<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ryamizard Minta Semua Pihak Antisipasi Terorisme</title><description>Ryamizard menyatakan terorisme menjadi ancaman yang terus berulang sehingga perlu partisipasi semua pihak untuk mengantisipasinya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/25/337/2134120/ryamizard-minta-semua-pihak-antisipasi-terorisme</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/11/25/337/2134120/ryamizard-minta-semua-pihak-antisipasi-terorisme"/><item><title>Ryamizard Minta Semua Pihak Antisipasi Terorisme</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/25/337/2134120/ryamizard-minta-semua-pihak-antisipasi-terorisme</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/11/25/337/2134120/ryamizard-minta-semua-pihak-antisipasi-terorisme</guid><pubDate>Senin 25 November 2019 14:05 WIB</pubDate><dc:creator>Harits Tryan Akhmad</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/25/337/2134120/ryamizard-minta-semua-pihak-antisipasi-terorisme-OuZDcDaE1w.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ryamizard Ryacudu. (Foto : Okezone.com/Harits Tryan Akhmad)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/25/337/2134120/ryamizard-minta-semua-pihak-antisipasi-terorisme-OuZDcDaE1w.jpg</image><title>Ryamizard Ryacudu. (Foto : Okezone.com/Harits Tryan Akhmad)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Mantan Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengaku terorisme merupakan salah satu ancaman bagi bangsa Indonesia.

&amp;ldquo;Ancaman nyata itu  teroris, bencana alam, pemberontakan, narkoba, masalah intelijen, masalah wabah penyakit. Itu berulang-ulang selama saya empat tahun (menjabat),&amp;rdquo; ujar Ryamizard dalam dialog kebangsaan bertema &amp;ldquo;Gelorakan Semangat Bela Begara dalam Menghadapi Ancaman Terorisme dan Liberalisme&amp;rdquo; di Senayan, Jakarta, Senin (25/11/2019).
Ryamizard berujar, terorisme merupakan masalah yang terus berulang. Karena itu, ia meminta semua pihak terlibat untuk mengantisipasi  terorisme.
&amp;ldquo;Kita lakukan adalah dengan semua ikut berpartisipsi,&amp;rdquo; ucapnya.
Menurut dia, tipikal teroris dalam melancarkan aksi saat ini berbeda-beda. Seperti bom di Surabaya tahun lalu, seorang ibu nekat membawa anaknya saat menjadi jihadis.



Ryamizard pun heran dengan doktrin bahwa pelaku bom teror pria apabila berhasil menjalankan aksinya bakal mendapatkan 72 bidadari di surga.
&amp;ldquo;Pertanyaannya sama orang yang nyuruh itu, kalau tahunya saya masuk duluan surga. Ini nyuruh-nyuruh dia enggak mau masuk surga? Ini enggak masuk akal,&amp;rdquo; tuturnya.
Sementara, Kabag Pemantauan dan Analisa Ro Multimedia Divisi Humas Polri, Kombes Dirmanto mengakui apabila permasalahan terorisme dan radikalisme merupakan musuh bangsa dan bersama.
Jika merujuk pada data yang dimiliki Polri pada 2018, setidaknya 396 orang ditangkap lantaran terlibat dalam kasus terorisme. Dia berharap, pada tahun-tahun mendatang jumlah tersebut semakin berkurang.
&amp;ldquo;Sementara data petugas Polri yang meninggal ada 31 orang. Mudah-mudahan teror radikal di tahun berikut bisa kita tekan, semua sinergi bersama,&amp;rdquo; katanya.

Sementara penulis buku Teroris Kanan Indonesia yang juga Rektor  Universitas Widyatama, Obsatar Sinaga menyatakan, bangsa Indonesia  sejatinya mampu menangani permasalahan ancaman terorisme dan  radikalisme.
&amp;ldquo;Saya kira kita mampu menangani,&amp;rdquo; kata Obsatar.



Menurutnya para terorisme menggunakan cara dengan menakut-nakuti  masyarakat melalui terornya. Jika terornya berhasil membuat masyarakat  resah dan takut, tujuan mereka melakukan teror pun tersampaikan.
&amp;ldquo;Makin kita takut, makin reaksi kita besar dan kemudian kebijakan  pemerintah mengarah ke situ maka semakin besar terorisme,&amp;rdquo; ujar Obsatar.

