebuah gerakan yang melibatkan warga di desa-desa untuk menjadi desa yang menerapkan nilai-nilai perdamaian.

&amp;rdquo;Gerakan ini akan mengembangkan program-program pemberdayaan  masyarakat pada umumnya dan para perempuan serta anak-anak khususnya di  desa-desa untuk mendorong peningkatan ekonomi keluarga mereka,&amp;rdquo;  tuturnya.

Dalam keseharian, mereka bisa tetap tinggal di rumah dan mengasuh  anaknya, sambil membuat usaha kecil untuk membantu pendapatan keluarga.  Para perempuan juga akan dibekali kemampuan dalam menerapkan nilai-nilai  perdamaian di lingkungan mereka masing-masing, sehingga tidak mudah  terprovokasi dalam kasus-kasus intoleransi dan konflik kekerasan.

&amp;rdquo;Lebih dari itu, mereka justru memiliki kemampuan melakukan deteksi  dini terhadap intoleransi dan konflik kekerasan,&amp;rdquo; jelas Yenny.

Sementara itu, General Manager AR&amp;amp;Co Juliwina mengatakan,  pihaknya selama ini selalu melihat potensi penerapan teknologi di bidang  edutainment. &amp;rdquo;Karenanya, ketika mengetahui visi dan misi Peace Village,  terutama dalam kaitan dengan pendidikan kemasyarakatan, kami tidak ragu  untuk mendukung penuh inisiasi Ibu Yenny Wahid ini,&amp;rdquo; kata Juliwina.

</description><content:encoded>JAKARTA - Putri presiden keempat, Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid mengucapkan bahwa perempuan bisa jadi pendeteksi intoleransi dan konflik kekerasan.

Yenny melanjutkan, jika dilatih perempuan bahkan bisa menjadi pionir penerapan nilai-nilai perdamaian di masyarakat, sehingga warga sekitar tidak mudah terprovokasi dengan isu yang bisa memicu konflik horizontal.

Yenny menilai, Indonesia butuh ruang bersama untuk bisa menggelar dialog sebagai upaya perdamaian di masyarakat. Hal tersebut diutarakannya ketika memperkenalkan taman bermain luar ruang pertama yang dilengkapi dengan teknologi augmented reality. Taman bermain yang diberi nama Peace Village alias Desa Damai tersebut berlokasi di Kabupaten Sleman, Provinsi DI Yogyakarta.



&amp;rdquo;Peace Village merupakan taman augmented reality pertama di Indonesia. Kami percaya, penerapan teknologi dalam taman ini akan mampu memberikan pengalaman yang lebih menyenangkan, sekaligus mendidik para pengunjung,&amp;rdquo; jelas Yenny Wahid, inisiator Peace Village.

Taman seluas 5.000 meter persegi tersebut mengajak para pengunjung untuk belajar secara interaktif dengan konsep edutainment.

Pengunjung Peace Village akan dididik tentang berbagai hal seperti keberagaman, toleransi, dan lainnya. &amp;rdquo;Konsep ini juga diharapkan dapat memberikan sumbangsih pada masyarakat sekitar agar lebih terpacu untuk membangun daerahnya,&amp;rdquo; ujarnya.

Istilah augmented reality atau &amp;rdquo;realitas tertambah&amp;rdquo; adalah teknologi yang menggabungkan benda maya dua dimensi dan/atau tiga dimensi ke dalam sebuah lingkungan nyata tiga dimensi, lalu memproyeksikan benda-benda maya tersebut dalam waktu nyata.

Setiap pengunjung taman akan dilengkapi dengan perangkat mobile yang memberikan pengalaman augmented reality. Dengan perangkat tersebut, mereka harus menyelesaikan berbagai misi untuk berinteraksi dengan hewan-hewan virtual yang tersebar di dalam taman. Mereka juga dapat mempelajari karakteristik dari setiap hewan, serta menjawab berbagai pertanyaan.

Dalam kerangka yang lebih luas, Yenny Wahid menambahkan, Peace Village dirancang menjadi sebuah gerakan yang melibatkan warga di desa-desa untuk menjadi desa yang menerapkan nilai-nilai perdamaian.

&amp;rdquo;Gerakan ini akan mengembangkan program-program pemberdayaan  masyarakat pada umumnya dan para perempuan serta anak-anak khususnya di  desa-desa untuk mendorong peningkatan ekonomi keluarga mereka,&amp;rdquo;  tuturnya.

Dalam keseharian, mereka bisa tetap tinggal di rumah dan mengasuh  anaknya, sambil membuat usaha kecil untuk membantu pendapatan keluarga.  Para perempuan juga akan dibekali kemampuan dalam menerapkan nilai-nilai  perdamaian di lingkungan mereka masing-masing, sehingga tidak mudah  terprovokasi dalam kasus-kasus intoleransi dan konflik kekerasan.

&amp;rdquo;Lebih dari itu, mereka justru memiliki kemampuan melakukan deteksi  dini terhadap intoleransi dan konflik kekerasan,&amp;rdquo; jelas Yenny.

Sementara itu, General Manager AR&amp;amp;Co Juliwina mengatakan,  pihaknya selama ini selalu melihat potensi penerapan teknologi di bidang  edutainment. &amp;rdquo;Karenanya, ketika mengetahui visi dan misi Peace Village,  terutama dalam kaitan dengan pendidikan kemasyarakatan, kami tidak ragu  untuk mendukung penuh inisiasi Ibu Yenny Wahid ini,&amp;rdquo; kata Juliwina.

</content:encoded></item></channel></rss>
