<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Balada Guru Honorer di Cirebon, Tetap Ikhlas Mengajar Meski Hanya Miliki 2 Murid</title><description>Sepanjang mata memandang, tidak ada penampakan bangunan toilet yang diperuntukan untuk para siswa.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/30/337/2136146/balada-guru-honorer-di-cirebon-tetap-ikhlas-mengajar-meski-hanya-miliki-2-murid</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/11/30/337/2136146/balada-guru-honorer-di-cirebon-tetap-ikhlas-mengajar-meski-hanya-miliki-2-murid"/><item><title>Balada Guru Honorer di Cirebon, Tetap Ikhlas Mengajar Meski Hanya Miliki 2 Murid</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/11/30/337/2136146/balada-guru-honorer-di-cirebon-tetap-ikhlas-mengajar-meski-hanya-miliki-2-murid</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/11/30/337/2136146/balada-guru-honorer-di-cirebon-tetap-ikhlas-mengajar-meski-hanya-miliki-2-murid</guid><pubDate>Sabtu 30 November 2019 10:06 WIB</pubDate><dc:creator>Fathnur Rohman</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/11/29/337/2136146/balada-guru-honorer-di-cirebon-tetap-ikhlas-mengajar-meski-hanya-miliki-2-murid-b9EFS6sQxp.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Kelas satu di SDN Karangwuni hanya berjumlah dua murid (Foto: Okezone/Fathnur)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/11/29/337/2136146/balada-guru-honorer-di-cirebon-tetap-ikhlas-mengajar-meski-hanya-miliki-2-murid-b9EFS6sQxp.jpg</image><title>Kelas satu di SDN Karangwuni hanya berjumlah dua murid (Foto: Okezone/Fathnur)</title></images><description>&quot;Saya tidak akan membuat janji-janji kosong kepada Anda. Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan. Satu hal yang pasti, saya akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia&quot;. 

Begitulah penggalan dari naskah pidato yang dibacakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, pada upacara peringatan Hari Guru Nasional 2019 lalu.

Dalam pidato itu, Nadiem berkomitmen akan berusaha berjuang untuk 'kemerdekaan belajar' di Indonesia. Namun, berbicara 'kemerdekaan belajar', para siswa dari sejumlah daerah di pelosok negeri ini, nampaknya belum bisa merasakan kemewahan itu. Fasilitas yang ada di sekolah seperti halnya perpustakaan, hanya sekedar angan-angan dalam imajinasi mereka.

&quot;Pak Nadiem, kami minta perpustakaan untuk SDN 3 Karangwuni,&quot; kata empat orang siswa secara serentak, ketika Okezone menghampiri mereka, Rabu (27/11/2019).



Pagi itu, sekira pukul 10.35 WIB, raut wajah para siswa nampak cukup lelah setelah mengikuti kegiatan pendidikan jasmani. Di antara mereka, ada salah seorang siswa yang sedang membuang air kecil di samping sudut sekolah. Memang, sepanjang mata memandang, tidak ada penampakan bangunan toilet yang diperuntukan untuk para siswa.

Sebelum mereka datang, suasana di SDN 3 Karangwuni, Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, terlihat sangat sepi. Hanya ada dua orang siswa kelas I yang berada di dalam kelas. Sisanya hanya ada tiga orang guru yang ada di ruangannya. SDN 3 Karangwuni merupakan sekolah terpencil yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Cirebon dengan Kabupaten Kuningan. Siswa di sekolah ini hanya berjumlah 26 orang saja.

Mendapat predikat sebagai sekolah terpencil, tentunya segala keterbatasan dalam kegitan belajar mengajar sering dialami oleh para siswa di SDN 3 Karangwuni. Apalagi, di sekolah ini hanya memiliki dua guru honorer dan satu guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sedangkan untuk jabatan Kepala Sekolah dirangkap oleh Kepala Sekolah lain dari SD di dekat SDN 3 Karangwuni.

