<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Salahkah Jika Seorang Ibu Bekerja untuk Memenuhi Hak Ekonomi?</title><description>Sosok ibu yang dikenal sebagai wanita yang kerap bekerja keras, dan bahkan menjadi tulang punggung di keluarganya masih kerap ditemui.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/21/337/2144405/salahkah-jika-seorang-ibu-bekerja-untuk-memenuhi-hak-ekonomi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/12/21/337/2144405/salahkah-jika-seorang-ibu-bekerja-untuk-memenuhi-hak-ekonomi"/><item><title>Salahkah Jika Seorang Ibu Bekerja untuk Memenuhi Hak Ekonomi?</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/21/337/2144405/salahkah-jika-seorang-ibu-bekerja-untuk-memenuhi-hak-ekonomi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/12/21/337/2144405/salahkah-jika-seorang-ibu-bekerja-untuk-memenuhi-hak-ekonomi</guid><pubDate>Sabtu 21 Desember 2019 12:31 WIB</pubDate><dc:creator>Sarah Hutagaol</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/12/20/337/2144405/salahkah-jika-seorang-ibu-bekerja-untuk-memenuhi-hak-ekonomi-pBTTc7mvDv.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Tummi harus perkasa saat memecah batu namun tetap harus lemah lembut menidurkan anak (Foto: Okezone/Fathnur)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/12/20/337/2144405/salahkah-jika-seorang-ibu-bekerja-untuk-memenuhi-hak-ekonomi-pBTTc7mvDv.jpg</image><title>Tummi harus perkasa saat memecah batu namun tetap harus lemah lembut menidurkan anak (Foto: Okezone/Fathnur)</title></images><description>JAKARTA - Tepat pada 22 Desember, diperingati sebagai Hari Ibu. Sosok ibu yang dikenal sebagai wanita yang kerap bekerja keras, dan bahkan menjadi tulang punggung di keluarganya masih kerap ditemui.

Tidak sedikit yang memandang seorang wanita banting tulang demi menghidupi keluarga, dan bahkan dirinya sendiri negatif. Namun ada pula yang memandang hal tersebut sebagai sesuatu nilai positif dari diri seorang ibu.

Disebutkan oleh sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Ida Ruwaida perempuan bisa bekerja keras didorong oleh beberapa faktor, seperti untuk memenuhi kebutuhan biologis, dan mengembangkan kemampuan diri.

Kendati demikian, tidak sedikit dari kaum wanita memiliki latarbelakang pendidikan, dan kemampuan yang minim. Hal itu yang menyebabkan banyak wanita akan mengambil pekerjaan apapun, termasuk yang paling berat untuk mereka.



&quot;Mereka bekerja karena memang harus bekerja demi pemenuhan kebutuhan mendasar. Latar belakang pendidikan, dan ketrampilan yang terbatas, dan minim melatari terserapnya mereka di sektor pekerjaan yang insecure jobs,&quot; ucap Ida kepada Okezone.

Oleh sebab itu, Ida menyimpulkan bahwa terdapat seorang wanita atau ibu yang bekerja keras sebagai tuntutan profesi dan identitas diri. Namun, ada pula yang bekerja keras demi memenuhi kebutuhannya dan keluarga.

&quot;Berkarya, dan berkarir menjadi bagian dari identitas diri. Bagi kelompok ini kerja keras merupakan bagian dari tuntutan profesi. Berbeda dengan perempuan pekerja yang mengandalkan otot, kerja keras adalah untuk bisa bertahan hidup, apalagi jika menjadi perempuan kepala keluarga, atau menafkahi keluarga,&quot; terang Ida.

Tepat pada Hari Ibu, Ida menyebutkan bahwa ini merupakan peringatan  di mana perempuan Indonesia melakukan perjuangan atau pergerakan agar  bisa turut serta, dan berkontribusi untuk negara.

Maka dari itu, setiap pekerjaan apapun yang diemban oleh wanita sudah  sepatutnya dihargai, dan dihormati.  Pasalnya, bekerja merupakan hak  ekonomi untuk semua perempuan di Indonesia.

