<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Menengok Pesta Rakyat Tradisional Etnis Borgo Menyambut Tahun Baru</title><description>Pesta rakyat tradisional merupakan suatu tradisi yang dilaksanakan oleh Etnis Borgo di Manado.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/28/337/2146736/menengok-pesta-rakyat-tradisional-etnis-borgo-menyambut-tahun-baru</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/12/28/337/2146736/menengok-pesta-rakyat-tradisional-etnis-borgo-menyambut-tahun-baru"/><item><title>Menengok Pesta Rakyat Tradisional Etnis Borgo Menyambut Tahun Baru</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/28/337/2146736/menengok-pesta-rakyat-tradisional-etnis-borgo-menyambut-tahun-baru</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/12/28/337/2146736/menengok-pesta-rakyat-tradisional-etnis-borgo-menyambut-tahun-baru</guid><pubDate>Sabtu 28 Desember 2019 00:05 WIB</pubDate><dc:creator>Subhan Sabu</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/12/27/337/2146736/menengok-pesta-rakyat-tradisional-etnis-borgo-menyambut-tahun-baru-o8JXaXbAp4.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Pesta Rakyat Tradisional Etnis Borgo di Manado (Foto: Okezone/Subhan)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/12/27/337/2146736/menengok-pesta-rakyat-tradisional-etnis-borgo-menyambut-tahun-baru-o8JXaXbAp4.jpg</image><title>Pesta Rakyat Tradisional Etnis Borgo di Manado (Foto: Okezone/Subhan)</title></images><description>MANADO - Pesta rakyat tradisional merupakan suatu tradisi yang dilaksanakan oleh Etnis Borgo di Manado. Etnis ini merupakan keturunan pendatang dari berbagai bangsa Eropa, diantaranya Portugis, Spanyol, Belanda, Perancis, Jerman, dan lainnya yang diperkirakan masuk Sulawesi Utara (Sulut) melalui pantai Manado, Kema dan Tanawangko pada tahun 1500 an kemudian kawin mawin dengan warga pribumi suku Minahasa.

Borgo berasal dari kata &amp;ldquo;Burgers&amp;rdquo; ( baca: Berhers) dalam bahasa Belanda yang artinya warga bebas atau orang yang di bebaskan. Etnis Borgo yang ada di Sulut tersebar dibeberapa daerah yang umumnya pesisir pantai, yaitu Manado, Kema, Tanawangko, Amurang, Belang, Likupang.

Di kota Manado, etnis ini tersebar di Pondol (ujung), Sindulang, Kampung Kananga/Mahakeret (Bakuku-Berteriak), kampung Kakas -Tokambene ( Gudang Padi), Komo dan Kampung kodo. Setiap memasuki tahun baru Etnis yang tersebar dibeberapa lokasi tersebut selalu melaksanakan pesta rakyat tradisional.



Perayaan sebagai ungkapan rasa syukur karena telah melewati tahun yang lama dan bersama sama dalam rasa persaudaraan memasuki tahun yang baru ini sudah dilaksanakan secara turun temurun selama ratusan tahun oleh warga Etnis Borgo dan juga oleh penduduk asli yang ada di sekitar pemukiman Borgo.

&quot;Itu sudah menjadi tradisi tiap tahun, turun temurun,&quot; kata Johan Takapente (60) kepada okezone

Pesta Rakyat Tradisional yang dilaksanakan setiap pergantian tahun itu diawali dengan Malam Taong Tua, Figura dan ditutup dengan Kunci Taong. Malam taong tua merupakan tradisi yang berasal dari bangsa Portugis untuk mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih dalam memperingati pergantian tahun dan mempererat tali Silaturahmi antar warga.

Tradisi yang lebih dikenal dengan nama Mekiwuka ini biasanya dia  adakan setiap tanggal 31 Desember. Setelah mengadakan ibadah ucapan  syukur di Gereja masing-masing, maka tepat pukul 24:00 wita seluruh  warga masyarakat saling berjabat tangan untuk mengungkapkan rasa syukur  karena telah melewati tahun yang lama dan memasuki tahun yang baru serta  saling memaafkan antara warga masyarakat serta dengan Pemerintah.

Setelah saling berjabat tangan antara warga Masyarakat, mereka  berkumpul di depan rumah pemerintah setempat atau yang dituakan, sambil  bernyanyi dan diiringi oleh alat musik tradisional etnis Borgo berupa  Gitar, Jug atau Ukulele, Tambor, Biola, serta alat musik Iainnya.

