<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Perempuan Ini Dihidupkan Kembali Setelah Jantungnya Berhenti Selama Enam Jam</title><description>Dokter menduga nyawa Audrey selamat karena dia mengalami hipotermia.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/06/18/2138773/perempuan-ini-dihidupkan-kembali-setelah-jantungnya-berhenti-selama-enam-jam</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/12/06/18/2138773/perempuan-ini-dihidupkan-kembali-setelah-jantungnya-berhenti-selama-enam-jam"/><item><title>Perempuan Ini Dihidupkan Kembali Setelah Jantungnya Berhenti Selama Enam Jam</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/06/18/2138773/perempuan-ini-dihidupkan-kembali-setelah-jantungnya-berhenti-selama-enam-jam</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/12/06/18/2138773/perempuan-ini-dihidupkan-kembali-setelah-jantungnya-berhenti-selama-enam-jam</guid><pubDate>Jum'at 06 Desember 2019 15:20 WIB</pubDate><dc:creator>Rahman Asmardika</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/12/06/18/2138773/perempuan-ini-dihidupkan-kembali-setelah-jantungnya-berhenti-selama-enam-jam-6x6ObyvJi7.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Audrey Schoeman dihidupkan kembali setelah jantungnya berhenti berdetak selama enam jam. (Foto: Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/12/06/18/2138773/perempuan-ini-dihidupkan-kembali-setelah-jantungnya-berhenti-selama-enam-jam-6x6ObyvJi7.jpg</image><title>Audrey Schoeman dihidupkan kembali setelah jantungnya berhenti berdetak selama enam jam. (Foto: Reuters)</title></images><description>BARCELONA - Seorang perempuan Inggris yang jantungnya berhenti berdetak selama enam jam telah behasil dihidupkan kembali dalam apa yang oleh dokter digambarkan sebagai &quot;kasus luar biasa&quot;.
Audrey Schoeman menderita hipotermia parah ketika dia terjebak dalam badai salju saat mendaki Pegunungan Pyrenees Spanyol bersama suaminya pada November. Dokter mengatakan itu adalah serangan jantung terpanjang yang pernah tercatat di Spanyol.
Setelah hampir pulih secara penuh setelah kejadian itu, Audrey mengatakan dia berharap untuk mendaki lagi pada musim semi.
Perempuan berusia 34 tahun, yang tinggal di Barcelona itu, mulai mengalami kesulitan berbicara dan bergerak selama cuaca buruk di Pyrenees, kemudian jatuh pingsan. Kondisinya memburuk saat menunggu layanan darurat dan suaminya Rohan percaya dia sudah meninggal dunia.
&quot;Saya mencoba merasakan denyut nadi ... Saya tidak bisa merasakan napas, Saya tidak bisa merasakan detak jantung,&quot; kata Rohan Schoeman dalam konferensi pers pada Kamis, sebagaimana dilansir BBC.
Ketika tim penyelamat tiba dua jam kemudian, suhu tubuh Audrey Schoeman turun menjadi 18C.

Foto: BBC.
Setibanya di Rumah Sakit Vall d'Hebron Barcelona, dia sudah tidak memiliki tanda-tanda vital. Tetapi, menurut Dokter Eduard Argudo suhu gunung yang rendah yang membuat Audrey sakit juga membantu menyelamatkan hidupnya.
&quot;Dia tampak seolah-olah dia sudah mati,&quot; kata dokter itu dalam sebuah pernyataan.
&quot;Tapi kita tahu bahwa, dalam konteks hipotermia, Audrey punya peluang untuk selamat.&quot;
Argudo mengatakan bahwa hipotermia telah melindungi tubuh dan otaknya agar tidak memburuk saat tidak sadarkan diri, meskipun kondisi itu juga membawanya ke ambang kematian.
&quot;Jika dia dalam serangan jantung selama ini pada suhu tubuh normal, dia akan mati,&quot; tambahnya.
Dalam perlombaan melawan waktu, dokter yang merawat Audrey beralih ke mesin khusus yang mampu mengeluarkan darah, memasukkannya dengan oksigen dan memasukkannya kembali ke pasien.
Setelah suhu tubuhnya mencapai 30 derajat Celcius, mereka menggunakan defibrillator untuk &amp;ldquo;menyalakan&amp;rdquo; jantung perempuan itu, sekira enam jam setelah layanan darurat dihubungi.


