<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Ledakan Meriam Bambu Tradisi Sambut Natal ala Masyarakat NTT</title><description>Dentuman meriam, jamak terdengar dan dilakukan warga sejumlah daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kala Natal menjelang.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/25/337/2145998/ledakan-meriam-bambu-tradisi-sambut-natal-ala-masyarakat-ntt</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/12/25/337/2145998/ledakan-meriam-bambu-tradisi-sambut-natal-ala-masyarakat-ntt"/><item><title>Ledakan Meriam Bambu Tradisi Sambut Natal ala Masyarakat NTT</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/25/337/2145998/ledakan-meriam-bambu-tradisi-sambut-natal-ala-masyarakat-ntt</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/12/25/337/2145998/ledakan-meriam-bambu-tradisi-sambut-natal-ala-masyarakat-ntt</guid><pubDate>Rabu 25 Desember 2019 21:02 WIB</pubDate><dc:creator>Adi Rianghepat</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/12/25/337/2145998/ledakan-meriam-bambu-tradisi-sambut-natal-ala-masyarakat-ntt-gpjSxxISiQ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/12/25/337/2145998/ledakan-meriam-bambu-tradisi-sambut-natal-ala-masyarakat-ntt-gpjSxxISiQ.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>KUPANG - Dentuman meriam, jamak terdengar dan dilakukan warga sejumlah daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kala Natal menjelang.

Natal adalah hari besar keagamaan umat Nasarani. Umat Kristen sejagad di saat (Natal) itu memperingati kelahiran Yesus yang diimani sebagai Tuhan dan penebus dosa umat manusia.

Kegembiraan menyambut hari yang saban tahun datang pada 25 Desember itulah, warga lalu merangkainya dengan sejumlah aksi. Salah satunya dengan dentuman meriam yang terbuat dari bambu.

Memang tak ada catatan khusus tentang sejarah tradisi permainan meriam bambu jelang perayaan Natal. Hal mana bukan sekadar terjadi di Pulau Flores yang memang hidup komunitas umat bermayoritas kristen (Katolik) saja.



Permainan meriam bambu jelang Natal, juga dilakukan oleh warga di Kota Kupang ibu kota Provinsi NTT di era 1980 hingga 2000. Anak dan remaja di kala itu bahkan rela menabung jajannya untuk bisa membeli bambu yang akan dijadikan sebagai meriam. Bukan hanya itu, tabungan yang ada itupun dipakai untuk membeli bahan bakarnya (minyak tanah).

Kenikmatan dari permainan meriam itu hanya ada pada bunyi dentumannya. Bunyi yang menggelegar akan memberi semangat bagi anak-anak yang bermain meriam tersebut. Dan hal itulah yang dicari.

Sangat sederhana membuat dan bermain meriam bambu tersebut. Memang tak semua jenis bambu bisa dipakai untuk permainan ini. Hanya jenis bambu tertentu saja (jenis nila). Bambu jenis itu memiliki ruas yang panjang sehingga cukup menggunakan satu ruas untuk satu meriam bambu tersebut.

Meriam bambu itu lalu dibikin lubang di ujung ruas sebagai sumbu  pemantik. Pada ujung ruas dekat lubang akan diisi minyak tanah sebagai  pemantik ledakan. Si pemain akan menyulut lubang berisi minyak tersebut  dan akan mengeluarkan bunyi. Untuk menghasilkan bunyi yang kuat, maka  bambu tersebut harus benar-benar bersih dari asap dengan cara ditiup.

Setiap habis satu ledakan, maka sang pemain wajib meniup meriam itu  untuk bersihkan asap dari dalam bambu agar sulutan berikut bisa  menghasilkan bunyi yang besar.

Memang semua jenis permainan ini tujuan selain bergembira juga  menghasilkan bunyi-bunyian. Tanda bunyi-bunyian itu bisa diartikan  sebagai sebuah tanda penyambutan sebuah momentum yaitu Kelahiran Yesus  Kristus yang adalah Tuhan itu.

Dalam perjalanannya, permainan meriam bambu di Kota Kupang memudar  dan digantikan dengan bunyi-bunyian lain seperti petasan dan sejenis  meriam lain yang terbuat dari bekas botol mineral yang digoyang setelah  diberikan bahan bakar (spritus).



Jenis meriam ini dinilai lebih praktis karena bisa diboyong ke  mana-mana. Namun begitu jenis permainan itupun hanya dimainkan oleh  anak-anak saja. Sementara orang tua dan remaja akan bermain petasan.

Kondisi tersebut juga secara perlahan mulai ditinggalkan meskipun di  Flores. Perkembangan zaman telah memberikan pilihan bagi masyarakat  untuk memilih cara menyambut Kelahiran Yesus (Natal). Kegembiraan  akhirnya mulai dilakukan dengan berbagai cara, yaitu bisa dengan petasan  dan juga nyanyian-nyanyian dan musik.

Kendatipun di beberapa titik lokasi di Flores dan beberapa kabupaten   lain di NTT masih terdapat permainan meriam untuk menyambut Natal, itu   karena warga di sana masih mudah mendapatkan bambu.