&quot;Hari Ibu adalah hari perjuangan atau pergerakan perempuan Indonesia  agar bisa ikut serta, ikut aktif dalam membangun bangsa, dan negara.  Termasuk diantaranya berkontribusi secara ekonomi. Bekerja adalah hak  ekonomi perempuan yang patut dihargai, dilindungi, dan dipenuh. Apapun  pekerjaannya,&quot; terangnya.

Untuk mendukung setiap perempuan yang bekerja, Ida berharap  pemerintah mampu mengondisikan. Ia menilai negara akan rugi jika tidak  memanfaatkan potensi yang ada di dalam diri setiap perempuan.

&quot;Pemerintah berkewajiban mengondisikan hal tersebut. Apalagi jumlah  populasi penduduk Indonesia lebih dari 50 persen adalah perempuan. Rugi  negara, dan masyarakat jika tidak memanfaatkan potensi perempuan,&quot; tutup  Ida.
</description><content:encoded>JAKARTA - Tepat pada 22 Desember, diperingati sebagai Hari Ibu. Sosok ibu yang dikenal sebagai wanita yang kerap bekerja keras, dan bahkan menjadi tulang punggung di keluarganya masih kerap ditemui.

Tidak sedikit yang memandang seorang wanita banting tulang demi menghidupi keluarga, dan bahkan dirinya sendiri negatif. Namun ada pula yang memandang hal tersebut sebagai sesuatu nilai positif dari diri seorang ibu.

Disebutkan oleh sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Ida Ruwaida perempuan bisa bekerja keras didorong oleh beberapa faktor, seperti untuk memenuhi kebutuhan biologis, dan mengembangkan kemampuan diri.

Kendati demikian, tidak sedikit dari kaum wanita memiliki latarbelakang pendidikan, dan kemampuan yang minim. Hal itu yang menyebabkan banyak wanita akan mengambil pekerjaan apapun, termasuk yang paling berat untuk mereka.



&quot;Mereka bekerja karena memang harus bekerja demi pemenuhan kebutuhan mendasar. Latar belakang pendidikan, dan ketrampilan yang terbatas, dan minim melatari terserapnya mereka di sektor pekerjaan yang insecure jobs,&quot; ucap Ida kepada Okezone.

Oleh sebab itu, Ida menyimpulkan bahwa terdapat seorang wanita atau ibu yang bekerja keras sebagai tuntutan profesi dan identitas diri. Namun, ada pula yang bekerja keras demi memenuhi kebutuhannya dan keluarga.

&quot;Berkarya, dan berkarir menjadi bagian dari identitas diri. Bagi kelompok ini kerja keras merupakan bagian dari tuntutan profesi. Berbeda dengan perempuan pekerja yang mengandalkan otot, kerja keras adalah untuk bisa bertahan hidup, apalagi jika menjadi perempuan kepala keluarga, atau menafkahi keluarga,&quot; terang Ida.

Tepat pada Hari Ibu, Ida menyebutkan bahwa ini merupakan peringatan  di mana perempuan Indonesia melakukan perjuangan atau pergerakan agar  bisa turut serta, dan berkontribusi untuk negara.

Maka dari itu, setiap pekerjaan apapun yang diemban oleh wanita sudah  sepatutnya dihargai, dan dihormati.  Pasalnya, bekerja merupakan hak  ekonomi untuk semua perempuan di Indonesia.

&quot;Hari Ibu adalah hari perjuangan atau pergerakan perempuan Indonesia  agar bisa ikut serta, ikut aktif dalam membangun bangsa, dan negara.  Termasuk diantaranya berkontribusi secara ekonomi. Bekerja adalah hak  ekonomi perempuan yang patut dihargai, dilindungi, dan dipenuh. Apapun  pekerjaannya,&quot; terangnya.

Untuk mendukung setiap perempuan yang bekerja, Ida berharap  pemerintah mampu mengondisikan. Ia menilai negara akan rugi jika tidak  memanfaatkan potensi yang ada di dalam diri setiap perempuan.

&quot;Pemerintah berkewajiban mengondisikan hal tersebut. Apalagi jumlah  populasi penduduk Indonesia lebih dari 50 persen adalah perempuan. Rugi  negara, dan masyarakat jika tidak memanfaatkan potensi perempuan,&quot; tutup  Ida.
</content:encoded></item></channel></rss>
