<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>Rahasia Zairin, Sang Penjaga Kamar Mayat Bisa &quot;Akrab&quot; dengan Jenazah</title><description>Bagi, bapak dari 4 orang anak ini, jenazah sudah menjadi bagian dari hidupnya.</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/11/337/2151542/rahasia-zairin-sang-penjaga-kamar-mayat-bisa-akrab-dengan-jenazah</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/01/11/337/2151542/rahasia-zairin-sang-penjaga-kamar-mayat-bisa-akrab-dengan-jenazah"/><item><title>Rahasia Zairin, Sang Penjaga Kamar Mayat Bisa &quot;Akrab&quot; dengan Jenazah</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/11/337/2151542/rahasia-zairin-sang-penjaga-kamar-mayat-bisa-akrab-dengan-jenazah</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/01/11/337/2151542/rahasia-zairin-sang-penjaga-kamar-mayat-bisa-akrab-dengan-jenazah</guid><pubDate>Sabtu 11 Januari 2020 09:28 WIB</pubDate><dc:creator>Demon Fajri</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/01/10/337/2151542/rahasia-zairin-sang-penjaga-kamar-mayat-bisa-akrab-dengan-jenazah-vmYWIjtci6.jpg" expression="full" type="image/jpeg">Zairin Masih setia bekerja sebagai penjaga kamar mayat (Foto: Okezone/Demon)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/01/10/337/2151542/rahasia-zairin-sang-penjaga-kamar-mayat-bisa-akrab-dengan-jenazah-vmYWIjtci6.jpg</image><title>Zairin Masih setia bekerja sebagai penjaga kamar mayat (Foto: Okezone/Demon)</title></images><description>BENGKULU - Bagi sebagian orang penjaga kamar jenazah merupakan pekerjaan yang menakutkan. Bahkan, horor. Namun tidak untuk sosok pria 49 tahun ini. Bagi, bapak dari 4 orang anak ini, jenazah sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Pria bermental baja itu bernama Zairin. Berbagai pengalaman telah dirasakan suami dari Heti Muryani (44) ini. Darah segar dari korban pembunuhan, kecelakaan, tenggelam sudah sering dilihat pria kelahiran 10 Oktober 1971 ini.

Tidak kurang dari 1.000, bahkan lebih jenazah sudah ditanganinya sejak bertugas di kamar jenazah disalah satu rumah sakit umum daerah (RSUD) di provinsi Bengkulu, pada tahun 2003.

Jenazah yang ada di kamar jenazah rumah sakit, beragam. Mulai dari jenazah yang masih utuh hingga tidak utuh. Bagi Zairin, memegang atau melihat jenazah tidak utuh sudah biasa baginya.



Kamis 9 Januari 2020, pagi. Awan kelam menggelayut di Kota Bengkulu. Sama seperti tempat tinggal pria yang telah bekerja di kamar jenazah selama 16 tahun di jalan Hibrida 14 Kelurahan Sido Mulyo Kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu.

Pagi itu, pria bertubuh gempal ini sedang beristirahat di dalam rumahnya. Mengenakan baju warna putih lengan penduk serta dibaluti sarung peraduan warna coklat muda dan tua.

Pria berwajah brewok ini mendapatkan jadwal piket menjaga kamar jenazah shift siang, pukul 14.01 WIB. Berbagai pengalaman di kamar jenazah sudah dialami sosok pria berkulit sedikit gelap ini.



Mulai dari jenazah yang memiliki anggota keluarga hingga jenazah tidak memiliki keluarga atau Mr X sudah menjadi 'makanan', Zairin. Sejak dipercaya bertugas di kamar jenazah, Zairin menjadikan tugas tersebut sebagai bagian dari hidupnya.

Sebelumnya, suami dari Heti Muryani (44), bukan penjaga kamar jenazah, melainkan security di salah satu rumah sakit umum daerah di Bengkulu.

Zairin diangkat menjadi penjaga kamar jenazah, lantaran sering mengantarkan jenazah ke kamar jenazah. Sejak itu direktur rumah sakit memindahkan pria jebolan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Bengkulu ini ke kamar jenazah.

''Sebelum menjadi petugas kamar jenazah, saya di security. Tahun 2003, saya resmi bertugas di kamar jenazah,'' kata Zairin, saat ditemui Okezone, di rumahnya, Kamis (9/1/2020).