Pengabdian Guru Honorer di SDN 3 Karangwuni

Sejak tahun 2007 silam, Hendrik Andriyana Lesmana resmi diangkat  sebagai guru honorer di SDN 3 Karangwuni. Seperti nasib kebanyakan guru  honorer lainnya, pria yang akrab disapa Hendrik ini, mendapat bayaran  yang cukup rendah untuk pengabdiannya mengajar di sekolah terpencil di  Kabupaten Cirebon.

Selain menjadi guru honorer, ia juga merangkap sebagai operator  sekolah. Hendrik mengaku, dengan menjalankan kedua tugasnya ini ia  mendapat honor sekitar Rp600 ribu per bulan.

&quot;Saya sebagai guru honorer dan merangkap sebagai operator sekolah.  Saya dibayar satu bulannya Rp600 ribu,&quot; ujar Hendrik ketika berbincang  dengan Okezone, di sela-sela waktu mengajarnya.



Hendrik mengatakan, uang sebesar Rp600 ribu tidak bisa mencukupi  kebutuhan hidup keluarganya. Jika dihitung-hitung dengan penghasilannya  ini, setiap harinya ia hanya bisa memegang uang sekitar Rp20 ribu. Itu  pun belum termasuk keperluan transportasi seperti uang bensin dan  sebagainya. Dalam menutupi kekurangannya tersebut, Hendrik bahkan harus  mengerjakan pekerjaan sampingan lainnya.

Jarak dari rumah Hendrik menuju SDN 3 Karangwuni sekitar 8 kilometer.  Saat berangkat, ia mesti melewati jalan dengan kondisinya yang tidak  begitu baik, serta sering longsor pada musim hujan. Ia juga mengaku,  pernah beberapa kali menaruh motornya dan berjalan kaki ke sekolah,  ketika kondisi jalanan itu sedang berlumpur. Apabila ia tidak melewati  jalur tersebut, maka ia akan menempuh jarak yang lebih jauh lagi yakni  16 kilometer.



Hendrik bercerita, salah satu alasan mengapa ia tetap ikhlas untuk  mengajar di SDN 3 Karangwuni adalah, karena melihat semangat anak  muridnya yang begitu tinggi untuk belajar, meski dalam segala  keterbatasan. Ia pun bangga, walau sekolahnya berada di tempat  terpencil, para siswa mampu bersprestasi dan bersaing dengan siswa dari  sekolah lain.

&quot;Saya udah menjiwai mengajar di sini. Kemarin di kegiatan 17 Agustus,  kami menjadi juara satu sepak bola tingkat kabupaten,&quot; tuturnya.

Apabila ia boleh memilih, ia ingin tetap mengajar di SDN 3  Karangwuni. Namun, karena kebutuhan ekonomi, ia berencana akan mengiktui  seleksi CPNS di Kabupaten Ciamis dalam waktu dekat ini. Hendrik merasa,  ketika dirinya mengajar di SDN 3 Karangwuni, suasananya seperti berada  di perbatasan antar negara.



Hendrik berharap, Pemerintah khususnya Kemendikbud harus  memperhatikan kondisi yang dialami siswanya. Ia pun meminta, supaya guru  honorer di sekolahnya diangkat sebagai PNS tanpa syarat. Menurutnya  selain mereka, siapa lagi yang akan bersedia mengajar di sekolah  terpencil seperti SDN 3 Karangwuni.

&quot;Harapan besar saya kedepannya mudah-mudahan Pemerintah bisa lebih  memperhatikan lagi nasib guru honorer di SDN 3 Karangwuni. Dengan  mengajar di daerah terpencil seperti SDN 3 Karangwuni dengan keadaan  sekolahnya seperti itu fasilitas yang sangat minim, besar harapan saya  untuk diangkat jadi PNS,&quot; imbuhnya.

Kurangnya Tenaga Pengajar dan Fasilitas Minim

Syahroni awalnya hanya berjualan di depan SDN 3 Karangwuni. Namun,   kemudian ia diminta menjadi penjaga sekolah. Selang beberapa waktu, ia   akhirnya diangkat sebagai tenaga pengajar untuk membantu para guru   honorer lainnya.

