<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Balada Petugas Kebersihan, Jasa Dilupakan hingga Nyawa Terancam</title><description>Kebersihan jalan di Kota Tangerang tak luput dari peran petugas kebersihan yang setiap hari membersihkan jalan dari sampah yang berserakan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/28/337/2146767/balada-petugas-kebersihan-jasa-dilupakan-hingga-nyawa-terancam</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2019/12/28/337/2146767/balada-petugas-kebersihan-jasa-dilupakan-hingga-nyawa-terancam"/><item><title>Balada Petugas Kebersihan, Jasa Dilupakan hingga Nyawa Terancam</title><link>https://news.okezone.com/read/2019/12/28/337/2146767/balada-petugas-kebersihan-jasa-dilupakan-hingga-nyawa-terancam</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2019/12/28/337/2146767/balada-petugas-kebersihan-jasa-dilupakan-hingga-nyawa-terancam</guid><pubDate>Sabtu 28 Desember 2019 09:03 WIB</pubDate><dc:creator>Isty Maulidya</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2019/12/27/337/2146767/balada-petugas-kebersihan-jasa-dilupakan-hingga-nyawa-terancam-guL6UoueqX.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Ilustrasi</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2019/12/27/337/2146767/balada-petugas-kebersihan-jasa-dilupakan-hingga-nyawa-terancam-guL6UoueqX.jpg</image><title>Ilustrasi</title></images><description>TANGERANG - Kebersihan jalan di Kota Tangerang tak luput dari peran petugas kebersihan yang setiap hari membersihkan jalan dari sampah yang berserakan. Tugasnya yang langsung terjun ke lapangan, membuat petugas kebersihan yang kerap disebut pasukan oranye memiliki banyak kisah menarik.

Salah satunya adalah Saipul, pria paruh baya ini sudah dua tahun menjalani profesi sebagai petugas kebersihan di Kota Tangerang. Setiap hari, dirinya menyapu jalanan protokol kota Tangerang dari pagi hingga sore hari.

Kepada Okezone, pria yang kerap disapa Ipul ini mengaku bahwa dirinya merasa senanh dengan pekerjaannya membersihkan kota. Meskipun terkadang harus bekerja di bawah terik matahari, atau bahkan di tengah rintik hujan.

&quot;Ya senang-senang aja, yang penting kan kerjaannya halal. Anggap saja saya sekalian ikut menjaga kebersihan Tangerang,&quot; ujarnya.



Ipul juga berbagi beberapa pengalaman yang pernah dialaminya selama dua tahun bekerja sebagai penyapu jalan. Salah satunya adalah ketika ia hampir saja terserempet motor. Saat itu masih pagi, jalanan pun belum terlalu ramai tiba-tiba saja seorang pengendara motor melaju dengan kecepatan tinggi. Untungnya dia masih sempat menghindar.

&quot;Biasa kalau masih pagi suka pada ngebut, untungnya saya masih sempet naik ke trotoar. Kalau nggak ya, mungkin udah keserempet&quot; ceritanya.

Tak hanya itu, Ipul juga mengeluhkan perilaku masyarakat kota Tangerang yang masih membuang sampah tidak pada tempatnya. Sering kali Ipul menemukan pengguna jalan yang melemparkan sampah ke pinggir jalan, bahkan ada yang membuangnya begitu saja di tengah jalan.



&quot;Bekas botol minum, atau sampah plastik bekas makanan main lempar aja ke pinggir kadang dibuang di jalannya&quot; keluhnya.

Tak hanya di jalan, perilaku tersebut juga kerap ditemukannya saat pemkot Tangerang menggelar acara. Meskipun tempat sampah bertebaran dimana-mana, namun tetap saja dari berlangsungnya acara hingga selesai, sampah banyak di temukan di tempat acara.

&quot;Heran saya juga, itu sampah kayak gak habis-habis disapuin. Padahal tong sampah banyak. Tapi ya sudah lah itu sudah kewajiban saya membersihkan sampah&quot; lanjutnya lagi.

