<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Bendung Katulampa, Beton Peringatan Dini Banjir Tinggalan Belanda</title><description>Dulu, Bendung Katulampa dibuat untuk pengairan sawah. Setelah sawah habis, bendungan ini dimanfaatkan untuk sistem peringatan dini banjir</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/03/337/2148765/bendung-katulampa-beton-peringatan-dini-banjir-tinggalan-belanda</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/01/03/337/2148765/bendung-katulampa-beton-peringatan-dini-banjir-tinggalan-belanda"/><item><title>Bendung Katulampa, Beton Peringatan Dini Banjir Tinggalan Belanda</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/03/337/2148765/bendung-katulampa-beton-peringatan-dini-banjir-tinggalan-belanda</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/01/03/337/2148765/bendung-katulampa-beton-peringatan-dini-banjir-tinggalan-belanda</guid><pubDate>Jum'at 03 Januari 2020 08:49 WIB</pubDate><dc:creator>Rizka Diputra</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/01/03/337/2148765/bendung-katulampa-beton-pengingat-banjir-peninggalan-belanda-7L3lYs3yAb.JPG" expression="full" type="image/jpeg">Bendung Katulampa, beton peninggalan pemerintah kolonial Belanda sebagai pengirim sinyal banjir ke Jakarta (Foto: Okezone.com/Putra Ramadhani Astyawan)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/01/03/337/2148765/bendung-katulampa-beton-pengingat-banjir-peninggalan-belanda-7L3lYs3yAb.JPG</image><title>Bendung Katulampa, beton peninggalan pemerintah kolonial Belanda sebagai pengirim sinyal banjir ke Jakarta (Foto: Okezone.com/Putra Ramadhani Astyawan)</title></images><description>BANJIR besar yang melanda wilayah Jabodetabek di hari pertama tahun 2020 mengagetkan semua orang. Tak hanya Ibu Kota Negara, sejumlah kota penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi juga tak luput dari terjangan air bah.&amp;nbsp;
Bicara soal banjir Jakarta, tak bisa lepas dari Bendung Katulampa yang berlokasi di Bogor, Jawa Barat.
Dari berbagai sumber diketahui, proyek pembangunan bendungan ini dimulai pada&amp;nbsp;16 April&amp;nbsp;1911&amp;nbsp;dan selesai pada awal Oktober&amp;nbsp;1912, sebelum akhirnya diresmikan penggunaannya pada&amp;nbsp;11 Oktober&amp;nbsp;1912.
Total biaya yang dikeluarkan untuk membangun bendung ini mencapai 80.000 gulden. Bendungan yang juga hasil karya Ir.&amp;nbsp;Hendrik van Breen&amp;nbsp;ini memiliki panjang total 74 m, dengan 5 inlaatsluis (pintu untuk mengalirkan arus ke kawasan di bawah), 3&amp;nbsp;spuisluis (pintu untuk menahan air, jika volume air berlebihan dan mengancam kawasan bawah), dengan lebar masing-masing pintu 4 m.
Selain untuk pengendalian banjir bendungan yang dulu disebut Katoelampa Dam&amp;nbsp;ini juga memiliki fungsi sampingan sebagai sistem irigasi. Berkat bendungan ini sebanyak 10.000&amp;nbsp;bouw&amp;nbsp;sawah (orang Jawa menyebutnya&amp;nbsp;bau, 1&amp;nbsp;bouw&amp;nbsp;ekuivalen dengan 0,7 hektar) dapat diairi melalui&amp;nbsp;Oosterslokkan&amp;nbsp;(Kali Baru).
Kanal&amp;nbsp;Oosterslokkan&amp;nbsp;ini sebelumnya telah dibangun pada abad ke-18 atas prakarsa Gubernur Jenderal&amp;nbsp;Baron van Imhoff. Saluran air ini mengalir dari sini melintasi&amp;nbsp;Weltevreden&amp;nbsp;(Menteng). Sebelumnya kanal ini dimaksudkan untuk lalu lintas pelayaran ke pedalaman (ke arah Bogor).
Bukan hanya Gubernur Jenderal Baron van Imhoff, tetapi juga Gubernur Jenderal&amp;nbsp;Daendels&amp;nbsp;telah mempunyai rencana untuk menggali kanal untuk pelayaran ke pedalaman.
Pentingnya keberadaan bendung ini dapat dilihat dari siapa yang meresmikannya. Tak tanggung-tanggung,&amp;nbsp;Gubernur Jenderal&amp;nbsp;Alexander Willem Frederik Idenburg bersama para pejabat penting masa itu.
