<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sopiyah, Ibu yang Tak Kenal Lelah</title><description>Sopiyah (45) di usia yang sudah terbilang cukup senja ini dirinya masih semangat mengais rupiah lewat tumpukan kain yang dijahitnya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/21/337/2144294/sopiyah-ibu-yang-tak-kenal-lelah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/12/21/337/2144294/sopiyah-ibu-yang-tak-kenal-lelah"/><item><title>Sopiyah, Ibu yang Tak Kenal Lelah</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/21/337/2144294/sopiyah-ibu-yang-tak-kenal-lelah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/12/21/337/2144294/sopiyah-ibu-yang-tak-kenal-lelah</guid><pubDate>Sabtu 21 Desember 2019 10:30 WIB</pubDate><dc:creator>Isty Maulidya</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/12/20/337/2144294/sopiyah-ibu-yang-tak-kenal-lelah-kO9Pjs2KoD.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Sopiyah bekerja banting tulang untuk anak (Foto: Okezone/Isty)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/12/20/337/2144294/sopiyah-ibu-yang-tak-kenal-lelah-kO9Pjs2KoD.jpg</image><title>Sopiyah bekerja banting tulang untuk anak (Foto: Okezone/Isty)</title></images><description>TANGERANG - Salah satu peran yang tidak bisa digantikan oleh siapapun adalah menjadi ibu. Perannya tidak sedikit meskipun seringkali diabaikan, namun tugas ibu yang tak mengenal batas waktu menjadikannya sosok yang tangguh. Tugas ibu identik dengan mendidik anak-anak, nyatanya seorang ibu bisa melakukan tugas apa saja termasuk mencari nafkah.

Sopiyah (45) salah satunya, di usia yang sudah terbilang cukup senja ini dirinya masih semangat mengais rupiah lewat tumpukan kain yang dijahitnya. Hal tersebut dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tidak kenal lelah, Sopiyah sudah menjadi tulang punggung keluarga sejak sepuluh tahun yang lalu.

&quot;Sejak suami meninggal, saya kerja sendirian. Kalau dulu waktu suami saya masih sehat, saya di rumah kuli nyuci di rumah orang&quot; jelasnya.

Perempuan yang biasa dipanggil bu Ncop itu bercerita, setelah sang suami lumpuh karena stroke yang dideritanya, Sopiyah mulai banting tulang mencari pekerjaan tambahan untuk membiayai kebutuhan rumah dan biaya berobat suaminya. Saat itu, anak-anaknya masih bersekolah sehingga beban yang ditanggungnya amat berat. Namun hal itu tidak menjadi soal, asal kebutuhan keluarganya tercukupi lelah pun tidak dirasakan.



Selain bekerja sebagai penjahit di salah satu industri baju rumahan di bilangan Periuk, Kota Tangerang, Ncop juga sesekali membantu tetangganya untuk sekedar cuci dan setrika pakaian. Terkadang juga menerima panggilan untuk pijat badan dari tetangganya.

&quot;Ya saya sih kerja apa saja. Kalau ada yang panggil buat cuci saya terima, sekarang juga tetangga suka minta buat kerokan atau urut (pijat)&quot; katanya.

Sopiyah sesekali merasa lelah, kadang dia juga ingin seperti orang tua lainnya yang sudah beristirahat di usia senja. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa selain tetap bekerja. Dua anaknya memang sudah bekerja, namun keadaannya tak jauh berbeda dengan dirinya. Bahkan, anaknya yang pertama masih ikut tinggal dengan dirinya meskipun sudah berkeluarga.

&quot;Mau gimana lagi ya, anak-anak juga masih numpang saya. Kalau saya gak kerja, gimana buat sehari-hari,&quot; jelasnya.

Di singgung soal bantuan, Sopiyah mengaku bahwa dirinya sering  mendapat bantuan saat anak-anaknya masih bersekolah. Bantuan yang  didapat saat itu berupa beasiswa dari sekolah untuk anaknya. Saat itu  anak-anaknya juga sering mendapat bantuan dari berbagai lembaga apalagi  saat hari besar agama islam. Akan banyak bantuan mengalir untuk  anak-anaknya. Namun, sekarang dirinya mengaku sudah jarang mendapatkan  bantuan karena anaknya sudah beranjak dewasa.

&quot;Suami saya meninggal waktu anak-anak masih kecil, banyak yang kasih  santunan anak yatim, SPP sekolah juga dipotong. Tapi sekarang jarang  ada. Paling kalau lebaran,&quot; akunya.

Perayaan hari Ibu menurut Sopiah sama seperti hari-hari biasanya.  Tidak ada yang spesial di setiap tanggal 22 Desember. Dirinya tetap  bangun pagi seperti biasa, lalu menyiapkan sarapan untuk dirinya dan  anak-anak, sesekali juga mengurus cucunya,  setelah itu Sopiyah akan  bekerja sampai sore.

&quot;Biasa saja, gak gimana-gimana. Dari dulu juga begitu, anak-anak juga biasa biasa saja,&quot; jelas Sopiyah.

