<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Laporan Bocor, Penelitian Rekayasa Genetika Bayi China Dikecam Sebagai &quot;Pemalsuan yang Disengaja&quot;</title><description>Penelitian itu juga kemungkinan memunculkan risiko terjadinya mutasi yang tak diinginkan pada kedua bayi kembar yang menjadi subyeknya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/04/18/2137765/laporan-bocor-penelitian-rekayasa-genetika-bayi-china-dikecam-sebagai-pemalsuan-yang-disengaja</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/12/04/18/2137765/laporan-bocor-penelitian-rekayasa-genetika-bayi-china-dikecam-sebagai-pemalsuan-yang-disengaja"/><item><title>Laporan Bocor, Penelitian Rekayasa Genetika Bayi China Dikecam Sebagai &quot;Pemalsuan yang Disengaja&quot;</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/04/18/2137765/laporan-bocor-penelitian-rekayasa-genetika-bayi-china-dikecam-sebagai-pemalsuan-yang-disengaja</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/12/04/18/2137765/laporan-bocor-penelitian-rekayasa-genetika-bayi-china-dikecam-sebagai-pemalsuan-yang-disengaja</guid><pubDate>Rabu 04 Desember 2019 11:25 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/12/04/18/2137765/laporan-bocor-penelitian-rekayasa-genetika-bayi-china-dikecam-sebagai-pemalsuan-yang-disengaja-qQOEzSidFx.jpg" expression="full" type="image/jpeg">He Jiankui, ilmuwan yang melakukan eksperimen rekayasa genetika pada bayi kembar di China. (Foto: AFP)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/12/04/18/2137765/laporan-bocor-penelitian-rekayasa-genetika-bayi-china-dikecam-sebagai-pemalsuan-yang-disengaja-qQOEzSidFx.jpg</image><title>He Jiankui, ilmuwan yang melakukan eksperimen rekayasa genetika pada bayi kembar di China. (Foto: AFP)</title></images><description>EKSPERIMEN genetik yang kontroversial untuk membuat bayi kembar China kebal terhadap HIV telah memunculkan kemarahan baru setelah dirilisnya laporan penelitian asli dari eksperimen tersebut. Para ilmuwan menuduh bahwa penelitian itu telah gagal memenuhi tujuannya dan mengabaikan etika dasar.
Jurnal MIT Technology Review pada Selasa menerbitkan sebagian dari dua makalah penelitian yang sebelumnya belum pernah dilihat, terutama yang ditulis oleh ahli biofisika China He Jiankui, yang tahun lalu berusaha menggunakan teknologi penyuntingan DNA CRISPR untuk mengimunisasi bayi kembar - Lulu dan Nana &amp;ndash; agar kebal terhadap HIV.
BACA JUGA: Banyak Dikecam, China Hentikan Penelitian Bayi Hasil Rekayasa Genetika
Meski klaim He tentang apa yang dilakukan dalam penelitiannya sebelumnya telah mengundang sorotan, gelombang kritik baru muncul menyusul publikasi jurnal yang diperoleh MIT dari sumber yang tidak disebutkan namanya. Salah satu keluhan utama adalah bahwa percobaannya yang dilakukan He tidak mencapai tujuan utamanya: menghasilkan mutasi pada gen CCR5 yang akan menciptakan resistensi terhadap HIV.
Klaim bahwa mereka mereproduksi varian CCR5 yang lazim adalah pernyataan yang keliru dari data aktual dan hanya dapat dijelaskan dengan satu istilah: pemalsuan yang disengaja,&amp;rdquo; kata Fyodor Urnov, seorang ahli genetika di Innovative Genomics Institute kepada Technology Review, sebagaimana dilansir RT, Rabu (4/12/2019).
&amp;ldquo;Studi ini menunjukkan bahwa tim peneliti malah gagal mereproduksi varian CCR5 yang lazim.&amp;rdquo;
Urnov menambahkan bahwa klaim He yang menyatakan &quot;penyuntingan embrio akan membantu jutaan orang&quot; juga &quot;bagian yang delusional dan keterlaluan&quot;. Dia membandingkannya dengan gagasan bahwa pendaratan Apollo 11 dan berjalannya Neil Armstrong di bulan pada 1969 membawa &quot;harapan&quot; bagi mereka yang ingin tinggal di bulan.
Penggunaan CRISPR untuk memodifikasi DNA dalam embrio manusia sebagian besar merupakan wilayah yang belum pernah dijelajahi, dan efek jangka panjang pada Lulu dan Nana tetap tidak jelas. Ada beberapa prediksi bahwa bayi kembar itu akan mengalami mulai dari pengurangan umur dan komplikasi kesehatan lainnya hingga peningkatan kognisi dan peningkatan mental.


Mutasi  yang tidak disengaja dari penelitian He itu juga berisiko  menimbulkan efek yang tidak diinginkan, yang menurut Urnov hanya dapat  dideteksi dengan menghancurkan embrio untuk memeriksa setiap sel.  Ketidakpastian itu sendiri menghadirkan tantangan etis untuk  dilakukannya percobaan tersebut.
&quot;Sayangnya, (penelitian itu) lebih mirip percobaan dalam mencari  tujuan, upaya untuk menemukan alasan yang dapat dipertahankan untuk  menggunakan teknologi CRISPR dalam embrio manusia dengan segala cara,&quot;  kata Rita Vassena, direktur ilmiah di Eugin Group yang berbasis di  Barcelona.
