<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Eksotika Stasiun Cirebon, Pusat Transportasi Tersibuk dengan Corak Gedung Eropa</title><description>Peresmian Stasiun Cirebon juga bersamaan dengan peresmian jalur kereta api Cikampek-Cirebon sepanjang 137 KM.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/04/337/2149068/eksotika-stasiun-cirebon-pusat-transportasi-tersibuk-dengan-corak-gedung-eropa</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/01/04/337/2149068/eksotika-stasiun-cirebon-pusat-transportasi-tersibuk-dengan-corak-gedung-eropa"/><item><title>Eksotika Stasiun Cirebon, Pusat Transportasi Tersibuk dengan Corak Gedung Eropa</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/04/337/2149068/eksotika-stasiun-cirebon-pusat-transportasi-tersibuk-dengan-corak-gedung-eropa</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/01/04/337/2149068/eksotika-stasiun-cirebon-pusat-transportasi-tersibuk-dengan-corak-gedung-eropa</guid><pubDate>Sabtu 04 Januari 2020 11:01 WIB</pubDate><dc:creator>Fathnur Rohman</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/01/03/337/2149068/eksotika-stasiun-cirebon-pusat-transportasi-tersibuk-dengan-corak-gedung-eropa-WWL1lpW0nL.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Stasiun Cirebon (Foto: Okezone/Fathnur)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/01/03/337/2149068/eksotika-stasiun-cirebon-pusat-transportasi-tersibuk-dengan-corak-gedung-eropa-WWL1lpW0nL.jpg</image><title>Stasiun Cirebon (Foto: Okezone/Fathnur)</title></images><description>CIREBON - Kota Cirebon saat ini sudah berusia 650 tahun. Di usianya yang sudah begitu tua, kota ini menyimpan sejumlah bangunan cagar budaya dengan nilai sejarah yang sangat tinggi. Salah satu dari sekian banyak bangunan warisan budaya itu adalah Stasiun Cirebon.
Melansir berbagai sumber, diceritakan ketika pertama kali pabrik pengolahan tebu didirikan di Kota Tegal, Jawa Tengah pada tahun 1813, industri gula berkembang begitu pesat sampai menyebar ke daerah Cirebon. Kala itu, Cirebon sudah menjadi pusat perkebunan gula di pulau Jawa, sebelum sistem politik Tanam Paksa diterapkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada tahun 1830.
Pada akhir abad ke-19, Cirebon diketahui sudah memiliki lebih dari sepuluh pabrik gula. Saat itu meski kereta api belum diperkenalkan, sejumlah jalan rel bertenaga hewan ternak pun dipasang di pelosok-pelosok perkebunan tebu. Hal itu dilakukan untuk memudahkan pengangkutan hasil panen tebu ke pabrik gula.

Baru pada tahun 1911, perusahaan kereta api negara yang saat itu bernama Staatspoorwegen (SS) mengembangkan rel kereta api di Cirebon. Peristiwa bersejarah itu ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan Stasiun Cirebon.
Peresmian Stasiun Cirebon
Berdasarkan data dari Unit Architecture &amp;amp; Perservation PT Kereta Api Indonesia (KAI), Stasiun Cirebon diresmikan pada tanggal 3 Juni tahun 1912. Peresmian Stasiun Cirebon juga bersamaan dengan peresmian jalur kereta api Cikampek-Cirebon sepanjang 137 KM.Bangunan Stasiun Cirebon sendiri dirancang oleh seorang arsitek  berkebangsaan Belanda yakni Pieter Adriaan Jacoobus Moojen. Ia mengusung  konsep arsitektur bergaya indis. Pieter Adriaan Jacoobus Moojen  menggabungkan gaya arsitektur di Eropa dengan adaptasi terhadap cuaca  dan iklim di Indonesia.
Corak dan gaya arsitektur Eropa bisa dilihat dari penggunaan gavel  dan non acrateric (hiasan puncak atap), penggunaan arc (bentuk  lengkung), penggunaan vault, dan penggunaan dentils sebagai ornamen  dinding eksterior. Sedangkan, untuk gaya arsitektur yang mengadaptasi  kondisi cuaca dan iklim di Indonesia bisa dilihat dari penggunaan atap  perisai dengan kombinasi pelana atap teritis.  Selain itu terdapat juga  banyak ventilasi dan jendela untuk mengatur penghawaan di Stasiun  Cirebon.

