<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>&quot;Menjadi Penjaga Kamar Mayat Adalah Berkah Tuhan&quot;</title><description>Tak ada rasa takut, khawatir dan rasa sejenisnya. Bapak dua anak itu bahkan mengaku pekerjaan yang dijalaninya itu adalah berkah dari Tuhan.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/11/337/2151535/menjadi-penjaga-kamar-mayat-adalah-berkah-tuhan</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/01/11/337/2151535/menjadi-penjaga-kamar-mayat-adalah-berkah-tuhan"/><item><title>&quot;Menjadi Penjaga Kamar Mayat Adalah Berkah Tuhan&quot;</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/11/337/2151535/menjadi-penjaga-kamar-mayat-adalah-berkah-tuhan</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/01/11/337/2151535/menjadi-penjaga-kamar-mayat-adalah-berkah-tuhan</guid><pubDate>Sabtu 11 Januari 2020 09:04 WIB</pubDate><dc:creator>Adi Rianghepat</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/01/10/337/2151535/menjadi-penjaga-kamar-mayat-adalah-berkah-tuhan-MqjeKbZj8V.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Okto Boimau tetap setia dengan pekerjaannya sebagai petugas kamar mayat (Foto: Okezone/Adi)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/01/10/337/2151535/menjadi-penjaga-kamar-mayat-adalah-berkah-tuhan-MqjeKbZj8V.jpg</image><title>Okto Boimau tetap setia dengan pekerjaannya sebagai petugas kamar mayat (Foto: Okezone/Adi)</title></images><description>KUPANG - Tak pernah terlintas sedikit pun di benaknya akan mengemban tugas sebagai penjaga kamar jenazah sekaligus merawat jenazah yang saban hari datang ke ruangan itu.

Adalah Okto Boimau, seorang pegawai rendah di RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) melakoni profesi 'seram' itu hampir satu dekade lamanya. Tak ada rasa takut, khawatir dan rasa sejenisnya. Bapak dua anak itu bahkan mengaku pekerjaan yang dijalaninya itu adalah berkah dari Tuhan.

&quot;Mungkin karena sudah biasa jadi saya tak pernah merasa takut atau jijik atau seram atau rasa sejenisnya. Saya malah merasa biasa saja,&quot; kata Okto dalam sebuah perbincangan dengan Okezone di kawasan RSUD Prof Dr WZ Johannes Kupang beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan, sudah sejak 1990, alumni SMA Negeri 3 Kupang itu mulai menjajaki aksinya di rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) itu. Meskipun hanya sebagai pegawai tidak tetap alias honorer, namun Okto mengaku melakoni setiap tugas yang diberikan dengan penuh tanggung jawab.



Awal bergabung di rumah sakit tersebut, pemilik cita-cita guru ini oleh manajemen dipercayakan mengurus hal-hal umum termasuk mengurus para orang sakit. Bukan sebagai pemeriksa atau paramedis, namun Okto ditugasi membantu paramedis mengurus pasien di kamar dan bangsal.

Maklum hanya berijazah SMA umum. Di titik inilah, Okto mengaku belajar menjadi familiar dengan orang sakit dan bahkan jenazah yang meninggal di ruangan perawatan. &quot;Ini mungkin jalan dan berkah yang Tuhan berikan kepada saya belajar mengenal dan merawat orang sakit hingga akhirnya dipilih mengurus jenazah dan menjaga kamar jenazah,&quot; tuturnya.

Dalam perjalanan sebagai karyawan honor di rumah sakit rujukan provinsi berbasis kepulauan itu, oleh manajemen Okto lalu dipercai menjadi petugas penjaga kamar jenazah atau instalasi pemulasaran jenazah (IPJ).

Bahkan, Badan Kepegawaian Negara (BKN) menerbitkan surat keputusan (SK) khusus kepada pria kelahiran Naileu, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) pada 26 Oktober 1967 itu sebagai petugas khusus Instalasi Pemulasaran Jenazah pada RSUD Prof Dr WZ Johannes Kupang. Terhitung sejak 2003 itulah Okto Boimau lalu diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan tugas khusus tersebut.

