<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0"><channel><title>58 Tahun Yos Sudarso Meninggal, Ini Jejak Perjuangannya</title><description>Hari ini tepat 58 tahun meninggalnya Laksamana Madya TNI (Ant.) Yosaphat Soedarso, atau yang lebih dikenal dengan Yos Sudarso</description><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/15/337/2153283/58-tahun-yos-sudarso-meninggal-ini-jejak-perjuangannya</link><language>id</language><atom:link type="application/rss+xml" rel="self" href="https://news.okezone.com/read/2020/01/15/337/2153283/58-tahun-yos-sudarso-meninggal-ini-jejak-perjuangannya"/><item><title>58 Tahun Yos Sudarso Meninggal, Ini Jejak Perjuangannya</title><link>https://news.okezone.com/read/2020/01/15/337/2153283/58-tahun-yos-sudarso-meninggal-ini-jejak-perjuangannya</link><guid isPermaLink="false">https://news.okezone.com/read/2020/01/15/337/2153283/58-tahun-yos-sudarso-meninggal-ini-jejak-perjuangannya</guid><pubDate>Rabu 15 Januari 2020 17:03 WIB</pubDate><dc:creator>Alifa Muthia Diningtyas</dc:creator><media:content url="https://img.okezone.com/content/2020/01/15/337/2153283/58-tahun-yos-sudarso-meninggal-ini-jejak-perjuangannya-rdLf97S6DJ.jpg" expression="full" type="image/jpeg">ILustrasi Kapal Perang (Foto: Okezone)</media:content><images><thumb></thumb><image>https://img.okezone.com/content/2020/01/15/337/2153283/58-tahun-yos-sudarso-meninggal-ini-jejak-perjuangannya-rdLf97S6DJ.jpg</image><title>ILustrasi Kapal Perang (Foto: Okezone)</title></images><description>JAKARTA - Hari ini tepat 58 tahun meninggalnya Laksamana Madya TNI (Ant.) Yosaphat Soedarso, atau yang lebih dikenal dengan Yos Sudarso. Untuk menghormati jasanya, nama Yos Sudarso kerap dijadikan nama jalan protokol di Jakarta hingga nama sebuah pulau di Papua.
Menurut kisah yang diambil dari beberapa sumber, seperti Wikipedia, Yos Sudarso dan para awak kapalnya gugur di Laut Aru, Papua saat KRI Macan Tutul yang ia tumpangi tenggelam usai ditembak oleh kapal patroli Hr. Ms. Eversten milik armada Belanda di tengah lautan.
Yos Sudarso merupakan seorang Deputi Koperasi Trikora, yang memiliki kewajiban besar untuk melakukan patroli dan bergeriliya untuk mendapatkan banyak informasi terkait militer Belanda.
Yos Sudarso lahir di Kota Salatiga, Jawa Tengah pada 24 November 1925 dari pasangan Sukarno Darmoprawiro dan Mariyam. Ayah Yos Sudarso bekerja sebagai seorang polisi ketika masa penjajahan.
Baca Juga: Banjir Genangi Jalan Yos Sudarso Sunter, Pengendara Motor Tak Bisa Melintas
Sejak kecil, ia dikenal sebagai sosok yang tenang, cerdas, dan juga santun. Pendidikan pertamanya, Yos Sudarso bersekolah di HIS (Hollandsch Inlandsch School) yang setingkat dengan SD dan tamat pada tahun 1940.
Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke sekolah guru di Kota Muntilan. Sayangnya beliau tidak bisa melanjutkan pendidikan karena Jepang datang menjajah Indonesia yang kemudian sekolah itu ditutup.Selepas itu, Yos Sudarso melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi  Pelayaran di Semarang dan akhirnya menjadi lulusan terbaik. Atas  prestasinya tersebut ia kemudian dipekerjakan sebagai mualim di kapal  Goo Usamu Butai pada tahun 1944, dari situlah karier di dunia  pelayarannya dimulai.
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, ia bergabung dengan BKR  (Badan Keamanan Rakyat) Laut atau yang sekarang dikenal dengan TNI  Angkatan Laut. Di lembaga ini, Yos Sudarso sering mengikuti misi atau  operasi militer dalam meredam pemberontakan yang terjadi di  daerah-daerah saat Belanda datang, dan mengadakan agresi militer  sebanyak dua kali.
Saat Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 1950, Yos Sudarso  diangkat sebagai komandan kapal di KRI Alu. Selanjutnya KRI Gajah Mada,  KRI Rajawali, hingga KRI Pattimura. Pada tahun 1958 ia menjabat sebagai  hakim pengadilan tentara walaupun hanya 4 bulan.
Pada Desember 1961, Presiden Soekarno membentuk Tri Komando Rakyat  atau Trikora menyusul memanasnya kawasan Irian Barat yang ingin direbut  kembali oleh Belanda. Beberapa minggu berselang atau tepatnya Januari  1962, Presiden Soekarno membentuk Komando Mandala Pembebasan Irian Barat  yang berkedudukan di Makassar dan Yos Sudarso sebagai Deputi  Operasinya.Yos mengemban tugas yang sangat berat. Kemudian ia mengadakan patrol   di sekitar daerah perbatasan pada tanggal 15 Januari 1962, yakni di  laut  Aru dengan 3 kapal motor jenis torpedo boat yaitu KRI macan tutul,  KRI  harimau dan KRI macan kumbang.
