<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ketua MPR: Pola Pikir Intoleran Menyusup ke Pendidikan Dasar hingga Universitas</title><description>Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengungkapkan, sekitar 23 persen penduduk Indonesia menolak eksistensi ideologi Pancasila</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/15/337/2142086/ketua-mpr-pola-pikir-intoleran-menyusup-ke-pendidikan-dasar-hingga-universitas</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/12/15/337/2142086/ketua-mpr-pola-pikir-intoleran-menyusup-ke-pendidikan-dasar-hingga-universitas"/><item><title>Ketua MPR: Pola Pikir Intoleran Menyusup ke Pendidikan Dasar hingga Universitas</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/15/337/2142086/ketua-mpr-pola-pikir-intoleran-menyusup-ke-pendidikan-dasar-hingga-universitas</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/12/15/337/2142086/ketua-mpr-pola-pikir-intoleran-menyusup-ke-pendidikan-dasar-hingga-universitas</guid><pubDate>Minggu 15 Desember 2019 10:11 WIB</pubDate><dc:creator>Fahreza Rizky</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/12/15/337/2142086/ketua-mpr-pola-pikir-intoleran-menyusup-ke-pendidikan-dasar-hingga-universitas-4wTfag3l0x.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ketua MPR, Bambang Soesatyo (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/12/15/337/2142086/ketua-mpr-pola-pikir-intoleran-menyusup-ke-pendidikan-dasar-hingga-universitas-4wTfag3l0x.jpg</image><title>Ketua MPR, Bambang Soesatyo (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mendesak pemerintah untuk mulai berupaya memperkuat jiwa kebangsaan, atau yang lazim dikenal dengan ungkapan nation character building.

Penguatan jiwa kebangsaan Indonesia ini relevan menyasar orang muda Indonesia, karena perubahan zaman dan derasnya impor budaya asing menyebabkan sebagian orang muda masa kini nyaris kehilangan jati diri ke-Indonesia-annya.

&quot;Ada indikasi lunturnya jiwa kebangsaan di kalangan orang muda. Ditemukan fakta bahwa sikap dan pola pikir intoleran serta radikalisme sudah menyusup ke satuan pendidikan tingkat dasar hingga atas. Lalu, 10 perguruan tinggi sudah terpapar radikalisme,&quot; kata Bamsoet dalam keterangan pers tertulisnya, Minggu (15/12/2019).

Pada pertengahan Juni 2019, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengungkapkan, sekitar 23 persen penduduk Indonesia menolak eksistensi ideologi Pancasila, dan sembilan persen penduduk Indonesia setuju menggunakan kekerasan untuk mendirikan negara khilafah.



Bamsoet mengingatkan bahwa jiwa kebangsaan Indonesia sudah lama terbentuk dan sudah diwariskan dari generasi ke generasi. Dilandasi spiritualisme dan nasionalisme, lima sila dari Pancasila menjadi pijakan jiwa kebangsaan Indonesia.

Di dalamnya mencakup pembangunan dan pembentukan budi pekerti yang baik, perilaku hidup bermasyarakat yang toleran hingga semangat persaudaraan dengan bangsa lain. Dan karenanya, sejak dahulu kala, dunia mengenal keberagaman warga bangsa Indonesia sebagai komunitas masyarakat yang santun dan toleran.

Namun, generasi orang tua masa kini  tidak sepenuhnya menurunkan  warisan itu kepada anak-cucu atau orang muda Indonesia masa kini,  sehingga mereka menjadi sangat mudah untuk menerima ideologi atau ajaran  sistem nilai yang diimpor dari tempat lain.

&quot;Akibatnya memang fatal, karena sebagian orang muda seperti tidak memiliki jiwa kebangsaan Indonesia itu,&quot; ujarnya.

Apa yang terlihat sekarang ini adalah gejala lunturnya jiwa  kebangsaan Indonesia itu pada sebagian orang muda. Bahkan ada kelompok  yang tidak lagi merasa bangga sebagai orang Indonesia. Semua itu layak  dilihat sebagai sebuah kerusakan. Dan, sudah barang tentu kerusakan itu  harus diperbaiki.