Keyakinan Menjadikan Zairin Betah di Kamar Jenazah

Menjadi penjaga kamar jenazah rumah sakit bukan kehendak ataupun  pilihan Zairin. Namun, pria kelahiran 49 tahun silam ini dipercaya dan  mampu untuk menjadi bagian dari pemberian pelayanan di kamar jenazah.

Kepercayaan itu pun tidak disia-siakan, Zairin. Berkat ketekunan,  sabar dan menjalani pekerjaannya di kamar jenazah. Berselang 4 tahun,  sejak bertugas di kamar jenazah.

Bapak 4 orang ini diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN), pada  tahun 2007. Zairin sama sekali tidak terpikir untuk menjadi penjaga  kamar jenazah. Pria ini menjadikan tugas penuh dengan tanggungjawabnya.

Baginya, tugas di kamar mayat merupakan pekerjaan kemanusiaan.  Bagaimana tidak, Zairin musti memandikan, mengkafani, mensalatkan hingga  mengebumikan jenazah ke Tempat Pemakaman Umum (TPU).

Selama bertugas, Zairin belum menemukan kejadian aneh di kamar  jenazah. Baik pagi, siang, maupun malam. Pria berwajah brewok ini yakin,  jika pekerjaannya tersebut untuk kebaikan. Sehingga dirinya terhindar  dari kejadian aneh.



''Saya sudah banyak berhadapan langsung dengan jenazah, sudah tidak  terhitung berapa jenazah. Ribuan lebih. Alhamdulillah, sampai sekarang  belum ada diganggu atau mendapatkan kejadian aneh,'' aku, Zairin.

Pria ini juga menerima jenazah yang tidak memiliki identitas atau Mr  x. Penitipannya hingga 3 hari. Selama penitipan jenazah dimasukkan ke  dalam mesin pendingin. Perlakuannya tidak berbeda dengan jenazah yang  memiliki identitas.

Jenazah Mr X tetap dimandikan, dikafani, disalatkan bagi umat muslim.  Namun, untuk umat non muslim diberikan pengawet. Pemberikan pelayanan  terhadap setiap jenazah sama sekali tidak ada perbedaan. Meskipun  jenazah sudah tidak utuh.

Pengkafanan, pemandian, mensalatkan jenazah dilakukan sesuai dengan  permintaan anggota keluarga. Jika menginginkan jenazah langsung  dimandikan, dikafani dan disalatkan.

Berbeda dengan jenazah Mr X, yang musti dimandikan, dikafani,  disalatkan secara langsung tanpa menunggu persetujuan pihak keluarga.  Sementara pemakaman Mr X, musti ada surat resmi dari aparat kepolisian  setempat.

''Jenazah yang masuk kamar jenazah tidak ada perbedaan. Semuanya sama,'' jelas pria 49 tahun ini.

Jenazah Tidak Utuh Bukan Hal Aneh

Bagi Zairin, memandikan tubuh jenazah tidak utuh atau sudah tak   berbentuk, mengeluarkan aroma menyengat hidung bukan hal aneh. Terlebih   ketika ada jenazah yang sudah tidak berbentuk dengan bagian tubuh yang   terpisah. Seperti main puzzle.

Sebelum dimandikan, Zairin musti menyusun letak tubuh yang terpisah   tersebut. Lalu, jenazah dikafani dan dimasukkan ke dalam mesin   pendingin. Jenazah yang masuk ke kamar jenazah tidak mengenal waktu.   Terkadang sudah lelap tertidur di tengah malam.

Mayat yang datang ke kamar jenazah, tidak setiap hari. Dalam seminggu   terkadang hanya satu jenazah. Namun, di lain waktu jenazah bisa masuk   hingga dua hingga empat orang.

Selama 16 tahun menjadi penghuni kamar jenazah, pengalaman yang masih   teringat ketika jenazah Timothy Adam (35), Warga Megara Asing (WNA)   asal Amerika Serikat, yang tewas digulung ombak saat mandi di kawasan   pantai panjang Kota Bengkulu, pada Sabtu 4 Maret 2017.

Jenazah asal Amerika itu dititipkan selama 15 hari. Di mana hal   tersebut menunggu proses yang cukup panjang. Meskipun demikian,   pemberian pelayanan terhadap jenazah tetap sama.

Selama penitipan di kamar jenazah, mayat WNA Amerika Serikat,   dimasukkan kedalam mesin pendingin. Setelah mendapatkan surat secara   resmi dari instansi terkait jenazah baru diserahkan.