Akan tetapi, Belanda sudah tahu akan rencana Yos tersebut. Akhirnya   ia pun tertembak oleh musuh dan kapal KRI macan tutul pun tenggelam. Yos   bersama 24 awak kapalnya tenggelam, sedangkan kru lainnya yang selamat   menjadi tawanan Belanda.
Komodor Yos Sudarso yang semasa kecil bercita-cita sebagai prajurit  itu  akhirnya gugur di lautan dalam mempertahankan kedaulatan Republik   Indonesia. Ia meninggalkan seorang istri bernama Siti Kustini dan lima   orang anak.</description><content:encoded>JAKARTA - Hari ini tepat 58 tahun meninggalnya Laksamana Madya TNI (Ant.) Yosaphat Soedarso, atau yang lebih dikenal dengan Yos Sudarso. Untuk menghormati jasanya, nama Yos Sudarso kerap dijadikan nama jalan protokol di Jakarta hingga nama sebuah pulau di Papua.
Menurut kisah yang diambil dari beberapa sumber, seperti Wikipedia, Yos Sudarso dan para awak kapalnya gugur di Laut Aru, Papua saat KRI Macan Tutul yang ia tumpangi tenggelam usai ditembak oleh kapal patroli Hr. Ms. Eversten milik armada Belanda di tengah lautan.
Yos Sudarso merupakan seorang Deputi Koperasi Trikora, yang memiliki kewajiban besar untuk melakukan patroli dan bergeriliya untuk mendapatkan banyak informasi terkait militer Belanda.
Yos Sudarso lahir di Kota Salatiga, Jawa Tengah pada 24 November 1925 dari pasangan Sukarno Darmoprawiro dan Mariyam. Ayah Yos Sudarso bekerja sebagai seorang polisi ketika masa penjajahan.
Baca Juga: Banjir Genangi Jalan Yos Sudarso Sunter, Pengendara Motor Tak Bisa Melintas
Sejak kecil, ia dikenal sebagai sosok yang tenang, cerdas, dan juga santun. Pendidikan pertamanya, Yos Sudarso bersekolah di HIS (Hollandsch Inlandsch School) yang setingkat dengan SD dan tamat pada tahun 1940.
Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke sekolah guru di Kota Muntilan. Sayangnya beliau tidak bisa melanjutkan pendidikan karena Jepang datang menjajah Indonesia yang kemudian sekolah itu ditutup.Selepas itu, Yos Sudarso melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi  Pelayaran di Semarang dan akhirnya menjadi lulusan terbaik. Atas  prestasinya tersebut ia kemudian dipekerjakan sebagai mualim di kapal  Goo Usamu Butai pada tahun 1944, dari situlah karier di dunia  pelayarannya dimulai.
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, ia bergabung dengan BKR  (Badan Keamanan Rakyat) Laut atau yang sekarang dikenal dengan TNI  Angkatan Laut. Di lembaga ini, Yos Sudarso sering mengikuti misi atau  operasi militer dalam meredam pemberontakan yang terjadi di  daerah-daerah saat Belanda datang, dan mengadakan agresi militer  sebanyak dua kali.
Saat Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 1950, Yos Sudarso  diangkat sebagai komandan kapal di KRI Alu. Selanjutnya KRI Gajah Mada,  KRI Rajawali, hingga KRI Pattimura. Pada tahun 1958 ia menjabat sebagai  hakim pengadilan tentara walaupun hanya 4 bulan.
Pada Desember 1961, Presiden Soekarno membentuk Tri Komando Rakyat  atau Trikora menyusul memanasnya kawasan Irian Barat yang ingin direbut  kembali oleh Belanda. Beberapa minggu berselang atau tepatnya Januari  1962, Presiden Soekarno membentuk Komando Mandala Pembebasan Irian Barat  yang berkedudukan di Makassar dan Yos Sudarso sebagai Deputi  Operasinya.Yos mengemban tugas yang sangat berat. Kemudian ia mengadakan patrol   di sekitar daerah perbatasan pada tanggal 15 Januari 1962, yakni di  laut  Aru dengan 3 kapal motor jenis torpedo boat yaitu KRI macan tutul,  KRI  harimau dan KRI macan kumbang.
Akan tetapi, Belanda sudah tahu akan rencana Yos tersebut. Akhirnya   ia pun tertembak oleh musuh dan kapal KRI macan tutul pun tenggelam. Yos   bersama 24 awak kapalnya tenggelam, sedangkan kru lainnya yang selamat   menjadi tawanan Belanda.
Komodor Yos Sudarso yang semasa kecil bercita-cita sebagai prajurit  itu  akhirnya gugur di lautan dalam mempertahankan kedaulatan Republik   Indonesia. Ia meninggalkan seorang istri bernama Siti Kustini dan lima   orang anak.</content:encoded></item></channel></rss>