Stasiun Cirebon memiliki denah simetris, yakni menghadap ke jalan  utama Cirebon yaitu Jalan Siliwangi. Sebagai pintu masuk, bagian tengah  Stasiun Cirebon dibuat lebih tinggi dari bagian bangunan sayapnya.  Awalnya di menara selatan Stasiun Cirebon terdapat tulisan 'KAARTJES'  (karcis), sementara di menara utara terdapat tulisan 'BAGAGE' (bagasi).  Penempatan tulisan itu sebagai penanda pemisah antara pemisahan loket  penumpang dan loket barang.
Di jelaskan dalam situs heritage.kai.id pada zaman kolonial, sebelum  adanya kesempakatan dengan perusahaan kereta api swasta Semarang  Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) di Stasiun Cirebon Prujakan pada  tanggal 1 November tahun 1914. Stasiun Cirebon tidak melayani  keberangkatan dari Semarang-Surabaya karena jalurnya tidak tersambung.

Setelah ada kesepakatan akhirnya rel kereta  dari Stasiun Cirebon ke  Stasiun Cirebon Prujakan terhubung. Namun kesepakatan tersebut hanya  untuk kepentingan transit penumpang.
Di kesepakatan itu, kereta api SS termasuk kereta api malam 'Java  Nacht Express' rute Batavia-Surabaya harus berbelok ke arah jurusan  Kroya. Sementara penumpang yang akan berangkat ke Semarang (lurus) wajib  mengganti kereta api yang dilayani oleh SCS di Stasiun Cirebon.
Pada masa Revolusi Kemerdekaan tahun 1945-1949, Stasiun Cirebon  selalu menjadi tempat transit untuk semua jenis Kereta Luar Biasa (KLB).  Salah satunya adalah saat Presiden Soekarno yang hendak memberikan  pidato di depan masyarakat.Aktivitas di Stasiun Cirebon Saat Ini
Rabu siang, tanggal 1 Januari 2020, Andri sudah siap merapihkan   barang bawaannya. Ia nampak asyik menunggu kedatangan kereta api menuju   Jakarta dengan berswafoto di depan Staisun Cirebon.
Andri mengaku sudah sering berkunjung ke Kota Cirebon. Menurut Andri,   Stasiun Cirebon memiliki gaya asitektur yang bagus. Ia merasa betah   ketika menunggu kereta di Stasiun Cirebon.

&quot;Ini spot fotonya bagus. Bangunan Stasiun Cirebon juga kan termasuk   heritage jadi lebih menarik kalau foto sambil menunggu kereta,&quot; ujar   Andir kepada Okezone.
Sementara itu saat ditemui Okezone, Manajer Humas PT KAI Daop 3   Cirebon, Luqman Arif menjelaskan, Stasiun Cirebon merupakan stasiun   utama di Daop 3 Cirebon. Setiap harinya ada sekitar 111 kereta api yang   hilir mudik mengantarkan para penumpang ke berbagai kota tujuan.
Disampaikan Luqman, pihaknya selalu melakukan perbaikan layanan dan   fasilitas untuk memanjakan para penumpangnya. Bahkan, pihaknya   menyediakan ruang tunggu, co-working, panggung live musik, serta   fasilitas tambahan lainnya.

&quot;Itu fasilitas tambahan agar para penumpang tidak merasa bosan menunggu kedatangan kereta api,&quot; kata Luqman.
Sebagai stasiun utama di Daop 3 Cirebon, penumpang yang ada di   Stasiun Cirebon di hari-hari normal mencapai angka 3.000 orang.   Sementara untuk pegawai yang bertugas di Stasiun Cirebon ada sekitar 138   orang. Menurut Luqman, Stasiun Cirebon merupakan salah satu jalur   kereta api terpadat di Indonesia.Luqman dan pegawai di Stasiun Cirebon sendiri harus standby 24 jam    untuk melayani penumpang. Bahkan sejak 19 Desember 2019 hingga 5 Januari    2020 tidak ada satupun petugas di Stasiun Cirebon yang libur.  Walaupun   begitu, diungkapkan Luqman, sebagai pegawai PT KAI hal  tersebut sudah   menjadi komitmen dan tanggung jawabnya. Ia pun merasa  bersyukur karena   keluarganya mengerti dengan beban pekerjaan yang  harus dikerjakan   olehnya.
&quot;Mulai tanggal 19 Desember sampai 5 Januari, selama 18 hari mulai    dari pimpinan hingga pegawai di Daop 3 belum libur. Kami siaga 24 jam.    Meski harus meninggalkan keluarga kami enjoy melaksanakan tugas ini,&quot;    tutur Luqman.