''Jenazah yang paling lama dititipkan, WNA asal Amerika Serikat.   Selama 15 hari. Musti berasal dari luar pelayanannya tetap sama,''   terang Zairin.

Dalam bertugas di kamar jenazah, Zairin bertugas sendiri. Namun, dia   memiliki jadwal piket untuk setiap harinya. Jika masuk piket pagi,  masuk  dari pukul 08.01 - 14.01 WIB. Piket siang dari pukul 14.00 -  20.01 WIB,  dan malam pukul 20.01 - 08.01 WIB.

''Kalau ada mayat tengah malam, saya harus memberikan pelayanan. Itu   saya lakukan sendiri. Saya yakin saja, dan tidak ada berpikir jika akan   diganggu dengan hal-hal aneh ketika sendiri di kamar jenazah,'' terang   Zairin.
</description><content:encoded>BENGKULU - Bagi sebagian orang penjaga kamar jenazah merupakan pekerjaan yang menakutkan. Bahkan, horor. Namun tidak untuk sosok pria 49 tahun ini. Bagi, bapak dari 4 orang anak ini, jenazah sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Pria bermental baja itu bernama Zairin. Berbagai pengalaman telah dirasakan suami dari Heti Muryani (44) ini. Darah segar dari korban pembunuhan, kecelakaan, tenggelam sudah sering dilihat pria kelahiran 10 Oktober 1971 ini.

Tidak kurang dari 1.000, bahkan lebih jenazah sudah ditanganinya sejak bertugas di kamar jenazah disalah satu rumah sakit umum daerah (RSUD) di provinsi Bengkulu, pada tahun 2003.

Jenazah yang ada di kamar jenazah rumah sakit, beragam. Mulai dari jenazah yang masih utuh hingga tidak utuh. Bagi Zairin, memegang atau melihat jenazah tidak utuh sudah biasa baginya.



Kamis 9 Januari 2020, pagi. Awan kelam menggelayut di Kota Bengkulu. Sama seperti tempat tinggal pria yang telah bekerja di kamar jenazah selama 16 tahun di jalan Hibrida 14 Kelurahan Sido Mulyo Kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu.

Pagi itu, pria bertubuh gempal ini sedang beristirahat di dalam rumahnya. Mengenakan baju warna putih lengan penduk serta dibaluti sarung peraduan warna coklat muda dan tua.

Pria berwajah brewok ini mendapatkan jadwal piket menjaga kamar jenazah shift siang, pukul 14.01 WIB. Berbagai pengalaman di kamar jenazah sudah dialami sosok pria berkulit sedikit gelap ini.



Mulai dari jenazah yang memiliki anggota keluarga hingga jenazah tidak memiliki keluarga atau Mr X sudah menjadi 'makanan', Zairin. Sejak dipercaya bertugas di kamar jenazah, Zairin menjadikan tugas tersebut sebagai bagian dari hidupnya.

Sebelumnya, suami dari Heti Muryani (44), bukan penjaga kamar jenazah, melainkan security di salah satu rumah sakit umum daerah di Bengkulu.

Zairin diangkat menjadi penjaga kamar jenazah, lantaran sering mengantarkan jenazah ke kamar jenazah. Sejak itu direktur rumah sakit memindahkan pria jebolan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Bengkulu ini ke kamar jenazah.

''Sebelum menjadi petugas kamar jenazah, saya di security. Tahun 2003, saya resmi bertugas di kamar jenazah,'' kata Zairin, saat ditemui Okezone, di rumahnya, Kamis (9/1/2020).

Keyakinan Menjadikan Zairin Betah di Kamar Jenazah

Menjadi penjaga kamar jenazah rumah sakit bukan kehendak ataupun  pilihan Zairin. Namun, pria kelahiran 49 tahun silam ini dipercaya dan  mampu untuk menjadi bagian dari pemberian pelayanan di kamar jenazah.

Kepercayaan itu pun tidak disia-siakan, Zairin. Berkat ketekunan,  sabar dan menjalani pekerjaannya di kamar jenazah. Berselang 4 tahun,  sejak bertugas di kamar jenazah.

Bapak 4 orang ini diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN), pada  tahun 2007. Zairin sama sekali tidak terpikir untuk menjadi penjaga  kamar jenazah. Pria ini menjadikan tugas penuh dengan tanggungjawabnya.

Baginya, tugas di kamar mayat merupakan pekerjaan kemanusiaan.  Bagaimana tidak, Zairin musti memandikan, mengkafani, mensalatkan hingga  mengebumikan jenazah ke Tempat Pemakaman Umum (TPU).