Jika Ipul bekerja sebagai penyapu jalan, beda cerita dengan Sobari  yang menjadi supir truk pengangkut sampah dari Dinas Lingkungan Hidup  kota Tangerang. Sobari bercerita, selama bekerja menggeluti sampah  dirinya merasa biasa saja. Tidak seperti yang orang pikirkan. Dirinya  merasa bahwa menjadi supir pengangkut sampah sama saja dengan pekerjaan  lainnya.

&quot;Orang kalo gak biasa liat beginian (sampah) ya pasti mikirnya jijik.  Tapi kita kan udah biasa liat tiap hari ya jadi biasa aja&quot; ujarnya.

Namun meski begitu, Sobari mengaku beberapa kali mengalami luka saat  sedang mengangkut sampah. Luka itu didapatkannya dari sampah barang  pecah belah yang tidak dipisahkan. Meskipun dirinya memakai pakaian  lengkap, tetap saja   pecahan beling itu bisa merobek kulitnya.

&quot;Seringnya kena beling, tapi cuma luka kecil sih. Pernah luka lumayan parah, cuma sekali itu aja&quot; jelasnya.

Memasuki musim hujan, Sobari mengaku tak menemukan kesulitan yang  berarti saat mengangkut sampah. Baginya, rutinitas mengangkut sampah itu  sudah menjadi kebiasaan sehingga setiap harinya dilalui tanpa  kesulitan.

&quot;Kalau musim hujan kita dapat jas hujan juga buat kenek mobil yang  ngangkut sampahnya, jadi ya gak ada kesulitan apa-apa sih&quot; tuturnya.

Namun, Sobari mengakui bahwa sampah di musim penghujan memang lebih  banyak dari biasanya. Sampah juga menjadi lebih cepat membusuk karena  tersiram air hujan.  Jika sudah begitu, Sobari harus lebih menjaga  tubuhnya agar tidak rentan terkena penyakit.

&quot;Udah kerjanya di tempat sampah yang banyak kotoran, ditambah lagi  musim hujan ya makin aja gampang sakit. Tapi alhamdulillah gak pernah  sakit gara-gara kerja begini&quot; tandasnya.

Ipul dan Sobari hanyalah sebagian kecil dari petugas kebersihan yang  bekerja untuk menjaga keindahan serta kebersihan kota Tangerang. Jasanya  bagi masyarakat besar, namun keberadaan mereka sering kali dilupakan  bahkan diremehkan. Banyak yang menganggap menjaga kebersihan kota dari  sampah adalah tugas mereka semata, padahal sebenarnya itu adalah  kewajiban dari setiap masyarakat.</description><content:encoded>TANGERANG - Kebersihan jalan di Kota Tangerang tak luput dari peran petugas kebersihan yang setiap hari membersihkan jalan dari sampah yang berserakan. Tugasnya yang langsung terjun ke lapangan, membuat petugas kebersihan yang kerap disebut pasukan oranye memiliki banyak kisah menarik.

Salah satunya adalah Saipul, pria paruh baya ini sudah dua tahun menjalani profesi sebagai petugas kebersihan di Kota Tangerang. Setiap hari, dirinya menyapu jalanan protokol kota Tangerang dari pagi hingga sore hari.

Kepada Okezone, pria yang kerap disapa Ipul ini mengaku bahwa dirinya merasa senanh dengan pekerjaannya membersihkan kota. Meskipun terkadang harus bekerja di bawah terik matahari, atau bahkan di tengah rintik hujan.

&quot;Ya senang-senang aja, yang penting kan kerjaannya halal. Anggap saja saya sekalian ikut menjaga kebersihan Tangerang,&quot; ujarnya.



Ipul juga berbagi beberapa pengalaman yang pernah dialaminya selama dua tahun bekerja sebagai penyapu jalan. Salah satunya adalah ketika ia hampir saja terserempet motor. Saat itu masih pagi, jalanan pun belum terlalu ramai tiba-tiba saja seorang pengendara motor melaju dengan kecepatan tinggi. Untungnya dia masih sempat menghindar.

