<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Sejarah Cinta Orangtua Soekarno, Tak Seindah Sinetron tapi Menginspirasi</title><description>Perjalanan cinta kedua orangtua Soekarno tak semulus ragam kisah sinetron dan dongeng dengan cerita indahnya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/22/337/2144224/sejarah-cinta-orangtua-soekarno-tak-seindah-sinetron-tapi-menginspirasi</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/12/22/337/2144224/sejarah-cinta-orangtua-soekarno-tak-seindah-sinetron-tapi-menginspirasi"/><item><title>Sejarah Cinta Orangtua Soekarno, Tak Seindah Sinetron tapi Menginspirasi</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/22/337/2144224/sejarah-cinta-orangtua-soekarno-tak-seindah-sinetron-tapi-menginspirasi</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/12/22/337/2144224/sejarah-cinta-orangtua-soekarno-tak-seindah-sinetron-tapi-menginspirasi</guid><pubDate>Minggu 22 Desember 2019 07:06 WIB</pubDate><dc:creator>Adi Rianghepat</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/12/20/337/2144224/sejarah-cinta-orangtua-soekarno-tak-seindah-sinetron-tapi-menginspirasi-GL99RYz7y8.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Keluarga Soekarno (Ist)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/12/20/337/2144224/sejarah-cinta-orangtua-soekarno-tak-seindah-sinetron-tapi-menginspirasi-GL99RYz7y8.jpg</image><title>Keluarga Soekarno (Ist)</title></images><description>SIAPA pernah menyangka jika di balik nama besar Soekarno sang pendiri bangsa dan Presiden Pertama RI, terdapat sosok ibu dan bapak yang memiliki keteguhan luar biasa mempertahankan cinta sejati hingga harus berurusan ke pengadilan? Bahkan sang ibu bernama Ida Ayu Nyoman Rai yang pada masa kecil lazim disapa Srimben harus membayar denda ke pengadilan 25 ringgit.

Memang perjalanan cinta kedua orangtua Soekarno tak semulus ragam kisah sinetron dan dongeng dengan cerita indahnya. Alasan latar belakang keluarga, status, suku dan agama jadi dasar pertimbangan penolakan hubungan orang tua dan keluarga Ida Ayu dengan sang kekasihnya Raden Soekemi Sosrodihardjo yang hanyalah seorang guru beragam islam dan berasal dari Jawa.

Sebuah situasi yang wajar ketika itu, karena Ida Ayu Nyoman Rai yang lahir pada 1881 itu adalah anak kedua dari pasangan Nyoman Pasek dan Ni Made Liran yang kala itu adalah orang terpandang daerahnya. Bahkan Srimben semasa remaja di Banjar Bale Agung Singaraja, memiliki aktivitas utama membersihkan pura saban waktu pagi dan petang. Aktivitas ini sejalan dengan nama kecil pemberian orangtuanya Srimben yang artinya limpahan rezeki yang membawa kebahagiaan dari Bhatari Sri.



Kerasnya penolakan orang tua Srimben dan keluarganya atas hubungannya dengan kekasihnya itu, tak menyurut semangat dan upayanya untuk terus membina cintanya dengan sang kekasih. Kedua sejoli itupun harus memilih kawin lari dengan menginap di sebuah rumah seorang kepala polisi, teman dekat Raden Soekemi Sosrodihardjo.

Pernikahan pun dilangsungkan pada 1897 setelah sebelumnya pengadilan mengadili kedua pasangan itu untuk memastikan tak ada paksaan atas perkawinan yang sejati itu, meskipun Srimben harus membayar denda 25 Ringgit.

Usai menikah, orangtua Soekarno lalu hijrah ke Surabaya. Keduanya terus menjalani bahtera kehidupan rumah tangganya di kota itu hingga pada 6 Juni 1901 Nyoman Rai Srimben melahirkan Soekarno di sebuah rumah di sekitar pemakaman Belanda, Kampung Pandean III, Surabaya.



Nyoman Rai Srimben dikenal memiliki akhlak baik dan taat agama. Di dalam dirinya mengalir keras bekal spiritual Hindu yang diperoleh dari kedua orang tuanya. Bekal spiritiual itulah lalu diturunkan ke anak-anaknya termasuk Soekarno.

Waktu terus berjalan, suatu ketika Nyoman Rai Srimben harus mengikuti suaminya pindah ke kota kecil di kecamatan Ploso (Jombang). Di daerah itu Soekarno selalu mendapat sakit. Soekarno pun akhirnya diputuskan untuk pindah ke Tulung Agung agar mendapatkan perawatan dari mertuanya (nenek Soekarno).

Nyoman Rai Srimben kembali mengasuh Soekarno saat orangtuanya pindah ke Mojokerto. Di sinilah saudari perempuan Soekarno (anak pertama) mereka, Raden Soekarmini (juga dikenal sebagai Bu Wardoyo) menikah. Kakak Soekarno itu lahir pada tanggal 29 Maret 1898.