Selama bertugas, Zairin belum menemukan kejadian aneh di kamar  jenazah. Baik pagi, siang, maupun malam. Pria berwajah brewok ini yakin,  jika pekerjaannya tersebut untuk kebaikan. Sehingga dirinya terhindar  dari kejadian aneh.



''Saya sudah banyak berhadapan langsung dengan jenazah, sudah tidak  terhitung berapa jenazah. Ribuan lebih. Alhamdulillah, sampai sekarang  belum ada diganggu atau mendapatkan kejadian aneh,'' aku, Zairin.

Pria ini juga menerima jenazah yang tidak memiliki identitas atau Mr  x. Penitipannya hingga 3 hari. Selama penitipan jenazah dimasukkan ke  dalam mesin pendingin. Perlakuannya tidak berbeda dengan jenazah yang  memiliki identitas.

Jenazah Mr X tetap dimandikan, dikafani, disalatkan bagi umat muslim.  Namun, untuk umat non muslim diberikan pengawet. Pemberikan pelayanan  terhadap setiap jenazah sama sekali tidak ada perbedaan. Meskipun  jenazah sudah tidak utuh.

Pengkafanan, pemandian, mensalatkan jenazah dilakukan sesuai dengan  permintaan anggota keluarga. Jika menginginkan jenazah langsung  dimandikan, dikafani dan disalatkan.

Berbeda dengan jenazah Mr X, yang musti dimandikan, dikafani,  disalatkan secara langsung tanpa menunggu persetujuan pihak keluarga.  Sementara pemakaman Mr X, musti ada surat resmi dari aparat kepolisian  setempat.

''Jenazah yang masuk kamar jenazah tidak ada perbedaan. Semuanya sama,'' jelas pria 49 tahun ini.

Jenazah Tidak Utuh Bukan Hal Aneh

Bagi Zairin, memandikan tubuh jenazah tidak utuh atau sudah tak   berbentuk, mengeluarkan aroma menyengat hidung bukan hal aneh. Terlebih   ketika ada jenazah yang sudah tidak berbentuk dengan bagian tubuh yang   terpisah. Seperti main puzzle.

Sebelum dimandikan, Zairin musti menyusun letak tubuh yang terpisah   tersebut. Lalu, jenazah dikafani dan dimasukkan ke dalam mesin   pendingin. Jenazah yang masuk ke kamar jenazah tidak mengenal waktu.   Terkadang sudah lelap tertidur di tengah malam.

Mayat yang datang ke kamar jenazah, tidak setiap hari. Dalam seminggu   terkadang hanya satu jenazah. Namun, di lain waktu jenazah bisa masuk   hingga dua hingga empat orang.

Selama 16 tahun menjadi penghuni kamar jenazah, pengalaman yang masih   teringat ketika jenazah Timothy Adam (35), Warga Megara Asing (WNA)   asal Amerika Serikat, yang tewas digulung ombak saat mandi di kawasan   pantai panjang Kota Bengkulu, pada Sabtu 4 Maret 2017.

Jenazah asal Amerika itu dititipkan selama 15 hari. Di mana hal   tersebut menunggu proses yang cukup panjang. Meskipun demikian,   pemberian pelayanan terhadap jenazah tetap sama.

Selama penitipan di kamar jenazah, mayat WNA Amerika Serikat,   dimasukkan kedalam mesin pendingin. Setelah mendapatkan surat secara   resmi dari instansi terkait jenazah baru diserahkan.

''Jenazah yang paling lama dititipkan, WNA asal Amerika Serikat.   Selama 15 hari. Musti berasal dari luar pelayanannya tetap sama,''   terang Zairin.

Dalam bertugas di kamar jenazah, Zairin bertugas sendiri. Namun, dia   memiliki jadwal piket untuk setiap harinya. Jika masuk piket pagi,  masuk  dari pukul 08.01 - 14.01 WIB. Piket siang dari pukul 14.00 -  20.01 WIB,  dan malam pukul 20.01 - 08.01 WIB.

''Kalau ada mayat tengah malam, saya harus memberikan pelayanan. Itu   saya lakukan sendiri. Saya yakin saja, dan tidak ada berpikir jika akan   diganggu dengan hal-hal aneh ketika sendiri di kamar jenazah,'' terang   Zairin.
</content:encoded></item></channel></rss>