Antara lain Kepala Insinyur Negara Roos, Ir. Van Dissel, Ir.&amp;nbsp;Hendrik van Breen, pengawas&amp;nbsp;Leuwiliang&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;Bogor, anggota dewan Ebbink, administrator D. Veenstra (Ciluar), Mulder (Kedung Halang), Valette (Pondok Gede), Sol (Ciomas),&amp;nbsp;Residen&amp;nbsp;Batavia,&amp;nbsp;Asisten Residen&amp;nbsp;(setingkat&amp;nbsp;wedana) Bogor, dan para patih Bogor, Batavia dan&amp;nbsp;Meester Cornelis&amp;nbsp;(sekarang&amp;nbsp;Jatinegara).
Peresmian bendungan dimeriahkan dengan gamelan dan tari-tarian, serta upacara selamatan dengan kepala kerbau.
Meski Bendungan Katulampa mulai beroperasi pada 1912, pembangunannya  sudah dipikirkan sejak&amp;nbsp;1889. Sejak banjir besar melanda Jakarta pada&amp;nbsp;1872.
Banjir saat itu dikabarkan membuat daerah elit Harmoni ikut terendam air luapan Sungai&amp;nbsp;Ciliwung. Dari Katulampa, sebagian air Ciliwung dialirkan lewat pintu air ke&amp;nbsp;Kali Baru Timur, saluran irigasi yang dibangun pada waktu yang sama.
Dari bagian timur Bogor, sungai buatan itu mengalir ke Jakarta, di sepanjang sisi Jalan raya Bogor, melalui&amp;nbsp;Cimanggis,&amp;nbsp;Depok,&amp;nbsp;Cilangkap, sebelum bermuara di daerah Kali Besar,&amp;nbsp;Tanjung Priok, Batavia.
Air Kali Baru Timur dulu dipakai untuk mengairi sawah yang banyak terdapat di daerah antara Bogor dan Jakarta.&amp;nbsp;
Dari catatan prasasti yang dibuat tertulis &quot;Het was hoogst noodig dat deze permanente dam tot stand kwam, nu kan Weltevreden geregeld spuiwater krijgen en de kans op groote overstroomingen te Batavia is vrijwel uitgesloten&quot;&amp;nbsp;yang artinya kurang lebih demikian :
Sangat perlu direalisasikan bendungan permanen ini. Sekarang, Weltevreden&amp;nbsp;(Menteng) bisa secara teratur memperoleh pengairan dan peluang banjir besar di Batavia nyaris tertutup (Bataviaasche Nieuwsblad,&amp;nbsp;12 Oktober&amp;nbsp;1912).Hingga 1990, areal persawahan di Bogor dan Jakarta masih banyak, sekitar 2.414 hektare. Kini areal sawah ini hampir habis. Hanya Bogor dan Cibinong yang masih memiliki 72 hektare sawah, sementara Jakarta sama sekali habis.
Lambat laun fungsi irigasi Bendungan Katulampa berakhir. Kini, Bendung Katulampa kerap dijadikan patokan atau acuan akan datangnya banjir ke wilayah Jakarta, bilamana curah hujan di kawasan Bogor turun dengan intensitas tinggi berdurasi lama.</description><content:encoded>BANJIR besar yang melanda wilayah Jabodetabek di hari pertama tahun 2020 mengagetkan semua orang. Tak hanya Ibu Kota Negara, sejumlah kota penyangga seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi juga tak luput dari terjangan air bah.&amp;nbsp;
Bicara soal banjir Jakarta, tak bisa lepas dari Bendung Katulampa yang berlokasi di Bogor, Jawa Barat.
Dari berbagai sumber diketahui, proyek pembangunan bendungan ini dimulai pada&amp;nbsp;16 April&amp;nbsp;1911&amp;nbsp;dan selesai pada awal Oktober&amp;nbsp;1912, sebelum akhirnya diresmikan penggunaannya pada&amp;nbsp;11 Oktober&amp;nbsp;1912.
Total biaya yang dikeluarkan untuk membangun bendung ini mencapai 80.000 gulden. Bendungan yang juga hasil karya Ir.&amp;nbsp;Hendrik van Breen&amp;nbsp;ini memiliki panjang total 74 m, dengan 5 inlaatsluis (pintu untuk mengalirkan arus ke kawasan di bawah), 3&amp;nbsp;spuisluis (pintu untuk menahan air, jika volume air berlebihan dan mengancam kawasan bawah), dengan lebar masing-masing pintu 4 m.