Baca Juga : BNPT Ungkap 10 Provinsi Jadi Target Serangan Teroris

Karena itu, untuk mencegah aksi terorisme di Indonesia, dia meminta  semua unsur untuk saling bersinegi dengan aparat yang berwajib. Seperti  melakukan laporan apabila menilai ada kelompok yang mencurigakan.
&amp;ldquo;Masyarakat melaporkan ke pihak berwajib. Jadi enggak ada celah untuk  terorisme berkembang di mana pun kalau semua rakyat melaporkan,&amp;rdquo;  tuturnya.

Baca Juga : Fadli Zon Minta Pemerintah Tak Dramatisir Isu Radikalisme-Terorisme





</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Mantan Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengaku terorisme merupakan salah satu ancaman bagi bangsa Indonesia.

&amp;ldquo;Ancaman nyata itu  teroris, bencana alam, pemberontakan, narkoba, masalah intelijen, masalah wabah penyakit. Itu berulang-ulang selama saya empat tahun (menjabat),&amp;rdquo; ujar Ryamizard dalam dialog kebangsaan bertema &amp;ldquo;Gelorakan Semangat Bela Begara dalam Menghadapi Ancaman Terorisme dan Liberalisme&amp;rdquo; di Senayan, Jakarta, Senin (25/11/2019).
Ryamizard berujar, terorisme merupakan masalah yang terus berulang. Karena itu, ia meminta semua pihak terlibat untuk mengantisipasi  terorisme.
&amp;ldquo;Kita lakukan adalah dengan semua ikut berpartisipsi,&amp;rdquo; ucapnya.
Menurut dia, tipikal teroris dalam melancarkan aksi saat ini berbeda-beda. Seperti bom di Surabaya tahun lalu, seorang ibu nekat membawa anaknya saat menjadi jihadis.



Ryamizard pun heran dengan doktrin bahwa pelaku bom teror pria apabila berhasil menjalankan aksinya bakal mendapatkan 72 bidadari di surga.
&amp;ldquo;Pertanyaannya sama orang yang nyuruh itu, kalau tahunya saya masuk duluan surga. Ini nyuruh-nyuruh dia enggak mau masuk surga? Ini enggak masuk akal,&amp;rdquo; tuturnya.
Sementara, Kabag Pemantauan dan Analisa Ro Multimedia Divisi Humas Polri, Kombes Dirmanto mengakui apabila permasalahan terorisme dan radikalisme merupakan musuh bangsa dan bersama.
Jika merujuk pada data yang dimiliki Polri pada 2018, setidaknya 396 orang ditangkap lantaran terlibat dalam kasus terorisme. Dia berharap, pada tahun-tahun mendatang jumlah tersebut semakin berkurang.
&amp;ldquo;Sementara data petugas Polri yang meninggal ada 31 orang. Mudah-mudahan teror radikal di tahun berikut bisa kita tekan, semua sinergi bersama,&amp;rdquo; katanya.

Sementara penulis buku Teroris Kanan Indonesia yang juga Rektor  Universitas Widyatama, Obsatar Sinaga menyatakan, bangsa Indonesia  sejatinya mampu menangani permasalahan ancaman terorisme dan  radikalisme.
&amp;ldquo;Saya kira kita mampu menangani,&amp;rdquo; kata Obsatar.



Menurutnya para terorisme menggunakan cara dengan menakut-nakuti  masyarakat melalui terornya. Jika terornya berhasil membuat masyarakat  resah dan takut, tujuan mereka melakukan teror pun tersampaikan.
&amp;ldquo;Makin kita takut, makin reaksi kita besar dan kemudian kebijakan  pemerintah mengarah ke situ maka semakin besar terorisme,&amp;rdquo; ujar Obsatar.

Baca Juga : BNPT Ungkap 10 Provinsi Jadi Target Serangan Teroris

Karena itu, untuk mencegah aksi terorisme di Indonesia, dia meminta  semua unsur untuk saling bersinegi dengan aparat yang berwajib. Seperti  melakukan laporan apabila menilai ada kelompok yang mencurigakan.
&amp;ldquo;Masyarakat melaporkan ke pihak berwajib. Jadi enggak ada celah untuk  terorisme berkembang di mana pun kalau semua rakyat melaporkan,&amp;rdquo;  tuturnya.

Baca Juga : Fadli Zon Minta Pemerintah Tak Dramatisir Isu Radikalisme-Terorisme





</content:encoded></item></channel></rss>
