<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menag Sebut Kini Masyarakat Belajar Agama dari Medsos</title><description>Banyak masyarakat yang kini tak lagi belajar agama dari kiai atau ustadz, tapi lewat medsos.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/12/337/2141215/menag-sebut-kini-masyarakat-belajar-agama-dari-medsos</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/12/12/337/2141215/menag-sebut-kini-masyarakat-belajar-agama-dari-medsos"/><item><title>Menag Sebut Kini Masyarakat Belajar Agama dari Medsos</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/12/337/2141215/menag-sebut-kini-masyarakat-belajar-agama-dari-medsos</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/12/12/337/2141215/menag-sebut-kini-masyarakat-belajar-agama-dari-medsos</guid><pubDate>Kamis 12 Desember 2019 18:44 WIB</pubDate><dc:creator>Kuntadi</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/12/12/337/2141215/menteri-agama-sebut-kini-masyarakat-belajar-agama-dari-medsos-4WVlGskHi8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Menteri Agama Fachrul Razi. (Foto : Okezone.com/Dede Kurniawan)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/12/12/337/2141215/menteri-agama-sebut-kini-masyarakat-belajar-agama-dari-medsos-4WVlGskHi8.jpg</image><title>Menteri Agama Fachrul Razi. (Foto : Okezone.com/Dede Kurniawan)</title></images><description>SLEMAN &amp;ndash; Menteri Agama Fachrul Razi menyoroti perkembangan teknologi yang rawan terjadi penyimpangan, khususnya dalam kaitan agama. Menyusul pola pendidikan yang tidak benar dari generasi milenial yang banyak belajar dari media sosial. Kalangan akademisi di bawah Kementerian Agama (Kemenag) harus mampu mengedukasi umat beragama  dengan berwawasan kebangsaan.
Menteri Agama (Menag) menjelaskan dalam era desrupsi 4.0, telah diikuti perubahan yang sangat pesat di semua bidang, yang berpengaruh sangat cepat dan luas di berbagai bidang. Pola pikir masyarakat, terutama generasi milenial, perlu diluruskan. Mereka belajar banyak bukan dari guru, ustadz atau kiai ataupun belajar dari buku. Tetapi, pemahaman mereka lebih banyak dipengaruhi dari medsos.
&amp;ldquo;Pola pikir masyarakat dipengaruhi medsos, dalam hal agama juga seperti itu,&amp;rdquo; kata Fachrul di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta, Kamis (12/12/2019).
Pemahaman keagamaan yang tidak komprehensif, kata dia, membuat mereka seakan lebih tahu dari orang yang belajar agama dari kecil di pesantren. Perbedaan pandangan semakin sering terjadi dikarenakan kebebasan menyampaikan dan menerima pandangan dan pemikiran di medsos terbuka lebar.

&amp;ldquo;Kementerian Agama untuk terus menggelorakan moderasi beragama, dengan memanfaatkan kemajuan teknologi digital dengan cerdas,&amp;rdquo; ujarnya.
Dengan penguatan identitas keislaman, jajaran Kemenag harus bisa menguatkan identitas keislaman. Semuanya harus bisa menyampaikan ayat dan hadis dengan tekstual yang benar, termasuk menjabarkan makna kontekstual yang terkandung di dalamnya.Selain itu, Kemenag harus menjunjung tinggi toleransi dan tenggang  rasa. Tidak perlu mengedepankan perdebatan dalam menyampaikan pemahaman  keagamaan. Cukup menyampaikan tekstual dan kontektualnya dengan  argumentasi fiqih dan logika yang tepat.
&amp;ldquo;Harus disadari bahwa yang membaca bukan hanya umat muslim,&amp;rdquo; katanya.
Fachrul juga mengajak jajarannya untuk melaksanakan setiap program  kerja dan aturan-aturan kedinasan. Mereka harus bisa menjadi contoh bagi  kementerian lain. Kejujuran, keterbukaan, dan pelayanan yang  sebaik-baiknya harus dijunjung tinggi.
Kunjungan Menag ke Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, disambut  Rektor Yudian Wahyudi, para wakil rektor, dekan dan dari fakultas.