Luqman sendiri berharap dengan apa yang dikerjakan oleh pihaknya baik    dari segi pelayanan dan penambahan fasilitas bisa berdampak positif    bagi para penumpang, khususnya dalam kenyamanan saat menunggu serta    menggunakan moda transportasi kereta api.
&quot;Mudah-mudahan upaya yang telah dan akan dilakukan bisa memberikan    manfaat. Masyarakat bisa nyaman menggunakan kereta api,&quot; ucap dia.(KHA)</description><content:encoded>CIREBON - Kota Cirebon saat ini sudah berusia 650 tahun. Di usianya yang sudah begitu tua, kota ini menyimpan sejumlah bangunan cagar budaya dengan nilai sejarah yang sangat tinggi. Salah satu dari sekian banyak bangunan warisan budaya itu adalah Stasiun Cirebon.
Melansir berbagai sumber, diceritakan ketika pertama kali pabrik pengolahan tebu didirikan di Kota Tegal, Jawa Tengah pada tahun 1813, industri gula berkembang begitu pesat sampai menyebar ke daerah Cirebon. Kala itu, Cirebon sudah menjadi pusat perkebunan gula di pulau Jawa, sebelum sistem politik Tanam Paksa diterapkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada tahun 1830.
Pada akhir abad ke-19, Cirebon diketahui sudah memiliki lebih dari sepuluh pabrik gula. Saat itu meski kereta api belum diperkenalkan, sejumlah jalan rel bertenaga hewan ternak pun dipasang di pelosok-pelosok perkebunan tebu. Hal itu dilakukan untuk memudahkan pengangkutan hasil panen tebu ke pabrik gula.

Baru pada tahun 1911, perusahaan kereta api negara yang saat itu bernama Staatspoorwegen (SS) mengembangkan rel kereta api di Cirebon. Peristiwa bersejarah itu ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan Stasiun Cirebon.
Peresmian Stasiun Cirebon
Berdasarkan data dari Unit Architecture &amp;amp; Perservation PT Kereta Api Indonesia (KAI), Stasiun Cirebon diresmikan pada tanggal 3 Juni tahun 1912. Peresmian Stasiun Cirebon juga bersamaan dengan peresmian jalur kereta api Cikampek-Cirebon sepanjang 137 KM.Bangunan Stasiun Cirebon sendiri dirancang oleh seorang arsitek  berkebangsaan Belanda yakni Pieter Adriaan Jacoobus Moojen. Ia mengusung  konsep arsitektur bergaya indis. Pieter Adriaan Jacoobus Moojen  menggabungkan gaya arsitektur di Eropa dengan adaptasi terhadap cuaca  dan iklim di Indonesia.
Corak dan gaya arsitektur Eropa bisa dilihat dari penggunaan gavel  dan non acrateric (hiasan puncak atap), penggunaan arc (bentuk  lengkung), penggunaan vault, dan penggunaan dentils sebagai ornamen  dinding eksterior. Sedangkan, untuk gaya arsitektur yang mengadaptasi  kondisi cuaca dan iklim di Indonesia bisa dilihat dari penggunaan atap  perisai dengan kombinasi pelana atap teritis.  Selain itu terdapat juga  banyak ventilasi dan jendela untuk mengatur penghawaan di Stasiun  Cirebon.

Stasiun Cirebon memiliki denah simetris, yakni menghadap ke jalan  utama Cirebon yaitu Jalan Siliwangi. Sebagai pintu masuk, bagian tengah  Stasiun Cirebon dibuat lebih tinggi dari bagian bangunan sayapnya.  Awalnya di menara selatan Stasiun Cirebon terdapat tulisan 'KAARTJES'  (karcis), sementara di menara utara terdapat tulisan 'BAGAGE' (bagasi).  Penempatan tulisan itu sebagai penanda pemisah antara pemisahan loket  penumpang dan loket barang.
Di jelaskan dalam situs heritage.kai.id pada zaman kolonial, sebelum  adanya kesempakatan dengan perusahaan kereta api swasta Semarang  Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) di Stasiun Cirebon Prujakan pada  tanggal 1 November tahun 1914. Stasiun Cirebon tidak melayani  keberangkatan dari Semarang-Surabaya karena jalurnya tidak tersambung.