Nyoman Rai Srimben memang sosok setia dan bertanggung jawab atas pendidikan dan masa depan anaknya. Kala Soekarno dewasa, Nyoman Rai Srimben memasukan anaknya bersekolah di Surabaya. Meskipun dia harus mengikuti sang suami pindah ke Blitar, Soekarno tetap terus bersekolah di Surabaya. Nyoman Rai Srimben lalu menitipkan Soekaro ke rumah HOS Cokroaminoto.

Kesetiaannya kepada suaminya tak pernah luntur meskipun di Blitar dia harus tinggal di asrama sekolah yang sekarang menjadi Sekolah Menengah Umum I Blitar dan dipercaya untuk mengelola asrama sekaligus mengurus makan para pelajar yang tinggal di asrama tersebut. Kondisi itu tak pernah ditolaknya. Nyoman Rai Srimben terus melaksanakan tugasnya itu sepenuh hati tanpa bersungut sedikit pun.

Setia Hadapi Sejumlah Masalah

Bahtera rumah tangga Nyoman Rai Srimben dan suaminya Raden Soekemi  Sosrodihardjo terus berjalan seiring dengan bertumbuhnya Soekarno  menjadi dewasa di era perjuangan bangsa saat masa penjajahan Belanda.

Naluri pergerakan yang membara di sanubari Soekarno telah mengusik  kenyamanan dan eksistensi Pemerintah Belanda saat itu. Soekarno pun  akhirnya harus ditangkap dan dijebloskan ke Penjara Sukamiskin Bandung.

Ini persoalan awal yang harus dialami Nyoman Rai Srimben. Betapa  tidak cintanya kepada putranya itu melebihi segalanya. Seakan tak mamu  membiarkan Soekarno menderita, Nyoman Rai Srimben lalu menuju Bandung  untuk menyelamatkan anaknya. Namun apa yang diperoleh. Malah bentakan  dan usiran yang didapat saat Nyoman Rai Srimben berdialog dengan petugas  penjara Sukamiskin.

Dendam sang ibu terhadap kolonial Belanda pun terpantik sejak saat  itu. Kebenciannya terhadap Belanda sejak itu mulai lahir di dalam  dirinya. Meskipun begitu, Nyoman Rai Srimben terus saja berjuang untuk  membebaskan puteranya Soekarno. Persoalan itulah akhirnya membuat  Belanda menyebarkan pasukannya untuk terus mengawasi pergerakan Nyoman  Rai Srimben dan keluarganya. Bahkan kediamananya di Blitar diawasi  tentara Belanda.



Persoalan yang menimpa Soekarno itulah akhirnya membuat Nyoman Rai  Srimben meminta suaminya untuk pensiun dini sebagai guru dari  Kementerian Pendidikan Belanda di Batavia.

Tak berhenti di situ, terpaan persoalan masih terus terjadi. perasaan  dan ketegaran seorang ibu Nyoman Rai Srimben terus saja dicoba.  Meskipun harus sedih, namun Nyoman Rai Srimben tetap saja ikhlas  menerima, dikala mendengar perceraian Soekarno dan Inggit dan  selanjutnya menikahi Fatmawati.

Ketabahan seorang ibu benar-benar diuji. Dan sosok Nyoman Rai Srimben  benar-benar tabah melewati gelombang badai persoalan ini hingga  memuncak saat kematian sang suami Raden Soekemi Sosrodihardjo pada 18  Mei 1945 karena sakit. Di tengah kesendiriannya, Nyoman Rai Srimben lalu  kembali ke Blitar dan melewati hari-hari akhir hidupnya hingga mangkat  pada 12 September 1958.

Pelopor Penghapusan Rasis

Perjalanan hidup yang keras dengan sejumlah terpaan masalah yang   dialami Nyoman Rai Srimben sejak mengawali kisah cintanya dengan sang   suami hingga akhir hayatnya telah menjadikannya sebagai pelopor   penghapusan sara.

Dalam benaknya tak pernah terlintas sedikitpun soal status sosial,   suku, agama, ras dan golongan yang harus dipertentangkan. Nyoman Rai   Srimben menjalankan seluruh kehidupannya apa adanya. Meskipun faktanya   kedua orang tua sangat melihat pentingnya kesamaan status sosial, namun   tidak untuk Nyoman Rai Srimben. Dia tak pernah menolak dipersunting  sang  suami meskipun berbeda suku, agama dan status sosial.

Cintanya mengalahkan segalanya. Cinta sosok Nyoman Rai Srimben   terhadap suaminya telah menghapus segala bentuk pertimbangan suku,   agama, ras, golongan dan status sosial.

