<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>PP Muhammadiyah Jawab Pemberitaan Media AS soal Muslim Uighur</title><description>Ketua PP Muhamadiyah menegaskan Muhammadiyah atau MUI sangat mengutuk keras sikap dan tindakan pemerintah China terhadap umat Islam Uighur</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/13/337/2141495/pp-muhammadiyah-jawab-pemberitaan-media-as-soal-muslim-uighur</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/12/13/337/2141495/pp-muhammadiyah-jawab-pemberitaan-media-as-soal-muslim-uighur"/><item><title>PP Muhammadiyah Jawab Pemberitaan Media AS soal Muslim Uighur</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/13/337/2141495/pp-muhammadiyah-jawab-pemberitaan-media-as-soal-muslim-uighur</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/12/13/337/2141495/pp-muhammadiyah-jawab-pemberitaan-media-as-soal-muslim-uighur</guid><pubDate>Jum'at 13 Desember 2019 14:00 WIB</pubDate><dc:creator>Harits Tryan Akhmad</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/12/13/337/2141495/pp-muhammadiyah-jawab-isu-disebut-bungkam-soal-muslim-uighur-vR4el1eKnJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Muslim Uighur (Foto: BBC)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/12/13/337/2141495/pp-muhammadiyah-jawab-isu-disebut-bungkam-soal-muslim-uighur-vR4el1eKnJ.jpg</image><title>Muslim Uighur (Foto: BBC)</title></images><description>JAKARTA - Ketua PP Muhammadiyah yang juga Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas menepis isi berita ditulisan Media Wall Street Journal (WAJ) yang dimana menyebut pihaknya bungkam terkait masalah Muslim minoritas Uighur di Xianjiang lantaran sudah dibujuk China.
&amp;ldquo;China menyuap MUI, NU dan Muhamadiyah? Bagaimana caranya mereka menyuap ketiga organisasi tersebut? Apakah dengan mengundang  tokoh-tokoh dari ketiga ormas tersebut ke Uighur China, lalu ketiga ormas itu akan melemah kepada pemerintah China ? Tidak,&amp;rdquo; tegas Anwar kepada Okezone di Jakarta, Jumat (13/12/2019).
Karena itu, Anwar menegaskan baik Muhammadiyah ataupun MUI sangat mengutuk keras sikap dan tindakan pemerintah China terhadap umat Islam Uighur.
&amp;ldquo;Kalau yang dilakukan pemerintah China itu baik kita dukung. Tapi kalau pemerintah China itu berbuat zhalim kepada rakyat Uighur maka sikap dari ormas-ormas Islam dalam hal ini MUI dan Muhammadiyah sudah jelas yaitu kita tidak akan membiarkan,&amp;rdquo; katanya.
(Foto: Ilustrasi Warga Muslim Uighur di China)
Baca Juga: Media AS Sebut China Bujuk Dua Ormas Islam Indonesia agar Bungkam soal Muslim Uighur
Lebih lanjut, dia mengatakan selama pemerintah China masih tak menghargai hak-hak beragama dari rakyat  Uighur, selama itulah Muhammadiyah dan MUI bakal menentang dan tak bakal datang kesana.
&amp;ldquo;Meskipun 1000 kali pemerintah China mengundang MUI dan Muhammadiyah  untuk datang ke China. Maka selama pemerintah China tidak bisa menghormati hak-hak beragama dari rakyat Uighur maka MUI dan Mihammadiyah akan tetap bersuara dengan lantang melawannya,&amp;rdquo; ucap Anwar.Diketahui sebelumnya, Media Wall Street Journal (WSJ) yang berbasis  di New York, Amerika Serikat melaporkan dua organisasi massa (ormas)  Islam terbesar di Indonesia dibujuk China agar bungkam terkait masalah  Muslim minoritas Uighur di Xinjiang.
Para pakar dan kelompok hak  asasi manusia PBB memperkirakan lebih dari satu juta warga Uighur dan  anggota kelompok etnis lainnya telah ditahan di kamp-kamp penahanan di  Xinjiang, yang disebut China sebagai kamp pendidikan ulang.
Laporan  WSJ, Rabu 11 Desember 2019, menyebutkan para pemimpin Muhammadiyah,  mengeluarkan surat terbuka pada bulan Desember 2018 yang mencatat  laporan kekerasan terhadap komunitas Uighur yang &amp;ldquo;lemah dan tidak  bersalah&amp;rdquo;, yang sebagian besar Muslim, dan meminta penjelasan China.</description><content:encoded>JAKARTA - Ketua PP Muhammadiyah yang juga Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas menepis isi berita ditulisan Media Wall Street Journal (WAJ) yang dimana menyebut pihaknya bungkam terkait masalah Muslim minoritas Uighur di Xianjiang lantaran sudah dibujuk China.
&amp;ldquo;China menyuap MUI, NU dan Muhamadiyah? Bagaimana caranya mereka menyuap ketiga organisasi tersebut? Apakah dengan mengundang  tokoh-tokoh dari ketiga ormas tersebut ke Uighur China, lalu ketiga ormas itu akan melemah kepada pemerintah China ? Tidak,&amp;rdquo; tegas Anwar kepada Okezone di Jakarta, Jumat (13/12/2019).
Karena itu, Anwar menegaskan baik Muhammadiyah ataupun MUI sangat mengutuk keras sikap dan tindakan pemerintah China terhadap umat Islam Uighur.
&amp;ldquo;Kalau yang dilakukan pemerintah China itu baik kita dukung. Tapi kalau pemerintah China itu berbuat zhalim kepada rakyat Uighur maka sikap dari ormas-ormas Islam dalam hal ini MUI dan Muhammadiyah sudah jelas yaitu kita tidak akan membiarkan,&amp;rdquo; katanya.
(Foto: Ilustrasi Warga Muslim Uighur di China)
Baca Juga: Media AS Sebut China Bujuk Dua Ormas Islam Indonesia agar Bungkam soal Muslim Uighur
Lebih lanjut, dia mengatakan selama pemerintah China masih tak menghargai hak-hak beragama dari rakyat  Uighur, selama itulah Muhammadiyah dan MUI bakal menentang dan tak bakal datang kesana.
&amp;ldquo;Meskipun 1000 kali pemerintah China mengundang MUI dan Muhammadiyah  untuk datang ke China. Maka selama pemerintah China tidak bisa menghormati hak-hak beragama dari rakyat Uighur maka MUI dan Mihammadiyah akan tetap bersuara dengan lantang melawannya,&amp;rdquo; ucap Anwar.Diketahui sebelumnya, Media Wall Street Journal (WSJ) yang berbasis  di New York, Amerika Serikat melaporkan dua organisasi massa (ormas)  Islam terbesar di Indonesia dibujuk China agar bungkam terkait masalah  Muslim minoritas Uighur di Xinjiang.
Para pakar dan kelompok hak  asasi manusia PBB memperkirakan lebih dari satu juta warga Uighur dan  anggota kelompok etnis lainnya telah ditahan di kamp-kamp penahanan di  Xinjiang, yang disebut China sebagai kamp pendidikan ulang.
Laporan  WSJ, Rabu 11 Desember 2019, menyebutkan para pemimpin Muhammadiyah,  mengeluarkan surat terbuka pada bulan Desember 2018 yang mencatat  laporan kekerasan terhadap komunitas Uighur yang &amp;ldquo;lemah dan tidak  bersalah&amp;rdquo;, yang sebagian besar Muslim, dan meminta penjelasan China.</content:encoded></item></channel></rss>
