<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Jokowi Harus Cari Sosok Berani Bilang 'Tidak' ke Presiden untuk Jadi Dewas KPK</title><description>Presiden Jokowi diminta belajar dari penunjukan Pansel Capim KPK dalam memilih Dewas KPK.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/17/337/2142763/jokowi-harus-cari-sosok-berani-bilang-tidak-ke-presiden-untuk-jadi-dewas-kpk</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/12/17/337/2142763/jokowi-harus-cari-sosok-berani-bilang-tidak-ke-presiden-untuk-jadi-dewas-kpk"/><item><title>Jokowi Harus Cari Sosok Berani Bilang 'Tidak' ke Presiden untuk Jadi Dewas KPK</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/17/337/2142763/jokowi-harus-cari-sosok-berani-bilang-tidak-ke-presiden-untuk-jadi-dewas-kpk</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/12/17/337/2142763/jokowi-harus-cari-sosok-berani-bilang-tidak-ke-presiden-untuk-jadi-dewas-kpk</guid><pubDate>Selasa 17 Desember 2019 07:20 WIB</pubDate><dc:creator>Arie Dwi Satrio</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/12/17/337/2142763/jokowi-harus-cari-sosok-berani-bilang-tidak-ke-presiden-untuk-jadi-dewas-kpk-D9bvjWPPXH.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Presiden Jokowi (Biro Pers Setpres)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/12/17/337/2142763/jokowi-harus-cari-sosok-berani-bilang-tidak-ke-presiden-untuk-jadi-dewas-kpk-D9bvjWPPXH.jpg</image><title>Presiden Jokowi (Biro Pers Setpres)</title></images><description>JAKARTA &amp;ndash; Presiden Joko Widodo (Jokowi) diminta memilih sosok berintegritas untuk duduk di Dewan Pengawas (Dewas) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Jokowi harus mencari orang yang berani mengatakan &amp;lsquo;tidak&amp;rsquo; ke Presiden, saat ada intervensi atau mencoba mempengaruhi kerja Dewas.
&quot;Harus dicari orang yang mampu mengatakan 'tidak' kepada Presiden, sehingga Dewas tidak menjadi kepanjangan tangan Presiden. Sayangnya sekarang hampir tidak ada,&quot; ujar pakar hukum dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, Chairul Huda kepada Okezone, Selasa (17/12/2019).
Baca juga: Istana: Dewas dan Pimpinan KPK Akan Dilantik Serentak
Dia meminta Jokowi belajar dari penunjukan Panitia Seleksi Calon Pimpinan KPK yang dinilai gagal, karena banyak menuai kritik sebab orang-orang dan keputusannya meloloskan beberapa nama kontroversi dianggap tak sesuai harapan publik.
Kata Chairul, banyak rakyat yang kecewa terhadap kinerja serta integritas Pansel Pimpinan KPK periode 2019-2024.
Sebab, kata Chairul, keputusan Pansel dalam memilih pimpinan lembaga antirasuah banyak diragukan oleh publik. Bahkan, banyak pihak yang menentang pimpinan KPK yang telah diseleksi oleh pansel.
&quot;Lihatlah Pansel KPK, dikira terdiri dari orang-orang independen, tapi kenyataannya banyak masyarakat yang kecewa atas pilihan mereka. Dianggap terkooptasi dengan kepentingan lembaga penegak hukum lain, jadi diragukan pilihan mereka demi penguatan KPK,&quot; tekannya.
Hingga saat ini, belum ada kepastian siapa saja sosok Dewas pilihan Presiden Jokowi. Jokowi masih menutup rapat lima sosok yang akan menjadi Dewas KPK. Jokowi mengatakan, pemilihan Dewas KPK baru sampai proses finalisasi dan belum rampung.
Kepala negara mengaku tidak ingin salah-salah menunjuk sosok Dewas KPK yang berdampak menimbulkan polemik di masyarakat. Ia tidak ingin pilihannya soal sosok Dewas KPK menjadi bahan bullyan masyarakat.
&quot;Melihat satu persatu track recordnya, integritas, semua. Jangan sampai kita keliru kemudian masyarakat ada yang tidak puas dan kemudian di-bully, kasihan,&quot; ujar Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat, 13 Desember 2019.
</description><content:encoded>JAKARTA &amp;ndash; Presiden Joko Widodo (Jokowi) diminta memilih sosok berintegritas untuk duduk di Dewan Pengawas (Dewas) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Jokowi harus mencari orang yang berani mengatakan &amp;lsquo;tidak&amp;rsquo; ke Presiden, saat ada intervensi atau mencoba mempengaruhi kerja Dewas.
&quot;Harus dicari orang yang mampu mengatakan 'tidak' kepada Presiden, sehingga Dewas tidak menjadi kepanjangan tangan Presiden. Sayangnya sekarang hampir tidak ada,&quot; ujar pakar hukum dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, Chairul Huda kepada Okezone, Selasa (17/12/2019).
Baca juga: Istana: Dewas dan Pimpinan KPK Akan Dilantik Serentak
Dia meminta Jokowi belajar dari penunjukan Panitia Seleksi Calon Pimpinan KPK yang dinilai gagal, karena banyak menuai kritik sebab orang-orang dan keputusannya meloloskan beberapa nama kontroversi dianggap tak sesuai harapan publik.
Kata Chairul, banyak rakyat yang kecewa terhadap kinerja serta integritas Pansel Pimpinan KPK periode 2019-2024.
Sebab, kata Chairul, keputusan Pansel dalam memilih pimpinan lembaga antirasuah banyak diragukan oleh publik. Bahkan, banyak pihak yang menentang pimpinan KPK yang telah diseleksi oleh pansel.
&quot;Lihatlah Pansel KPK, dikira terdiri dari orang-orang independen, tapi kenyataannya banyak masyarakat yang kecewa atas pilihan mereka. Dianggap terkooptasi dengan kepentingan lembaga penegak hukum lain, jadi diragukan pilihan mereka demi penguatan KPK,&quot; tekannya.
Hingga saat ini, belum ada kepastian siapa saja sosok Dewas pilihan Presiden Jokowi. Jokowi masih menutup rapat lima sosok yang akan menjadi Dewas KPK. Jokowi mengatakan, pemilihan Dewas KPK baru sampai proses finalisasi dan belum rampung.
Kepala negara mengaku tidak ingin salah-salah menunjuk sosok Dewas KPK yang berdampak menimbulkan polemik di masyarakat. Ia tidak ingin pilihannya soal sosok Dewas KPK menjadi bahan bullyan masyarakat.
&quot;Melihat satu persatu track recordnya, integritas, semua. Jangan sampai kita keliru kemudian masyarakat ada yang tidak puas dan kemudian di-bully, kasihan,&quot; ujar Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat, 13 Desember 2019.
</content:encoded></item></channel></rss>