Hari demi hari pekerjaan itu dilakukan, meskipun harus menemui banyak  tantangan. Tantangan terberat di awal melakoni tugas itu ketika harus  menerima jenazah dengan kondisi yang sudah rusak, berulat dan hancur  alias tak utuh lagi karena kecelakaan. Namun begitu karena sudah menjadi  tugas, maka semuanya dilalui dengan penuh tanggung jawab.

&quot;Semua jenazah dengan kondisi apapun yang datang saya urus, saya  mandikan lalu saya kremasi (formalin) agar bisa layak diterima  keluarga,&quot; katanya.

Memang butuh waktu lama untuk menjadi peduli. Peduli akan tugas yang  sedang diemban dan peduli atas jenazah yang ada, apapun kondisinya. Pada  kondisi ini, lanjut Okto dia lalu mengubah cara pandangnya berkerja  menjalankan tugasnya menjaga dan mengurus jenazah.



&quot;Tidak sekadar menunaikan tanggung jawab, namun lebih itu saya  bekerja dengan penuh hati. Urus jenazah harus dilakukan dengan hati  tidak sekadar dengan otak semata,&quot; katanya tegas.

Lebih jauh Okto mengaku telah mengubah seluruh rasanya saat bertugas  mengurus jenazah. Perasaan ikut memiliki jenazah dan ikut berduka  bersama keluarga duka. Merasa seperti keluarga sendiri itulah yang  akhirnya mendoronya untuk merawat (mengkremasi) jenazah dengan penuh  tanggung jawab.

&quot;Jenazah yang rusak dan tak lengkap lagi anggota tubuhnya dirawat dan  dibikin sedemikan agar tak lagi seram dan mau diterima keluarga,&quot;  katanya.

&quot;Ada keluarga yang karena jenazahnya hancur dan sudah rusak agak  enggan menerima jenazahnya. Tetapi saya mencoba membikin sedemikian  sehingga kesan mengerikan hilang sehingga keluarga mau menerimanya,&quot;  tambah Okto.

Puluhan ribu sudah jenazah yang dia tanganani dengan berbagai   kondisi, jenis dan modelnya. Banyak pengalaman yang memicu kesan pun   datang. Banyak pengalaman dan momentum yang tak bisa terlupakan. Salah   satu di antaranya ketika harus menyatukan kembali tengkorak kepala pecah   dan leher yang hampir putus dari seorang anggota polri karena sebuah   kecelakaan maut.

&quot;Semua itu menjadi pengalaman dan catatan panjang di lakon aksi saya ini,&quot; katanya.

Dari pengalaman itulah, ditambah dengan cara pandang saat   melaksanakan tugasnya itu, Okto mengaku tak pernah sedikit atau   sekalipun diganggu oleh 'para jenazah' itu. Bahwa ada pandangan banyak   kalangan tentang makluk lain usai kematian seseorang, menurut Okto hanya   sebuah mitos dan bahkan halusinasi.

&quot;Tak pernah saya diganggu sedikitpun, itu hanya halusinasi orang   saja. Kalau pun ada makluk lain, masa mau ganggu saya sedangkan saya   sudah mengurusnya sejak memandikannya, memakaikan pakaian dan   menyuntiknya. Kan tentu tidak mungkin karena saya sudah berlaku baik   kan,&quot; katanya sedikit berseloroh.

Berbekal pengalaman dengan mengurus puluhan ribu jenazah itu, Okto   Boimau lalu mendapatkan penghargaan dan sertifikasi dari Disaster Victim   Identification (DVI), serta sertifikat Manajemen Pemulasaran jenazah.

&quot;Saya bersyukur bisa dihargai dengan sejumlah sertifikat itu. Memang   puluhan ribu sudah jenazah yang saya urus. Setahun rata-rata ada 1.000   lebih jenazah yang saya urus jadi bisa dihitung saja jumlahnya,&quot;   katanya.