Setidaknya cara hidup dan pilihan Nyoman Rai Srimben itulah lalu   merasuki hati dan sanubari puteranya Soekarno dalam menjalankan   kehidupannya sebagai pendiri bangsa ini. Mempersatukan nusantara menjadi   satu bukti bahwa perbedaan suku, agama, ras, golongan dan status  sosial  bukan harus dipertentangkan. Nusantara disatukan dalam perbedaan  yang  memperkaya bangsa ini yang kita sebut Republik Indonesia.

Nilai soal penghapusan sara yang dijalani Nyoman Rai Srimben   setidaknya akan terus berbuah dan menjadi inspirasi bagi seluruh anak   bangsa yang berdiam di bumi pertiwi Indonesia ini.
</description><content:encoded>SIAPA pernah menyangka jika di balik nama besar Soekarno sang pendiri bangsa dan Presiden Pertama RI, terdapat sosok ibu dan bapak yang memiliki keteguhan luar biasa mempertahankan cinta sejati hingga harus berurusan ke pengadilan? Bahkan sang ibu bernama Ida Ayu Nyoman Rai yang pada masa kecil lazim disapa Srimben harus membayar denda ke pengadilan 25 ringgit.

Memang perjalanan cinta kedua orangtua Soekarno tak semulus ragam kisah sinetron dan dongeng dengan cerita indahnya. Alasan latar belakang keluarga, status, suku dan agama jadi dasar pertimbangan penolakan hubungan orang tua dan keluarga Ida Ayu dengan sang kekasihnya Raden Soekemi Sosrodihardjo yang hanyalah seorang guru beragam islam dan berasal dari Jawa.

Sebuah situasi yang wajar ketika itu, karena Ida Ayu Nyoman Rai yang lahir pada 1881 itu adalah anak kedua dari pasangan Nyoman Pasek dan Ni Made Liran yang kala itu adalah orang terpandang daerahnya. Bahkan Srimben semasa remaja di Banjar Bale Agung Singaraja, memiliki aktivitas utama membersihkan pura saban waktu pagi dan petang. Aktivitas ini sejalan dengan nama kecil pemberian orangtuanya Srimben yang artinya limpahan rezeki yang membawa kebahagiaan dari Bhatari Sri.



Kerasnya penolakan orang tua Srimben dan keluarganya atas hubungannya dengan kekasihnya itu, tak menyurut semangat dan upayanya untuk terus membina cintanya dengan sang kekasih. Kedua sejoli itupun harus memilih kawin lari dengan menginap di sebuah rumah seorang kepala polisi, teman dekat Raden Soekemi Sosrodihardjo.

Pernikahan pun dilangsungkan pada 1897 setelah sebelumnya pengadilan mengadili kedua pasangan itu untuk memastikan tak ada paksaan atas perkawinan yang sejati itu, meskipun Srimben harus membayar denda 25 Ringgit.

Usai menikah, orangtua Soekarno lalu hijrah ke Surabaya. Keduanya terus menjalani bahtera kehidupan rumah tangganya di kota itu hingga pada 6 Juni 1901 Nyoman Rai Srimben melahirkan Soekarno di sebuah rumah di sekitar pemakaman Belanda, Kampung Pandean III, Surabaya.



Nyoman Rai Srimben dikenal memiliki akhlak baik dan taat agama. Di dalam dirinya mengalir keras bekal spiritual Hindu yang diperoleh dari kedua orang tuanya. Bekal spiritiual itulah lalu diturunkan ke anak-anaknya termasuk Soekarno.

Waktu terus berjalan, suatu ketika Nyoman Rai Srimben harus mengikuti suaminya pindah ke kota kecil di kecamatan Ploso (Jombang). Di daerah itu Soekarno selalu mendapat sakit. Soekarno pun akhirnya diputuskan untuk pindah ke Tulung Agung agar mendapatkan perawatan dari mertuanya (nenek Soekarno).

Nyoman Rai Srimben kembali mengasuh Soekarno saat orangtuanya pindah ke Mojokerto. Di sinilah saudari perempuan Soekarno (anak pertama) mereka, Raden Soekarmini (juga dikenal sebagai Bu Wardoyo) menikah. Kakak Soekarno itu lahir pada tanggal 29 Maret 1898.

Nyoman Rai Srimben memang sosok setia dan bertanggung jawab atas pendidikan dan masa depan anaknya. Kala Soekarno dewasa, Nyoman Rai Srimben memasukan anaknya bersekolah di Surabaya. Meskipun dia harus mengikuti sang suami pindah ke Blitar, Soekarno tetap terus bersekolah di Surabaya. Nyoman Rai Srimben lalu menitipkan Soekaro ke rumah HOS Cokroaminoto.

