<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Anggota Keluarga 'Kuat' Filipina Dinyatakan Bersalah Atas Kasus Pembunuhan 58 Orang</title><description>eluarga Ampatuan, yang menduduki hampir semua jabatan politik di daerah Maguindanao, Filipina selatan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/19/18/2143791/anggota-keluarga-kuat-filipina-dinyatakan-bersalah-atas-kasus-pembunuhan-58-orang</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/12/19/18/2143791/anggota-keluarga-kuat-filipina-dinyatakan-bersalah-atas-kasus-pembunuhan-58-orang"/><item><title>Anggota Keluarga 'Kuat' Filipina Dinyatakan Bersalah Atas Kasus Pembunuhan 58 Orang</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/19/18/2143791/anggota-keluarga-kuat-filipina-dinyatakan-bersalah-atas-kasus-pembunuhan-58-orang</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/12/19/18/2143791/anggota-keluarga-kuat-filipina-dinyatakan-bersalah-atas-kasus-pembunuhan-58-orang</guid><pubDate>Kamis 19 Desember 2019 14:03 WIB</pubDate><dc:creator>Rachmat Fahzry</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/12/19/18/2143791/anggota-keluarga-kuat-filipina-dinyatakan-bersalah-atas-kasus-pembunuhan-58-orang-kmJmDD8lf4.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Datu Amdal Ampatuan, dalang pembantaian 58 orang di Maguindanao, Filipina. (Foto/Reuters)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/12/19/18/2143791/anggota-keluarga-kuat-filipina-dinyatakan-bersalah-atas-kasus-pembunuhan-58-orang-kmJmDD8lf4.jpg</image><title>Datu Amdal Ampatuan, dalang pembantaian 58 orang di Maguindanao, Filipina. (Foto/Reuters)</title></images><description>COTABATO - Sebuah pengadilan di Filipina menyatakan salah seorang anggota keluarga terkuat di Maguindanao, bersalah atas pembantaian terburuk di negara itu.
Pada 2009, sebanyak 58 orang, di antaranya adalah 32 wartawan tewas saat rombongan kendaraan mereka diserang di Maguindanao, Filipina Selatan.
Mengutip BBC, Kamis (19/12/2019) pengadilan memutuskan Datu Andal Ampatuan dan Zaldy Ampatuan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Saudara ketiga keduanya dibebaskan.
Ayah dari dua bersaudara, Andal Ampatuan Sr, yang juga didakwa, meninggal pada 2015 di tahanan.
Ampatuan bersaudara menyangkal semua tuduhan dan mengatakan mereka akan mengajukan banding terhadap putusan.
Pembantaian
Provinsi Maguindanao yang bergolak selama bertahun-tahun telah diperintah oleh keluarga Ampatuan, yang menduduki hampir semua jabatan politik di daerah tersebut.
Namun dalam pemilihan gubernur provinsi, muncul saingan dari keluarga berpengaruh lainnya, yaitu Esmael Mangudadatu.
Pada 23 November 2009, sebuah konvoi kendaraan yang membawa istri, saudara perempuan dan saudara perempuan lainnya berangkat dari daerah Pakudadudad menuju KPU setempat untuk mendaftarkan calon gubernur mereka.
Sekelompok 32 jurnalis dan pekerja media juga hadir di sana untuk memberitakan moment, total 58 orang hadir.
Rombongan dicegat oleh antek yang dikirim oleh anggota klan Ampatuan, dan dibawa ke puncak bukit lalu ditembak. Tubuh mereka ditemukan di kuburan massal.
&quot;Istri saya tertembak 17 kali. Mereka menembak payudaranya, bagian pribadinya. Saya tidak bisa melupakan itu,&quot; kata Mangudadatu, yang kemudian terpilih menjadi gubernur Maguindanao.Para korban sebagian besar adalah kerabat perempuan Mangudadatu dan jurnalis yang meliput berita tersebut.
Tidak ada kerabat laki-laki Mangudadatu yang ikut dalam konvoi, karena mereka takut akan diserang keluarga Ampatuan. Mangudadatu mengatakan dia tidak berpikir wanita akan diserang.