Jelang enam tahun Okto Boimau akan pensiun. Di titik ini, Okto Boimau   berharap manajemen rumah sakit bisa mempertimbangkan untuk tidak   memindahkan atau mengalih tugaskannya ke divisi atau bidang lain, selain   hanya di IPJ karena itulah tugas yang diberikan negara melalui BKN   kepadanya dengan SK yang ada. Dia berharap bisa purna tugas di posisi   sebagai pengurus jenazah dan penjaga kamar jenazah di RSU Prof Dr WZ   Johannes Kupang, karena itulah panggilannya.

&quot;Ini sudah jalan panggilan saya. Saya dipilih Tuhan untuk tugas ini   dan biarlah saya selesaikan tugas saya hingga purna tugas,&quot; katanya   bertutur.
</description><content:encoded>KUPANG - Tak pernah terlintas sedikit pun di benaknya akan mengemban tugas sebagai penjaga kamar jenazah sekaligus merawat jenazah yang saban hari datang ke ruangan itu.

Adalah Okto Boimau, seorang pegawai rendah di RSU Prof Dr WZ Johannes Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) melakoni profesi 'seram' itu hampir satu dekade lamanya. Tak ada rasa takut, khawatir dan rasa sejenisnya. Bapak dua anak itu bahkan mengaku pekerjaan yang dijalaninya itu adalah berkah dari Tuhan.

&quot;Mungkin karena sudah biasa jadi saya tak pernah merasa takut atau jijik atau seram atau rasa sejenisnya. Saya malah merasa biasa saja,&quot; kata Okto dalam sebuah perbincangan dengan Okezone di kawasan RSUD Prof Dr WZ Johannes Kupang beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan, sudah sejak 1990, alumni SMA Negeri 3 Kupang itu mulai menjajaki aksinya di rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) itu. Meskipun hanya sebagai pegawai tidak tetap alias honorer, namun Okto mengaku melakoni setiap tugas yang diberikan dengan penuh tanggung jawab.



Awal bergabung di rumah sakit tersebut, pemilik cita-cita guru ini oleh manajemen dipercayakan mengurus hal-hal umum termasuk mengurus para orang sakit. Bukan sebagai pemeriksa atau paramedis, namun Okto ditugasi membantu paramedis mengurus pasien di kamar dan bangsal.

Maklum hanya berijazah SMA umum. Di titik inilah, Okto mengaku belajar menjadi familiar dengan orang sakit dan bahkan jenazah yang meninggal di ruangan perawatan. &quot;Ini mungkin jalan dan berkah yang Tuhan berikan kepada saya belajar mengenal dan merawat orang sakit hingga akhirnya dipilih mengurus jenazah dan menjaga kamar jenazah,&quot; tuturnya.

Dalam perjalanan sebagai karyawan honor di rumah sakit rujukan provinsi berbasis kepulauan itu, oleh manajemen Okto lalu dipercai menjadi petugas penjaga kamar jenazah atau instalasi pemulasaran jenazah (IPJ).

Bahkan, Badan Kepegawaian Negara (BKN) menerbitkan surat keputusan (SK) khusus kepada pria kelahiran Naileu, Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) pada 26 Oktober 1967 itu sebagai petugas khusus Instalasi Pemulasaran Jenazah pada RSUD Prof Dr WZ Johannes Kupang. Terhitung sejak 2003 itulah Okto Boimau lalu diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan tugas khusus tersebut.

Hari demi hari pekerjaan itu dilakukan, meskipun harus menemui banyak  tantangan. Tantangan terberat di awal melakoni tugas itu ketika harus  menerima jenazah dengan kondisi yang sudah rusak, berulat dan hancur  alias tak utuh lagi karena kecelakaan. Namun begitu karena sudah menjadi  tugas, maka semuanya dilalui dengan penuh tanggung jawab.

&quot;Semua jenazah dengan kondisi apapun yang datang saya urus, saya  mandikan lalu saya kremasi (formalin) agar bisa layak diterima  keluarga,&quot; katanya.