Audrey diizinkan pulang dari rumah sakit 12 hari kemudian, dengan  hanya beberapa masalah yang masih ada dengan mobilitas dan kepekaan  tangannya karena hipotermia.
&quot;Kami sangat khawatir tentang kerusakan neurologis,&quot; tambah Argudo.
&quot;Mengingat hampir tidak ada kasus orang yang jantungnya sudah begitu lama berhenti dan dihidupkan kembali.&quot;
Berbicara setelah pemulihannya, Audrey Schoeman mengatakan dia tidak memiliki ingatan selama enam jam di mana dia &amp;ldquo;meninggal&amp;rdquo;.
&quot;Saya tidak benar-benar tahu apa yang sedang terjadi pada hari  pertama atau kedua saya bahwa saya terbangun dalam perawatan intensif,&quot;  katanya.
&quot;Tapi, sejak itu, saya sudah mencoba membaca lebih banyak, jelas  belajar lebih banyak tentang hipotermia dan rasanya sungguh luar biasa  karena saya selamat darinya.&quot;
Audrey mengatakan dia beruntung masih hidup dan memberikan hadiah kepada staf rumah sakit.
&quot;Ini seperti keajaiban, hanya saja semua itu terjadi karena para  dokter,&quot; katanya. Dia menambahkan bahwa kemungkinan dia tidak akan  kembali ke pegunungan musim dingin ini.
&quot;Tapi saya harap di musim semi kita bisa mulai hiking lagi. Saya tidak ingin kejadian ini menghilangkan hobi saya,&quot; ujarnya.</description><content:encoded>BARCELONA - Seorang perempuan Inggris yang jantungnya berhenti berdetak selama enam jam telah behasil dihidupkan kembali dalam apa yang oleh dokter digambarkan sebagai &quot;kasus luar biasa&quot;.
Audrey Schoeman menderita hipotermia parah ketika dia terjebak dalam badai salju saat mendaki Pegunungan Pyrenees Spanyol bersama suaminya pada November. Dokter mengatakan itu adalah serangan jantung terpanjang yang pernah tercatat di Spanyol.
Setelah hampir pulih secara penuh setelah kejadian itu, Audrey mengatakan dia berharap untuk mendaki lagi pada musim semi.
Perempuan berusia 34 tahun, yang tinggal di Barcelona itu, mulai mengalami kesulitan berbicara dan bergerak selama cuaca buruk di Pyrenees, kemudian jatuh pingsan. Kondisinya memburuk saat menunggu layanan darurat dan suaminya Rohan percaya dia sudah meninggal dunia.
&quot;Saya mencoba merasakan denyut nadi ... Saya tidak bisa merasakan napas, Saya tidak bisa merasakan detak jantung,&quot; kata Rohan Schoeman dalam konferensi pers pada Kamis, sebagaimana dilansir BBC.
Ketika tim penyelamat tiba dua jam kemudian, suhu tubuh Audrey Schoeman turun menjadi 18C.

Foto: BBC.
Setibanya di Rumah Sakit Vall d'Hebron Barcelona, dia sudah tidak memiliki tanda-tanda vital. Tetapi, menurut Dokter Eduard Argudo suhu gunung yang rendah yang membuat Audrey sakit juga membantu menyelamatkan hidupnya.
&quot;Dia tampak seolah-olah dia sudah mati,&quot; kata dokter itu dalam sebuah pernyataan.
&quot;Tapi kita tahu bahwa, dalam konteks hipotermia, Audrey punya peluang untuk selamat.&quot;
Argudo mengatakan bahwa hipotermia telah melindungi tubuh dan otaknya agar tidak memburuk saat tidak sadarkan diri, meskipun kondisi itu juga membawanya ke ambang kematian.
&quot;Jika dia dalam serangan jantung selama ini pada suhu tubuh normal, dia akan mati,&quot; tambahnya.
Dalam perlombaan melawan waktu, dokter yang merawat Audrey beralih ke mesin khusus yang mampu mengeluarkan darah, memasukkannya dengan oksigen dan memasukkannya kembali ke pasien.
Setelah suhu tubuhnya mencapai 30 derajat Celcius, mereka menggunakan defibrillator untuk &amp;ldquo;menyalakan&amp;rdquo; jantung perempuan itu, sekira enam jam setelah layanan darurat dihubungi.


Audrey diizinkan pulang dari rumah sakit 12 hari kemudian, dengan  hanya beberapa masalah yang masih ada dengan mobilitas dan kepekaan  tangannya karena hipotermia.
&quot;Kami sangat khawatir tentang kerusakan neurologis,&quot; tambah Argudo.
&quot;Mengingat hampir tidak ada kasus orang yang jantungnya sudah begitu lama berhenti dan dihidupkan kembali.&quot;
Berbicara setelah pemulihannya, Audrey Schoeman mengatakan dia tidak memiliki ingatan selama enam jam di mana dia &amp;ldquo;meninggal&amp;rdquo;.
&quot;Saya tidak benar-benar tahu apa yang sedang terjadi pada hari  pertama atau kedua saya bahwa saya terbangun dalam perawatan intensif,&quot;  katanya.
&quot;Tapi, sejak itu, saya sudah mencoba membaca lebih banyak, jelas  belajar lebih banyak tentang hipotermia dan rasanya sungguh luar biasa  karena saya selamat darinya.&quot;
Audrey mengatakan dia beruntung masih hidup dan memberikan hadiah kepada staf rumah sakit.
&quot;Ini seperti keajaiban, hanya saja semua itu terjadi karena para  dokter,&quot; katanya. Dia menambahkan bahwa kemungkinan dia tidak akan  kembali ke pegunungan musim dingin ini.
&quot;Tapi saya harap di musim semi kita bisa mulai hiking lagi. Saya tidak ingin kejadian ini menghilangkan hobi saya,&quot; ujarnya.</content:encoded></item></channel></rss>