&quot;Begitu tiba pukul 24.00 wita, silaturahmi, jabat tangan, masuk  keluar rumah di kampung kakas kemudian kumpul semuanya, berdoa untuk  tahun yang baru, kemudian kunjungi pemerintah setempat, kepala  lingkungan, kepala kelurahan, kemudian tua-tua kampung, meminta ijin,  minta ijin itu juga pakai lagu,&quot; jelas Johan.



Tokoh Masyarakat yang mewakili warga memberikan ucapan syukur dan  rasa terima kasih kepada Pemerintah setempat atau yang dituakan karena  telah memimpin selama satu tahun yang lalu serta mohon maaf atas segala  kesalahan yang dilakukan, juga mohon petunjuk untuk memasuki tahun yang  baru. Dan Pemerintah selanjutnya memberikan Wejangan dan nasehat kepada  warga dan dilanjutkan dengan saling berjabat tangan antara warga dengan  pemerintah dan keluarganya.

&quot;Setelah itu secara bersama sama berkunjung sambil bernyanyi dengan  diiringi musik, mulai dari kampung kakas sampai ke Mahakeret, tidak  pilih-pilih rumah, semuanya kami masuki, bahkan sampai pagi hari,&quot; kata  Johan yang juga pemain ukulele di tradisi itu.

Dahulu tradisi Mekiwuka ini dilaksanakan oleh setiap etnis borgo yang  ada di kampung-kampung, seperti Mahakeret, Pondol, Kampung Tondano,  Kampung Tombariri, Sindulang,  namun sekarang tinggal Kampung Kakas,  Kelurahan Wenang Selatan ,Kecamatan Wenang, Manado, Sulawesi Utara yang  terus melaksanakannya setiap tahun.

Bahkan tradisi itu terus dijaga dan diwariskan kepada anak cucu.   Kelestariannya masih terus di jaga, dari generasi tua sampai generasi   muda yang ada di kampung kakas mengetahui tradisi tersebut. Sayangnya   tradisi ini seakan terlupakan dan luput dari perhatian pemerintah, yang   lebih dikenal justru tradisi Figura dan Kunci Taong.

&quot;Padahal itu malam taong tua, malam kebersamaan, semua ikut   bergabung, tidak mengenal suku, agama maupun golongan, kerukunan antar   umat beragama di manado justru diawali dari sini,&quot; tambah Ronald Markus,   pemuda kampung kakas.

Di Manado, hanya kampung kakas yang masih mempertahankan tradisi itu,   turun temurun, di Kampung Sindulang juga ada, namun menurut Onal hanya   di kampung kakas yang lebih menjaga kelestariannya, dan itu merupakan   tradisi asli Manado.

&quot;Dahulu pemerintah kota sudah pernah mengadopsi itu, bahkan dulu kami   pernah jalan sampai ke rumah dinas walikota namun sekarang sepertinya   tidak lagi, hanya figura yang dilestarikan padahal Mekiwuka juga   penting, awal dari kegiatan menyambut tahun baru,&quot; jelas Onal

Pesta rakyat selanjutnya yakni Figura. &amp;rdquo;figuur&amp;rdquo; dalam bahasa Belanda   yang artinya rupa muka. Seperti Mekiwuka yang diiringi musik sambil   bernyanyi, mengunjungi rumah pemerintah setempat dan seluruh rumah   warga, tapi perbedaanya acara ini dilaksanakan pada siang atau sore hari   di akhir bulan Januari.



Warga masyarakat yang mengikuti acara tersebut harus berdandan   sedemikian rupa sehingga merubah karakter dan pribadi mereka sehari   hari, contohnya Laki-Iaki berdandan sebagai Perempuan, yang lemah   gemulai berubah menjadi gagah perkasa, begitupun sebaliknya. Dan   berbagai karakter lainnya yang bertolak belakang dengan kehidupan mereka   sehari-harinya. Untuk menambah semarak acara, maka ada penilaian   tersendiri untuk setiap peserta.

Tradisi selanjutnya adalah Kunci Taong yang merupakan puncak acara   dari serangkaian acara yang dilaksanakan sejak dari Malam Taong Tua, dan   merupakan simbol suka cita dan syukur warga masyarakat karena telah   memasuki tahun yang baru dengan rasa riang gembira saling berdansa dan   berpesta.

Tradisi ini dilaksanakan pada malam hari sesudah acara Figura dan   tidak berkeliling, melainkan di suatu tempat pertemuan dan dihadiri oleh   seluruh warga masyarakat dengan pakaian pesta. Juga mengundang warga   Etnis Borgo Iainnya yang ada di Sindulang, Pondol, Mahakeret, Komo,   Kuhun, kampung Kodo, dan warga pribumi sekitar yang tujuannya untuk   menjalin tali silahturahmi dan kekerabatan antara warga.