Memang butuh waktu lama untuk menjadi peduli. Peduli akan tugas yang  sedang diemban dan peduli atas jenazah yang ada, apapun kondisinya. Pada  kondisi ini, lanjut Okto dia lalu mengubah cara pandangnya berkerja  menjalankan tugasnya menjaga dan mengurus jenazah.



&quot;Tidak sekadar menunaikan tanggung jawab, namun lebih itu saya  bekerja dengan penuh hati. Urus jenazah harus dilakukan dengan hati  tidak sekadar dengan otak semata,&quot; katanya tegas.

Lebih jauh Okto mengaku telah mengubah seluruh rasanya saat bertugas  mengurus jenazah. Perasaan ikut memiliki jenazah dan ikut berduka  bersama keluarga duka. Merasa seperti keluarga sendiri itulah yang  akhirnya mendoronya untuk merawat (mengkremasi) jenazah dengan penuh  tanggung jawab.

&quot;Jenazah yang rusak dan tak lengkap lagi anggota tubuhnya dirawat dan  dibikin sedemikan agar tak lagi seram dan mau diterima keluarga,&quot;  katanya.

&quot;Ada keluarga yang karena jenazahnya hancur dan sudah rusak agak  enggan menerima jenazahnya. Tetapi saya mencoba membikin sedemikian  sehingga kesan mengerikan hilang sehingga keluarga mau menerimanya,&quot;  tambah Okto.

Puluhan ribu sudah jenazah yang dia tanganani dengan berbagai   kondisi, jenis dan modelnya. Banyak pengalaman yang memicu kesan pun   datang. Banyak pengalaman dan momentum yang tak bisa terlupakan. Salah   satu di antaranya ketika harus menyatukan kembali tengkorak kepala pecah   dan leher yang hampir putus dari seorang anggota polri karena sebuah   kecelakaan maut.

&quot;Semua itu menjadi pengalaman dan catatan panjang di lakon aksi saya ini,&quot; katanya.

Dari pengalaman itulah, ditambah dengan cara pandang saat   melaksanakan tugasnya itu, Okto mengaku tak pernah sedikit atau   sekalipun diganggu oleh 'para jenazah' itu. Bahwa ada pandangan banyak   kalangan tentang makluk lain usai kematian seseorang, menurut Okto hanya   sebuah mitos dan bahkan halusinasi.

&quot;Tak pernah saya diganggu sedikitpun, itu hanya halusinasi orang   saja. Kalau pun ada makluk lain, masa mau ganggu saya sedangkan saya   sudah mengurusnya sejak memandikannya, memakaikan pakaian dan   menyuntiknya. Kan tentu tidak mungkin karena saya sudah berlaku baik   kan,&quot; katanya sedikit berseloroh.

Berbekal pengalaman dengan mengurus puluhan ribu jenazah itu, Okto   Boimau lalu mendapatkan penghargaan dan sertifikasi dari Disaster Victim   Identification (DVI), serta sertifikat Manajemen Pemulasaran jenazah.

&quot;Saya bersyukur bisa dihargai dengan sejumlah sertifikat itu. Memang   puluhan ribu sudah jenazah yang saya urus. Setahun rata-rata ada 1.000   lebih jenazah yang saya urus jadi bisa dihitung saja jumlahnya,&quot;   katanya.

Jelang enam tahun Okto Boimau akan pensiun. Di titik ini, Okto Boimau   berharap manajemen rumah sakit bisa mempertimbangkan untuk tidak   memindahkan atau mengalih tugaskannya ke divisi atau bidang lain, selain   hanya di IPJ karena itulah tugas yang diberikan negara melalui BKN   kepadanya dengan SK yang ada. Dia berharap bisa purna tugas di posisi   sebagai pengurus jenazah dan penjaga kamar jenazah di RSU Prof Dr WZ   Johannes Kupang, karena itulah panggilannya.

&quot;Ini sudah jalan panggilan saya. Saya dipilih Tuhan untuk tugas ini   dan biarlah saya selesaikan tugas saya hingga purna tugas,&quot; katanya   bertutur.
</content:encoded></item></channel></rss>