Dalam persidangan, sekira 80 orang termasuk polisi juga juga telah dinyatakan bersalah atas kasus tersebut.
Komite Perlindungan Melindungi Jurnalis Filipina (CPJ) menggambarkan pembantaian itu merupakan peristiwa yang paling mematikan bagi jurnalis dalam sejarah Filipina.
&quot;Para pengamat berpendapat [bahwa] kekuatan keluarga Ampatuan dan jaringan sekutu serta kontaknya yang luas itu sendiri merupakan ancaman bagi persidangan,&quot; kata International Press Institute (IPI).
Menurut IPI, seorang juru bahasa pengadilan berhenti setelah ia diduga diancam oleh para Ampatuan.
Beberapa anggota keluarga almarhum juga dilaporkan mengatakan bahwa ada yang menawarkan mereka uang untuk menarik diri dari kasus ini.</description><content:encoded>COTABATO - Sebuah pengadilan di Filipina menyatakan salah seorang anggota keluarga terkuat di Maguindanao, bersalah atas pembantaian terburuk di negara itu.
Pada 2009, sebanyak 58 orang, di antaranya adalah 32 wartawan tewas saat rombongan kendaraan mereka diserang di Maguindanao, Filipina Selatan.
Mengutip BBC, Kamis (19/12/2019) pengadilan memutuskan Datu Andal Ampatuan dan Zaldy Ampatuan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Saudara ketiga keduanya dibebaskan.
Ayah dari dua bersaudara, Andal Ampatuan Sr, yang juga didakwa, meninggal pada 2015 di tahanan.
Ampatuan bersaudara menyangkal semua tuduhan dan mengatakan mereka akan mengajukan banding terhadap putusan.
Pembantaian
Provinsi Maguindanao yang bergolak selama bertahun-tahun telah diperintah oleh keluarga Ampatuan, yang menduduki hampir semua jabatan politik di daerah tersebut.
Namun dalam pemilihan gubernur provinsi, muncul saingan dari keluarga berpengaruh lainnya, yaitu Esmael Mangudadatu.
Pada 23 November 2009, sebuah konvoi kendaraan yang membawa istri, saudara perempuan dan saudara perempuan lainnya berangkat dari daerah Pakudadudad menuju KPU setempat untuk mendaftarkan calon gubernur mereka.
Sekelompok 32 jurnalis dan pekerja media juga hadir di sana untuk memberitakan moment, total 58 orang hadir.
Rombongan dicegat oleh antek yang dikirim oleh anggota klan Ampatuan, dan dibawa ke puncak bukit lalu ditembak. Tubuh mereka ditemukan di kuburan massal.
&quot;Istri saya tertembak 17 kali. Mereka menembak payudaranya, bagian pribadinya. Saya tidak bisa melupakan itu,&quot; kata Mangudadatu, yang kemudian terpilih menjadi gubernur Maguindanao.Para korban sebagian besar adalah kerabat perempuan Mangudadatu dan jurnalis yang meliput berita tersebut.
Tidak ada kerabat laki-laki Mangudadatu yang ikut dalam konvoi, karena mereka takut akan diserang keluarga Ampatuan. Mangudadatu mengatakan dia tidak berpikir wanita akan diserang.
Dalam persidangan, sekira 80 orang termasuk polisi juga juga telah dinyatakan bersalah atas kasus tersebut.
Komite Perlindungan Melindungi Jurnalis Filipina (CPJ) menggambarkan pembantaian itu merupakan peristiwa yang paling mematikan bagi jurnalis dalam sejarah Filipina.
&quot;Para pengamat berpendapat [bahwa] kekuatan keluarga Ampatuan dan jaringan sekutu serta kontaknya yang luas itu sendiri merupakan ancaman bagi persidangan,&quot; kata International Press Institute (IPI).
Menurut IPI, seorang juru bahasa pengadilan berhenti setelah ia diduga diancam oleh para Ampatuan.
Beberapa anggota keluarga almarhum juga dilaporkan mengatakan bahwa ada yang menawarkan mereka uang untuk menarik diri dari kasus ini.</content:encoded></item></channel></rss>