Dari pengakuannya, ia sudah menjadi tenaga pengajar selama tiga   tahun. Ia biasanya ikut membantu mengajar di pelajaran agama serta   terkadang membantu pelajaran jasmani juga. Ia merasa tergerak, ketika   melihat semangat belajar siswa di SDN 3 Karangwuni begitu tinggi. Ia   ikhlas dalam menjalankan tugasnya. Ia hanya ingin siswa-siswa tersebut   kelak menjadi orang sukses di kemudian hari.

Sebagai tenaga pengajar atau guru honorer tidak resmi, Syahroni   diberi honor sekitar Rp150 ribu - Rp200 ribu setiap bulanya. Namun   terkadang, pemberian honornya ini mengalami keterlambatan hingga tiga   bulan lamanya.

&quot;Sudah hampir tiga tahun. Saya ngajar pelajaran Agama biasanya.   Awalnya tergerak untuk membantu karena di sini kekurangan tenaga   pengajar. Dari pada kosong mending saya ikut membantu,&quot; ujarnya.



Selain minimnya tenaga pengajar, Syahroni juga menuturkan, SDN 3   Karangwuni tidak memiliki gedung perpustakaan. Awalnya pihak sekolah   sempat mengajukan untuk dibangun gedung perpustakaan itu, tetapi karena   jumlah siswanya hanya 26, pengajuan itu akhirnya ditolak.

&quot;Belum dibangun dengan alasan jumlah murid sedikit. Di sini semuanya   serba tertinggal. Kalau Pemerintah serius, kirimkan aja bukunya ke  sini,  walaupun enggak ada perpustakaannya,&quot; tambahnya.

Dawud, satu-satunya guru PNS di SDN 3 Karangwuni menjelaskan, di   sekolahnya hanya terdapat tiga ruang kelas saja. Setiap kelasnya   disatukan menjadi dua bagian di dalam ketiga ruangan itu. Hal ini   menurutnya menjadi kesulitan tersendiri, mengingat para guru harus   mengajar dua kelas dalam satu ruangan sekaligus.

&quot;Susah. Kosentrasinya terpecah, karena harus mengajar dua kelas sekaligus,&quot; kata Dawud.

Dawud dan para guru honorer di SDN 3 Karangwuni berharap, Pemerintah   bisa lebih memperhatikan nasib dan kesejahteraan para guru honorer,   terutama mereka yang mengajar di sekolah terpencil. Para guru honorer   ini sudah berkontribusi banyak untuk memajukan kualitas sumber Daya   Manusia (SDM) di Indonesia, meski dalam tugasnya mereka memiliki resiko   yang begitu tinggi. Jadi jangan sampai pengabdian mereka menjadi  sia-sia  karena kesejahteraan mereka tidak tercukupi.
</description><content:encoded>&quot;Saya tidak akan membuat janji-janji kosong kepada Anda. Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan. Satu hal yang pasti, saya akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia&quot;. 

Begitulah penggalan dari naskah pidato yang dibacakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, pada upacara peringatan Hari Guru Nasional 2019 lalu.

Dalam pidato itu, Nadiem berkomitmen akan berusaha berjuang untuk 'kemerdekaan belajar' di Indonesia. Namun, berbicara 'kemerdekaan belajar', para siswa dari sejumlah daerah di pelosok negeri ini, nampaknya belum bisa merasakan kemewahan itu. Fasilitas yang ada di sekolah seperti halnya perpustakaan, hanya sekedar angan-angan dalam imajinasi mereka.

&quot;Pak Nadiem, kami minta perpustakaan untuk SDN 3 Karangwuni,&quot; kata empat orang siswa secara serentak, ketika Okezone menghampiri mereka, Rabu (27/11/2019).



Pagi itu, sekira pukul 10.35 WIB, raut wajah para siswa nampak cukup lelah setelah mengikuti kegiatan pendidikan jasmani. Di antara mereka, ada salah seorang siswa yang sedang membuang air kecil di samping sudut sekolah. Memang, sepanjang mata memandang, tidak ada penampakan bangunan toilet yang diperuntukan untuk para siswa.