Kesetiaannya kepada suaminya tak pernah luntur meskipun di Blitar dia harus tinggal di asrama sekolah yang sekarang menjadi Sekolah Menengah Umum I Blitar dan dipercaya untuk mengelola asrama sekaligus mengurus makan para pelajar yang tinggal di asrama tersebut. Kondisi itu tak pernah ditolaknya. Nyoman Rai Srimben terus melaksanakan tugasnya itu sepenuh hati tanpa bersungut sedikit pun.

Setia Hadapi Sejumlah Masalah

Bahtera rumah tangga Nyoman Rai Srimben dan suaminya Raden Soekemi  Sosrodihardjo terus berjalan seiring dengan bertumbuhnya Soekarno  menjadi dewasa di era perjuangan bangsa saat masa penjajahan Belanda.

Naluri pergerakan yang membara di sanubari Soekarno telah mengusik  kenyamanan dan eksistensi Pemerintah Belanda saat itu. Soekarno pun  akhirnya harus ditangkap dan dijebloskan ke Penjara Sukamiskin Bandung.

Ini persoalan awal yang harus dialami Nyoman Rai Srimben. Betapa  tidak cintanya kepada putranya itu melebihi segalanya. Seakan tak mamu  membiarkan Soekarno menderita, Nyoman Rai Srimben lalu menuju Bandung  untuk menyelamatkan anaknya. Namun apa yang diperoleh. Malah bentakan  dan usiran yang didapat saat Nyoman Rai Srimben berdialog dengan petugas  penjara Sukamiskin.

Dendam sang ibu terhadap kolonial Belanda pun terpantik sejak saat  itu. Kebenciannya terhadap Belanda sejak itu mulai lahir di dalam  dirinya. Meskipun begitu, Nyoman Rai Srimben terus saja berjuang untuk  membebaskan puteranya Soekarno. Persoalan itulah akhirnya membuat  Belanda menyebarkan pasukannya untuk terus mengawasi pergerakan Nyoman  Rai Srimben dan keluarganya. Bahkan kediamananya di Blitar diawasi  tentara Belanda.



Persoalan yang menimpa Soekarno itulah akhirnya membuat Nyoman Rai  Srimben meminta suaminya untuk pensiun dini sebagai guru dari  Kementerian Pendidikan Belanda di Batavia.

Tak berhenti di situ, terpaan persoalan masih terus terjadi. perasaan  dan ketegaran seorang ibu Nyoman Rai Srimben terus saja dicoba.  Meskipun harus sedih, namun Nyoman Rai Srimben tetap saja ikhlas  menerima, dikala mendengar perceraian Soekarno dan Inggit dan  selanjutnya menikahi Fatmawati.

Ketabahan seorang ibu benar-benar diuji. Dan sosok Nyoman Rai Srimben  benar-benar tabah melewati gelombang badai persoalan ini hingga  memuncak saat kematian sang suami Raden Soekemi Sosrodihardjo pada 18  Mei 1945 karena sakit. Di tengah kesendiriannya, Nyoman Rai Srimben lalu  kembali ke Blitar dan melewati hari-hari akhir hidupnya hingga mangkat  pada 12 September 1958.

Pelopor Penghapusan Rasis

Perjalanan hidup yang keras dengan sejumlah terpaan masalah yang   dialami Nyoman Rai Srimben sejak mengawali kisah cintanya dengan sang   suami hingga akhir hayatnya telah menjadikannya sebagai pelopor   penghapusan sara.

Dalam benaknya tak pernah terlintas sedikitpun soal status sosial,   suku, agama, ras dan golongan yang harus dipertentangkan. Nyoman Rai   Srimben menjalankan seluruh kehidupannya apa adanya. Meskipun faktanya   kedua orang tua sangat melihat pentingnya kesamaan status sosial, namun   tidak untuk Nyoman Rai Srimben. Dia tak pernah menolak dipersunting  sang  suami meskipun berbeda suku, agama dan status sosial.

Cintanya mengalahkan segalanya. Cinta sosok Nyoman Rai Srimben   terhadap suaminya telah menghapus segala bentuk pertimbangan suku,   agama, ras, golongan dan status sosial.

Setidaknya cara hidup dan pilihan Nyoman Rai Srimben itulah lalu   merasuki hati dan sanubari puteranya Soekarno dalam menjalankan   kehidupannya sebagai pendiri bangsa ini. Mempersatukan nusantara menjadi   satu bukti bahwa perbedaan suku, agama, ras, golongan dan status  sosial  bukan harus dipertentangkan. Nusantara disatukan dalam perbedaan  yang  memperkaya bangsa ini yang kita sebut Republik Indonesia.

Nilai soal penghapusan sara yang dijalani Nyoman Rai Srimben   setidaknya akan terus berbuah dan menjadi inspirasi bagi seluruh anak   bangsa yang berdiam di bumi pertiwi Indonesia ini.
</content:encoded></item></channel></rss>