Acara ini dibuka dengan dansa poliness yang dipimpin oleh seorang   pemimpin dansa. Setelah poliness dilanjutkan dengan dansa dansi Iainnya,   yaitu Katrili, Waltz, Cha-cha, Jive, Scholtjes, Polka, Bugi-Bugi yang   merupakan warisan leluhur Etnis Borgo yang tetap dilestarikan.

Seiring dengan mengikuti perkembangan zaman maka saat ini ditambah   dengan irama Disco, Dangdut, Break-dance dan lainnya. Untuk memeriahkan   pesta ini diadakan juga perlombaan dansa dengan berbagai jenis irama  dan  kategori tertentu serta pemilihan peserta terbaik.


</description><content:encoded>MANADO - Pesta rakyat tradisional merupakan suatu tradisi yang dilaksanakan oleh Etnis Borgo di Manado. Etnis ini merupakan keturunan pendatang dari berbagai bangsa Eropa, diantaranya Portugis, Spanyol, Belanda, Perancis, Jerman, dan lainnya yang diperkirakan masuk Sulawesi Utara (Sulut) melalui pantai Manado, Kema dan Tanawangko pada tahun 1500 an kemudian kawin mawin dengan warga pribumi suku Minahasa.

Borgo berasal dari kata &amp;ldquo;Burgers&amp;rdquo; ( baca: Berhers) dalam bahasa Belanda yang artinya warga bebas atau orang yang di bebaskan. Etnis Borgo yang ada di Sulut tersebar dibeberapa daerah yang umumnya pesisir pantai, yaitu Manado, Kema, Tanawangko, Amurang, Belang, Likupang.

Di kota Manado, etnis ini tersebar di Pondol (ujung), Sindulang, Kampung Kananga/Mahakeret (Bakuku-Berteriak), kampung Kakas -Tokambene ( Gudang Padi), Komo dan Kampung kodo. Setiap memasuki tahun baru Etnis yang tersebar dibeberapa lokasi tersebut selalu melaksanakan pesta rakyat tradisional.



Perayaan sebagai ungkapan rasa syukur karena telah melewati tahun yang lama dan bersama sama dalam rasa persaudaraan memasuki tahun yang baru ini sudah dilaksanakan secara turun temurun selama ratusan tahun oleh warga Etnis Borgo dan juga oleh penduduk asli yang ada di sekitar pemukiman Borgo.

&quot;Itu sudah menjadi tradisi tiap tahun, turun temurun,&quot; kata Johan Takapente (60) kepada okezone

Pesta Rakyat Tradisional yang dilaksanakan setiap pergantian tahun itu diawali dengan Malam Taong Tua, Figura dan ditutup dengan Kunci Taong. Malam taong tua merupakan tradisi yang berasal dari bangsa Portugis untuk mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih dalam memperingati pergantian tahun dan mempererat tali Silaturahmi antar warga.

Tradisi yang lebih dikenal dengan nama Mekiwuka ini biasanya dia  adakan setiap tanggal 31 Desember. Setelah mengadakan ibadah ucapan  syukur di Gereja masing-masing, maka tepat pukul 24:00 wita seluruh  warga masyarakat saling berjabat tangan untuk mengungkapkan rasa syukur  karena telah melewati tahun yang lama dan memasuki tahun yang baru serta  saling memaafkan antara warga masyarakat serta dengan Pemerintah.

Setelah saling berjabat tangan antara warga Masyarakat, mereka  berkumpul di depan rumah pemerintah setempat atau yang dituakan, sambil  bernyanyi dan diiringi oleh alat musik tradisional etnis Borgo berupa  Gitar, Jug atau Ukulele, Tambor, Biola, serta alat musik Iainnya.

&quot;Begitu tiba pukul 24.00 wita, silaturahmi, jabat tangan, masuk  keluar rumah di kampung kakas kemudian kumpul semuanya, berdoa untuk  tahun yang baru, kemudian kunjungi pemerintah setempat, kepala  lingkungan, kepala kelurahan, kemudian tua-tua kampung, meminta ijin,  minta ijin itu juga pakai lagu,&quot; jelas Johan.



Tokoh Masyarakat yang mewakili warga memberikan ucapan syukur dan  rasa terima kasih kepada Pemerintah setempat atau yang dituakan karena  telah memimpin selama satu tahun yang lalu serta mohon maaf atas segala  kesalahan yang dilakukan, juga mohon petunjuk untuk memasuki tahun yang  baru. Dan Pemerintah selanjutnya memberikan Wejangan dan nasehat kepada  warga dan dilanjutkan dengan saling berjabat tangan antara warga dengan  pemerintah dan keluarganya.

