<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Pasca-Banjir, Sampah di Bekasi Melonjak hingga 200 Ton per Hari </title><description>Pasca-banjir, TPA Burangkeng, Setu, Kota Bekasi, Jawa Barat, mengalami lonjakan volume sampah hingga 200 ton per hari.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/06/338/2149940/pasca-banjir-sampah-di-bekasi-melonjak-hingga-200-ton-per-hari</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/01/06/338/2149940/pasca-banjir-sampah-di-bekasi-melonjak-hingga-200-ton-per-hari"/><item><title>Pasca-Banjir, Sampah di Bekasi Melonjak hingga 200 Ton per Hari </title><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/06/338/2149940/pasca-banjir-sampah-di-bekasi-melonjak-hingga-200-ton-per-hari</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/01/06/338/2149940/pasca-banjir-sampah-di-bekasi-melonjak-hingga-200-ton-per-hari</guid><pubDate>Senin 06 Januari 2020 19:10 WIB</pubDate><dc:creator>Wijayakusuma</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/01/06/338/2149940/pasca-banjir-sampah-di-bekasi-melonjak-hingga-200-ton-per-hari-JjujDyNsZV.jpg" expression="full" type="image/jpeg">TPA Burangkeng, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat (Foto: Okezone/Wijayakusuma)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/01/06/338/2149940/pasca-banjir-sampah-di-bekasi-melonjak-hingga-200-ton-per-hari-JjujDyNsZV.jpg</image><title>TPA Burangkeng, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat (Foto: Okezone/Wijayakusuma)</title></images><description>BEKASI - Pasca-banjir, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng, Setu, Kota Bekasi, Jawa Barat, mengalami lonjakan volume sampah hingga 200 ton per hari. Sampah didominasi barang-barang rumah tangga yang rusak terendam banjir, seperti kasur dan perabotan kayu.&amp;nbsp;
&quot;Ada kenaikan mungkin sekitar 100-200 ton sehari pasca-banjir tiga hari lalu. Karena memang banyak sampah yang katakanlah baru, baik dari perumahan-perumahan, pasar,&quot; kata Sekretaris Desa Burangkeng, Ali Gunawan kepada Okezone, Senin (6/1/2020).
Menurutnya, akibat kenaikan volume sampah, TPA Burangkeng kini menampung sebanyak 900 ton sampah per hari. Kondisi ini dinilai memungkinkan TPA mengalami overload dalam waktu singkat.
&quot;Kalau berdasarkan rapid assessment itu kurang lebih 900 ton per hari sampah yang masuk. Kondisi udah hampir overload, mungkin antara 1-2 tahun lagi tidak bisa menampung,&quot; ungkapnya.
Baca Juga:&amp;nbsp;Anies Baswedan: 330 RW di Jakarta Sudah Terbebas dari Banjir

Ali mengakui pengelolaan sampah di TPA Burangkeng belum maksimal dan masih butuh perhatian serius dari dinas terkait. Terlebih untuk sampah-sampah sisa banjir yang memang lebih sulit diolah.
&quot;Pengelolaan masih seperti kemarin, belum maksimal lah, jadi perlu perhatian serius dari pihak UPTD Dinas Lingkungan Hidup. Kesulitan pengelolaan mungkin karena banyak sampah rumah tangga yang masuk, juga ranting-ranting kayu yang masuk kan waktu banjir itu,&quot; tuturnya.
Ia menuturkan, rencana penambahan zona untuk mencegah terjadinya overload, dengan waktu yang belum ditentukan. Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk upaya penanganan sampah ke depannya.
&quot;Ini baru wacana, katanya per bulan itu mau ada pengurukan sampah, biasanya kan untuk pengurukan itu per tahun. Walaupun sifatnya mungkin bukan PL (penunjukan langsung) lah, tapi tiap bulan akan ada kegiatan untuk kegiatan sampah,&quot; ujarnya.
Baca Juga:&amp;nbsp;Ketinggian Air di Bendung Katulampa Masih Normal
Sementara, Ketua Komunitas Peduli Lingkungan, Persatuan Remaja Burangkeng Peduli Lingkungan (Prabu-PL), Carsa Hamdani, menyayangkan sikap pemerintah daerah yang terkesan lamban mengantisipasi banjir yang rutin tiap tahun.
&quot;Kenyataannya irigasi yang berdekatan dengan TPA Burangkeng yang mengalir ke perumahan terdampak banjir itu, ada perawatan atau normalisasi kah sebelumnya? Sebetulnya kemarin kalau memang pemda atau pun pihak terkait tentang penanganan kali itu, harusnya pas musim kemarau sehingga tidak terjadi banyaknya arus sampah yang terbawa banjir,&quot; keluhnya.
Menurutnya, saat ini TPA Burangkeng belum menampung seluruhnya sampah pasca-banjir di Kabupaten Bekasi. Masih banyak sisa-sisa sampah yang diakui belum terangkut di sejumlah wilayah.
&quot;TPA Burangkeng ini kan salah satunya WC di kabupaten ini. Tapi memang belum semua masuk ke TPA. Masih banyak sekali sampah sampah liar yang butuh penanganan serius,&quot; ujarnya.
Carsa meminta keseriusan dari pihak terkait untuk pengelolaan TPA dan kelengkapan fasilitasnya, seperti pengadaan hutan desa dengan menanam kembali bibit-bibit pohon yang gundul akibat pembangunan proyek Tol Cibitung.
&quot;Dan mengingat sekarang sudah musim hujan, kita semua juga harus bekerja didasari kemauan sendiri, seperti membersihkan got-got depan rumah. Kan bencana kita tidak tahu kapan datangnya. Tiba-tiba seperti kemarin,&quot; imbuhnya.