&quot;Sudah ada momentum untuk melakukan perbaikan atas kerusakan itu,  karena dalam lima tahun ke depan, pemerintah akan fokus membangun sumber  daya manusia (SDM) Indonesia. Kemendikbud dan Kemenristek pasti fokus  mendorong anak didik dan mahasiswa untuk membangun kompetensi. Pilihan  ini tidak salah, dan memang sudah seharusnya begitu,&quot; jelasnya.

Namun, karena ada kenyataan bahwa sebagian orang muda nyaris  kehilangan jati diri ke-Indonesia-annya, kedua kementerian itu  diharapkan bisa menyisipkan kurikulum yang menyentuh pembangunan  karakter atau jiwa kebangsaan Indonesia.

&quot;Dengan pendekatan sepert itu, pondasi NKRI akan semakin kokoh di masa depan,&quot; pungkas Bamsoet.
</description><content:encoded>JAKARTA - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mendesak pemerintah untuk mulai berupaya memperkuat jiwa kebangsaan, atau yang lazim dikenal dengan ungkapan nation character building.

Penguatan jiwa kebangsaan Indonesia ini relevan menyasar orang muda Indonesia, karena perubahan zaman dan derasnya impor budaya asing menyebabkan sebagian orang muda masa kini nyaris kehilangan jati diri ke-Indonesia-annya.

&quot;Ada indikasi lunturnya jiwa kebangsaan di kalangan orang muda. Ditemukan fakta bahwa sikap dan pola pikir intoleran serta radikalisme sudah menyusup ke satuan pendidikan tingkat dasar hingga atas. Lalu, 10 perguruan tinggi sudah terpapar radikalisme,&quot; kata Bamsoet dalam keterangan pers tertulisnya, Minggu (15/12/2019).

Pada pertengahan Juni 2019, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengungkapkan, sekitar 23 persen penduduk Indonesia menolak eksistensi ideologi Pancasila, dan sembilan persen penduduk Indonesia setuju menggunakan kekerasan untuk mendirikan negara khilafah.



Bamsoet mengingatkan bahwa jiwa kebangsaan Indonesia sudah lama terbentuk dan sudah diwariskan dari generasi ke generasi. Dilandasi spiritualisme dan nasionalisme, lima sila dari Pancasila menjadi pijakan jiwa kebangsaan Indonesia.

Di dalamnya mencakup pembangunan dan pembentukan budi pekerti yang baik, perilaku hidup bermasyarakat yang toleran hingga semangat persaudaraan dengan bangsa lain. Dan karenanya, sejak dahulu kala, dunia mengenal keberagaman warga bangsa Indonesia sebagai komunitas masyarakat yang santun dan toleran.

Namun, generasi orang tua masa kini  tidak sepenuhnya menurunkan  warisan itu kepada anak-cucu atau orang muda Indonesia masa kini,  sehingga mereka menjadi sangat mudah untuk menerima ideologi atau ajaran  sistem nilai yang diimpor dari tempat lain.

&quot;Akibatnya memang fatal, karena sebagian orang muda seperti tidak memiliki jiwa kebangsaan Indonesia itu,&quot; ujarnya.

Apa yang terlihat sekarang ini adalah gejala lunturnya jiwa  kebangsaan Indonesia itu pada sebagian orang muda. Bahkan ada kelompok  yang tidak lagi merasa bangga sebagai orang Indonesia. Semua itu layak  dilihat sebagai sebuah kerusakan. Dan, sudah barang tentu kerusakan itu  harus diperbaiki.

&quot;Sudah ada momentum untuk melakukan perbaikan atas kerusakan itu,  karena dalam lima tahun ke depan, pemerintah akan fokus membangun sumber  daya manusia (SDM) Indonesia. Kemendikbud dan Kemenristek pasti fokus  mendorong anak didik dan mahasiswa untuk membangun kompetensi. Pilihan  ini tidak salah, dan memang sudah seharusnya begitu,&quot; jelasnya.

Namun, karena ada kenyataan bahwa sebagian orang muda nyaris  kehilangan jati diri ke-Indonesia-annya, kedua kementerian itu  diharapkan bisa menyisipkan kurikulum yang menyentuh pembangunan  karakter atau jiwa kebangsaan Indonesia.

&quot;Dengan pendekatan sepert itu, pondasi NKRI akan semakin kokoh di masa depan,&quot; pungkas Bamsoet.
</content:encoded></item></channel></rss>