&quot;Biasa kalau masih pagi suka pada ngebut, untungnya saya masih sempet naik ke trotoar. Kalau nggak ya, mungkin udah keserempet&quot; ceritanya.

Tak hanya itu, Ipul juga mengeluhkan perilaku masyarakat kota Tangerang yang masih membuang sampah tidak pada tempatnya. Sering kali Ipul menemukan pengguna jalan yang melemparkan sampah ke pinggir jalan, bahkan ada yang membuangnya begitu saja di tengah jalan.



&quot;Bekas botol minum, atau sampah plastik bekas makanan main lempar aja ke pinggir kadang dibuang di jalannya&quot; keluhnya.

Tak hanya di jalan, perilaku tersebut juga kerap ditemukannya saat pemkot Tangerang menggelar acara. Meskipun tempat sampah bertebaran dimana-mana, namun tetap saja dari berlangsungnya acara hingga selesai, sampah banyak di temukan di tempat acara.

&quot;Heran saya juga, itu sampah kayak gak habis-habis disapuin. Padahal tong sampah banyak. Tapi ya sudah lah itu sudah kewajiban saya membersihkan sampah&quot; lanjutnya lagi.

Jika Ipul bekerja sebagai penyapu jalan, beda cerita dengan Sobari  yang menjadi supir truk pengangkut sampah dari Dinas Lingkungan Hidup  kota Tangerang. Sobari bercerita, selama bekerja menggeluti sampah  dirinya merasa biasa saja. Tidak seperti yang orang pikirkan. Dirinya  merasa bahwa menjadi supir pengangkut sampah sama saja dengan pekerjaan  lainnya.

&quot;Orang kalo gak biasa liat beginian (sampah) ya pasti mikirnya jijik.  Tapi kita kan udah biasa liat tiap hari ya jadi biasa aja&quot; ujarnya.

Namun meski begitu, Sobari mengaku beberapa kali mengalami luka saat  sedang mengangkut sampah. Luka itu didapatkannya dari sampah barang  pecah belah yang tidak dipisahkan. Meskipun dirinya memakai pakaian  lengkap, tetap saja   pecahan beling itu bisa merobek kulitnya.

&quot;Seringnya kena beling, tapi cuma luka kecil sih. Pernah luka lumayan parah, cuma sekali itu aja&quot; jelasnya.

Memasuki musim hujan, Sobari mengaku tak menemukan kesulitan yang  berarti saat mengangkut sampah. Baginya, rutinitas mengangkut sampah itu  sudah menjadi kebiasaan sehingga setiap harinya dilalui tanpa  kesulitan.

&quot;Kalau musim hujan kita dapat jas hujan juga buat kenek mobil yang  ngangkut sampahnya, jadi ya gak ada kesulitan apa-apa sih&quot; tuturnya.

Namun, Sobari mengakui bahwa sampah di musim penghujan memang lebih  banyak dari biasanya. Sampah juga menjadi lebih cepat membusuk karena  tersiram air hujan.  Jika sudah begitu, Sobari harus lebih menjaga  tubuhnya agar tidak rentan terkena penyakit.

&quot;Udah kerjanya di tempat sampah yang banyak kotoran, ditambah lagi  musim hujan ya makin aja gampang sakit. Tapi alhamdulillah gak pernah  sakit gara-gara kerja begini&quot; tandasnya.

Ipul dan Sobari hanyalah sebagian kecil dari petugas kebersihan yang  bekerja untuk menjaga keindahan serta kebersihan kota Tangerang. Jasanya  bagi masyarakat besar, namun keberadaan mereka sering kali dilupakan  bahkan diremehkan. Banyak yang menganggap menjaga kebersihan kota dari  sampah adalah tugas mereka semata, padahal sebenarnya itu adalah  kewajiban dari setiap masyarakat.</content:encoded></item></channel></rss>