Sopiyah hanya berharap agar anak-anaknya bisa mandiri dan tidak  bergantung pada dirinya lagi. Ia hanya ingin menikmati masa tuanya  dengan nyaman dan tenang tanpa memikirkan masalah keuangan. Sopiyah juga  berharap semoga apa yang dialaminya saat ini tidak dialami oleh  anak-anaknya.

&quot;Saya maunya sekarang istirahat saja, banyakin ibadah, main sama  cucu. Tapi anak-anak belum mandiri, saya gak bisa lepas begitu saja.  Semoga nanti mereka hari tuanya senang,&quot; tutupnya.


</description><content:encoded>TANGERANG - Salah satu peran yang tidak bisa digantikan oleh siapapun adalah menjadi ibu. Perannya tidak sedikit meskipun seringkali diabaikan, namun tugas ibu yang tak mengenal batas waktu menjadikannya sosok yang tangguh. Tugas ibu identik dengan mendidik anak-anak, nyatanya seorang ibu bisa melakukan tugas apa saja termasuk mencari nafkah.

Sopiyah (45) salah satunya, di usia yang sudah terbilang cukup senja ini dirinya masih semangat mengais rupiah lewat tumpukan kain yang dijahitnya. Hal tersebut dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tidak kenal lelah, Sopiyah sudah menjadi tulang punggung keluarga sejak sepuluh tahun yang lalu.

&quot;Sejak suami meninggal, saya kerja sendirian. Kalau dulu waktu suami saya masih sehat, saya di rumah kuli nyuci di rumah orang&quot; jelasnya.

Perempuan yang biasa dipanggil bu Ncop itu bercerita, setelah sang suami lumpuh karena stroke yang dideritanya, Sopiyah mulai banting tulang mencari pekerjaan tambahan untuk membiayai kebutuhan rumah dan biaya berobat suaminya. Saat itu, anak-anaknya masih bersekolah sehingga beban yang ditanggungnya amat berat. Namun hal itu tidak menjadi soal, asal kebutuhan keluarganya tercukupi lelah pun tidak dirasakan.



Selain bekerja sebagai penjahit di salah satu industri baju rumahan di bilangan Periuk, Kota Tangerang, Ncop juga sesekali membantu tetangganya untuk sekedar cuci dan setrika pakaian. Terkadang juga menerima panggilan untuk pijat badan dari tetangganya.

&quot;Ya saya sih kerja apa saja. Kalau ada yang panggil buat cuci saya terima, sekarang juga tetangga suka minta buat kerokan atau urut (pijat)&quot; katanya.

Sopiyah sesekali merasa lelah, kadang dia juga ingin seperti orang tua lainnya yang sudah beristirahat di usia senja. Namun dia tak bisa berbuat apa-apa selain tetap bekerja. Dua anaknya memang sudah bekerja, namun keadaannya tak jauh berbeda dengan dirinya. Bahkan, anaknya yang pertama masih ikut tinggal dengan dirinya meskipun sudah berkeluarga.

&quot;Mau gimana lagi ya, anak-anak juga masih numpang saya. Kalau saya gak kerja, gimana buat sehari-hari,&quot; jelasnya.

Di singgung soal bantuan, Sopiyah mengaku bahwa dirinya sering  mendapat bantuan saat anak-anaknya masih bersekolah. Bantuan yang  didapat saat itu berupa beasiswa dari sekolah untuk anaknya. Saat itu  anak-anaknya juga sering mendapat bantuan dari berbagai lembaga apalagi  saat hari besar agama islam. Akan banyak bantuan mengalir untuk  anak-anaknya. Namun, sekarang dirinya mengaku sudah jarang mendapatkan  bantuan karena anaknya sudah beranjak dewasa.

&quot;Suami saya meninggal waktu anak-anak masih kecil, banyak yang kasih  santunan anak yatim, SPP sekolah juga dipotong. Tapi sekarang jarang  ada. Paling kalau lebaran,&quot; akunya.

Perayaan hari Ibu menurut Sopiah sama seperti hari-hari biasanya.  Tidak ada yang spesial di setiap tanggal 22 Desember. Dirinya tetap  bangun pagi seperti biasa, lalu menyiapkan sarapan untuk dirinya dan  anak-anak, sesekali juga mengurus cucunya,  setelah itu Sopiyah akan  bekerja sampai sore.

&quot;Biasa saja, gak gimana-gimana. Dari dulu juga begitu, anak-anak juga biasa biasa saja,&quot; jelas Sopiyah.

Sopiyah hanya berharap agar anak-anaknya bisa mandiri dan tidak  bergantung pada dirinya lagi. Ia hanya ingin menikmati masa tuanya  dengan nyaman dan tenang tanpa memikirkan masalah keuangan. Sopiyah juga  berharap semoga apa yang dialaminya saat ini tidak dialami oleh  anak-anaknya.

&quot;Saya maunya sekarang istirahat saja, banyakin ibadah, main sama  cucu. Tapi anak-anak belum mandiri, saya gak bisa lepas begitu saja.  Semoga nanti mereka hari tuanya senang,&quot; tutupnya.


</content:encoded></item></channel></rss>