&quot;Setelah itu secara bersama sama berkunjung sambil bernyanyi dengan  diiringi musik, mulai dari kampung kakas sampai ke Mahakeret, tidak  pilih-pilih rumah, semuanya kami masuki, bahkan sampai pagi hari,&quot; kata  Johan yang juga pemain ukulele di tradisi itu.

Dahulu tradisi Mekiwuka ini dilaksanakan oleh setiap etnis borgo yang  ada di kampung-kampung, seperti Mahakeret, Pondol, Kampung Tondano,  Kampung Tombariri, Sindulang,  namun sekarang tinggal Kampung Kakas,  Kelurahan Wenang Selatan ,Kecamatan Wenang, Manado, Sulawesi Utara yang  terus melaksanakannya setiap tahun.

Bahkan tradisi itu terus dijaga dan diwariskan kepada anak cucu.   Kelestariannya masih terus di jaga, dari generasi tua sampai generasi   muda yang ada di kampung kakas mengetahui tradisi tersebut. Sayangnya   tradisi ini seakan terlupakan dan luput dari perhatian pemerintah, yang   lebih dikenal justru tradisi Figura dan Kunci Taong.

&quot;Padahal itu malam taong tua, malam kebersamaan, semua ikut   bergabung, tidak mengenal suku, agama maupun golongan, kerukunan antar   umat beragama di manado justru diawali dari sini,&quot; tambah Ronald Markus,   pemuda kampung kakas.

Di Manado, hanya kampung kakas yang masih mempertahankan tradisi itu,   turun temurun, di Kampung Sindulang juga ada, namun menurut Onal hanya   di kampung kakas yang lebih menjaga kelestariannya, dan itu merupakan   tradisi asli Manado.

&quot;Dahulu pemerintah kota sudah pernah mengadopsi itu, bahkan dulu kami   pernah jalan sampai ke rumah dinas walikota namun sekarang sepertinya   tidak lagi, hanya figura yang dilestarikan padahal Mekiwuka juga   penting, awal dari kegiatan menyambut tahun baru,&quot; jelas Onal

Pesta rakyat selanjutnya yakni Figura. &amp;rdquo;figuur&amp;rdquo; dalam bahasa Belanda   yang artinya rupa muka. Seperti Mekiwuka yang diiringi musik sambil   bernyanyi, mengunjungi rumah pemerintah setempat dan seluruh rumah   warga, tapi perbedaanya acara ini dilaksanakan pada siang atau sore hari   di akhir bulan Januari.



Warga masyarakat yang mengikuti acara tersebut harus berdandan   sedemikian rupa sehingga merubah karakter dan pribadi mereka sehari   hari, contohnya Laki-Iaki berdandan sebagai Perempuan, yang lemah   gemulai berubah menjadi gagah perkasa, begitupun sebaliknya. Dan   berbagai karakter lainnya yang bertolak belakang dengan kehidupan mereka   sehari-harinya. Untuk menambah semarak acara, maka ada penilaian   tersendiri untuk setiap peserta.

Tradisi selanjutnya adalah Kunci Taong yang merupakan puncak acara   dari serangkaian acara yang dilaksanakan sejak dari Malam Taong Tua, dan   merupakan simbol suka cita dan syukur warga masyarakat karena telah   memasuki tahun yang baru dengan rasa riang gembira saling berdansa dan   berpesta.

Tradisi ini dilaksanakan pada malam hari sesudah acara Figura dan   tidak berkeliling, melainkan di suatu tempat pertemuan dan dihadiri oleh   seluruh warga masyarakat dengan pakaian pesta. Juga mengundang warga   Etnis Borgo Iainnya yang ada di Sindulang, Pondol, Mahakeret, Komo,   Kuhun, kampung Kodo, dan warga pribumi sekitar yang tujuannya untuk   menjalin tali silahturahmi dan kekerabatan antara warga.

Acara ini dibuka dengan dansa poliness yang dipimpin oleh seorang   pemimpin dansa. Setelah poliness dilanjutkan dengan dansa dansi Iainnya,   yaitu Katrili, Waltz, Cha-cha, Jive, Scholtjes, Polka, Bugi-Bugi yang   merupakan warisan leluhur Etnis Borgo yang tetap dilestarikan.

Seiring dengan mengikuti perkembangan zaman maka saat ini ditambah   dengan irama Disco, Dangdut, Break-dance dan lainnya. Untuk memeriahkan   pesta ini diadakan juga perlombaan dansa dengan berbagai jenis irama  dan  kategori tertentu serta pemilihan peserta terbaik.


</content:encoded></item></channel></rss>