BACA JUGA: Ilmuwan Pengubah Gen China, He Jinkui Dilaporkan Hilang Sepekan Terakhir
Para ilmuwan mencatat masalah etika potensial lainnya dalam  penelitian He, mengamati bahwa orang tua Lulu dan Nana termasuk dalam  &quot;kelompok pasien yang rentan&quot; karena ayah mereka yang menderita  HIV-positif, yang membawa stigma kuat di China dan mungkin telah  menghalangi pasangan itu untuk menerima pengobatan kesuburan.
Sampai saat ini, tidak ada jurnal yang setuju untuk memublikasikan  penelitian penyuntingan embrio itu, meskipun He telah mengirimkannya ke  sejumlah publikasi sejak tahun lalu. Sejak karyanya menjadi publik, He  hampir tidak pernah terlihat lagi, bahkan mungkin menghadapi dampak  hukum di China karena eksperimennya yang kontroversial itu.</description><content:encoded>EKSPERIMEN genetik yang kontroversial untuk membuat bayi kembar China kebal terhadap HIV telah memunculkan kemarahan baru setelah dirilisnya laporan penelitian asli dari eksperimen tersebut. Para ilmuwan menuduh bahwa penelitian itu telah gagal memenuhi tujuannya dan mengabaikan etika dasar.
Jurnal MIT Technology Review pada Selasa menerbitkan sebagian dari dua makalah penelitian yang sebelumnya belum pernah dilihat, terutama yang ditulis oleh ahli biofisika China He Jiankui, yang tahun lalu berusaha menggunakan teknologi penyuntingan DNA CRISPR untuk mengimunisasi bayi kembar - Lulu dan Nana &amp;ndash; agar kebal terhadap HIV.
BACA JUGA: Banyak Dikecam, China Hentikan Penelitian Bayi Hasil Rekayasa Genetika
Meski klaim He tentang apa yang dilakukan dalam penelitiannya sebelumnya telah mengundang sorotan, gelombang kritik baru muncul menyusul publikasi jurnal yang diperoleh MIT dari sumber yang tidak disebutkan namanya. Salah satu keluhan utama adalah bahwa percobaannya yang dilakukan He tidak mencapai tujuan utamanya: menghasilkan mutasi pada gen CCR5 yang akan menciptakan resistensi terhadap HIV.
Klaim bahwa mereka mereproduksi varian CCR5 yang lazim adalah pernyataan yang keliru dari data aktual dan hanya dapat dijelaskan dengan satu istilah: pemalsuan yang disengaja,&amp;rdquo; kata Fyodor Urnov, seorang ahli genetika di Innovative Genomics Institute kepada Technology Review, sebagaimana dilansir RT, Rabu (4/12/2019).
&amp;ldquo;Studi ini menunjukkan bahwa tim peneliti malah gagal mereproduksi varian CCR5 yang lazim.&amp;rdquo;
Urnov menambahkan bahwa klaim He yang menyatakan &quot;penyuntingan embrio akan membantu jutaan orang&quot; juga &quot;bagian yang delusional dan keterlaluan&quot;. Dia membandingkannya dengan gagasan bahwa pendaratan Apollo 11 dan berjalannya Neil Armstrong di bulan pada 1969 membawa &quot;harapan&quot; bagi mereka yang ingin tinggal di bulan.
Penggunaan CRISPR untuk memodifikasi DNA dalam embrio manusia sebagian besar merupakan wilayah yang belum pernah dijelajahi, dan efek jangka panjang pada Lulu dan Nana tetap tidak jelas. Ada beberapa prediksi bahwa bayi kembar itu akan mengalami mulai dari pengurangan umur dan komplikasi kesehatan lainnya hingga peningkatan kognisi dan peningkatan mental.


Mutasi  yang tidak disengaja dari penelitian He itu juga berisiko  menimbulkan efek yang tidak diinginkan, yang menurut Urnov hanya dapat  dideteksi dengan menghancurkan embrio untuk memeriksa setiap sel.  Ketidakpastian itu sendiri menghadirkan tantangan etis untuk  dilakukannya percobaan tersebut.
&quot;Sayangnya, (penelitian itu) lebih mirip percobaan dalam mencari  tujuan, upaya untuk menemukan alasan yang dapat dipertahankan untuk  menggunakan teknologi CRISPR dalam embrio manusia dengan segala cara,&quot;  kata Rita Vassena, direktur ilmiah di Eugin Group yang berbasis di  Barcelona.
BACA JUGA: Ilmuwan Pengubah Gen China, He Jinkui Dilaporkan Hilang Sepekan Terakhir
Para ilmuwan mencatat masalah etika potensial lainnya dalam  penelitian He, mengamati bahwa orang tua Lulu dan Nana termasuk dalam  &quot;kelompok pasien yang rentan&quot; karena ayah mereka yang menderita  HIV-positif, yang membawa stigma kuat di China dan mungkin telah  menghalangi pasangan itu untuk menerima pengobatan kesuburan.
Sampai saat ini, tidak ada jurnal yang setuju untuk memublikasikan  penelitian penyuntingan embrio itu, meskipun He telah mengirimkannya ke  sejumlah publikasi sejak tahun lalu. Sejak karyanya menjadi publik, He  hampir tidak pernah terlihat lagi, bahkan mungkin menghadapi dampak  hukum di China karena eksperimennya yang kontroversial itu.</content:encoded></item></channel></rss>