Setelah ada kesepakatan akhirnya rel kereta  dari Stasiun Cirebon ke  Stasiun Cirebon Prujakan terhubung. Namun kesepakatan tersebut hanya  untuk kepentingan transit penumpang.
Di kesepakatan itu, kereta api SS termasuk kereta api malam 'Java  Nacht Express' rute Batavia-Surabaya harus berbelok ke arah jurusan  Kroya. Sementara penumpang yang akan berangkat ke Semarang (lurus) wajib  mengganti kereta api yang dilayani oleh SCS di Stasiun Cirebon.
Pada masa Revolusi Kemerdekaan tahun 1945-1949, Stasiun Cirebon  selalu menjadi tempat transit untuk semua jenis Kereta Luar Biasa (KLB).  Salah satunya adalah saat Presiden Soekarno yang hendak memberikan  pidato di depan masyarakat.Aktivitas di Stasiun Cirebon Saat Ini
Rabu siang, tanggal 1 Januari 2020, Andri sudah siap merapihkan   barang bawaannya. Ia nampak asyik menunggu kedatangan kereta api menuju   Jakarta dengan berswafoto di depan Staisun Cirebon.
Andri mengaku sudah sering berkunjung ke Kota Cirebon. Menurut Andri,   Stasiun Cirebon memiliki gaya asitektur yang bagus. Ia merasa betah   ketika menunggu kereta di Stasiun Cirebon.

&quot;Ini spot fotonya bagus. Bangunan Stasiun Cirebon juga kan termasuk   heritage jadi lebih menarik kalau foto sambil menunggu kereta,&quot; ujar   Andir kepada Okezone.
Sementara itu saat ditemui Okezone, Manajer Humas PT KAI Daop 3   Cirebon, Luqman Arif menjelaskan, Stasiun Cirebon merupakan stasiun   utama di Daop 3 Cirebon. Setiap harinya ada sekitar 111 kereta api yang   hilir mudik mengantarkan para penumpang ke berbagai kota tujuan.
Disampaikan Luqman, pihaknya selalu melakukan perbaikan layanan dan   fasilitas untuk memanjakan para penumpangnya. Bahkan, pihaknya   menyediakan ruang tunggu, co-working, panggung live musik, serta   fasilitas tambahan lainnya.

&quot;Itu fasilitas tambahan agar para penumpang tidak merasa bosan menunggu kedatangan kereta api,&quot; kata Luqman.
Sebagai stasiun utama di Daop 3 Cirebon, penumpang yang ada di   Stasiun Cirebon di hari-hari normal mencapai angka 3.000 orang.   Sementara untuk pegawai yang bertugas di Stasiun Cirebon ada sekitar 138   orang. Menurut Luqman, Stasiun Cirebon merupakan salah satu jalur   kereta api terpadat di Indonesia.Luqman dan pegawai di Stasiun Cirebon sendiri harus standby 24 jam    untuk melayani penumpang. Bahkan sejak 19 Desember 2019 hingga 5 Januari    2020 tidak ada satupun petugas di Stasiun Cirebon yang libur.  Walaupun   begitu, diungkapkan Luqman, sebagai pegawai PT KAI hal  tersebut sudah   menjadi komitmen dan tanggung jawabnya. Ia pun merasa  bersyukur karena   keluarganya mengerti dengan beban pekerjaan yang  harus dikerjakan   olehnya.
&quot;Mulai tanggal 19 Desember sampai 5 Januari, selama 18 hari mulai    dari pimpinan hingga pegawai di Daop 3 belum libur. Kami siaga 24 jam.    Meski harus meninggalkan keluarga kami enjoy melaksanakan tugas ini,&quot;    tutur Luqman.

Luqman sendiri berharap dengan apa yang dikerjakan oleh pihaknya baik    dari segi pelayanan dan penambahan fasilitas bisa berdampak positif    bagi para penumpang, khususnya dalam kenyamanan saat menunggu serta    menggunakan moda transportasi kereta api.
&quot;Mudah-mudahan upaya yang telah dan akan dilakukan bisa memberikan    manfaat. Masyarakat bisa nyaman menggunakan kereta api,&quot; ucap dia.(KHA)</content:encoded></item></channel></rss>