Selain untuk pengendalian banjir bendungan yang dulu disebut Katoelampa Dam&amp;nbsp;ini juga memiliki fungsi sampingan sebagai sistem irigasi. Berkat bendungan ini sebanyak 10.000&amp;nbsp;bouw&amp;nbsp;sawah (orang Jawa menyebutnya&amp;nbsp;bau, 1&amp;nbsp;bouw&amp;nbsp;ekuivalen dengan 0,7 hektar) dapat diairi melalui&amp;nbsp;Oosterslokkan&amp;nbsp;(Kali Baru).
Kanal&amp;nbsp;Oosterslokkan&amp;nbsp;ini sebelumnya telah dibangun pada abad ke-18 atas prakarsa Gubernur Jenderal&amp;nbsp;Baron van Imhoff. Saluran air ini mengalir dari sini melintasi&amp;nbsp;Weltevreden&amp;nbsp;(Menteng). Sebelumnya kanal ini dimaksudkan untuk lalu lintas pelayaran ke pedalaman (ke arah Bogor).
Bukan hanya Gubernur Jenderal Baron van Imhoff, tetapi juga Gubernur Jenderal&amp;nbsp;Daendels&amp;nbsp;telah mempunyai rencana untuk menggali kanal untuk pelayaran ke pedalaman.
Pentingnya keberadaan bendung ini dapat dilihat dari siapa yang meresmikannya. Tak tanggung-tanggung,&amp;nbsp;Gubernur Jenderal&amp;nbsp;Alexander Willem Frederik Idenburg bersama para pejabat penting masa itu.
Antara lain Kepala Insinyur Negara Roos, Ir. Van Dissel, Ir.&amp;nbsp;Hendrik van Breen, pengawas&amp;nbsp;Leuwiliang&amp;nbsp;dan&amp;nbsp;Bogor, anggota dewan Ebbink, administrator D. Veenstra (Ciluar), Mulder (Kedung Halang), Valette (Pondok Gede), Sol (Ciomas),&amp;nbsp;Residen&amp;nbsp;Batavia,&amp;nbsp;Asisten Residen&amp;nbsp;(setingkat&amp;nbsp;wedana) Bogor, dan para patih Bogor, Batavia dan&amp;nbsp;Meester Cornelis&amp;nbsp;(sekarang&amp;nbsp;Jatinegara).
Peresmian bendungan dimeriahkan dengan gamelan dan tari-tarian, serta upacara selamatan dengan kepala kerbau.
Meski Bendungan Katulampa mulai beroperasi pada 1912, pembangunannya  sudah dipikirkan sejak&amp;nbsp;1889. Sejak banjir besar melanda Jakarta pada&amp;nbsp;1872.
Banjir saat itu dikabarkan membuat daerah elit Harmoni ikut terendam air luapan Sungai&amp;nbsp;Ciliwung. Dari Katulampa, sebagian air Ciliwung dialirkan lewat pintu air ke&amp;nbsp;Kali Baru Timur, saluran irigasi yang dibangun pada waktu yang sama.
Dari bagian timur Bogor, sungai buatan itu mengalir ke Jakarta, di sepanjang sisi Jalan raya Bogor, melalui&amp;nbsp;Cimanggis,&amp;nbsp;Depok,&amp;nbsp;Cilangkap, sebelum bermuara di daerah Kali Besar,&amp;nbsp;Tanjung Priok, Batavia.
Air Kali Baru Timur dulu dipakai untuk mengairi sawah yang banyak terdapat di daerah antara Bogor dan Jakarta.&amp;nbsp;
Dari catatan prasasti yang dibuat tertulis &quot;Het was hoogst noodig dat deze permanente dam tot stand kwam, nu kan Weltevreden geregeld spuiwater krijgen en de kans op groote overstroomingen te Batavia is vrijwel uitgesloten&quot;&amp;nbsp;yang artinya kurang lebih demikian :
Sangat perlu direalisasikan bendungan permanen ini. Sekarang, Weltevreden&amp;nbsp;(Menteng) bisa secara teratur memperoleh pengairan dan peluang banjir besar di Batavia nyaris tertutup (Bataviaasche Nieuwsblad,&amp;nbsp;12 Oktober&amp;nbsp;1912).Hingga 1990, areal persawahan di Bogor dan Jakarta masih banyak, sekitar 2.414 hektare. Kini areal sawah ini hampir habis. Hanya Bogor dan Cibinong yang masih memiliki 72 hektare sawah, sementara Jakarta sama sekali habis.
Lambat laun fungsi irigasi Bendungan Katulampa berakhir. Kini, Bendung Katulampa kerap dijadikan patokan atau acuan akan datangnya banjir ke wilayah Jakarta, bilamana curah hujan di kawasan Bogor turun dengan intensitas tinggi berdurasi lama.</content:encoded></item></channel></rss>