Baca Juga : Menteri Agama Berkukuh Tak Akan Cabut PMA Majelis Taklim 
&amp;ldquo;Kami selalu menekankan kepada seluruh sivitas akademika, bahkan  kepada masyarakat luas untuk selalu bersyukur hidup di bumi Indonesia  yang merdeka dan bersatu dalam pluralitas,&amp;rdquo; ujar Yudian.
Semua warga negara, kata dia, mempunyai hak dan kesempatan yang sama  untuk menjadi pemimpin di negeri ini tanpa membedakan agama dan ras.  Semua memiliki kesempatan yang sama untuk bertanding menentukan siapa  yang paling unggul menduduki posisi pemimpin di semua bidang, bahkan  sebagai presiden.
Baca Juga : Survei Kemenag: Indeks Kerukunan Umat Meningkat di 2019</description><content:encoded>SLEMAN &amp;ndash; Menteri Agama Fachrul Razi menyoroti perkembangan teknologi yang rawan terjadi penyimpangan, khususnya dalam kaitan agama. Menyusul pola pendidikan yang tidak benar dari generasi milenial yang banyak belajar dari media sosial. Kalangan akademisi di bawah Kementerian Agama (Kemenag) harus mampu mengedukasi umat beragama  dengan berwawasan kebangsaan.
Menteri Agama (Menag) menjelaskan dalam era desrupsi 4.0, telah diikuti perubahan yang sangat pesat di semua bidang, yang berpengaruh sangat cepat dan luas di berbagai bidang. Pola pikir masyarakat, terutama generasi milenial, perlu diluruskan. Mereka belajar banyak bukan dari guru, ustadz atau kiai ataupun belajar dari buku. Tetapi, pemahaman mereka lebih banyak dipengaruhi dari medsos.
&amp;ldquo;Pola pikir masyarakat dipengaruhi medsos, dalam hal agama juga seperti itu,&amp;rdquo; kata Fachrul di kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta, Kamis (12/12/2019).
Pemahaman keagamaan yang tidak komprehensif, kata dia, membuat mereka seakan lebih tahu dari orang yang belajar agama dari kecil di pesantren. Perbedaan pandangan semakin sering terjadi dikarenakan kebebasan menyampaikan dan menerima pandangan dan pemikiran di medsos terbuka lebar.

&amp;ldquo;Kementerian Agama untuk terus menggelorakan moderasi beragama, dengan memanfaatkan kemajuan teknologi digital dengan cerdas,&amp;rdquo; ujarnya.
Dengan penguatan identitas keislaman, jajaran Kemenag harus bisa menguatkan identitas keislaman. Semuanya harus bisa menyampaikan ayat dan hadis dengan tekstual yang benar, termasuk menjabarkan makna kontekstual yang terkandung di dalamnya.Selain itu, Kemenag harus menjunjung tinggi toleransi dan tenggang  rasa. Tidak perlu mengedepankan perdebatan dalam menyampaikan pemahaman  keagamaan. Cukup menyampaikan tekstual dan kontektualnya dengan  argumentasi fiqih dan logika yang tepat.
&amp;ldquo;Harus disadari bahwa yang membaca bukan hanya umat muslim,&amp;rdquo; katanya.
Fachrul juga mengajak jajarannya untuk melaksanakan setiap program  kerja dan aturan-aturan kedinasan. Mereka harus bisa menjadi contoh bagi  kementerian lain. Kejujuran, keterbukaan, dan pelayanan yang  sebaik-baiknya harus dijunjung tinggi.
Kunjungan Menag ke Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, disambut  Rektor Yudian Wahyudi, para wakil rektor, dekan dan dari fakultas.
Baca Juga : Menteri Agama Berkukuh Tak Akan Cabut PMA Majelis Taklim 
&amp;ldquo;Kami selalu menekankan kepada seluruh sivitas akademika, bahkan  kepada masyarakat luas untuk selalu bersyukur hidup di bumi Indonesia  yang merdeka dan bersatu dalam pluralitas,&amp;rdquo; ujar Yudian.
Semua warga negara, kata dia, mempunyai hak dan kesempatan yang sama  untuk menjadi pemimpin di negeri ini tanpa membedakan agama dan ras.  Semua memiliki kesempatan yang sama untuk bertanding menentukan siapa  yang paling unggul menduduki posisi pemimpin di semua bidang, bahkan  sebagai presiden.
Baca Juga : Survei Kemenag: Indeks Kerukunan Umat Meningkat di 2019</content:encoded></item></channel></rss>