Biaya murah itulah menjadi pilihan warga untuk tetap mempertahankan   tradisi meriam menyambut Natal. Hal yang terpenting dari sekadar   bunyi-bunyian dan cara melakukannya (meriam dan petasan), namun ada   makna di balik itu, bahwa warga Kristiani sejagad termasuk di NTT mau   melampiaskan kegembiraanya menyambut kelahiran Yesus itu dengan gembira.

Setidaknya apa yang diimani dalam makna Natal adalah sebuah kedamaian   dalam kelahiran secara miskin di kandang. Damai di bumi damai di hati.
</description><content:encoded>KUPANG - Dentuman meriam, jamak terdengar dan dilakukan warga sejumlah daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kala Natal menjelang.

Natal adalah hari besar keagamaan umat Nasarani. Umat Kristen sejagad di saat (Natal) itu memperingati kelahiran Yesus yang diimani sebagai Tuhan dan penebus dosa umat manusia.

Kegembiraan menyambut hari yang saban tahun datang pada 25 Desember itulah, warga lalu merangkainya dengan sejumlah aksi. Salah satunya dengan dentuman meriam yang terbuat dari bambu.

Memang tak ada catatan khusus tentang sejarah tradisi permainan meriam bambu jelang perayaan Natal. Hal mana bukan sekadar terjadi di Pulau Flores yang memang hidup komunitas umat bermayoritas kristen (Katolik) saja.



Permainan meriam bambu jelang Natal, juga dilakukan oleh warga di Kota Kupang ibu kota Provinsi NTT di era 1980 hingga 2000. Anak dan remaja di kala itu bahkan rela menabung jajannya untuk bisa membeli bambu yang akan dijadikan sebagai meriam. Bukan hanya itu, tabungan yang ada itupun dipakai untuk membeli bahan bakarnya (minyak tanah).

Kenikmatan dari permainan meriam itu hanya ada pada bunyi dentumannya. Bunyi yang menggelegar akan memberi semangat bagi anak-anak yang bermain meriam tersebut. Dan hal itulah yang dicari.

Sangat sederhana membuat dan bermain meriam bambu tersebut. Memang tak semua jenis bambu bisa dipakai untuk permainan ini. Hanya jenis bambu tertentu saja (jenis nila). Bambu jenis itu memiliki ruas yang panjang sehingga cukup menggunakan satu ruas untuk satu meriam bambu tersebut.

Meriam bambu itu lalu dibikin lubang di ujung ruas sebagai sumbu  pemantik. Pada ujung ruas dekat lubang akan diisi minyak tanah sebagai  pemantik ledakan. Si pemain akan menyulut lubang berisi minyak tersebut  dan akan mengeluarkan bunyi. Untuk menghasilkan bunyi yang kuat, maka  bambu tersebut harus benar-benar bersih dari asap dengan cara ditiup.

Setiap habis satu ledakan, maka sang pemain wajib meniup meriam itu  untuk bersihkan asap dari dalam bambu agar sulutan berikut bisa  menghasilkan bunyi yang besar.

Memang semua jenis permainan ini tujuan selain bergembira juga  menghasilkan bunyi-bunyian. Tanda bunyi-bunyian itu bisa diartikan  sebagai sebuah tanda penyambutan sebuah momentum yaitu Kelahiran Yesus  Kristus yang adalah Tuhan itu.

Dalam perjalanannya, permainan meriam bambu di Kota Kupang memudar  dan digantikan dengan bunyi-bunyian lain seperti petasan dan sejenis  meriam lain yang terbuat dari bekas botol mineral yang digoyang setelah  diberikan bahan bakar (spritus).



Jenis meriam ini dinilai lebih praktis karena bisa diboyong ke  mana-mana. Namun begitu jenis permainan itupun hanya dimainkan oleh  anak-anak saja. Sementara orang tua dan remaja akan bermain petasan.

Kondisi tersebut juga secara perlahan mulai ditinggalkan meskipun di  Flores. Perkembangan zaman telah memberikan pilihan bagi masyarakat  untuk memilih cara menyambut Kelahiran Yesus (Natal). Kegembiraan  akhirnya mulai dilakukan dengan berbagai cara, yaitu bisa dengan petasan  dan juga nyanyian-nyanyian dan musik.

Kendatipun di beberapa titik lokasi di Flores dan beberapa kabupaten   lain di NTT masih terdapat permainan meriam untuk menyambut Natal, itu   karena warga di sana masih mudah mendapatkan bambu.

Biaya murah itulah menjadi pilihan warga untuk tetap mempertahankan   tradisi meriam menyambut Natal. Hal yang terpenting dari sekadar   bunyi-bunyian dan cara melakukannya (meriam dan petasan), namun ada   makna di balik itu, bahwa warga Kristiani sejagad termasuk di NTT mau   melampiaskan kegembiraanya menyambut kelahiran Yesus itu dengan gembira.

Setidaknya apa yang diimani dalam makna Natal adalah sebuah kedamaian   dalam kelahiran secara miskin di kandang. Damai di bumi damai di hati.
</content:encoded></item></channel></rss>