Sebelum mereka datang, suasana di SDN 3 Karangwuni, Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, terlihat sangat sepi. Hanya ada dua orang siswa kelas I yang berada di dalam kelas. Sisanya hanya ada tiga orang guru yang ada di ruangannya. SDN 3 Karangwuni merupakan sekolah terpencil yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Cirebon dengan Kabupaten Kuningan. Siswa di sekolah ini hanya berjumlah 26 orang saja.

Mendapat predikat sebagai sekolah terpencil, tentunya segala keterbatasan dalam kegitan belajar mengajar sering dialami oleh para siswa di SDN 3 Karangwuni. Apalagi, di sekolah ini hanya memiliki dua guru honorer dan satu guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sedangkan untuk jabatan Kepala Sekolah dirangkap oleh Kepala Sekolah lain dari SD di dekat SDN 3 Karangwuni.

Pengabdian Guru Honorer di SDN 3 Karangwuni

Sejak tahun 2007 silam, Hendrik Andriyana Lesmana resmi diangkat  sebagai guru honorer di SDN 3 Karangwuni. Seperti nasib kebanyakan guru  honorer lainnya, pria yang akrab disapa Hendrik ini, mendapat bayaran  yang cukup rendah untuk pengabdiannya mengajar di sekolah terpencil di  Kabupaten Cirebon.

Selain menjadi guru honorer, ia juga merangkap sebagai operator  sekolah. Hendrik mengaku, dengan menjalankan kedua tugasnya ini ia  mendapat honor sekitar Rp600 ribu per bulan.

&quot;Saya sebagai guru honorer dan merangkap sebagai operator sekolah.  Saya dibayar satu bulannya Rp600 ribu,&quot; ujar Hendrik ketika berbincang  dengan Okezone, di sela-sela waktu mengajarnya.



Hendrik mengatakan, uang sebesar Rp600 ribu tidak bisa mencukupi  kebutuhan hidup keluarganya. Jika dihitung-hitung dengan penghasilannya  ini, setiap harinya ia hanya bisa memegang uang sekitar Rp20 ribu. Itu  pun belum termasuk keperluan transportasi seperti uang bensin dan  sebagainya. Dalam menutupi kekurangannya tersebut, Hendrik bahkan harus  mengerjakan pekerjaan sampingan lainnya.

Jarak dari rumah Hendrik menuju SDN 3 Karangwuni sekitar 8 kilometer.  Saat berangkat, ia mesti melewati jalan dengan kondisinya yang tidak  begitu baik, serta sering longsor pada musim hujan. Ia juga mengaku,  pernah beberapa kali menaruh motornya dan berjalan kaki ke sekolah,  ketika kondisi jalanan itu sedang berlumpur. Apabila ia tidak melewati  jalur tersebut, maka ia akan menempuh jarak yang lebih jauh lagi yakni  16 kilometer.



Hendrik bercerita, salah satu alasan mengapa ia tetap ikhlas untuk  mengajar di SDN 3 Karangwuni adalah, karena melihat semangat anak  muridnya yang begitu tinggi untuk belajar, meski dalam segala  keterbatasan. Ia pun bangga, walau sekolahnya berada di tempat  terpencil, para siswa mampu bersprestasi dan bersaing dengan siswa dari  sekolah lain.

&quot;Saya udah menjiwai mengajar di sini. Kemarin di kegiatan 17 Agustus,  kami menjadi juara satu sepak bola tingkat kabupaten,&quot; tuturnya.

Apabila ia boleh memilih, ia ingin tetap mengajar di SDN 3  Karangwuni. Namun, karena kebutuhan ekonomi, ia berencana akan mengiktui  seleksi CPNS di Kabupaten Ciamis dalam waktu dekat ini. Hendrik merasa,  ketika dirinya mengajar di SDN 3 Karangwuni, suasananya seperti berada  di perbatasan antar negara.