Sekadar informasi, jajaran Polres Metro Bekasi mengantisipasi penumpukan sampah di TPA Burangkeng, yang menjadi satu-satunya TPA yang dimiliki Pemkab Bekasi. Saat ini, kondisi TPA seluas 11 hektare itu disebutkan dalam kondisi penuh.
Sebanyak 11 alat berat dioperasikan guna mengantisipasi lonjakan sampah pasca-banjir. Jumlah truk pengangkut juga dioptimalkan. Dari hasil kegiatan, diketahui sampah terbanyak adalah sampah barang-barang rumah tangga pasca-banjir, terutama kasur atau spring bed.</description><content:encoded>BEKASI - Pasca-banjir, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng, Setu, Kota Bekasi, Jawa Barat, mengalami lonjakan volume sampah hingga 200 ton per hari. Sampah didominasi barang-barang rumah tangga yang rusak terendam banjir, seperti kasur dan perabotan kayu.&amp;nbsp;
&quot;Ada kenaikan mungkin sekitar 100-200 ton sehari pasca-banjir tiga hari lalu. Karena memang banyak sampah yang katakanlah baru, baik dari perumahan-perumahan, pasar,&quot; kata Sekretaris Desa Burangkeng, Ali Gunawan kepada Okezone, Senin (6/1/2020).
Menurutnya, akibat kenaikan volume sampah, TPA Burangkeng kini menampung sebanyak 900 ton sampah per hari. Kondisi ini dinilai memungkinkan TPA mengalami overload dalam waktu singkat.
&quot;Kalau berdasarkan rapid assessment itu kurang lebih 900 ton per hari sampah yang masuk. Kondisi udah hampir overload, mungkin antara 1-2 tahun lagi tidak bisa menampung,&quot; ungkapnya.
Baca Juga:&amp;nbsp;Anies Baswedan: 330 RW di Jakarta Sudah Terbebas dari Banjir

Ali mengakui pengelolaan sampah di TPA Burangkeng belum maksimal dan masih butuh perhatian serius dari dinas terkait. Terlebih untuk sampah-sampah sisa banjir yang memang lebih sulit diolah.
&quot;Pengelolaan masih seperti kemarin, belum maksimal lah, jadi perlu perhatian serius dari pihak UPTD Dinas Lingkungan Hidup. Kesulitan pengelolaan mungkin karena banyak sampah rumah tangga yang masuk, juga ranting-ranting kayu yang masuk kan waktu banjir itu,&quot; tuturnya.
Ia menuturkan, rencana penambahan zona untuk mencegah terjadinya overload, dengan waktu yang belum ditentukan. Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk upaya penanganan sampah ke depannya.
&quot;Ini baru wacana, katanya per bulan itu mau ada pengurukan sampah, biasanya kan untuk pengurukan itu per tahun. Walaupun sifatnya mungkin bukan PL (penunjukan langsung) lah, tapi tiap bulan akan ada kegiatan untuk kegiatan sampah,&quot; ujarnya.
Baca Juga:&amp;nbsp;Ketinggian Air di Bendung Katulampa Masih Normal
Sementara, Ketua Komunitas Peduli Lingkungan, Persatuan Remaja Burangkeng Peduli Lingkungan (Prabu-PL), Carsa Hamdani, menyayangkan sikap pemerintah daerah yang terkesan lamban mengantisipasi banjir yang rutin tiap tahun.
&quot;Kenyataannya irigasi yang berdekatan dengan TPA Burangkeng yang mengalir ke perumahan terdampak banjir itu, ada perawatan atau normalisasi kah sebelumnya? Sebetulnya kemarin kalau memang pemda atau pun pihak terkait tentang penanganan kali itu, harusnya pas musim kemarau sehingga tidak terjadi banyaknya arus sampah yang terbawa banjir,&quot; keluhnya.
Menurutnya, saat ini TPA Burangkeng belum menampung seluruhnya sampah pasca-banjir di Kabupaten Bekasi. Masih banyak sisa-sisa sampah yang diakui belum terangkut di sejumlah wilayah.
&quot;TPA Burangkeng ini kan salah satunya WC di kabupaten ini. Tapi memang belum semua masuk ke TPA. Masih banyak sekali sampah sampah liar yang butuh penanganan serius,&quot; ujarnya.
Carsa meminta keseriusan dari pihak terkait untuk pengelolaan TPA dan kelengkapan fasilitasnya, seperti pengadaan hutan desa dengan menanam kembali bibit-bibit pohon yang gundul akibat pembangunan proyek Tol Cibitung.
&quot;Dan mengingat sekarang sudah musim hujan, kita semua juga harus bekerja didasari kemauan sendiri, seperti membersihkan got-got depan rumah. Kan bencana kita tidak tahu kapan datangnya. Tiba-tiba seperti kemarin,&quot; imbuhnya.
Sekadar informasi, jajaran Polres Metro Bekasi mengantisipasi penumpukan sampah di TPA Burangkeng, yang menjadi satu-satunya TPA yang dimiliki Pemkab Bekasi. Saat ini, kondisi TPA seluas 11 hektare itu disebutkan dalam kondisi penuh.
Sebanyak 11 alat berat dioperasikan guna mengantisipasi lonjakan sampah pasca-banjir. Jumlah truk pengangkut juga dioptimalkan. Dari hasil kegiatan, diketahui sampah terbanyak adalah sampah barang-barang rumah tangga pasca-banjir, terutama kasur atau spring bed.</content:encoded></item></channel></rss>