Hendrik berharap, Pemerintah khususnya Kemendikbud harus  memperhatikan kondisi yang dialami siswanya. Ia pun meminta, supaya guru  honorer di sekolahnya diangkat sebagai PNS tanpa syarat. Menurutnya  selain mereka, siapa lagi yang akan bersedia mengajar di sekolah  terpencil seperti SDN 3 Karangwuni.

&quot;Harapan besar saya kedepannya mudah-mudahan Pemerintah bisa lebih  memperhatikan lagi nasib guru honorer di SDN 3 Karangwuni. Dengan  mengajar di daerah terpencil seperti SDN 3 Karangwuni dengan keadaan  sekolahnya seperti itu fasilitas yang sangat minim, besar harapan saya  untuk diangkat jadi PNS,&quot; imbuhnya.

Kurangnya Tenaga Pengajar dan Fasilitas Minim

Syahroni awalnya hanya berjualan di depan SDN 3 Karangwuni. Namun,   kemudian ia diminta menjadi penjaga sekolah. Selang beberapa waktu, ia   akhirnya diangkat sebagai tenaga pengajar untuk membantu para guru   honorer lainnya.

Dari pengakuannya, ia sudah menjadi tenaga pengajar selama tiga   tahun. Ia biasanya ikut membantu mengajar di pelajaran agama serta   terkadang membantu pelajaran jasmani juga. Ia merasa tergerak, ketika   melihat semangat belajar siswa di SDN 3 Karangwuni begitu tinggi. Ia   ikhlas dalam menjalankan tugasnya. Ia hanya ingin siswa-siswa tersebut   kelak menjadi orang sukses di kemudian hari.

Sebagai tenaga pengajar atau guru honorer tidak resmi, Syahroni   diberi honor sekitar Rp150 ribu - Rp200 ribu setiap bulanya. Namun   terkadang, pemberian honornya ini mengalami keterlambatan hingga tiga   bulan lamanya.

&quot;Sudah hampir tiga tahun. Saya ngajar pelajaran Agama biasanya.   Awalnya tergerak untuk membantu karena di sini kekurangan tenaga   pengajar. Dari pada kosong mending saya ikut membantu,&quot; ujarnya.



Selain minimnya tenaga pengajar, Syahroni juga menuturkan, SDN 3   Karangwuni tidak memiliki gedung perpustakaan. Awalnya pihak sekolah   sempat mengajukan untuk dibangun gedung perpustakaan itu, tetapi karena   jumlah siswanya hanya 26, pengajuan itu akhirnya ditolak.

&quot;Belum dibangun dengan alasan jumlah murid sedikit. Di sini semuanya   serba tertinggal. Kalau Pemerintah serius, kirimkan aja bukunya ke  sini,  walaupun enggak ada perpustakaannya,&quot; tambahnya.

Dawud, satu-satunya guru PNS di SDN 3 Karangwuni menjelaskan, di   sekolahnya hanya terdapat tiga ruang kelas saja. Setiap kelasnya   disatukan menjadi dua bagian di dalam ketiga ruangan itu. Hal ini   menurutnya menjadi kesulitan tersendiri, mengingat para guru harus   mengajar dua kelas dalam satu ruangan sekaligus.

&quot;Susah. Kosentrasinya terpecah, karena harus mengajar dua kelas sekaligus,&quot; kata Dawud.

Dawud dan para guru honorer di SDN 3 Karangwuni berharap, Pemerintah   bisa lebih memperhatikan nasib dan kesejahteraan para guru honorer,   terutama mereka yang mengajar di sekolah terpencil. Para guru honorer   ini sudah berkontribusi banyak untuk memajukan kualitas sumber Daya   Manusia (SDM) di Indonesia, meski dalam tugasnya mereka memiliki resiko   yang begitu tinggi. Jadi jangan sampai pengabdian mereka menjadi  sia-sia  karena kesejahteraan mereka tidak tercukupi.
</content:encoded></item></channel></rss>
